Perawan 200 Juta
Part 7
Oleh : LinDaVin
•••
Tangan itu mengusap lembut punggungku, memberikan sensasi yang berbeda, tautan bibirnya juga kurasa lebih halus dari sebelumnya. Berlahan tapi pasti, aku mulai terhanyut oleh cumbuannya. Kesadaran itu mulai menepi, yang ada hanya nafsu yang menuntut untuk dipuaskan.
Tubuhku semakin menghangat, deru nafas berlomba dengan syahdunya lengkuhan hasrat. Aku semakin terbang tinggi, melayang dalam rasa yang tak bisa aku gambarkan.
"Kamu milikku," bisiknya.
Hasrat sudah terpetik, semua sudah dimulai, dan harus ada penyelesaian dalam permainan ini. Ketika semua yang melekat dalam tubuh ini luruh satu persatu, selaras dengannya luruh juga asa yang masih tersisa. Tak ada keajaiban kembali, yang ada hanya kenyaataan bahwa semua akan berakhir dan berawal pada malam ini.
Dalam sekejap, nafsu terkutuk sudah membekapku, menguasai sepenuhnya sadarku. Menjadi gila akan lebih baik, hingga tak ada rasa terpaksa. Rela atau tidak tak penting lagi, jadi aku tak akan menyiksa diri lagi.
Ini pertama kalinya, seorang pria menjelajahi tubuhku dengan bebasnya. Tak perlu menjadi munafik, Bara seorang pria yang tampan. Akan lebih mudah, melakukan permainan ini dengannya.
Aku tak bisa membandingkan dengan siapapun, karena aku baru pertama kali melakukannya. Kalau, banyak wanita yang menginginkan dia, itu bukan isapan jempol belaka, semua hal dia memilikinya.
Melihatku sudah mulai meresponnya, cumbuannya semakin intens. Bara mendorong tubuhku pelan, merebahkan tubuhku di atas ranjang. Dadaku bergetar, seiring tubuhku yang bergetar luar biasa atas perlakuan pria itu.
Dua anak manusia ini sedang berpacu dengan hasratnya, saling memberi dan menerima sesuatu yang bukan kewajiban ataupun haknya. Menanggalkan rasa malu, yang ada hanya nafsu.
Ada satu sisi hati, mencoba mengetuk kembali. Menarik sadarku, dari bekapan nafsu bira**. Tak merelakan semua ini terjadi, menanti keajaiban yang mungkin masih mau berpihak padaku.
"Lepaskan," seruku.
Aku mendorong tubuh polos itu, pria itu terlihat kaget melihat reaksiku. Segera kumenarik selimut dan menutup tubuhku, yang gini gemetar ketakutan. Aku mengelengkan kepala, air mataku mengucur deras.
"Tolong jangan lakukan," ucapku di sela tangisku.
"Kamu kenapa?" tanyanya heran.
"A ... aku, aku masih perawan," jawabku padanya.
"Apa, hah omong kosong apa ini. Jangan mempermainkan diriku." Bara terlihat emosi.
"Aku tidak bohong, aku belum pernah melakukannya, kamu pria pertama yang menjamahku, yang melihat tubuhku. Tolong jangan lakukan itu padaku, aku tak mau kehilangan harta berharga milikku satu-satunya," ucapku. Tangisku semakin menjadi.
"Apa maksudmu?"
Aku menceritakan ke Bara, kecuali tentang kebenaran Kenzi yang 9ay, aku menutupinya. Pria itu terdiam, entah apa yang ada di dalam benaknya. Sedangkan diriku masih gemetar berlindung dalam selimut yang kututupkan sampai sebatas leher.
Pria itu melihatku, memindai wajah kuyuku, yang basah oleh air mata. Entah apa arti tatapannya, tapi yang jelas itu bukan tatapan nafsu pria yang menginginkan tubuhku. Dia menatapku iba, aku masih dengan tangisku meminta kembali padanya.
Bara memungut kembali pakaiannya yang berceceran di lantai. Melangkah keluar tanpa kata, meninggalkan aku sendiri. Segera kubangun, mengambil bajuku dan kembali mengenakannya.
