“Aw!” pekik Bell terjerembab ke atas tumpukan jerami di dalam sebuah jeruji besi yang Bell tidak ketahui ada di mana. “Kau berhasil menangkapnya?” “Begitulah.” “Apa ini benar ‘dia’?” “Tidak salah lagi.” Siluman dengan dua tanduk melingkar di kepalanya mengamati Bell yang terdiam di dalam jeruji besi seperti kelinci yang tertangkap pemburu. “Tampangnya tidak meyakinkan dan baunya ...” Siluman dengan dua tanduk melingkar itu mengendus ke arah Bell. “Baunya sama, kan?” tanya siluman yang menangkap Bell. Siluman dengan tanduk melingkar itu mengelus dagunya sembari mengamati Bell yang masih dalam keadaan syok dan kebingungan sendiri. “Baunya sedikit aneh, tapi tidak masalah. Lebih baik kita tunggu Tuan untuk memastikannya. Kalau sampai kau salah tangkap, aku akan menguluti kepalamu!”

