Bulan menatap mereka secara bergantian. Mama dan papa Daren, juga Stella.
Ketika Daren bertanya dirinya siapa, Bulan ingin menjawab, sayangnya tangannya lebih dulu ditarik oleh Marlina, ibu dari calon suaminya itu.
"Daren hilang ingatan, Bulan."
Mata Bulan beralih pada pria paruh baya itu, Sucipto, ayah Daren. Tak ada reaksi apapun dari Bulan, wanita itu malah menatap Sucipto dengan tajam.
"Kecelakaan itu menimbulkan Daren hilang ingatan, dia tidak ingat kita semua. Yang dia ingat itu dia akan menikah, dan ketika dia melihat Stella, dia mengira jika Stella adalah calon istrinya," ucap Sucipto menjelaskan.
Bulan menggeleng berkali-kali. Jelas saja dia tidak percaya dengan ucapan Sucipto, bisa jadi itu hanya akal-akalan mereka saja, kan? Karena selama ini mama Daren selalu menentang hubungan mereka berdua.
"Aku tidak percaya," tandas Bulan.
Wanita itu berdiri dari duduknya, ketika dia ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja dia mendengar sahabatnya berbicara.
"Apa yang diucapkan sama Om Cipto itu benar, Bulan. Kamu harus terima kenyataan jika Daren lupa sama kamu." Tak ada nada ramah yang wanita itu keluarkan, membuat Bulan tersenyum kecut.
"Seandainya Daren benar hilang ingatan, lalu menganggap kamu sebagai calon istrinya, apa kamu tidak mengelak, atau malah menyetujuinya?" tanya Bulan dengan tatapan menusuk.
Stella tampak terdiam, tak berani menyahut ucapan Bulan, tapi yang Bulan lihat dari wanita itu, Stella sama sekali tidak menunjukkan raut wajah bersalah.
"Sebenarnya kamu itu anggap aku sahabat atau bukan sih, Stella? Kok kelihatannya wajah kamu kayak berseri-seri gitu ketika tahu jika Daren hilang ingatan?" tanya Bulan to the poin.
"Saya malah lebih setuju jika Stella yang menjadi calon menantu saya, calon istri Daren, daripada kamu. Asal-usul udah tidak jelas, mau menikah dengan anak saya yang mempunyai segalanya, kamu punya kaca, kan, di rumah? Harusnya kamu sadar siapa kamu sebenarnya. Daren seorang pemilik restoran ternama sangat tidak cocok jika bersanding dengan kamu, pekerjaan hanya sebagai guru les privat saja bangga. Kamu lihat Stella, dia adalah model, wanita karir, sudah pasti kehidupannya lebih baik dari kamu!" sentak Marlina.
Bulan tampak terlihat kebingungan ketika mendengar setiap kata yang terlontar dari bibir Marlina, seketika wanita itu menjadi linglung. Dadanya terasa sesak serta matanya tampak berkaca-kaca.
'Ya Tuhan, apalagi ini,' batin Bulan dengan senyum yang dipaksakan.
Bahkan Sucipto, papa Daren, sama sekali tidak menyela ucapan istrinya ataupun membela Bulan ketika wanita itu dicaci maki oleh Marlina. Seburuk itukah dirinya.
Tanpa berkata-kata lagi Bulan pergi dari hadapan mereka, dia harus menemui Daren, memastikan jika ucapan Stella hanya bualan saja.
Bulan membuka pintu ruangan Daren, wanita itu tersenyum lebar ketika melihat wajah pulas calon suaminya. Wanita itu mendekat, lalu mengelus puncak kepala Daren.
"Hai," bisik Bulan. "Kamu udah benar-benar sembuh, kan? Nggak ada yang sakit lagi?" tanya wanita itu lirih.
Dia tak menduga jika Daren membuka matanya, membuat senyum Bulan kian mengembang.
"Kamu sudah bangun?"
Daren tak menjawab, dia langsung menepis tangan Bulan dengan kasar, pria itu terkesan jijik karena habis disentuh oleh Bulan.
Bulan tercengang, dia tak percaya jika Daren melakukan seperti itu padanya. Bulan masih terus memerhatikan tangannya dengan perasaan campur aduk.
"Kamu siapa? Kenapa pegang-pegang aku?!" bentak Daren.
Bulan terenyuh, wajahnya berubah menjadi pias. Wanita itu terus menggeleng, ingatannya kembali terlempar pada ucapan Stella tadi.
"Ini aku, calon istri kamu, Daren!"
Daren menggeleng tegas. "Nggak usah ngaku-ngaku deh, calon istri aku itu cuma satu, Stella. Ternyata benar apa yang mama aku bilang, kamu itu sangat terobsesi padaku, sampai-sampai ngaku sebagai calon istri aku, dasar wanita gila!"
Bulan menahan napas, air matanya pun mengalir tanpa permisi. Bahkan untuk sekadar berbicara saja rasanya susah. Napasnya terasa tersendat.
"Kamu lagi ngeprank aku, kan, Ren? Ya Tuhan! Kenapa harus sejauh ini, ini beneran nggak lucu, lho," kata Bulan sambil tertawa, tapi air matanya masih mengalir.
Daren mengerutkan kening. "Lucu? Siapa yang ngelawak? Bisa, kan, jangan mempermalukan diri kamu sendiri? Sekarang kamu bisa pergi dari sini. Aku minta ini adalah terakhir kalinya aku lihat kamu!"
"Daren," mohon Bulan.
"Pergi," usir pria itu sambil membuang pandangannya.
"Please, jangan seperti ini."
"Pergi!" bentak Daren, dia menatap Bulan begitu nyalang.
Belum sempat Bulan membuka mulut, Daren sudah lebih dulu membanting gelas yang ada di meja. Serpihan kaca itu mengenai kaki Bulan, membuat wanita itu meringis pelan.
"Cepat pergi dari sini sebelum aku melakukan kekerasan padamu," peringat Daren.
Sekali lagi Bulan menatap Daren, wanita itu mengangguk lemah.
"Baik, kalau itu yang kamu mau, aku akan melakukannya."
"Jangan pernah muncul di hadapanku lagi."
Bulan tersenyum miris, dia menghela napas berat. "Fine, aku pergi, dan jangan cari aku lagi."
Wanita itu langsung menuju pintu keluar, berlari dengan sekencang mungkin sambil terisak pilu, dia tidak pernah menyangka jika takdir akan membawanya seperti ini.
Daren, pria yang dulu begitu tulus mencintainya, selalu membelanya ketika selalu dicemooh oleh calon mertuanya, kini pria itu telah berubah, jauh lebih seram dari yang Bulan kira.
Dengan mudahnya pria itu melupakan cinta mereka yang sudah mereka bangun cukup lama.
Bulan menatap bangunan rumah sakit itu dengan sendu. "Selamat tinggal," ucapnya lirih.
***
Ini adalah pilihan yang sangat sulit untuk Bulan, ketika dia tengah bersedih, tiba-tiba saja muridnya itu mengajaknya bertemu untuk acara makan malam.
Bulan sudah berusaha keras untuk menolak, mencari alasan yang tepat, tapi tetap saja dia kalah. Hingga pada akhirnya mau tak mau dia pun menyetujui permintaan muridnya.
Di sinilah dia berada, di tengah-tengah keluarga besar sang murid. Mereka semua tampak sedang bersenda gurau, asyik mengobrol tentang kehidupan mereka, membuat kepala wanita itu tertunduk lesu. Sepertinya dia salah besar karena sudah datang ke acara makan malam tersebut.
"Bulan, kenapa makanannya dianggurin begitu, nggak enak, ya?" tanya wanita paruh baya itu dengan suara lembut
Bulan tersenyum kikuk. "Enak, kok, Tan. Ini lagi saya makan."
"Kamu kurang nyaman ya berada di tengah-tengah keluarga ini. Aduh, Tante jadi nggak enak sama kamu. Anak Tante yang paling tua tuh baru datang dari luar kota, jadi kita adain makan-makan gitu buat merayakan kedatangannya, terus tiba-tiba Tante kepikiran kamu, makanya Tante ngotot banget nyuruh kamu datang. Ternyata kamunya malah nggak nyaman."
"Eh, bukan begitu, Tan. Saya bukan bermaksud--"
"Halo, selamat malam semuanya. Wah, makan besar nih."
Semua pandangan tertuju pada suara itu, termasuk Bulan. Awalnya dia tampak biasa saja. Namun ketika dia menatap pria itu cukup lama, Bulan mengernyitkan dahinya.
'Kok mukanya kayak nggak asing gitu, ya,' batin wanita itu.
Sekali lagi Bulan menatap pria itu, dan sialnya pria itu juga tengah menatapnya, membuat Bulan langsung membuka mulutnya, matanya pun ikutan melotot.
"Kamu?!"