Aku melangkah keluar, pria itu sedang duduk di depan meja makan dengan segelas minuman. Kakiku melangkah pelan menghampirinya. Apa yang baru aku lakukan, sampai kapan aku melawan.
Harusnya tak ada penolakan, ini sudah menjadi tugasku bukan. Ini bukan hubungan hati, ini bisnis. Bukankah, ini memang sudah menjadi pekerjaanku. Lebih baik aku menyerah sekarang, melepas kesucian ini untuk pria itu bukan hal yang buruk bukan.
"Aku minta maaf, harusnya aku tak menolakmu," ucapku. Bara hanya terdiam, tanpa menoleh ke arahku.
"Kita mulai lagi?" tanyaku padanya. Aku merapatkan tubuhku, memeluknya dari belakang. Pria itu hanya bergeming.
Tak selamanya bisa begini, tak semua pria punya belas kasih, akan lebih tak rela bila orang lain yang mendapatkan keperawananku. Menyerah sekarang akan lebih mempermudah pekerjaanku selanjutnya.
"Sudahlah," ucapnya lirih, saat tanganku bergerak nakal menggodanya
Bara membalikkan tubuhnya, hingga kami berhadapan. Mata itu menatapku tajam, akupun demikian. Entah apa yang terjadi dadaku kembali sesak, air mataku tumpah kembali. Pria itu meraihku membenamkanku dalam dadanya, tanpa kata. Isakku semakin menjadi, aku menangis.
Aku benci takdirku, aku benci semua, ini tak adil untukku. Apa salahku, betapa dunia begitu buruknya memperlakukanku. Untuk apa aku ada bila hanya untuk disia-siakan, menjadi anak terbuang dan tak diinginkan.
Bara mengangkat wajahku, mengusap pipi basahku dengan kedua tangannya. Menatapku teduh, tapi justru membuat tangisku semakin kencang. Pria itu turun dari kursinya, membawaku duduk di sofa.
"Kamu ingin bercerita?" tanyanya padaku.
Aku hanya mengelengkan, sambil menutup mulutku, menahan tangisku.
"Aku mendengarkan," ucapnya lagi. Tangan itu membelai rambutku, perlakuan manisnya justru membuat tangisku semakin tak tertahan. Mendapati masih ada yang bersimpati, masih ada manusia yang memiliki hati, yang mau mendengarku.
Kembali dia meraihku, aku membenamkan wajahku dalam dadanya. Tanganya mengusap lembut punggungku, menenangkanku. Cukup lama aku menata kembali hati dan rasaku, sampai aku benar-benar mulai tenang.
Berlahan keluar semua cerita dari bibirku, semakin beranjak dewasa semakin membuat aku paham dan mengerti, betapa malangnya nasibku ini.
"Aku hanya anak yang terbuang, yang tak pernah di inginkan hadirnya, yang tak pernah di anggap ada," ucapku.
Bara kembali memelukku, aku sakit dan terluka. Aku sudah mencoba bersahabat dengan takdirku, tapi hati kecilku meronta. Ingin meminta keadilan tapi pada siapa.
"Tak ada pelukan menenangkan saat aku ketakutan, tak usapan lembut penuh kasih sayang, aku sakit, untuk apa aku ada, bila tak berarti untuk siapapun?"
Hanya menangis dalam pelukannya, yang saat ini membuatku merasa lebih tenang.
••
Mataku terasa berat untuk dibuka, kulihat sekeliling, aku sudah berada di dalam kamar. Sepertinya aku tertidur semalam saat bercerita tentang kelamnya kisahku. Berarti, pria itu yang mengangkatku sampai di sini. Kepalaku sakit, menangis semalam membuatnya terasa berat.
Untuk kesekian kalinya aku terselamatkan, tapi sampai kapan. Apa yang Tuhan rancanakan untukku? Akankah ada hal manis yang bisa kudapatkan. Atau, nasib baik sudah mulai mau menyapaku.
Aku beranjak pelan, menuju kamar mandi. Mataku bengkak akibat menangis tadi malam. Kubasuhkan air hangat ke wajah kuyuku. Setidaknya mencuci muka sendikit membantuku membuka mata lebih lebar.
Dimana Bara? Aku melangkah keluar kamar. Terdengar ada aktifitas di dapur, aku menuju kesana. Melihatku, senyum terulas di bibirnya.
"Sudah bangun?" sapanya.
"Belum, masih tidur," jawabku sambil memejamkan mata. Pria itu tertawa, aku mendekat padanya.
"Terima kasih," ucapku saat aku berada di sampingnya. Bara hanya tersenyum, tanganya kirinya merangkul pinggangku.
"Segelas teh hangat," ucapnya, sambil mengaduk gelas di depannya. "Aku hanya ada roti dan selai untuk sarapan," lanjutnya.
Mataku melirik pria yang masih mengaduk gula dan teh di gelas satunya. Menyadari aku memperhatikannya dia menoleh kearahku, alisnya terangkat.
"Jangan dilihatin terus, nanti kamu jatuh cinta," candanya dengan tertawa. Aku hanya mengulum senyumku, sambil menyelipkan rambutku ke belakang telinga.
Bara membawa dua gelas teh hangat ke meja makan, aku mengekor di belakangny. Di meja makan sudah ada roti tawar dan beberapa pilihan selai.
"Mau pakai apa?" tanyaku padanya. Mengambil dua potong roti di meja.
"Coklat saja," jawabnya.
Segera kuoles selai coklat dan memberikan padanya. Aku pun sama, mengoles rotiku dengan selai coklat juga.
"Hem, seperti anak kecil," ucapnya sambil mengusap bibirku dengan jarinya.
Aku hanya tersenyum membalasnya. Pria ini berubah-rubah, dan sekarang dia terlihat begitu manis memperlakukanku, bukan ... bukan nafsu, aku merasakan hal lainnya. Tatapan matanya teduh menenangkan, usapan lembutnya membuatku nyaman, dan senyumnya bagai secerca harapan.
Namun, rasaku tak ada yang spesial padanya, sayang, yah hanya itu sekarang yang aku rasakan. Berbeda sekali dengan apa yang kurasakan pada Kenzi, pria muda itu sepertinya telah menawan hatiku.
"Lihat matamu, bengkak," ucap Bara.
"Iya, kebanyakan nangis semalam," jawabku. "Terima kasih sudah mau mendengarkanku," ucapku lagi.
"Tapi sampai kapan? Aku tak bisa membantumu selamanya."
Bara benar, sampai kapan? Mungkin tadi malam aku bisa selamat tapi selanjutnya. Kenapa aku belum juga mau menerima kenyataan, bahwa aku memang ditakdirkan untuk menjadi wanita penghibur.
"Jangan berfikir melarikan diri, akses Kak Erna sangat luas, selain membahayakan dirimu sendiri, kasihan juga keluargamu," ucap Bara lagi.
"Kenapa kau begitu perhatian padaku?" tanyaku padanya.
"Aku juga tak tau, Pria b***t ini hanya tak sanggup melihat air matamu," jawabnya.
"Mungkin aku bersimpati padamu, pada kondisimu, seburuk apapun kehidupanku, aku juga masih manusia, masih memiliki hati, meski hitam dan kotor," lanjutnya.
"Tapi ini hanya menunda waktu, tak bisa membebaskanmu, hari itu pasti tiba, entah dengan siapa kamu melakukannya, selama kamu masih disana hal itu pasti terjadi."
Apa yang Bara katakan benar, semuanya benar. Semua hanya soal waktu, dan selama aku masih bekerja dengan Mami Erna, semuanya akan menjadi pasti. Pasti terjadi, entak esok, lusa atau bari berikutnya.
"Aku ingin memberikannya padamu, aku ingin kamu yang melakukannya," ucapku.
Bara menatapku, aku sadar dan serius dengan ucapanku. Aku lebih rela memberikan keperawananku padanya, dari pada memberikannya kepada orang lain. Diri ini lebih siap melakukan hal itu dengannya.
Bersambung
LinDaVin