PERAWAN 200 JUTA
Part 11
Oleh : LinDaVin
•••
"Baiklah nona, akan aku jelaskan apa saja yang menjadi tugasmu, dan bagaimana kesepakatan antara nona dan keluarga Hadi Pranata. Tuan Pranata menebusmu, atas permintaan Tuan Muda Kenzi. Nona akan terikat kontrak pernikahan dengan Tuan Muda selama satu tahun. Selama satu tahun, nona harus membuat Tuan Kenzi menjadi pria seutuhnya. Jangan libatkan perasaan dalam hal ini, karena setelah Tuan Muda menjadi pria sepenuhnya, Dia akan menikah dengan gadis lain. Dan semua ini rahasia, tolong jaga seumur hidupmu, atau nona akan terkena masalah bila berani membocorkannya," jelas Tuan Bram panjang lebar padaku.
Aku mengangguk pelan mengerti dan mulai paham. Hanya saja ada sesuatu yang tersayat dalam dadaku. Apa yang aku pikirkan, berharap di perlakukan selayaknya manusia. Ternyata aku salah, aku tetaplah hanya akan menjadi pelampiasan nafsu semata tanpa dihargai selayaknya manusia apalagi seorang wanita. Mereka hanya menginginkan tubuhku, untuk membangkitkan gairah Tuan Mudanya saja.
"Kamu mengerti?" tanya Tuan Bram memastikan.
"Saya mengerti, Tuan," jawabku, masih dengan menunduk melepas pandanganku ke arah lantai.
"Bagus, Bram kamu siapkan semua hal berkaitan dengan hal ini, secepatnya."
"Sudah, Tuan. Semua berkas perjanjian sudah saya siapkan. Tinggal ditandatangani saja," jawab Tuan Bram pada Tuan Pranata.
"Boleh saya meminta sesuatu." Aku memberanikan diri untuk berbicara. "Apakah saya boleh meminta dinikahi secara agama, saya berjanji tak akan menuntut apapun."
Kedua orang di depanku saling berpandangan. Aku tak tau apa Kenzi akan menjamahku, tapi bukankah tugasku adalah merayunya, menjadikan dia pria seutuhnya. Setidaknya aku akan mendapatkan kehormatanku sebagai seorang wanita, sebagai istri, bukan hanya sebagai p*****r apabila aku berhasil merubahnya.
"Tak ada masalah Tuan dengan pernikahan agama, akan saya siapkan juga. Gadis ini tak memiliki orang tua dan keluarga, saya akan urus secepatnya untuk masalah ini," ucap Tuan Bram kemudian.
"Baiklah, aku percaya padamu. Antarkan dia ke kamarnya, ingat jangan sampai hal ini tersebar, atur dengan rapi."
Tuan Hadi Pranata, sepertinya dia Ayah Kenzi. Sedari tadi pria muda itu hanya terdiam, tak berkata apapun juga. Tuan Bram membawaku kembali keluar ruangan. Dia mengantarkanku ke sebuah kamar tak jauh dari ruangan tempat kami berbicara tadi. Sebuah kamar yang sangat luas, koperku sudah berada di sana ternyata.
"Istirahatlah dulu, dan berikan ponselmu padaku," pinta Tuan Bram.
"Ponselku? untuk apa?" tanyaku bingung.
"Sudahlah jangan banyak bertanya."
Aku mengeluarkan ponsel dari dalam tasku. Kemudian memberikan pada Tuan Bram, pria itu lalu mengantinya dengan ponsel lainnya. Aku tak mengerti maksudnya. Dia beranjak pergi dan menutup pintu, meninggalkan aki sendiri di kamar besar dan luas ini.
Ponsel itu hanya menyimpan beberapa nomor telepon, lebih besar dan lebih bagus dari milikku kemarin. Aku masih melihat-lihat ponsel baru itu saat kudengar suara pintu berderit. Aku langsung turun dari ranjang saat terlihat Kenzi muncul dari balik pintu.
"Hai ...." Kenzi terlihat canggung menyapaku.
"I ... iya Tuan," jawabku.
"Jangan memanggilku dengan Tuan, seperti biasanya saja," ucapnya sambil berjalan mendekat.
"I ... iya," jawabku terbata, entah mengapa aku menjadi gugup.
"Aku minta maaf, aku membawamu kemari, mereka belum yakin padaku, mereka menawariku banyak gadis, tapi aku takut. Karena itu aku meminta mereka untuk membawamu."
"Iya, aku tau alasanmu memilihku," jawabku.
"Kamu tidak marah padaku kan, aku melibatkanmu dalam hal ini. Aku tak tau harus bagaimana lagi. Mereka berharap besar padaku," ucap Kenzi kemudian.
"Apa kamu benar-benar ingin sembuh?" tanyaku ragu. Kenzi mengangguk.
"Papa tak ingin siapapun tau tentang ketidak normalanku. Dia sudah menjodohkanku dengan anak dari rekan bisnisnya. Dan aku harus bisa menjadi pria seutuhnya, sebelum Carla kembali ke Indonesia." jelas Kenzi padaku.
"Gadis itu bernama Carla?" tanyaku. Kenzo mengangguk.
"Bantu aku," ucapnya kemudian.
"Menjadi pelacurmu," ucapku
"Jangan bicara seperti itu."
"Tapi itu benar kan? Aku dibawa kesini hanya karena tubuhku. Yang diharapkan bisa memetik gairahmu," ucapku lagi.
"Tak seperti itu, aku butuh teman sepertimu, aku butuh teman bercerita tanpa takut semua rahasiaku tersebar kemana-mana."
Teman, hanya sekedar teman. Dan hubungan yang akan terjalin tidak lebih dari sebuah kontrak belaka, tanpa melibatkan rasa. Tak ada bedanya dengan menjadi wanita penghibur, aku hanya harus memakai nafsu bukan hati. Membunuh sebuah rasa bernama cinta, menjalani hidup dengan mati rasa.
Sepertinya memang sudah takdirku, tak ada cinta atau perlakuan selayaknya sebagai manusia. Dimana aku berada, akan tetap memakai tubuhku bukan hati dan perasaanku.
Mimpi menjadi seorang istri, membangun sebuah rumah tangga, memiliki keluarga, kubenamkan segala angan, menguburnya dalam. Tak boleh ada rasa dalam hubungan ini, atau aku akan terluka nantinya.
Hanya satu tahun, setelah itu mereka akan membuangku ...