PERAWAN 200 JUTA
Part 6
Oleh : LinDaVin
•••
Dia sengaja tak menyapaku, pura-pura tak mengenalku. Kenapa ada perih dalam hatiku. Apa juga alasanku, untuk sakit hati. Ah rasa ini kenapa menyesakkan hati, ada apa ini?
Aku menatap wajahku di cermin yang terpasang di dalam toilet, semua wanita pasti ingin terlahir dengan kecantikan alami, aku memilikinya. Namun, kecantikan ini pula yang akhirnya membawaku ke lembah hitam, dunia pelacu*an.
Haruskah aku syukuri, atau sebaliknya aku sesali anugerah kecantikan dan tubuh indah ini. Ah, tak ada gunanya mendebat takdir, bersahabat dengannya akan lebih baik untukku.
Aku mengambil bedak dari tasku, menyapukan tipis ke wajahku, lipstik berwarna lembut kuoleskan di bibir. Menyisir rambut dengan tanganku dan merapikan pakaianku.
Langkahku terhenti di depan toilet, pria muda itu berdiri di sana. Senyumnya terulas saat melihatku, dia tak melupakanku. Aku mengigit bibirku, ada rasa lega dan bahagia menyeruak, tapi kenapa dadaku sesak. Sepertinya hati ini terharu, melihat pria muda itu tersenyum, berarti dia masih mengingatku.
"Apa kabar?" tanyanya kemudian.
Kami berjalan pelan untuk saling mendekat, aku sedikit tercekat saat memandang manik mata coklat yang juga menatapku lekat.
"Baik, ka ... kamu?"
"Aku baik juga, terima kasih untuk bantuanya waktu itu," ucapnya padaku. Aku hanya tersenyum tipis menarik sedikit ujung bibirku.
"Senang melihatmu kembali," ucapnya.
"Aku juga," balasku pelan.
"Em ... mungkin kita bisa berteman mulai sekarang," ucapnya lagi.
"Te ... teman?"
"Iya, gimana kalau kita berteman? Bukankah kita punya rahasian masing-masing, tak ada salahnya kan kita menjadi teman, yang saling menjaga."
Pria muda itu tersenyum, manis sekali. Ah, kenapa rasa ini mengacak-acak hatiku. Perasaan apa ini sebenarnya, aku tak memahaminya. Yang aku tau aku sangat senang bisa bertemu dan bicara lagi dengannya.
"Berapa nomor telponmu?"
Aku menyebutkan nomor telponku padanya, dia memasukkan nomorku ke dalam ponselnya. Memberi nama Zanna, aku tau karena dia menunjukkan padaku.
"Ken ...."
Terdengar seseorang memanggil nama pria muda itu. Aku dan Kenzi bersamaan menoleh ke asal suara. Itu teman Kenzi yang tadi datang bersamanya.
"Lama amat," ucapnya sambil berjalan mendekat.
"Sorry, ketemu temen," ucap Kenzi pada temannya.
"Eh, kenalin napa, ini kan yang tadi ...." pria itu tak melanjutkan kalimatnya, hanya menujuk ke arah meja dengan jari telunjuknya.
"Ini Zanna." Kenzi memperkenalkanku pada temannya. Pria itu tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya.
"Gue Richard," kenalnya padaku. Aku juga menyebutkan namaku singkat.
"Lepasin jangan lama-lama, nggak bisa banget, liat cewek cantik. Di gamp*r pacarnya baru tau rasa lo," ucap Kenzi, Richard hanya terkekeh.
"Eh, bentar gue kebelet, tungguin ya." Pria muda itu mengerlingkan matanya padaku. Kemudian beranjak ke toilet.
"Buaya dia, hati-hati. Kebanyakan modus," ucap Kenzi sambil melihat temannya itu.
"Dia bukan ...." Aku tak meneruskan kalimatku. Kenzi mengeleng, rautnya terlihat berubah.
"Em, maaf aku udah di tunggu temenku," pamitku padanya.
"Iya, semoga bisa bertemu lagi di lain waktu, aku butuh teman," ucapnya lagi. Aku tersenyum dan mengangguk.
Bara terlihat sedang fokus pada pangilan di ponselnya. Wajahnya terlihat serius, aku menarik kursi dan kembali duduk. Melanjutkan meneguk minumanku yang masih tersisa.
"Kok lama?" tanyanya kemudian, selepas menutup pangilannya.
"Iya, nggak enak perutnya, hari pertama," alasanku.
"Udah yuk, dah siang. Aku ada urusan setelah ini," ucap pria itu.
Kami berdiri bersamaan, dia berhenti sebentar di kasir, aku menunggu di sampingnya. Tanganya menggandengku sampai kami tiba di tempat parkir.
"Kamu membutuhkan sesuatu, mumpung belum sampai rumah," ucapnya saat mobil melaju setengah perjalanan.
"Boleh mampir minimarket, ada yang mau aku beli, yang deket rumah saja," pintaku padanya, pria itu mengangguk. Jalannya siang ini tak terlalu padat, Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Mobil berhenti di depan sebuah minimarket. Kami turun bersamaan, dan kembali tangan itu menautku. Ucapan selamat datang dan selamat berbelanja menyambut kami berdua. Aku langsung mengambil sebuah keranjang.
Mulai dari pembalut, camilan dan beberapa barang aku masukkan keranjang. Aku ataupun yang lainnya tidak bebas keluar, kalau butuh sesuatu biasanya menitip pada penjaga di rumah Mami Erna. Untuk make up dan lain sebagainya, semua dari Mami Erna.
Pria itu mengelengkan kepalanya, melihat jajanan yang aku masukkan.
"Itu jajanan anak kecil semua," ucapnya kemudian.
"Aku kan masih kecil," jawabku asal, masih sibuk menimang jajanan apa lagi yang akan kumasukkan dalam keranjang.
Keranjangku sudah penuh, baru aku menyudahi belanjaku. Kami langsung menuju ke kasir. Bara mengeluarkan sebuah kartu seperti ATM, ketika aku akan membayar belanjaanku, yang ternyata hampir dua ratus ribu.
Dengan sigap pria itu mengambil kantong kresek berisi belanjaanku dan membawanya dengan tangan kanan. Tangan kirinya kembali menautku, mengandengku sampai mobil.
"Makasih ya," ucapku, saat mobil mulai melaju meninggalkan parkiran mini market.
"Iya, jangan lansung dimakan semua, batuk nanti," ucapnya kemudian.
Aku tertawa mendengarnya, dia seperti berbicara dengan anak kecil saja. Pria ini terlihat berbeda, tak seperti semalam.
"Ayahku dulu sukanya bilang begitu," lanjutnya lagi.
"Hem ... menyenangkan pasti ya kalau ada yang perhatian gitu," ucapku seraya tersenyum. Sebuah senyum getir, karena aku tak pernah merasakannya.
Tak ada jawaban, pria itu hanya tersenyum. Bukan senyum manis, tapi sinis. Tak berapa lama, mobil Bara sudah memasuki rumah besar milik Mami Erna. Mobil langsung menuju halaman belakang.
"Terima kasih ya, untuk semuanya," ucapku, saat mobil berhenti dan aku bersiap turun.
"Hanya terimakasih?" Bara memgangkat alisnya. Tangannya menarik tanganku, hingga aku merapat padanya.
Wajah kami sudah sejajar dan berhadapan, cepat sekali bibir itu menaut bibirku. Ini bukan yang pertama denganya, tapi rasanya sedikit berbeda, tak sekasar semalam. Aku hanya memejamkan mata menerima perlakuannya.
"Tak ada yang gratis sayang," ucapnya padaku, di sela tautan bibirnya. "Ingat kamu berhutang padaku satu malam," lanjutnya lagi.
"Aku kira sudah lupa," ucapku kemudian. Bara hanya tertawa.
"Apa ini?" tanyaku, saat Bara memberikan beberapa lembar uang ratusan padaku.
"Buat jajan," jawabnya.
"Tapi, kan ...."
"Sudah terima saja," ucapnya lagi, lalu turun dari mobil. Aku masih tertegun melihat lembaran uang ditanganku. Untuk apa dia memberikannya.
"Kamu nggak turun?" tanyanya saat membukakan pintu mobilnya untukku.
"Tapi, ini ...."
"Buat kamu," ucapnya lagi. Menangkup wajahku dan mencium ujung kepalaku.
"Aku mau masuk dulu, kamu istirahat," ucapnya, dia beranjak dan menghilang di balik pintu. Aku mengipaskan uang ditanganku pelan, kemudian mengambil belanjaanku dari jok belakang.
Aku berjalan pelan menuju kamarku, entah mengapa kamarku terpisah sendiri. Anak asuh Mami Erna yang lain ada di sebelah kanan bangunan. Mereka juga bisa bertegur sapa dengan yang lain. Di samping kamarku hanya ada dua kamar, yang di tempati penjaga dan pembantu di sini.
Siang itu aku kembali membersihkan diri, kemudian merebahkan badanku di atas ranjang. Bayangan Kenzi tadi siang berdiam dalam benakku. Ah, ada sesuatu yang aku lupakan tapi apa. Sejenak aku mencari apa, oh ... nomor telepon Kenzi, aku melupakannya.
Kenzi sudah menyimpan nomor teleponku, akankah dia menelponku. Kenapa aku berharap sekali, pria itu menghubungiku. Tak tau diri sekali diriku ini, siapalah aku ini berharap dia menghubungiku.
Ingin tidur, kantuk sepertinya engan menyapapku. Aku pergi saja ke dapur biasanya Mba Mimi dan Mba Marni sedang masak untuk makan malam. Benar saja kedua orang itu tengah sibuk di dapur.
"Zanna, ngapain main di dapur?" tanya Mba Marni padaku.
"Mau bantulah Mba, kayak biasanya," jawabku.
"Haduhh, udah nggak boleh bantu - bantu lagi, di larang sama nyonya Bos," jelas Mba Mimi.
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Takut, kulit mulusnya kecipratan minyak, takut kuku indahnya kotor, takut terluka sayang," jawab Mba Marni menjelaskan.
"Ya udah, Zanna duduk aja liatin," ucapku manyun.
"Jangan juga. Nanti, rambutnya bau dapur. Sudah balik kamar sana," usir Mba Mimi, aku urungkan niatku untuk duduk, dan beranjak keluar.
•••
Mengetahui aku datang bulan, Mami Erna mengomeliku, karena aku juga baru saja diberi libur. Dia merasa kehilangan banyak uang karenanya. Telingaku sepertinya sudah cukup kebal, apapun yang perempuan bertubuh subur ini katakan tak aku masukkan kedalam hatiku.
Biasanya hanya lima hari, setelah itu sudah bersih. Ini sudah hari ke lima, dan sudah berhenti, rasanya ingin berlama-lama. Memulai kembali sesuatu yang belum berhasil kumulai, engan sekali rasanya diri ini.
Kembali bersih, berarti aku harus kembali bekerja. Dua kali terselamatkan akan hari itu datang juga. Ketakutan kembali melandaku, bukankan ini jalan yang aku pilih, apa yang aku takutkan. Tapi dari dalam hati terdalamku, aku masih berharap terselamatkan untuk kesekian kalinya, dan selamanya.
Selamanya? Yah ... selamanya, sampai ada seseorang yang memang berhak atas mahkota suci ini. Sejak kapan aku berani bermimpi, entahlah. Apakah bermimpi saja aku sudah tak memiliki hak.
Bermimpi, suamikulah yang pertama melakukannya padaku, seorang suami yang mencintaiku dan bisa membimbing serta menjagaku. Mimpi macam apa itu, aku cukup tau diri. Mana ada pria baik-baik menikahi p*****r sepertiku.
••
Mulai sore, Mami sudah memintaku bersiap. Malam ini dan malam berikutnya, sudah ada pelangan yang memesanku. Wajah wanita itu terlihat cerah sekali, berbeda denganku, yang sudah kehilangan harapan untuk kembali terselamatkan.
"Zanna, di tunggu Mami di ruangannya ya," panggil Jenny, membuka pintu kamarku yang hanya tertutup separuh.
Wanita jadi-jadian itu menungguku di depan pintu. Setelah kumasukkan beberapa barang tas kecilku, aku mengekor langkahnya.
"Eh, gimana rasanya main sama Mas Bara, uhh ketagihan juga ya seperti anak-anak yang lain."
Wanita jadi-jadian ini bicara blak-blak an sekali. Aku hanya diam tak menjawabnya. Terdengar dia tertawa dan gemas sendiri, entah apa yang ada dalam pikirannya.
Dua pasang mata langsung menoleh bersamaan saat aku masuk. Ada Bara di sana, seperti biasa dia memindaiku dari atas kebawah dan kembali ke atas.
"Malam ini, kamu temani rekan bisnis Bara, dia akan mengantarmu ke hotel," ucap Mami Erna padaku. Yang punya nama langsung berdiri mendekat ke arahku.
"Aku bawa Kak, long time ya," ucap Bara menoleh ke arah kakaknya. Mami Erna mengibaskan tanganya tanpa bicara, dia sibuk menghitung tumpukan uang di mejanya.
"Mas, Eyke mau dong dicarikan job," celetuk Jenny sambil senyum-senyum.
"Boleh, tapi aku bingung mau nyarikan pelanggan laki pa perempuan hahahaha," goda Bara ke Jenny, yang langsung manyun geli.
Masih dengan sisa tawanya, pria itu membawaku keluar. Tangannya erat menggengam tanganku seperti biasa. Aku sedikit memudurkan badanku saat dia mengendus leherku.
"Wangi sekali," ucapnya kemudian. "Kenapa tanganmu dingin?"
"Kan malam," alasanku.
Kami berjalan bersisian, pria itu membukakan pintu mobilnya untukku sesampainya di halaman belakang. Kutarik nafasku dalam dan menghembuskan pelan sambil memasuki mobil Bara.
Sepanjang jalan, aku hanya terdiam. Aku tegang sekali, akhirnya saat itu tiba juga. Pria seperti apa yang akan merengut keperawananku nanti.
"Kamu kenapa? tegang banget kayaknya."
"Iya, aku takut," jawabku.
"Lama-lama juga biasa," ucapnya kemudian.
Pikiranku sudah kemana-mana, sampai aku tak sadar, mobil memasuki parkiran apartemen Bara.
"Kok kesini?" tanyaku kemudian.
"Ada yang ketinggalan, ikut turun saja," jawabnya. Aku ikut keluar dan mengekor padanya. Seperti biasa Bara langsung mengandengku.
Kami berjalan bersisian menuju lift, aku masih saja sedikit takut menaikinya. Pria itu menyadari, tanganya memeluk pinggangku. Dalam sekejap kami sudah berada di lantai tujuan, kakiku masih saja sedikit gemetaran saat melangkah keluar.
"Masuk," ucapnya menyuruhku masuk terlebih dahulu.
Semua masih sama, seperti seminggu yang lalu. Aku berjalan pelan, pria itu mendahuluiku, berjalan menuju dapur yang ada di dekat pintu masuk.
"Mau minum apa?" tanyanya kemudian. Aku hanya mengelengkan kepala.
"Minumlah dulu biar tak tegang," ucapnya memberiku segelas air putih. Aku menerimanya dan meneguknya berlahan sampai tandas.
"Boleh tau, seperti apa pria yang akan kulayani malam ini?" tanyaku ragu.
Bara mengambil gelas ditanganku dan meletakkannya kembali di atas meja. Pria itu merapat padaku, sangat rapat dia memelukku.
"Aku yang memesanmu malam ini, aku tak akan memintanya secara gratis. Kita lanjutkan permainan kita sayang," ucapnya. Pria ini kembali bersikap seperti malam itu, jantungku berdegub kencang.
Dia menarikku ke dalam kamarnya, tangan dan kakiku terasa dingin. Ketakutan itu masih mendekapku, malam ini, akan menjadi malam pertama dan juga malam terakhir. Pikiranku masih kacau, tubuhku belum merespon cumbuan Bara.
Ah, untuk apa aku takut seperti ini, semuanya pasti akan terjadi dan sekarang mungkin sudah waktunya. Lebih baik memberikan keperawananku pada pria ini, dari pada pria tua yang tidak aku kenal.
"Berikan aku pelayanan terbaikmu, aku pelanganmu sekarang," bisik Bara di telingaku, aku mulai meremang, kupasrahkan sudah, apa yang terjadi, terjadilah. Mungkin sudah menjadi takdirku ...
•••