Persaingan

3882 Kata
Saat keluar dari air, Runa mendapatkan kartu hijau dan id card yang menandakan dia di terima bekerja di perusahaan itu. "Nona, aku mengerti kamu tidak bisa bicara, tapi apa yang kamu lakukan tadi sangat luar biasa. Banyak yang memujimu di laur sana,  Kamu bisa mulai bekerja seminggu empat kali yaitu hari Senin, Rabu, Sabtu dan Minggu, Jika kamu absen, maka kami hanya akan memotong komisinya sehari, gaji disini cukup besar karena kamu bisa mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam ajang internasional. Kami juga mengijinkan kamu berkerja sambil kuliah, jangan khawatir jika tidak bisa datang seminggu full atau sebulan full karena kami memberi gaji setiap hari setelah selesai petunjukan. Kamu hanya perlu membuat surat ijin jika kamu absen, ini gaji pertamamu karena berhasil membuat penonton terhibur dengan pertunjukkanmu tadi, jelas Penerima kerja itu Runa terlihat sangat bahagia dia memegang tangan penerima kerja itu dan terus mengangguk sambil tersenyum. "Seorang gadis cantik yang sangat periang," Puji penerima kerja yang bernama Pak Ras  Dengan segera Runa mengganti pakaiannya dan menemui Mary di lantai bawah. Runa terlihat begitu bahagia, kaki kecilnya berlari girang sepanjang perjalanan turun dari tangga, setelah melihat Mary tanpa berfikir panjang, Runa melompat dan memeluk Mary dengan perasaan bahagia. "Aku tahu, kamu sangat bahagia, terlihat sekali di wajahmu." Mery menepuk punggung Runa pelan. Runa melepaskan pelukan dan membuka uang yang ada di bungkusan itu, matanya cukup terbelalak ketika uang sebesar 1,5 juta ada ditanyakan sekarang.  "Sebenarnya berapa gajiku dalam sebulan? Aku tidak pernah berfikir jika sehari aku mendapatkan uang sebesar ini? Terimakasih Tuhan," batin Runa, Runa menunjukkan kartu tanda dia di terima kerja dan sejumlah uang tunai yang dia terima kepada Mery. "Kamu langsung mendapatkan gaji?Kamu memang terlihat luar biasa tadi, Selamat Runa!" Mery terlihat ikut bahagia. Runa menggunakan bahasa isyarat,  "Kak Mary, aku bekerja hanya seminggu empat kali, entah gaji dalam sebulan berapa? Tapi aku akan dibayar setiap selesai petunjukkan, aku ingin memberikan uang sewa tinggal di apartemenmu, bagaimanapun aku menumpang, aku akan ikut membayar air dan listrik di apartemen, sebelum aku bisa mendapatkan apartemen sendiri." ucap Rina dalam hati sambil menyelesaikan gerakan tangannya. "Aku berharap kamu tidak pindah, kamu bisa membayar air dan listrik saja tanpa uang sewa, kita bisa patungan. Tapi jangan pindah dari apartemenku ya! Aku sangat kesepian, jika tidak ada kamu nanti," jelas kak Mery. "Apa tidak akan memberatkanmu, jika tidak membayar uang sewa? Pasti mahal tinggal di apartemen kan kak? Baiklah, aku akan tetap tinggal." kata Runa menyelesaikan gerakan tangan untuk bahasa isyaratnya. "Lagian berapa orang yang masuk ke apartemen tidak akan menambah biaya sewa, yang membayar juga kakakku di luar negeri, kita hanya perlu memikirkan biaya air dan listrik saja. Setiap kamu membersihkan rumah, kamu juga akan mendapatkan makan gratis dariku untuk sehari-hari jadi kamu tidak usah khawatir!" jelas Mery mengelus kepala Runa seperti adiknya sendiri. "Terimakasih kak, apa kamu juga bekerja kak?" Runa bertanya lagi dalam bahasa isyarat. "Aku bekerja di bar sebagi waitres, gajiku juga lumayan. Jadi kamu tidak perlu khawatir, sudah jam satu, waktunya kita ke kelas renang!" Ajak Mery. Runa menggunakan bahasa isyarat lagi "Bagaimana kakak tahu, kalau hari ini aku mau ke kelas renang?" "Karena aku juga anggota kelas berrenang, saat kamu sakit, Leon memberitahuku, gara-gara kamu hubunganku dengan Leon jadi semakin dekat, kamu seperti dewi fortuna buatku. Terimakasih Runa,"  "Kak, tidak perlu begitu, aku tidak berbuat apa-apa. Aku baru tahu kalau kakak anggota kelas renang juga," Runa menyelesaikan gerakannya. "Ayo kita ke kelas renang, aku tidak sabar untuk bertemu Leon!" jelas Mery sambil merangkul Runa untuk segera masuk ke mobilnya. "Sepertinya, kak Mery benar-benar jatuh hati dengan kak Leon. Aku heran, kenapa menyebut kak Leon aku masih sanggup tapi mengatakan Kak Larbi terasa jijik? Dia lebih cocok dengan julukan pria bermulut pedas. Sudah, sudah kenapa aku jadi mengingat dia?" Runa mengerutu saat perjalanan ke kampus. *** Perkenalan kelas dimulai, seorang dosen sekaligus pelatih renang memperkenalkan dirinya. Runa dan Mary duduk terpisah di kursi senior dan di kursi junior. "Namaku Mr Key, aku mengampu mata kuliah olahraga, sekaligus pembina dari klup Renang dan berselancar ini. Klup ini telah memperoleh 19 medali dari beberapa generasi dan terbanyak adalah dari Larbi, mahasiswa teladan dari kampus ini." jelas Mr Key Semua mahasiswa dan mahasiswi baru bertepuk tangan, Larbi berjalan dengan d**a telanjangnya setelah berenang menghampiri mahasiswa dan mahasiswi baru. "Perkenalkan dia adalah senior kalian Larbi, dia sekarang baru mempersiapkan lomba internasional yang akan diadakan satu setengah bulan lagi di Jerman." jelas Mr Key lagi. Mereka kembali bertepuk tangan, semua gadis membicarakan Larbi dan mulai menaruh hati padanya, tiba-tiba mata Larbi melihat Runa duduk di tengah banyak orang, dia tertawa sambil membuang muka.  "Jangan menggangguku! Tapi dia datang kedalam kelasku?" Larbi bersuara dalam hati.  Runa yang melihat ke arah lain, mendengar suara yang tidak asing di telinganya, "Dia lagi, dia lagi, kamu pikir kelas ini milik nenek moyangmu? Ha?" Runa menatap tajam ke arah Larbi.  "Aku hanya tidak menyangka seorang gadis sepertimu mampu berenang dan berselancar, paling hanya ingin ikut-ikutan untuk melihatku berenang seperti gadis lain!" Larbi berbicara dengan ketus lewat suara hatinya. Runa melempar tatapannya ke arah lain, "Sombong sekali! sudah bangga dengan menyumbangkan beberapa medali? Kamu masih hidup dari keringat orang tuamu dan masih hidup mewah dari kerja keras mereka, tidak ada yang membanggakan sama sekali." Runa tanpa pandang buluh, meremehkan sosok Larbi dengan suara hatinya. Larbi sedikit geram, "Kamu? Mulutmu itu membuatku kesal." Larbi berkata masih dengan suara hatinya. "Kamu yang duduk disitu, ayo bertanding denganku!" Dengan suara lantang Larbi menunjuk Runa, dengan tatapan mengerikan. Semua orang tercengang, Leon dan Adi langsung mengernyitkan dahinya, begitu juga Mery yang sesaat terpaku melihat mereka berdua saling menatap dengan begitu kejam. "Hei, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menantang juniormu?"Mr Key sedikit bingung. "Bukankah kita masih mencari satu perwakilan lagi, untuk berangkat ke Jerman?" Larbi terlihat sangat kesal. "Tapi kenapa harus dia Lar ... " Mr Key tidak bisa berkutik melihat Larbi menarik paksa tangan Runa untuk maju ke depan. Runa terlihat sangat kuat melepaskan tangannya dari Larbi, mereka berdua saling menatap, dengan tatapan sangat mengerikan. Adi dan Leon saling membicarakan mereka. "Apakah kamu merasa, ada hawa pembunuh? Apa yang dikatakan Larbi benar, tanpa berbicara mereka bisa berkomunikasi?" Adi bertanya kepada Leon di depannya. "Kenapa aku jadi yakin, bahwa itu terjadi diantara mereka? coba perhatikan mereka! Larbi