BAB 4

1137 Kata
Hari ini Isti memantapkan hatinya untuk menjaga jarak dengan Aji. Tak hanya itu, dia memutuskan untuk tidak kos lagi, dia juga jarang nongkrong bersama di kosnya yang dulu. Saat duduk bersama di kampus Isti berusaha tidak berkomunikasi dengan Aji, adapun hanya seperlunya aja. Tapi canda tawa dan logat ketusnya terus terucap untuk teman yang lain. Hari ini adalah ulang tahun Sammy, salah satu teman yang bertahan jomblo. Mereka berdatangan ke kampus, memberi selamat, Isti pun tak lupa memberi selamat dan cipika cipiki sama halnya jika teman yang lain. Aji menatap geram saat Isti memberikan pipinya bersentuhan dengan pipi Sammy. Sammy pun mentraktir temannya dengan menghadiri live music di tengah kota. "kalian minta ijin aja ke emak ku..boleh ga?" ucap Isti. "ntar aku yang minta ijin. kan aku yang punya gawe" jawab Sammy. "bentar..aku telpon emak dulu" Isti : hallo..mama.. Mama : iya sayang Isti : ada yang mau bicara ..Sammy.. Mama : hallo... Sammy : Tan...Sammy minta ijin ajak Isti keluar malam..liat live music..kan hari ini ulang tahun Sammy.. Mama : Selamat ulang tahun ya Sam...mulai jam berapa sampek jam berapa? Sammy : mulainya jam 10 malam Tan..kelar jam 2 an..paling nyampek rumah jam 3 an Mama : kalo gitu Isti pulangin ke rumah Aji, soalnya Umi Rio lagi umroh, ntar Tante telpon ke mamanya Aji, soalnya kalo pulang kerumah, apalagi yang anter cowok, bisa di nyinyir tetangga. Mending ke Aji .. Sammy : baik Tan...makasih Tan..ga ada Isti ga rame Tan..ga ada yang di godain.. Mama : kalian itu selalu buat Isti sewot..titip Isti ya.... Sammy : okay Tan..makasih uda di ijinin..dah Tan.. Telpon berakhir. "Isti boleh pergi..nanti dijemput Rio jam 9..pulang nya harus ke rumah Aji" Ucap Sammy meneruskan pesan mamanya Isti. "HAH?" tanya Isti kaget, padahal dia ingin menjauhi pria itu, tapi malah mamanya mendekatkan lagi "Kenapa Is?" tanya Sammy yang terkejut respon Isti. "maksudku ngapain kok ga langsung pulang ke rumah?" tanya Isti berusaha menutupi masalahnya. "kalo pulang ke rumah, ntar orang kampung geger..kamu di nyinyirin..uda ach..pokoknya pesannya mama kamu gitu" jawab Sammy yang mulai ga sabar. "ntar berangkatnya aku yang jemput, jangan lama-lama dandannya" ucap Rio. "terima kasih Rio" Isti tersenyum centil dan mengedipkan matanya beberapa kali. "hmmmm...ga usah gitu wajahnya..malah asem" ucap Rio "Serba salah! dijawab lembut dibilang asem..dijawab ketus dibilang bar bar" Isti kembali cemberut, beberapa temannya tertawa melihat tingkah lucu Isti yang selalu meramaikan suasana. (mama Isti menelpon bunda Aji) ma Isti : Hallo Jeng... Bun Aji : Iya Jeng...ada yang bisa dibantu? ma Isti : ntar anak-anak mau liat live music, katanya pulang jam 2 pagi, aku bilang suruh pulang ke rumah njenengan aja... bun Aji : walah Jeng..saya ini lagi diluar kota sama sekeluarga, cuma Aji yang ga ikut.. ma Isti : wah..malah kesempatan..biar mereka berdua lebih dekat.. bun Aji : iya Jeng...aku kepingin lho besanan sama njenengan...aku juga suka sama Isti ma Isti : walah...saya sungkan jeng...Isti itu ketus,bawel...Uda di ingatkan kalo ngomong dijaga...aku juga suka sama Aji..anaknya sopan..diem... bun Aji : hmmm...saking diamnya sampek aku bingung....mau saya ajak langsung aja ke KUA sama Isti... ma Isti : ha ha ha ha...bisa aja ...ya wis...aku titip Isti ya... terserah mereka aja...kita orang tua cuma bisa doa..moga mereka jodoh bun Aji : iya Jeng...ga sabar punya mantu seperti Isti...moga mereka jodoh. Sambungan telpon berakhir. Malam hari saat acara dimulai. Aji menjemput Ana dan berkumpul ditempat Sammy. Ana serasa tak mau jauh dari Aji, memberi perhatian dan menatap memuja Aji. Isti datang bersama Rio, terdengar tawa Rio yang pastinya akibat ulah Isti yang adaaaa aja. "cie...Ana kayakya uda jadian ya ama Aji?" goda Isti, walau hatinya sering sesak melihat Ana dan Aji berboncengan. "apa an sich Isti" wajah Ana bersemu. "sering boncengan..sering makan bareng berdua..witing trisno jalaran soko kulino..sering ketemu.pasti bisa jatuh cinta" goda Isti lagi. "Aji sekarang baik banget... " balas Ana dengan senyum malu. "Aji selalu baik ama cewek" ujar Isti dengan keras sambil melirik ke Aji. Dia tau Aji mendengarnya. Aji hanya melihat sinis ke arah Isti saat mendengar candaannya. Mereka pun melanjutkan aktivitasnya, memasuki area dimana musik terdengar sangat keras sekali, untuk bicara pun kita harus mendekatkan ke telinga dan bersuara keras.Mereka menikmati seluruh lagu dan suguhan yang ada. Dan selalu ..selalu..selalu ada Ana disamping Aji. Isti yang disebelah Rio hanya melirik dan mencuri pandang apa yang dilakukan Aji dan Ana.Tak jarang mata Isti dan Aji bertabrakan saling memandang, namun Isti segera memutuskan kontak matanya. Aji tak sabar mengakhiri acara ini, dia ingin menanyakan semua uneg-unegnya kepada Isti. Acara pun usai. Ana berpindah boncengan dengan teman lain yang searah dengan kos kosan.Tersisa Isti dan Aji. "Ayo naik!" pinta Aji dengan nada datar. Isti masih membetulkan helmnya dengan wajah cemberut, dia ga suka diperintah. "Jaketnya mana?" Tanya Aji lagi. "Lupa.....di motor nya Rio" ucap Isti lirih, entah kenapa Isti ga berani berkata ketus terhadap Aji. Aji menarik nafas panjang, dia turun dari motornya, melepaskan jaket dan memakaikan ke tubuh mungil gadis itu. "Buruan pake! Yang lain uda pulang" Aji memerintah. Dengan wajah yang masih cemberut dia naik ke motor Aji. Ada jarak di antara mereka, Isti tak mau menyentuh Aji sama sekali. Aji melajukan motornya, lalu dia menghentikan motornya dipinggir jalan. "Kenapa berhenti?" Tanya Isti. "Majuan duduknya! Pegangan! Aku ga mau mamamu ngomel kalo kamu celaka..."Isti pun memajukan duduknya, dia memegang ujung kaos Aji disamping. "Aku bilang pegangan!" Perintah Aji "Uda!" Sahut Isti. "Disini!" Aji mengambil dua tangan Isti dan meletakkan diatas perut Aji. 'beberapa jam kedepan kamu milikku' batin Aji sambil tersenyum. Jantung Isti berdetak kencang mendapat perlakuan seperti ini. Perlakuan ini sama seperti sepasang kekasih yang sering Isti liat di jalanan. Rasanya tak pantas. 'Tak tahukah kamu selama ini aku menghindar supaya rasa cintaku berkurang. Tapi sekarang kamu malah memperlakukan aku seperti ini...' batin Isti. Setelah jantungnya agak tenang, Isti meletakkan pipinya dipunggung Aji dan mempererat pelukannya. Aji pun tersenyum. "Sayang...kamu tidur? Uda nyampek" ucap Aji penuh hangat, sifatnya mendadak berubah. Dia yang tadinya datar, sering memerintah, kini ia melunak. "Hmmmmm" Isti membuka matanya, dia tak sadar sempat tertidur saat diperjalanan. Aji gemas melihat wajah Isti yang baru bangun dengan mengerjapkan matanya. Pria itu membantu melepaskan helm dan jaketnya.Mereka memasuki rumah yang kosong, lalu duduk di sofa dan berjarak. "Kok sepi?" Tanya Isti. "Iya...kan weekend.. mereka keluar kota" "Kok kamu ga ikut?" Tanya Isti lagi. "Demi kamu aku ga ikut" "Kenapa aku yang dijadikan alasan?" "Sini!" Aji menarik tangan Isti, gadis itu bangkit dari duduknya mengikuti arahan tarikan Aji. "Duduk sini!" pinta Aji menepuk tepat di sebelahnya. "Kamu mau tidur kan? Selesaikan dulu urusan kita". Mau ga mau Isti pun duduk disebelah nya. Aji menelan ludah melihat bibir Isti yang sedikit cemberut. 'Walo cemberut kamu tetap menggemaskan' batin Aji. Jantung Isti semakin tak karuan, saat tangan Aji memegang tangannya dan mengusap dengan lembut. "Emang ada apa dengan urusan kita?" Tanya Isti. "Kamu kenapa menjauhi aku?" Tanya Aji, Isti menunduk. "Liat aku!" Perintah Aji.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN