Surat Undangan?

1045 Kata
"Kalian udah saling kenal?" "Belum." "Sudah." Mata Bulan melotot ketika mendengar jawaban dari pria itu. "Loh, jadi ini yang benar yang mana?" tanya wanita paruh baya itu, yang bernama Lestari. Dari kedua orang itu sama-sama tidak menjawab, mereka malah asyik saling pandang. Pria itu memberi kode pada Bulan, dengan cara menunjukkan kancing kemejanya sendiri sambil tersenyum menyeringai, membuat Bulan mengepalkan tangannya. Kentara sekali jika wanita itu tengah emosi. "Kalian kenapa malah jadi saling pandang gitu? Berarti udah saling kenal dong, ya?" Bulan tersentak, dia menatap Lestari sambil tersenyum kikuk. "Sebenarnya waktu itu kami cuma saling bertemu aja, belum tahu soal nama," jawab wanita itu jujur. Lestari tampak manggut-manggut. "Begitu rupanya, ya sudah, sekarang Tante kenalin. Dewa, ini namanya Bulan, guru les privat adik kamu. Nah, Bulan, ini kakaknya Tasya, namanya Dewa. Dia baru aja datang dari luar kota, habis ngurusin bisnisnya. Emang dia itu sedikit iseng, tapi sebenarnya orangnya baik, kok. Ayo, silakan memperkenalkan diri." Mau tak mau Bulan mengulurkan tangannya pada pria itu, yang pada akhirnya disambut baik oleh Dewa. "Bulan," kata wanita itu pelan. "Dewa," sahut pria itu, matanya mengerling nakal. Bulan mencoba melepaskan tautan tangan mereka, tapi tidak bisa karena Dewa menggenggam tangannya begitu erat. 'Ini anak apa-apaan sih, tengil banget jadi orang,' gerutu Bulan dalam hati. "Ih, Kak Dewa mulai kumat tuh modusnya, kalau ada perempuan selalu aja kayak gitu. Kak, Bu Bulan itu udah punya calon suami, awas loh nanti diamuk sama calon suaminya," celetuk Tasya. Pria itu langsung melepaskan genggaman tangannya, sedikit kecewa karena mengetahui jika Bulan sudah mempunyai kekasih. "Padahal dilihat dari nama juga cocok, kan, Ma?" tanya Dewa. Pandu yang sedari tadi diam hanya mampu menggeleng kepala. "Kamu juga udah punya pacar, kan, Wa? Udahlah, kurang-kurangi sifat playboynya itu. Kamu nggak kasihan sama perempuan-perempuan yang udah kamu sakiti?" tanya pria paruh baya itu. Dewa mendengkus keras. "Ih, kalian ini pada nggak asik ah, masa ada cewek secantik Bulan dianggurin, kan, sayang banget." Bulan memutar bola matanya malas, sudah dia duga, selain tengil, pria itu juga suka tebar pesona. Beruntungnya dia tidak seperti wanita lain, ketika melihat pria tampan langsung berbinar-binar. 'Ck, emangnya dia tampan?' gerutu wanita itu dalam hati sambil menggeleng pelan. "Hei, sudah-sudah. Kalian itu dari tadi berdebat terus, sebaiknya mari lanjutkan acara makan-makannya, kasihan tuh si Bulan, terlihat tidak nyaman gitu," tegur Lestari. Suasana yang tadinya gaduh pun seketika hening. Mereka menikmati makan malam itu dengan penuh nikmat. Sesekali Dewa mencuri-curi pandang pada Bulan. Dewa meneguk salivanya berkali-kali ketika melihat Bulan menelan makanan itu. 'Kalau dilihat-lihat, dia seksi juga,' batin pria itu. Ketika tatapan mereka bertemu, Dewa mengedipkan sebelah matanya, membuat Bulan langsung membuang pandangannya ke sembarang arah. 'Haduh, ngapain sih mataku selalu pengin lihat ke arah dia, sialan! Kayaknya aku harus cepat-cepat pergi dari sini,' batin Bulan. Bulan cepat-cepat melahap makanannya, mengabaikan reaksi orang-orang yang tengah melihatnya ketika dia sedang makan. Wanita itu tidak peduli, karena yang dia inginkan saat ini adalah pulang. Dia sangat membutuhkan kesendirian, untuk membuang puing-puing kenangannya dengan Daren. Sial! Matanya kembali berkaca-kaca ketika Bulan mengingat nama pria itu. *** "Kok buru-buru amat sih pulangnya? Nggak mau kumpul-kumpul di sini, dari pada di rumah cuma sendiri, kan?" tanya Lestari. Bulan tersenyum kikuk. "Langsung pulang aja, Tan. Soalnya udah punya janji juga sama--" "Oh, sama calon suami kamu, ya? Iya, nggak apa-apa deh, lain kali kita bisa kumpul lagi." Lestari menoleh ke arah Dewa. "Kamu antar Bulan pulang, ya? Kasihan kalau pulang sendiri, ini sudah malam," pinta wanita paruh baya itu. Bulan tersentak, jelas saja ini bukan termasuk keinginannya. Dia sengaja ingin cepat-cepat pergi dari situ karena tidak mau berhadapan dengan Dewa, lalu mengapa Lestari malah menyuruh untuk mengantarnya, bukankah usaha untuk menghindar tampak gagal? "Eh, nggak usah repot-repot, Tan. Aku bisa pulang sendiri, kok. Bisa pesan taksi online," jawab Bulan cepat. "Jangan gitu dong. Tante juga harus tanggung jawab. Tante yang sudah menyuruh kamu datang ke sini, otomatis Tante juga harus pastikan kamu pulang dengan selamat, bukan begitu, Dewa?" tanya Lestari sembari menatap anaknya, yang sedari menatap Bulan tanpa kedip. "Ah, ya. Mama aku ada benarnya juga. Lagian aku nggak merasa direpotkan, kok." Bulan mendesis lirih, dia melirik ke arah Dewa dengan sebal. Bukannya takut, Dewa malah menaikkan dagunya, seolah menantang wanita itu. "Ya udah yuk, nanti keburu kemalaman." Dewa berdiri dari duduknya, lalu menggandeng tangan Bulan dengan santai, tanpa memedulikan reaksi yang wanita itu berikan. Beberapa kali Bulan mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Dewa, tapi gagal karena Dewa semakin mengeratkan cengkeraman itu, yang lebih membuat Bulan dongkol, Dewa malah bersiul-siul seakan dia tak pernah melakukan kesalahan apa pun. "Silakan masuk, Tuan Putri," kata Dewa, yang saat ini tengah membuka pintu mobil itu untuk Bulan. Bulan tak menyahut, dia masuk begitu saja ke dalam mobil tersebut. Hal itu membuat sudut bibir Dewa tertarik. 'Yang kayak gini nih yang aku cari. Cuek, menarik. Sayangnya bentar lagi jadi bini orang." Sepanjang perjalanan tak ada obrolan di antara mereka. Beberapa kali Dewa berdeham keras, memberi kode pada Bulan agar memulai percakapan. Namun sayangnya, wanita itu tetap diam saja. "Ini alamat rumahnya di mana, ya?" tanya Dewa. Bulan mendelik kesal. "Tadi sudah aku beritahu, ya. Kenapa masih bertanya. Ini sudah ketiga kalinya kamu menanyakan hal yang sama," sahut wanita itu ketus. Dewa menelan salivanya dengan susah payah. Menurutnya, baru kali ini ketika dia berbicara, diacuhkan oleh wanita. Biasanya, wanitalah yang selalu menggodanya terlebih dahulu. Mobil itu pada akhirnya sudah sampai di pelataran rumah Bulan. Tanpa mengucap satu kata pun, wanita itu langsung keluar dari mobil itu. Dewa melongo karena melihat sikap yang Bulan berikan. "Gila, gila, gila. Ini nggak bisa dibiarkan," ucap pria itu. Dewa pun ikut keluar dari mobilnya, niatnya ingin memanggil wanita itu, dan juga memberikan ceramah ala-alanya. Namun dia urungkan, karena saat ini ada wanita lain yang sedang berada di hadapan Bulan. Dewa sedikit mendengar perdebatan dari mereka, bahkan sesekali Dewa juga mendengar Bulan mengumpat dan juga berteriak histeris. Ketika wanita asing itu pergi, Dewa melihat Bulan menatap sebuah surat itu sambil menangis. Lalu setelah itu, Bulan membuang surat itu dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Dewa juga terperanjat ketika mendengar Bulan menutup pintu itu dengan keras. Pria itu mengusap dadanya dengan perlahan. Mata Dewa tertuju pada surat yang tadi Bulan buang, entah mengapa dia sangat penasaran. Dia pun mendekati surat itu, lalu mengambilnya. "Surat undangan pernikahan?" gumamnya sambil mengernyitkan dahi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN