Chapter 4

1559 Kata
“Uang, aku datang,” gumam Bell percaya diri. Bell merasa kakinya melangkah dengan ringan sekali. Bisa dikatakan ini pertama kalinya Bell menginjakkan kaki di Gedung Merah. Namun, dia sama sekali tidak merasa ketakutan. Dia mengedarkan pandang dan hanya decak kagum yang dirasakannya. Auranya benar-benar berbeda dengan gedung tingkat satu maupun dua. Ketika hendak menuju meja resepsionis, Bell berpapasan dengan beberapa murid tingkat tiga yang kelasnya berada di lantai atas yang sepertinya baru saja keluar kelas hendak pulang. Mereka memandang Bell seolah melihat alien. Tentu saja mereka akan berpikir yang tidak-tidak. Dia baru saja menghebohkan satu sekolah. Berita menyebar dengan cepat dan meski wajahnya tidak dikenal, tentu saja mereka bisa langsung menduga siapa lagi murid tingkat dua yang berkeliaran di jam pulang sekolah di Gedung Hitam. Sayangnya Bell tidak terlalu mempedulikan pandangan penasaran mereka. “Kantor kepala sekolah berada di lantai tiga. Silakan gunakan lift khusus di sebelah ruang guru,” ujar resepsionis ramah. “Oh, terima kasih.” Bell tersenyum lalu segera menuju lift di ujung, dekat ruang guru. Bell masih bisa merasakan pandangan beberapa murid tingkat tiga ketika dirinya berdiri di depan lift menunggu kotak besi itu turun. “Bell.” Gadis itu menoleh dan mendapati seorang pria berusia tiga puluh puluh tahunan berjalan menghampirinya. Bell tersenyum padanya. “Paman,” ucap Bell. “Apa kau baik-baik saja? Paman sudah mendengar beritanya dari Miss Valey,” ujar Dane, paman Bell. Pamannya ini guru di tingkat satu. “Tidak murid tidak gurunya, kalau menyebarkan berita seperti ini memang cepat sekali,” batin Bell. “Bell, kamu tidak apa-apa?” tanya Dane lagi. Matanya menangkap plester di kening keponakan angkatnya. “Keningmu ...” “Ah, ini tidak apa-apa. Hanya luka kecil. Paman tidak perlu khawatir.” Bell tersenyum kecil. “Oh, ya bibi baik-baik saja, kan?” tanyanya. “Bibimu baik-baik saja.” Raut muka Dane sedikit muram. “Paman jangan begitu. Aku baik-baik saja walau tinggal sendiri. Terima kasih sudah mencemaskanku dan kebaikanmu selama ini padaku.” “Bell-” TRING. Ucapan Dane terputus ketika pintu lift terbuka. “Aku harus pergi, Paman. Sampai jumpa.” Bell membalikkan badan hendak masuk ke dalam lift. Sebelum pintu lift tertutup Bell melambaikan tangan sambil tersenyum pada pamannya. Tidak lama lift yang dinaiki Bell berhenti di lantai tiga. Dia melangkah keluar dengan napas lega. Sejujurnya di dalam lift sendirian itu sedikit membuat tidak nyaman. Bell menoleh ke kiri dan ke kanan lalu tersenyum lebar melihat papan nama ruang kepala sekolah di ujung lorong kanan. Gadis itu mulai menggerakkan kakinya menuju ujung lorong Bell menghentikan langkahnya ketika sampai di depan pintu kantor kepala sekolah. Ketika hendak mengetuk pintu, Bell tertarik melihat bangunan di belakang Gedung Merah. Bell berjalan ke dinding kaca dan melihat bangunan rumah megah yang katanya milik kepala sekolah. Dia baru bisa melihat dengan jelas dari sini karena saat berada di gedung tingkatnya, pandangannya terhalang oleh Gedung Merah ini. “Arabell Purplish?” Bell tersentak mendengar namanya dipanggil. Gadis itu memutar tubuh dan mendapati Mr. Oarsmane berdiri di hadapannya dengan memegang sebuah koper berwarna perak yang menarik perhatian Bell. “Selamat siang, Mr. Oarsmane. Saya baru saja tiba di sini,” ujar Bell. “Siang.” Mr. Oarsmane tersenyum. “Kenapa tidak segera masuk? Kepala sekolah sudah menunggumu. Ayo!” Tangan bebas Mr. Oarsmane mengetuk pintu kantor kepala sekolah. Tanpa menunggu jawaban, dia membuka pintunya. Bell segera mengikutinya masuk. Lagi-lagi Bell terkagum-kagum memandangi interior kantor kepala sekolah yang benar-benar luxury. Mata Bell otomatis memindai taksiran harga pajangan-pajangan berbahan emas di rak kayu dengan ukiran cantik. Lebih dari itu, melihat wajah kepala sekolahnya secara langsung dari dekat seperti ini benar-benar tidak ternilai harganya. Dia beruntung. Kepala sekolah berambut hitam yang panjangnya melebihi rambut Bell itu entah kenapa terlihat keren di matanya. Raut wajahnya yang sama pucatnya dengan Mr. Oarsmane perlahan menyadarkan Bell kembali. Dia tidak akan tertipu. Mereka mencurigakan dan Bell harus tahu yang kebenarannya. “Se-selamat siang, Kepala Sekolah,” salam Bell sedikit gugup karena kharisma dari kepala sekolahnya, tapi tidak berarti dia menjadi takut. “Silakan duduk, Arabell Purplish,” ujar Mr. Strengthen. Bell mengangguk. Dia segera menarik kursi di depan meja kepala sekolah. Sedangkan Mr. Oarsmane berdiri di samping meja setelah menaruh kopernya di atas meja. Mata Bell melirik koper yang nampak mahal itu lalu mulai menerka-nerka apa yang ada di dalamnya. Jantungnya berdegup kencang ketika membayangkan yang di dalamnya adalah uang tutup mulut untuknya karena dia melihat yang seharusnya tidak dilihat. Bell menyukai uang dan bila memang benar seperti yang dibayangkannya, maka dia tidak keberatan menahan rasa penasarannya dan bersedia tutup mulut. “Kurasa kita bisa langsung bicara intinya saja, Bell,” ujar Mr. Strengthen tersenyum. Ya, langsung saja. Katakan berapa jumlahnya. “Saya rasa ini berhubungan dengan insiden tadi,” ujar Bell berusaha terlihat tenang. Sementara dirinya sudah tidak sabar melihat tumpukan uang di dalam koper. “Benar. Aku yakin kau sudah tahu semuanya. Insiden ini bukanlah rencanaku, tapi mau bagaimana lagi. Kalau sudah terlanjur tahu aku tidak punya pilihan lain.” Mr. Strengthen memberi kode pada wakilnya. Mr. Oarsmane mengangguk. Bell mulai sulit menyembunyikan rasa senangnya melihat Mr. Oarsamane mulai membuka koper itu. Jantungnya berdebar semakin kencang dan matanya melihat gelisah akan gerakan Mr. Oarsmane yang seperti sengaja melamban. Tanpa dia tahu aksinya itu disaksikan kepala sekolahnya yang hanya bisa mengembangkan senyum. Koper itu telah terbuka. Bell bisa melihat isinya dengan jelas karena berada di depannya. Raut wajah bingung dan kecewa bercampur menjadi satu. Itu bukan uang. Bell memandang kepala sekolah dan wakilnya secara bergantian meminta penjelasan dari isi koper yang meleset jauh dari taksirannya. “Sebelum kita bicara lebih lanjut, Mr. Oarsmane akan mengambil darahmu,” ujar Mr. Strengthen terdengar santai. “Apa?” Bell mengeryitkan keningnya. “Tolon singsingkan lengan seragammu,” ujar Mr. Oarsmane yang sudah siap melakukan aftap padanya. Bell menatap horor pada jarum tajam dan kantong darah di depannya. Alarm bahayanya berbunyi nyaring memberinya peringatan. Semua sudah jelas sekarang. Dia tidak akan disuap untuk tutup mulut, sebaliknya dia akan dilenyapkan karena telah melihat hal terlarang. “Saya rasa ini-“ “Apa yang kau pikirkan itu sama sekali tidak benar,” potong Mr. Strengthen. “Tenanglah,” ujarnya sembari menatap lurus ke mata Bell. Bell tiba-tiba merasa dirinya mulai tenang. Rasa was-was dan pikiran buruk perlahan memudar. Bahkan ketika Mr. Oarsmane kembali memintanya menyingsingkan lengan seragamnya, tanpa keraguan dia segera melakukannya. Bahkan ketika jarum itu mulai menusuk lengannya, dia merasa tenang. Matanya hanya mengamati kantong darah yang lama-lama mulai menggembung dipenuhi cairan merah yang keluar dari lengannya. Itu darahnya dan dia tidak akan melupakan waktu pertama kalinya melakukan aftap. “Minumlah kapsul ini agar pusingmu berkurang.” Mr. Oarsmane menyodorkan sebutir kapsul berwarna merah dan segelas air. “Terima kasih.” Bell menerimanya. Kepalanya memang terasa pusing dan tidak ada alasan untuk menolak kapsul itu. Sekali hap kapsul itu sudah berpindah dalam perutnya. Dengan ajaib Bell bisa merasakan efeknya yang langsung bekerja. “Mr. Oarsmane tolong darahnya segera diurus. Aku yakin dia menunggu dengan tidak sabar.” Mr. Strengthen menyandarkan punggung di kursinya yang nyaman. “Baik.” Mr. Oarsmane mengangkat koper yang dikira Bell berisi uang. Bell yang bertanya-tanya apa maksud ucapan Mr. Strengthen dikejutkan oleh Mr. Oarsmane yang masuk ke dalam dinding kaca yang berubah menjadi permukaan air. Bell mengedip-ngedipkan mata melihat pria itu mulai tidak terlihat menyisakan suara kecipak air yang perlahan kembali menjadi kaca. “Seperti itu kan yang kau alami tadi, Bell?” Bell menoleh cepat ke arah kepala sekolahnya yang nampak sangat santai. Saat itu dia mulai merasakan detak jantungnya kembali berdetak dengan kencang. Tidak seperti tadi saat dia merasa bukan dirinya. “Ada di mana saat kau melewati dinding air?” Mr. Strengthen masih dengan suara santainya. “Saya-” Bell terkejut karena Mr. Strengthen tiba-tiba bangkit dari kursinya dan berjalan ke dinding kaca di mana wakilnya tadi masuk ke sana. Mr. Stengthen menyatukan tangan di belakang tubuhnya sembari melihat ke arah Gedung Putih. “Apa kau tahu nak, aku sudah menjalankan sekolah ini hampir lima puluh tahun lamanya dan baru hari ini ada seorang manusia yang melihat hal yang sudah kusembunyikan.” “Manusia? Apa maksud Anda?” tanya Bell memberanikan diri. Dia sudah dipastikan tidak akan mendapat uang, jadi sudah seharusnya Bell mengetahui rahasia sekolahnya ini. “Apa kau tidak bisa menebaknya?” Mr. Strengthen menoleh. Dia tersenyum dan taringnya yang lancip terlihat dengan sangat jelas. Bell menatap itu dengan sangat sangat sangta jelas. Kepala sekolahnya jelas bukan manusia. Desas-desus itu benar. Sekarang Bell telah mengetahuinya dan Bell merasa itu bukan hal yang baik. “Jadi semuanya benar. Dinding air itu bukan teknologi baru sekolah ini dan juga mayat yang ada di kamar tak berpintu itu juga-“ Bell memekik dalam hati teringat wajah pucat yang tampan itu. “Mayat?” Mr. Strengthen tertawa kecil. “Aku tidak tahu bagaimana kau bisa sampai di kamarnya, tapi yang kau kira mayat itu adalah putraku, Nak.” Mr. Strengthen membalikkan badan. “Putra Anda?” “Benar. Dia adalah putraku. Dan karena itu kau harus bertanggung jawab.” “Apa maksud, Anda?” “Nak, kau sudah membangunkan putraku yang seharusnya masih tertidur nyenyak. Sekarang kau sudah tahu kebenarannya dan aku harap kau bisa bekerja sama. Aku tahu ini mengejutkanmu, tapi setiap perbuatan yang dilakukan akan dituntut tanggung jawab. Aku mencintai sekolah ini dan semua murid-muridku, tapi aku tidak punya pilihan lain jika berhubungan dengan putraku yang pemarah dan tidak sabaran.” “Sa-saya tidak membangunkannya. Saya-“ Bell teringat keningnya yang terluka dan darah di bibir mayat itu. Dia berteriak dalam hati. Mana dia tahu ada makhluk seperti itu ini di sekolahnya. Selama ini dia tidak percaya bahwa ada makhluk seperti kepala sekolahnya ini. Dan dia mana tahu jika darah yang kelihatan tak seberapa itu sanggup membuat vampir terbangun dari tidur panjangnya. Ini adalah bencana. “Kau tidak bisa mengelak. Darahmu telah sampai pada putraku dan beberapa vampir memiliki keistimewaan yang menakutkan. Mereka hanya bisa menerima satu darah untuk hidupnya. Putraku adalah salah satu vampir yang istimewa itu.” Sekarang Bell dapat melihat kepala sekolahnya yang berbicara dengan wajah penuh ancaman. Bahkan senyum lebar yang memperlihatkan dua taringnya sudah mewakili semua perkataannya yang tidak akan bisa dilawan oleh murid biasa sepertinya. Kepala sekolahnya adalah vampir. Bell mulai bisa membayangkan apa yang selama ini ada di Gedung Putih, di kelas malamnya. “Nah, Bell mari kita bicarakan tentang tanggung jawabmu pada putraku.”  ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN