Mendekatlah Padaku

982 Kata
PERAWAN 200 JUTA Oleh LinDaVin Part 13 ••• Part 12. "Kamu mau apa?" tanyanya saat aku melepas kancing bajunya. Kenzi terlihat begitu tegang dengan perlakuan yang aku berikan. Part 13. "Membantumu berganti pakaian," jawabku. "Tak perlu, aku bisa sendiri," jawabnya. "Tapi, aku ditebus untuk melayanimu." "Aku tau, tapi jangan sekarang, tidurlah di ranjang, aku akan tidur di sofa." Aku hanya mengangguk kemudian beranjak ke ranjang. Aku merebahkan badanku dan menarik selimut, mengawasi gerak-gerik pria muda itu. "Selamat tidur," ucap Kenzi saat meraih bantal dari sampingku. Wajah tampannya berada di atas wajahku.  "Selamat malam," balasku, Kenzi tersenyum,  tangannya mengusap lembut kepalaku. Kantuk cepat sekali menghampiri, menarikku dalam lelap, memelukku hangat. *** Pagi sekali aku bangun, masih asing dengan kamar yang sekarang aku tempati, aku melihat ke sampingku, ingatanku membawa pada pria yang beberapa malam kemarin mendekapku dalam tidurnya. Ada kerinduan yang menyusup dalam hatiku. Setiap mengingatnya mataku terasa panas, dadaku terasa sesak. Bara ... bayangnya melekat erat dalam ingatanku, ada rasa yang tak bisa ku artikan. Namun, satu yang pasti aku menyayangi pria itu, kurasakan ketulusan darinya, kasih sayang, perhatian dan kenyamanan. Semoga dia bahagia, pria itu penuh dengan pemuja, aku tak perlu mengkhawatirkan dirinya. Namun di sisi lain sosoknya, aku tau dia pun sama sepertiku, kosong. Mencoba menikmati apa yang sudah digariskan untuknya. Dia sama denganku, mungkin itu yang membuat kami merasa nyaman saat bersama. Aku mengusap air mataku, dan beranjak ke kamar mandi, langkahku terhenti, aku mendekat pelan ke arah Kenzi yang tengah tertidur di sofa. Aku mengamati wajah pria muda yang sedang didekap lelap itu. Dia suamiku, yah semenjak semalam. Dia pria baik, aku akan berusaha membantunya. Aku tersenyum masam, setiap manusia ternyata hidup dengan masalahnya masing-masing.  Tanganku mengusap pelan pipi itu.  Aku beranjak meneruskan langkahku ke kamar mandi. Air hangat yang menyapu tubuhku, membuat perasaanku juga lebih nyaman. Hari baruku dimulai, meski hanya menjadi istri kontrak setidaknya diri ini tidak dibayangi ketakutan, akan jatuh dari satu pelukan p****************g, ke pelukan pria lainnya. Selepas mandi, aku kembali mendekati Kenzi, berjongkok disampingnya. Kutepuk pelan pipi itu untuk membangunkannya. "Sudah pagi," ucapku, saat dia memaksa membuka satu matanya. Sejenak dia mengamatiku, mungkin dia sama denganku, masih merasa asing juga. "Jam berapa?" "Jam enam," jawabku kemudian. Pria itu justru tersenyum, menarik selimutnya dan kembali memejamkan mata. "Masih pagi sekali, apalagi ini hari libur," ucapnya kemudian. Seingatku ini bukan hari minggu, entahlah, aku tak sempat dan tak pernah tau hari libur kecuali hari minggu. Aku duduk di karpet bawah sofa, menyandarkan badanku.  "Tidurlah lagi," ucapnya padaku. "Kamu setiap hari masuk kerja?" tanyaku padanya. Tanpa mengindahkan ucapnya yang memintaku untuk tidur lagi. "Mulai  beberapa bulan terakhir, dan seterusnya, aku sudah aktif di perusahaan," jawab Kenzi. "Lalu aku?" "Kenapa?" "Aku tak mungkin seharian menunggumu tanpa kegiatan apapun," jawabku. Aku menoleh ke arah Kenzi yang masih tidur di sofa, di atasku berbalut selimut. Pria muda itu membuka matanya melihat ke arahku juga. Dia membuka selimutnya dan kemudian ikut duduk di sampingku. "Aku sudah siapkan kegiatan untukmu," ucapnya, senyum manis terukir di bibir itu. "Oh, ya? tanyaku, Kenzi mengangguk. "Kamu akan mengikuti beberapa kursus, jadi aku pastikan kamu tak akan bosan seharian." "Kursus?" "Iya, aku sudah meminta Om Bram mengaturnya," ucap Kenzi lagi. Aku tersenyum mendengarnya, merasa senang dia memikirkan aku juga.  "Kamu mau apa?" pertanyaan yang selalu terlontar saat aku mendekatinya. "Aku ingin menciummu," jawabku. "Tapi ...." sebuah kecupan aku daratkan di pipinya, dia sampai memiringkan tubuhnya berusaha menghindariku. "Jangan mempersulit tugasku," ucapku kemudian. Apa peduliku sekarang, aku benar-benar ingin membantunya keluar dari masalahnya. Dan apa yang aku lakukan bukanlah sebuah dosa, dia suamiku. "Aku butuh waktu," ucapnya kemudian. "Aku tak bisa lama menunggu, aku ingin membantumu, kamu sudah begitu baik padaku, aku hanya bisa membalasnya dengan merubahmu kembali menjadi pria seutuhnya," ucapku. Kenzi hanya menatapku, aku tak tau apa yang ada dalam pikirannya. Yang jelas sekarang aku harus bisa merubahnya, meski harus menanggalkan segala rasa yang menyertai, karena tak boleh ada perasaan cinta dalam hubungan ini. Apakah aku bisa? itu tak penting lagi. Apapun dan bagaimana perasaanku tak ada artinya untuk siapapun, tak akan ada yang peduli.  "Aku mandi dulu," ucap Kenzi langsung berdiri menghindariku. Aku mengulum senyumku, ini tak akan mudah, dia terlalu menutup diri. Tapi bukan suatu hal yang mustahil. Akan aku kesampingkan rasa maluku, dan juga sakitku. Terus merayu dan menggoda nya itu yang akan aku lakukan sepanjang waktu. Bukan hanya dengan tubuhku, aku akan bermain hati sepertinya, meski ini sangat beresiko bagiku, tapi kembali lagi tak penting perasaanku, yang terpenting misi ini harus berhasil. "Mau kubantu?" tanyaku "Bantu apa?"  "Mandi." Kenzi menggelengkan kepalanya. Dia berjalan cepat ke kamar mandi. Aku hanya tersenyum melihatnya gugup. Zanna ... aku yakin kamu bisa sayang, taklukan pria itu, dia suamimu, tak perlu ragu, sisi hati yang lain terus bicara mendukungku, sisi lainnya hanya mengiyakan tanpa mendebat seperti biasanya. Aku bangun dari duduk, berjalan menuju lemari besar berwarna putih itu. Baju Kenzi ada di sisi sebelah kanan. Aku mengeluarkan sepasang baju gantinya dan meletakkan di atas ranjang.  Menyibak tirai, terlihat taman di depan jendela, rumah ini begitu besar tapi dari kemarin aku tak bertemu orang lain selain Kenzi dan ayahnya serta pelayan yang mengantarkan makanan kemarin. Dimana keluarganya yang lain, Kenzi pernah bercerita dia memiliki adik dan kakak perempuan. Namun semalam tak terlihat siapapun kecuali Ayahnya, dan pria yang dia panggil Om Bram itu. Terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, reflek membuatku menoleh. Kenzi memintaku mengambilan baju dan membawakannya ke kamar mandi. Aku sengaja menggodanya dengan mendorong pintu itu lebih lebar.  "Zanna," seru pria itu, aku hanya tertawa.  "Aku ingin membantumu," ucapku. "Aku bisa sendiri," jawabnya dari dalam kamar mandi. Pria itu keluar dengan rambut setengah basah dan wangi sabun yang menguar, aku masih berdiri di depan kamar mandi menunggunya. "Ada apa?" tanyanya saat melihatku. "Kamu terlihat tampan," jawabku kemudian. Kenzi hanya terdiam, tak menjawabku. Seperti biasanya saat aku maju beberapa langkah mendekatinya, dia akan mundur  beberapa langkah juga. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN