Deux Boiler High School merupakan sekolah terbesar di Kota Machaira. Meski bukan ibu kota, namun sekolah ini menarik banyak murid dari berbagai kota. Selain menawarkan sistem belajar yang mampu melampaui sekolah besar lainnya, Boiler juga menawarkan kelas khusus yakni malam hari. Dikabarkan jika murid-murid yang diterima di kelas malam adalah murid-murid spesial. Semua ini merupakan hasil kerja keras kepala sekolah Deux Boiler High School selama ini.
Apakah benar seperti itu?
***
Mr. Strengthen terdiam dengan raut terkejut yang disembunyikannya. Dia tersenyum. Kakinya melangkah pelan menghampiri ranjang besar itu. Mr. Oarsmane mengikuti di belakangnya.
“Putraku terbangun ternyata,” ujarnya tersenyum. “Bagaimana kau bisa bangun, Cloud?” lanjut Mr. Strengthen.
“Aku ingin makan,” ujar pria muda berwajah pucat yang dipanggil Cloud itu.
“Mr. Strengthen,” bisik Mr. Oarsmane. “Saya melihat kening gadis tadi terluka, mungkin saja darah gadis itu sudah-“
“Bisakah kalian berhenti berbisik-bisik dan berikan aku makan,” sergah Cloud.
“Ah, Cloud seharusnya ini belum waktunya kau terbangun, kan? Ayah bahkan belum menemukan Night Staff yang cocok denganmu. Kenapa kau berontak? Sebagai klan siluman tertinggi, kau adalah calon pemimpin bangsa kita. Kenapa kau ini tidak sabaran?” ujar Mr. Strengthen.
“Dasar pak tua, kau pikir aku putri tidur? Aku sudah bosan tidur,” sahut Cloud dengan senyum tersungging.
“Kau sama sekali tidak berubah.” Mr. Strengthen membalas dengan seringaian.
Yang tidak diketahui para murid di Deux Boiler adalah adanya makhluk lain di sekolah mereka. Dan semua rahasia itu terkumpul menjadi satu di Gedung Putih.
***
“Dasar anak itu,” geram Mr. Strengthen sembari menghempaskan p****t ke kursi besarnya.
Setelah pembicaraan yang selalu tidak berjalan baik dengan putranya itu, dia kembali ke ruangannya. Jujur saja dia tidak pernah menyangka jika putranya itu bisa terbangun atas kehendaknya sendiri.
Sebagai kepala sekolah Deux Boiler dan juga pimpinan bangsa siluman, Mr. Strengthen selalu menjaga agar tidak ada manusia yang tahu tentang jati dirinya maupun yang terjadi di sekolah yang didirikannya ini untuk tujuan tertentunya. Lalu tiba-tiba di hari yang biasa ketika matahari bersinar dengan cerahnya, seorang murid yang seharusnya tidak pernah mengetahui apa yang telah disembunyikannya, bahkan membangunkan putranya.
“Kepala Sekolah.” Panggilan Mr. Oarsmane menyadarkan kembali Mr. Strengthen.
“Ini benar-benar gawat. Aku yakin gadis itu sudah melihat Cloud. Bagaimana sekarang?” Mr. Strengthen menatap serius pada wakilnya.
“Saya rasa tidak ada pilihan lain. Tuan Cloud sudah memilih darahnya. Entah itu sengaja atau tidak. Yang pasti hanya satu darah yang akan diinginkannya.”
“Ya, kau benar. Tapi ...”
“Ada apa, Kepala Sekolah?”
“Gadis itu masih tingkat dua.”
“Anda benar. Tingkat dua tidak seharusnya menjadi Night Staff karena mereka belum mengetahui tentang Boiler malam. Sepertinya kita tidak memiliki pilihan lain untuk mengambil gadis itu untuk keamanan sekolah ini.” Mr. Oarsmane tersenyum seram.
“Apa maksudmu?” Mr. Strengthen menaikkan salah satu alisnya.
“Serahkan pada saya. Gadis itu akan saya culik tanpa meninggalkan jejak. Lagipula saya sudah melihat informasi tentang gadis itu. Seorang yatim piatu yang diurus oleh pamannya dan sekarang gadis itu hidup sendiri di sebuah flat kecil tidak jauh dari sekolah ini. Tidak akan ada yang mencari gadis itu kalau tiba-tiba menghilang. Dan kemudian Tuan Cloud bisa memiliki darah gadis itu.” Mr. Oarsmane mengeluarkan taringnya dengan senyum mengerikan.
“Tolong jangan lakukan hal itu. Kau terlihat mengerikan, Mr. Oarsamane.”
Taring Mr. Orsmane kembali menyusut. Pria yang juga berwajah pucat itu tersenyum kecil. “Maafkan, saya. Tiba-tiba saja saya terbawa suasana.”
“Tidak apa-apa. Aku tahu kau sudah berusaha mengendalikan dirimu di sini. Sepertinya kita memang tidak ada pilihan lain selain mengambil gadis itu untuk menjadi Night Staff untuk Cloud. Anggap saja ini sebuah percobaan baru. Meski samar firasatku mengatakan jika semua ini bukanlah seratus persen ketidaksengajaan,” ujar Mr. Strengthen dengan wajah serius.
“Saya mengerti. Firasat Anda tidak boleh diragukan.”
“Panggil gadis itu sepulang sekolah. Mengingat putraku bukanlah vampir yang sabaran, aku takut jika dia melakukan sesuatu yang berakibat tidak baik untuk kelangsungan sekolah ini. Gadis itu juga harus segera mengetahui apa yang sudah dilakukannya.”
“Baik, Mr. Strengthen.”
Mr. Strengthen memuar kursinya mengarah ke Gedung Putih. Matanya memandang dengan serius. Dia akan mempercayai firasatnya.
***
“Nah, sudah selesai,” ujar dokter yang berjaga di UKS.
Bell meraba keningnya. Dia menghela napas membayangkan akan muncul bekas dari patukan burung berparuh panjang itu. Bell memiliki rencana bila berjumpa kembali dengan burung itu, dia akan memberinya pelajaran.
“Lukanya tidak terlalu dalam, tenang saja tidak akan meninggalkan bekas jika nanti kau mengoleskan salep ini,” ujar dokter sembari menyodorkan salep berbentuk seperti pasta gigi pada Bell.
“Terima kasih, Dokter,” ujar Bell bersyukur.
“Sama-sama.” Dokter itu tiba-tiba memegang tangan Bell. “Ya ampun tadi kau pasti takut sekali. Apa kau tidak memiliki keluhan lain? Dan juga apa kau tidak mengingat apapun?” tanya dokter itu.
Bell tersenyum kikuk. “Sayang sekali saya tidak mengingatnya.”
“Ah, sayang sekali.” Dokter itu terlihat seperti sedikit kecewa. Bell bertanya-tanya kenapa dokter itu.
“Beritanya cepat sekali menyebar ya,” seru Habile yang ikut menemani Bell ke UKS. “Apa Dokter juga tahu tentang teknologi baru yang dikatakan pihak sekolah?” tanya Habile.
“Ahahaha. Se-sepertinya itu hanya diketahui kalangan atas. Aku juga baru mengetahuinya. Sungguh hebat jika penelitiannya berhasil, kan? Tidak sabar rasanya untuk melihatnya setelah selesai. Haha haha haha.” Dokter itu nampak sedikit kelabakan sendiri.
Aneh. Itulah yang terlintas di pikiran dua gadis di depannya. Lalu mereka segera berpamitan untuk kembali ke kelas. Sekilas Bell mempunyai pikiran bahwa dokter itu seperti tahu sesuatu.
“Jangan mulai lagi, Bell!” Habile memutar wajah Bell dari pandangan ke arah Gedung Putih.
“Tenang saja aku tidak akan hilang lagi.” Bell malah terkekeh. “Karena aku akan mengungkap rahasia besar sekolah kita,” lanjut Bell di dalam hati.
“Ah, tetap saja ... sekolah kita benar-benar misterius. Aku heran kenapa banyak sekali anak yang ingin sekolah di sini. Yah, memang sistem sekolah ini lebih unggul. Tapi, yang dikatakan tentang teknologi baru itu sedikit janggal, kan?” Habile mengutarakan pendapatnya.
“Bagus. Habile juga akan mulai penasaran seperti diriku. Mungkin nanti aku bisa menceritakan soal mayat itu,” batin Bell senang.
“Bagaimana denganmu? Kenapa kau memilih sekolah ini?” tanya Habile.
“Bukankah aku sudah bilang karena aku tidak bisa memilih? Lagipula siapa yang tidak mau sekolah di sini dengan gratis? Sekolah ini bagus, berkelas dan harapan memiliki masa depan cerah juga jaminannya. Aku juga ingin memiliki masa depan dan banyak uang tentunya,” jawab Bell dengan mata berbinar. Ah, tujuan hidupnya adalah menghasilkan banyak uang di masa depan untuk hidup yang nyaman.
“Lagi-lagi jawaban itu.” Habile menghela napas. Sahabatnya ini selalu mengatakan bahwa dirinya bercita-cita untuk menghasilkan uang. Bisa dikatakan jika Bell mata duitan, tapi yang paling disukainya adalah kegigihan Bell dalam mengumpulkan uang dari bekerja sambilan sepulang sekolah. Untuknya yang terlahir dalam keluarga serba berlebihan, Habile tidak pernah mengira bahwa uang bisa menjadi dewa untuk orang-orang seperti Bell.
“Ah, tapi aneh sekali. Wakil kepala sekolah tadi terlihat tenang sekali bahkan tidak menginterogasiku. Aneh sekali.” Bell membatin sembari melirik ke arah Gedung Putih lagi. “Tiba-tiba perasaanku tidak enak,” lanjut batin Bell.
“Hei, keningmu tidak apa-apa?” tanya Habile menyentak Bell dari lamunan singkatnya.
“Oh, ini.” Bell menyentuh keningnya yang sudah tertutup plester dari UKS. “Jangan khawatir. Ini hanya luka ringan,” jawab Bell.
“Baguslah. Kukira kau akan lupa ingatan karena keningmu mungkin saja terbentur sesuatu. Tapi, benarkah kau tidak ingat apa yang terjadi saat kau tersedot masuk dinding? Ah, mendadak aku merinding lagi karena kita lewat lorong ini lagi.” Habile memeluk tubuhnya sendiri sembari tersenyum kecut.
“Aku benar-benar tidak ingat. Haha.” Bell menggaruk pipinya sendiri sembari mengalihkan pandang. “Sebaiknya kita cepat kembali ke kelas. Tinggal jam terakhir.” Bell mengulurkan tangannya.
“Ayo!” Habile menerima uluran tangan Bell dan menggenggamnya.
Mereka berdua saling melempar tawa kecil lalu berjalan bergandengan menyusuri lorong menuju kelas mereka. Tanpa mempedulikan murid lain yang berbisik-bisik tentangnya, mereka bercanda sepanjang jalan. Bukan hanya teman sekelasnya, bahkan kelas lain yang sudah mulai tahu tentang kejadian yang Bell alami tadi. Gosip menyebar lebih cepat dari wabah penyakit.
Jam pelajaran terakhir berakhir tanpa Bell sadari. Sebetulnya seluruh jam dihabiskannya berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Apalagi kalau bukan mayat yang dilihatnya di Gedung Putih.
Kelas berakhir dengan doa bersama. Bell yang masih dipenuhi dengan berbagai macam pemikiran, tidak terlalu fokus dan mulutnya tidak mengutarakann doa sama sekali.
“Ngiiing ...!!” Suara speaker di pojok atas kelas tiba-tiba saja berbunyi. Semua murid yang tengah berdoa terpaksa menghentikan doa mereka.
Perhatian untuk tingkat dua kelas D.
Suara dari speaker membuat Bell mau tidak mau memperhatikannya. Tidak biasanya saat seperti ini ada pengumuman.
“Tiba-tiba sekali? Sepertinya hanya kelas kita. Lihat kelas lain sudah keluar,” ujar salah satu murid sembari menunjuk luar kelas.
“Ah, benar. Ada apa ya?” Anak-anak kelas D mulai ribut sendiri. Rupanya semua berpikir sama dengan Bell.
“Anak-anak jangan ribut sendiri. Dengarkan pengumannya,” ujar guru Fisika.
Penguman untuk Arabell Purplish harap datang ke kantor kepala sekolah sekarang. Sekian pemberitahuan dari saya. Terima kasih.
Mendengar namanya dipanggil membuat Bell terbelalak tidak percaya. Apalagi anak sekelas menatap ke arahnya semua. Mendadak perasaannya tidak enak.
Kelas telah selesai. Anak-anak satu persatu meninggalkan kelas mereka. Sementara Bell dan Habile keluar paling terakhir bersama dengan seseorang yang tidak lain tidak bukan ialah Kazaks yang entah kenapa keluar bersama mereka.
“Kenapa kau mengikuti kami?” tanya Bell pada Kazaks ketika mereka telah di luar kelas. Sudah dari tadi dia memperhatikan gerak-gerik Kazaks yang aneh.
“Apa kau sudah gila? Untuk apa aku mengikuti kalian? Dasar bodoh!” Kazaks menyenggol bahu Bell ketika melewatinya.
“Apa-apaan dia itu?” gerutu Bell selalu kesal karena ulah Kazaks.
“Ha ah. Padahal anak itu dulu tidak begitu,” ujar Habile.
“Ah, Kazaks temanmu saat sekolah menengah pertama ya.” Bell tersenyum geli.
“Hah? Kami tidak berteman. Kebetulan saja kami sekelas saat tingkat dua dan tiga. Dia itu dipuja-puja banyak gadis. Sikapnya juga sopan. Tidak seperti sekarang. Lihat saja sekarang seperti orang yang berbeda tapi di tubuh yang sama. Kesal sekali,” ujar Habile.
“Hahaha.”
“Kau malah tertawa?” Habile teringat pengumuman. “Mau aku temani ke kantor kepala sekolah?” tawarnya.
“Tidak perlu. Aku akan ke sana sendiri. Lagipula aku yakin jemputanmu sudah menunggu di depan.”
“Aku ingi-“
“Tidak apa-apa,” potong Bell.
Habile menghela napas. “Baiklah-baiklah. Aku pulang dulu. Hubungi aku kalau ada apa-apa. Meski aku sedikit khawatir, tapi kau beruntung karena akan bertemu dengan kepala sekolah kita.”
“Aku harap begitu.”
Mereka berpisah di depan Gedung Hijau. Tanpa membuang waktu lagi, Bell segera pergi ke Gedung Merah di mana kantor kepala sekolah yang dikabarkan seorang penyihir itu berada.
Bell berdiri di depan Gedung Merah. Tidak ada ketakutan di hatinya. Firasatnya mengatakan bahwa mereka akan menginterogasinya dan ini adalah kesempatan besarnya untuk mengetahui apa yang telah disembunyikan dan jangan lupakan tentang mayat tampan itu. Bell melangkahkan kakinya dengan pasti memasuki Gedung Merah.
“Mari kita lihat apa yang akan mereka katakan? Mungkin saja mereka akan memintaku bungkam dan memberi uang sogokan,” gumam Bell dengan sudut bibirnya yang tertarik naik. “Terdengar bagus.”
***