tidak mungkin marah jika wanita itu hanya diam." komentar Leon. Loyola, Jenita dan Rubi adalah satu geng yang bersaing demi seorang Larbi, masuk di klup yang sama, mereka melihat kedekatan Larbi dan Runa membuat mereka semakin panas. "Dia pake pelet apa sih? Bisa-bisanya seorang Larbi menarik tangannya, dia kan bisu tidak bisa bicara? Tidak mungkin Larbi tertarik dengan gadis itu? " Loyola terlihat sangat geram. Tari yang masih memakai pakaian renang yang seksi itu, melihat kedekatan mereka berdua, dia adalah salah satu kandidat dari tiga orang yang akan berangkat ke Jerman untuk berkompetisi, Tari adalah gadis yang juga mengejar Larbi sekaligus teman kecil Larbi, "Gadis ini terlihat menarik, tidak mungkin Larbi menantangnya jika dia tidak punya keistimewaan." Tari menatap mereka dari kejauhan sambil bergumam dalam hati. "Kamu benar-benar ingin menantangku?" Runa bertanya dalam hati sambil menatap kesal ke arah Larbi.  "Ya, jika kamu menang, kamu bisa mengikuti kompetisi di Jerman, uang yang di dapatkan akan cukup besar dan sangat berpeluang mendapatkan beasiswa S2 ke luar negeri, aku yakin gadis miskin sepertimu pasti mengejar uang kan? selain itu kamu bisa ajukan satu permintaan kepadaku tapi jika kamu kalah, selama aku masih di kampus ini, kamu harus melayaniku! Bagaimana? Larbi tersenyum meremehkan Runa masih dengan suara hatinya. "Lihat! Mulut besarmu itu semakin membuatku ingin muntah, baiklah, aku setuju! Penghinaanmu semakin mencerminkan kebodohan seorang senior."  Runa bisa berkata cukup kasar walaupun dari dalam hati. Larbi menghela nafas panjang, wajahnya sangat memerah, "Apa Katamu?kurang ajar, kamu berani berkata kasar denganku?" Larbi berkata dalam hati. Runa meninggalkan Larbi begitu saja untuk ke ruang ganti.  "Hei, dasar gadis kurang ajar! Kemana kamu akan pergi?" Larbi berteriak dengan sangat marah. "Bukankah kita akan bertanding? Aku harus mengganti bajuku dulu, sebelum bertanding denganmu." jawab Runa dengan suara hati sambil melirik Larbi dengan sinis dari kejauhan. Semua orang menatap mereka berdua, "Apa yang terjadi dengan mereka berdua? mereka dari tadi hanya diam dan menatap dengan kejam tapi sama sekali tidak bicara, hanya saja seperti berkomunikasi?" kata salah seorang anggota senior heran "Aneh! Gadis itu bisu, mana mungkin bisa berkomunikasi dengan Larbi?" salah seorang yang lainnya lagi. "Sepertinya, kali ini akan ada persaingan sangat ketat. Firasatku Runa akan menang dalam kompetisi ini," batin Mery. Pertandingan Renang di mulai, ini adalah hal yang langka karena Larbi menantang seorang gadis untuk pertama kalinya.  Suara peluit sudah berbunyi  "Prittt!" Mereka berdua menceburkan diri, suasana begitu tegang ketika mereka berjalan seri untuk babak pertama saat perputaran semua penonton menegang, Runa terlihat sangat gesit dan dia bukan gadis yang bisa di remehkan, Larbi bukan perenang yang mudah untuk di kalahkan tapi kali ini .... Putaran air terdengar sangat mengalun, gelembung menandakan mereka telah berbalik, tangan, kaki Runa danLarbi mulai bertanding melawan dinginnya air di siang itu seluruh anggota yang menonton, bersorak menyerukan nama Larbi, yang berteriak nama Runa hanya Mary tapi itu tidak menurunkan semangat Runa untuk menang. Ini bukan sebuah pertandingan yang di inginkan Runa tapi ini adalah hobi dan kesukaannya, dia akan selalu bahagia melakukan itu. Mr Key cukup terkejut melihat Gadis bernama Runa ini, di dalam profilnya tidak di sebutkan keahliannya apa? Tapi dia pernah bermain selancar di Laut desa Nelayan.  "Ku kira, gadis ini bukan gadis biasa, dia mungkin adalah profesional yang ahli di bidang ini sejak lama, tidak mungkin, seorang pemula bisa gesit seperti ini. Aku yakin Larbi salah menilainya, kita masih ada satu peluang untuk berangkat ke Jerman. Jika kali ini dia menang melawan Larbi, itu tandanya dia memang layak untuk berangkat ke Jerman." Penilaian dosen itu untuk Runa di dalam hatinya. Tari cukup tegang melihat kehebatan Runa di dalam air, "Siapa dia sebenarnya? Ku kira dia adalah seorang pemula yang tidak selevel denganku, tapi tidak! Dia setara dengan kita, dia bukan gadis sembarangan. Sial! Pesaingku berat untuk mendapatkan hati Larbi, tapi ku dengar dia bisu. Hmm, ternyata dia tetap tidak se-level denganku." gumam Tari dengan mata dan senyum sinisnya dia melihat pertandingan itu. Semua mata benar-benar fokus melihat mereka berdua, sudah hampir di titik terakhir dan hasilnya-- "Prritt!"  Peluit itu sudah berbunyi,  "Pemenangnya adalah Runa!"  Sorak-sorai berubah menjadi hening, semua terlihat begitu kecewa, Runa melepas kacamata renangnya dan naik keatas tanpa menghiraukan Larbi yang memukul pinggiran kolam renang dengan rasa kesal.  "Gadis itu menang? Bagaimana bisa?" ungkap Larbi dalam hati, dia begitu heran, harga dirinya sekarang seperti diinjak-injak, seorang Tari pun belum pernah mengalahkan dirinya.  Larbi keluar dari kolam renang dan berteriak "Berhenti!" Runa menghentikan langkahnya tanpa berbalik, "Jangan pernah meremehkan siapapun, sebelum kamu mengenal orang itu lebih dekat, Tuan Larbi. Sesuai kesepakatan di awal, kamu harus tepati janjimu! Oh, ya, aku punya satu permintaan yang kamu katakan sendiri, selama aku masih di kampus ini, kamu harus melayaniku. Sekarang telah berlaku," Runa menjawab Larbi dengan percaya diri melalui suara hatinya. Runa berbalik, "Ucapkan kesepakatan kita disini sekarang! Jika kamu tidak mau, aku bisa membuatmu tidak berangkat ke Jerman." Runa menggertak dengan suara hati. "Wah, kamu mengancamku? Gadis miskin seperti kamu, bisa membuatku tidak berangkat ke Jerman. Jangan harap aku mau mengucapkan! Aku juga tidak akan melakukannya." Larbi mulai bersikap curang,  Runa kehilangan kesabaran. "Jangan menyesal dengan perkataanmu barusan!" gumam Runa memberi peringatan melalui suara hatinya. Runa berjalan dengan cepat, Larbi sangat terkejut melihat reaksi Runa, tiba-tiba menekuk tangannya kebelakang, dan membuat kedua kakinya berlutut.  "Aww!!"  Semua orang tercengang dan berteriak, mereka semua khawatir jika terjadi apa-apa dengan Larbi maka kampus akan kehilangan wakilnya. Runa menekan lagi semakin keras, "Cepat ucapkan! Sebelum aku mematahkan kedua kaki dan kedua tangan emasmu ini." Suara hati Runa berhasil mengancam Larbi lagi. " Aww, iya, iya baiklah, aku akan mengucapkannya!" Larbi seperti menyerah. Leon heran, sangat heran, "Tidak mungkin! Mereka benar-benar berkomunikasi tanpa bicara, Runa bisa memaksa Larbi itu sudah luar biasa," gerutu Leon menggelengkan kepalanya. "Karena aku kalah dalam pertandingan kali ini, aku akan menjadi pelayan Runa selama Runa ada di kampus dan Dia berhak ikut ke Jerman untuk kompetisi, dengan satu syarat, jika Mr Key mengijinkan." Larbi benar-benar mengatakan hal itu di depan umum. Semua orang tercengang dan hampir bengong, Mary hanya tersenyum, karena Runa berhasil menaklukkan Pangeran kejam seperti Larbi. Tari sekarang begitu sinis melihat Runa, "Awas saja! Kamu memukul genderam perang dan aku akan ingatkan posisimu dimana?" ungkap Tari dalam hati, lalu pergi untuk berganti pakaian. "Pengumuman semuanya! Aku setuju dengan Larbi, Runa layak untuk berangkat ke Jerman karena sepanjang sejarah, belum pernah ada yang mengalahkan kecepatan Larbi bahkan seorang pria sekalipun. Runa, besok kamu bisa berlatih di tempat ini selama satu setengah bulan untuk persiapan kompetisi di Jerman!"  "Apakah aku bermimpi?" Tanya Runa dalam hati. Runa melepaskan tanganya dan membiarkan Larbi pergi, Mery memeluknya dari belakang dan sangat bahagia, hati Runa juga bahagia mendengar hal itu. Larbi pergi ke ruang ganti mengambil pakaian lalu pergi ke kamar mandi. Leon dan Adi mendekat ke Runa,  "Kamu hebat, kamu bisa membuat Larbi menurut, kamu keren. Ku ucapkan Selamat!" Leon menepuk punggung Runa pelan lalu meninggalkannya. "Kamu keren, aku padamu." Adi menunjukkan love di dadanya lalu pergi meninggalkan Runa. Runa memandang Mery  "Kak mereka terlihat aneh." Runa menggunakan bahasa isyarat. "Mereka tetap pria tampan, aku bangga memiliki adik sepertimu, kamu penakluk pria kejam seperti Larbi. Ayo, ganti pakaianmu dan kita pulang! Aku akan mengajakmu minum bir dan makan daging sebelum sampai di apartemen," dengan bahagia Mary merangkul Runa dan mengajaknya ke ruang ganti. Perkenalan kelas hari itu selesai. Larbi menemui Leon dan Adi di kantin kampus, wajahnya terlihat murung dan sangat tidak bersemangat.  "Gadis itu membuatku kesal! Kenapa dia bisa menang?setiap hari, aku seorang senior akan melayani juniornya. Ini benar-benar tidak adil!" Larbi menggerutu memukul sendok diatas makanannya sambil mencacahnya dengan tidak beraturan. "Hei, jangan mencacah makanan! Aku percaya padamu, jika kamu bisa berkomunikasi melalui suara hati dengan gadis itu."jelas Leon tapi Larbi tidak menggubris. "Ayo kita pulang, aku traktir semua makanan kalian! Suasana hatiku sedang kacau," Larbi memberikan kartu debitnya, lalu pergi begitu saja menuju mobilnya di luar. "Jika dia seperti ini saat kacau, aku akan membuatnya sering terlihat kacau." komentar Adi yang mengambil kartu debit itu lalu membayar makanan di kasir. "Aku setuju," Tambah Leon. Dalam perjalan pulang, Larbi merasa gelisah, dia terus memikirkan tatapan mata Runa, sikapnya, bahkan ciuman pertamanya.  "Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku harus bertemu dengan gadis menyebalkan itu? Dia melampaui ekpektasiku, dia merendahkan harga diriku tapi, gadis itu juga mampu menjaga harga dirinya, dia satu-satunya gadis yang tidak mengejarku, bahkan dia bisa lebih kasar dari pada aku. Aku heran, kenapa hanya aku yang bisa mendengarkan suara hati gadis bisu itu? " hati Larbi gelisah,  Larbi menambah kecepatannya untuk bisa sampai rumah. Pelayan sudah berderet ketika Larbi memarkir mobil di depan rumahnya yang seperti istana kerajaan itu. Orang tua Larbi memang kaya raya, mereka bekerja sebagai pengusaha minyak dan perhiasan di luar negeri, tak heran jika Larbi hidup berkecukupan. Larbi melempar kuncinya ke seorang doorman,  "Pindahkan mobilku!" Larbi langsung pergi menuju ke kamarnya.  Hari itu Larbi hanya duduk di sofa sebelah tempat tidurnya sambil membaca komik. Tiba-tiba komik itu di banting dan Larbi mengusap kepalanya berulang kali.  "Bisakah memori tentang gadis itu di hapus sekarang juga!" dalam hati Larbi terus-menerus merasa kesal, Larbi tidak bisa melupakan perlakuan Runa. Disisi lain Runa dan Mery menikmati hidangan hari itu di cafe dekat apartemen, makan daging sepuasnya dengan minuman bir yang khas di cafe itu sampai malam hari, Mery benar-benar mabuk sedangkan Runa tidak terlalu mabuk, dia hanya kekenyangan saja. Runa memapah Mery pulang ke apartemen. sepanjang perjalanan selalu bernyanyi tanpa alunan nada yang pas membuat Runa sesekali menutup telinganya. "Ini lebih buruk dari kaleng Rombeng," celoteh Runa yang  dalam hati menarik nafas berkali-kali ketika mengangkat tubuh Mery.  