Aku semakin berjalan mendekat, Kenzi juga semakin mundur, langkah nya terhenti, tertahan tembok di belakangnya. Tawaku tertahan melihat raut wajahnya yang mendadak tegang. Sengaja aku semakin mendekatinya, kuangkat tanganku, mata pria muda itu melebar. Tanganku mendorong pintu kamar mandi, aku berjalan melewatinya sambil menahan tawaku. Pria itu terlihat memegang dadanya saat aku melihatnya kembali dari pintu kamar mandi, mungkin lega karena aku tak menerkamnya. Dunia sepertinya sedang terbalik, dia terlihat ketakutan melihat sikap agresif yang aku perlihatkan. "Hay," godaku padanya, sebuah kecupan sengaja kembali aku daratkan di pipinya saat dia masih mengatur napasnya. "Kamu." Bisa kulihat wajah kagetnya, aku tersenyum saat dia menoleh ke arahku yang hanya memunculkan kepala dari

