PERAWAN 200 JUTA
Oleh LinDaVin
Part 12
•••
Hanya satu tahun, setelah itu mereka akan membuangku ….
"Kamu sudah makan?" tanya Kenzi padaku, pria muda itu mendekat dan berdiri di depanku.
"Aku tidak lapar," jawabku tanpa mengalihkan pandangan kepadanya.
"Matamu bengkak, apa kamu baru saja menangis?"
Aku menatapnya sesaat kemudian melepas pandanganku ke arah lain. Ingatanku kembali pada Bara, aku tak bisa lagi menghubunginya mulai dari sekarang. Tuan Bram telah menganti ponselku. Itu berarti komunikasi diantara kami juga sudah terputus.
"Hanya menangis haru," jawabku pelan.
"Kita bisa berteman mulai sekarang, bukankah kita tim yang hebat," ucap Kenzi mencoba memecah suasana canggung yang tercipta.
Aku memaksakan senyum, dan mengangguk. Semua sudah terjadi, dan harus tetap dijalani, seperih apapun luka, sesakit apapun aku rasa, semua harus diterima dengan ikhlas dan lapang d**a.
"Aku pergi dulu, sebentar lagi akan ada pelayan yang akan membawakan makanan untukmu, setelah itu bersiaplah untuk acara kita," ucap Kenzi kemudian.
"Acara kita?"
"Iya, Om Bram sudah menyiapkan semua, kita akan menikah, sesuai permintaan yang tadi kamu ajukan," jawab Kenzi.
"Aku akan menjadi istrimu?" Aku manatap Kenzi seketika.
"Iya, lucu ya? Aku juga tak pernah menduga akan seperti ini. Tapi tenang saja, kontrak kita hanya satu tahun. Setelah itu kamu bebas. Aku akan berusaha untuk sembuh, aku berharap bisa secepatnya sembuh, agar tak menahanmu lebih lama di sini." Kenzi tersenyum saat selesai dengan kata-katanya.
"Kamu tak suka aku ada disini?" tanyaku dengan suara pelan
"Bukan begitu, bukankah kamu ingin terbang bebas, aku masih mengingat kata-katamu malam itu," jawab Kenzi, aku mengangguk, iya, aku pernah mengatakan ingin pergi dan terbebas dari Mami Erna.
"Aku pergi dulu," pamit Kenzi lagi. Tangannya menepuk pelan kepalaku, aku hanya mengangguk dan menatap setiap langkah kakinya yang terayun.
Pria itu membalikkan badan setibanya di depan pintu, kemudian menghilang di baliknya.
°°°
Prosesi akad nikah baru saja selesai, bersamaan dengan itu Tuan Bram memintaku menandatangani beberapa berkas, yang tak sempat aku baca, lebih tepatnya tidak boleh aku baca.
"Ingat jalankan tugasmu dengan baik, Tuan Pranata telah mengeluarkan banyak uang untuk menebusmu," ucap Tuan Bram selepas aku menandatangani beberapa berkas yang disodorkannya. Aku menganggukkan kepalaku untuk menjawabnya.
"Semua barang yang ada di dalam kamar itu adalah milikmu, pergunakan dengan baik," lanjut Tuan Bram.
"Baik, Tuan," jawabku.
Pria itu memintaku kembali ke kamar, aku meninggalkan ruangan tempatku menandatangani beberapa berkas barusan. Pernikahan macam apa ini, entahlah. Aku biasa melihat pernikahan di sekitar tempat tinggalku, dimana sang wanita dirias layaknya ratu.
Setelah akad sang pengantin wanita akan mencium tangan pengantin pria, dan sang pengantin pria akan mencium kening pengantin wanita. Itu yang ada dalam bayanganku, namun bukan seperti itu yang baru saja aku dapatkan.
Aku membuka pintu kamar, waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Langkahku gontai, mencoba kembali menyusun segala kisahku kemarin hingga aku berada disini. Apa yang sedang aku rasakan sekarang aku tak tau, apakah aku bahagia atau sebaliknya, hal itu berbatas sangat tipis sekali.
Mataku menatap sekeliling, kamar yang sangat luas dan indah, lengkap dengan barang-barang yang pasti mahal. Pasti ini yang disebut kemewahan, namun ternyata semua itu sedikitpun tak membuatku senang, semua terasa hambar dan hampa.
Aku menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Mengatur hatiku yang terasa tak nyaman. Segera aku mencuci muka dan berganti pakaian. Banyak sekali baju tidur di di dalam lemari, sepertinya memang sengaja dipersiapkan untuk pekerjaan ini.
Hampir jam sepuluh saat aku mendengar pintu berderit pelan, Kenzi muncul dari balik pintu, pria muda itu kembali menutup dan menguncinya kemudian.
Aku masih duduk di meja rias menghadap cermin, Kenzi menghampiriku, tanganya memegang kedua bahuku.
"Kamu belum tidur?" tanyanya.
Pandangan kami bertemu di dalam cermin di hadapan kami. Aku mengeleng pelan.
"Aku menunggumu?" jawabku. Tangan itu meremas pelan bahuku.
"Tidurlah, kamu terlihat sangat lelah," ucap Pria muda itu.
Aku bangun dari duduk, berdiri menghadapnya. Wajah Kenzi terlihat tegang melihatku memindai wajahnya.
"Biasa saja, aku tak akan menerkammu," ucapku padanya. Kenzi tersenyum kaku. "Kamu benar, aku lelah sekali."
"Kamu mau apa?" tanyanya saat aku melepas kancing bajunya.
Kenzi terlihat begitu tegang dengan perlakuan yang aku berikan.