Sampai di Lift apartemen itu, Runa sedikit bisa bernafas. Sampai di depan apartement, Runa memapah Mery masuk, membawa ke kamarnya lalu di lempar ke atas ranjang. "Akhirnya kak, kita sampai rumah," ungkap Runa bergumam dalam hatinya, Runa terlihat lelah, dia kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Melihat kelangit-langit. "Apakah pria itu memang benar jodohku? Hal ini sangat mengusik pikiranku, kenapa harus dia yang mengambil ciuman pertamaku? Kenapa harus dia yang mendengar suaraku?harusnya aku bersyukur ketika sudah bertemu dengan jodohku tapi, ini malah membuatku sangat menyesal jika dia yang menjadi jodohku. Runa menutup wajahnya dengan bantal, tapi, ada baiknya juga tantangannya tadi, aku bisa ke Jerman, pertama kalinya keluar negeri, ini benar-benar mimpi indah. Bagaimana dengan nenek? Bagaimana kabarnya? Aku akan mengirimkan surat dan handphone untuk nenek, mungkin kepala desa bisa membantu nenek untuk memakainya. Betapa bersyukurnya aku, ketika aku juga memiliki pekerjaan dengan gaji yang besar, pikir Runa.  Runa bangun dari tempat tidurnya dan menulis surat untuk neneknya, beberapa menit kemudian surat itu dimasukkan ke dalam amplop dan di simpan di dalam laci. Runa kembali ke ranjang untuk tidur. Keesokan harinya, Runa sudah berangkat untuk kuliah, sebagai bagian dari ospek ada beberapa tugas yang harus di kerjakan. Hari itu Runa pergi ke perpustakaan mencari bahan informasi, tema yang di ambil adalah teknologi, setelah itu tugas harus di ketik menggunakan komputer, dengan sangat terpaksa Runa harus belajar menggunakan komputer. Saat di ruang komputer banyak yang melihat cara Runa mengetik, sedikit aneh karena mengetuk dengan suara keras. Seluruh orang menoleh. "Apa yang dia lakukan? Kampungan? Dia tidak bisa mengetik?" Cibiran mahasiswa dan mahasiswi lainnya. Runa merasa malu, tapi dia berusaha untuk bisa menggunakan komputer. Tiba-tiba ada seorang pria putih, tinggi dan sangat tampan duduk di sebelah kursinya. Runa terpesona pada pandangan pertama. "Siapa pria ini? " gumam Runa memandang Pria disebelahnya.  Beberapa menit setelah bengong, pria itu akhirnya berbicara, " Apa kamu membutuhkan bantuanku Runa?kamu terus melihat wajahku?" pria itu menoleh. "Deg,deg,deg" Suara detak jantung Runa tidak bisa di bendung lagi. Runa hanya diam dan kembali belajar mengetik, "Kenapa dia tahu namaku?" pikir Runa sedikit heran  "Namaku Gandi, kamu bisa panggil aku Gan, aku tahu, kamu tidak bisa bicara dan kamu juga perwakilan kompetisi renang di Jerman, aku adalah orang ketiga diantara Tari dan Larbi yang menjadi perwakilan kesana, sekarang namamu terkenal karena berhasil membuat Larbi menurut, kamu sangat hebat!" komentar Gandi. Runa hanya menatapnya, bingung harus berkata apa? "Kamu bisa, menggunakan bahasa isyarat. Karena ibuku juga bisu." tambah Gandi. "Dia sangat baik, aku beruntung bisa dekat dengan pria tampan seperti dia." Masih berbicara dalam hati, Runa kembali bengong lalu tiba-tiba tersadar. Runa menggunakan bahasa isyarat. "Kamu sangat baik, apa kamu bisa membantuku belajar komputer, kak Gandi?" Runa tidak ada bahan lain untuk di bahas. "Tentu, aku lihat kamu memang kesulitan untuk mengetik." jawab Gandi. "Terimakasih," Runa menyelesaikan gerakan tangannya. Hari itu menjadi awal Runa akrap dengan seorang pria, Gandi juga termasuk pria populer tapi masih kalah dengan kepopuleran Larbi, semua gadis juga banyak yang mengejarnya, mereka begitu iri, ketika akhirnya, Runa sangat akrap dengan Gandi. Loyola lewat disaat mereka berdua menuju ke kantin. "Gadis itu, semakin kurang ajar. Pria tampan selalu ada di sekitarnya, gadis bisu ini selalu mengambil idola para gadis, apa dia ingin berperang dengan semua gadis di kampus," Loyola mendengus kesal menghentakkan kaki dan pergi untuk menemui teman satu gengnya. Gandi dan Runa pergi ke kantin, untuk memesan makanan, terlihat Larbi juga sedang memesan makanan, Larbi jelas-jelas melihat Runa dan sengaja ingin menghindar. "Apakah seorang pria selalu ingkar janji?Seorang pria kaya raya, menghindar karena konsekuensinya, Bukankah itu tabiat seorang pengecut?" Suara hati Runa menyindir masih mengantri bersama Gandi. "Gadis, kurang ajar!" Larbi berbalik arah dan membelikan sepaket nasi untuk Runa.  "Baguslah, bawakan itu kemejaku, ya!" Runa memerintah dengan percaya diri, tangannya mencolek Gandi, untuk duduk duluan di meja karena sudah mendapatkan makanan. Gandi hanya mengangguk karena dia mengerti. Larbi berjalan mengikuti Runa dan meletakkan makanan itu di mejanya dengan wajah yang begitu manis Runa tersenyum.  "Terimakasih, kak Larbi." Semua mata tertuju pada Runa dan Larbi, mahasiswi dan mahasiswa mulai mencibir. "Lihat! Rumor itu ternyata benar,"  "Iya, Larbi benar-benar tahkluk dengan gadis itu. Aku harus mengambil Foto!" Semua orang mengambil foto mereka berdua, Larbi mulai menutup wajahnya karena sangat malu.  Wajahnya terlihat kesal,"Kam-kamu gadis yang menyebalkan!" Larbi menahan kata-katanya karena kesal di dadanya yang terasa keterlaluan. Runa tidak peduli dengan kemarahannya, dia menikmati makanan di hadapanya dengan begitu antusias sampai Gandi menyusul Runa, dia tertawa sekencang-kencangnya. "Bi, seharusnya kamu berdamai dengan gadis ini! Kamu tahu, dia sangat baik dan sepanjang waktu kita akan bersama untuk berlatih, rasanya seru melihatmu seperti ini," Gandi masih terkikih geli. "Gan, kamu minta di hajar!" Larbi mengangkat kepalan tangannya. "Eits, kamu tetap manusia temperamen. Itu akan membuatmu semakin terlihat tua, belajarlah untuk mengontrol emosi sebelum ubanmu semakin banyak, Bi" Gandi menghentikan kepalan tangan Larbi. Runa tertawa mendengar hal itu, Larbi semakin kesal dia berlalu begitu saja meninggalkan meja Runa. "Jangan lupa, setiap hari kamu harus melakukannya!" Runa mengingatkan Larbi melalui suara hatinya, sambil menikmati makanannya.  Larbi tanpa menjawab langsung pergi meninggalkan kantin. "Runa, sudah waktunya kita berlatih! Dosen olahraga sudah ada di kelas berenang." Gandi mengingatkan. Runa menggerakkan tangannya lagi, "Baiklah, ayo kak kita ke kesana!" Mereka berdua pergi ke kelas berenang. Mr Key sudah siap disana, mereka berempat sudah ganti pakaian renang yang di sediakan kampus. Tari yang berdiri di sebelah Runa, melirik sinis. "Hei Gadis bisu! Aku hanya ingin memperingatkanmu untuk tidak mendekati Larbi, kamu sama sekali, bukan gadis sepadan untuknya, kamu tidak perlu menjawab karena aku tidak butuh jawaban." Tari seperti merasa terganggu dengan kehadiran Runa disana. Wanita ini sama pedasnya dengan Larbi, Seandainya saja, aku bisa memilih--, Larbi mendengar suara hati Runa lagi,  "Memilih apa?" Larbi bertanya dengan suara hatinya, Larbi mulai ingin tahu apa yang Runa pikirkan,  "Jangan sembarangan mencuri dengar!" Runa memperingatkan dalam hati. Tiba-tiba Mr Key memanggil mereka semua untuk bersiaga di tempat mereka masing-masing untuk bertanding saat berlatih. "Kalian harus serius! karena kompetisi ini adalah kompetisi Internasional tidak hanya nama kalian yang di pertaruhkan, tapi nama kampus juga. Apa kalian sudah siap?" Mr Key berteriak. "Siap!" mereka menjawab serentak kecuali Runa "Satu, dua, tiga ... Mulai!"  "Prittt!" Peluit berbunyi mereka semua berenang dengan kekuatan mereka masing-masing. Mengepakkan kaki seperti sayap, membuat gelembung disetiap perjalanan dan merayap seperti cicak yang mengambang di dalam air. Itulah sebuah keahlian yang tidak semua orang bisa melakukan, putaran pertama telah berlalu, Tari dan Gandi tertinggal dua menit dari Runa dan Larbi, mereka berdua kini berebut peringkat pertama, Mr Key mencatat waktu saat Larbi dan Runa berhasil menyentuh dinding. "Larbi dan Runa Seri, kalian berdua memang hebat! Di Jerman akan di bagi kelas putra dan kelas putri jika kalian berdua setara kemungkinan besar kita akan mendapatkan kemenangan di kedua kategori. Aku sangat senang hari ini." Mr Key mencatat score mereka masing-masing. "Kalian boleh untuk beristirahat dan mulai latihan tiga puluh menit dari sekarang!" Mr Key meninggalkan mereka berempat. Gandi mendekati Runa dan berbincang menggunakan bahasa isyarat, Tari mendekati Larbi yang duduk sendirian sedang meminum air di botol mineralnya. "Bi, Lihat gadis itu! Dia sudah akrab lagi dengan pria lain, sepertinya dia adalah gadis perayu yang sangat ulung." Tari ingin mendoktrin Larbi untuk semakin membenci Runa. "Aku heran kenapa wanita selalu saling bersaing? Bisakah kalian tidak saling mencibir atau menjatuhkan? Para pria tidak pernah seheboh kalian, pikirkan dirimu sendiri, aku tidak peduli dengan gadis itu!" Larbi kembali meneguk minumannya. "Kamu ini, selalu seperti itu. Ketus dan kejam ketika berbicara dengan seorang gadis, kita berteman sejak kecil," Tari sedikit kesal. "Lalu, jika kita berteman sejak kecil, apakah aku harus membuang waktuku untuk mengurusi hidup orang lain? Jika kamu ingin seperti dia, ulung dalam merayu pria, Belajarlah dengannya! Sikapmu itu seperti iri dengan gadis itu, jika kamu membencinya, tidak usah peduli dengan sikap dan sifatnya! Aku saja menyesal bertemu dengan gadis itu!" Larbi pergi ke loker untuk mengambil cemilan. "Hiss, Bi, kamu ini menyebalkan!" Tari meminum orange jusnya di gelas. "Jika kamu tahu Bi, aku menyukaimu, aku tidak rela ada gadis lain yang dekat denganmu." gumam Tari dalam hati masih memandang Larbi. Runa menikmati pembicaraannya dengan Gandi, mereka berdua saling berbagi makanan. "Jangan hiraukan cibiran orang mulai sekarang! Kamu bisu bukan berarti kamu bodoh, ibuku selalu bilang, gadis bisu itu memiliki telinga dan perasaan yang lebih peka, banyak dari mereka juga memiliki talenta di luar kekurangannya, itu adalah berkat jadi jangan kamu jadikan beban," jelas Gandi menghibur Runa. "Pria ini semakin membuatku tertarik, dia sangat baik, pengertian, tidak seperti kak Larbi. Seandainya Gandi bisa mendengar suara hatiku?" pikir Runa yang tiba-tiba bengong dan menatap Gandi sambil senyum-senyum sendiri. "Apa aku terlihat ganteng? Sampai kamu senyum-senyum sendiri melihatku?" Gandi sedikit kepedean untuk membuyarkan lamunan Runa. "Tidak, tidak, ah itu Mr Key datang!" Runa mengalihkan pembicaraan dengan bahasa isyarat dan beranjak dari tepat duduknya. "Gadis ini sangat menarik, dia seperti adikku yang sudah lama meninggal. Aku jadi merindukanmu Lisa." gumam Gandi dalam hati yang ikut bangkit berdiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN