"Sayang, liat dia tersenyum." Kenzi sedikit berseru karena takjub, iya dalam lelapnya bibir mungil itu tersenyum. Seulas senyum ikut hadir di bibirku. Sesaat kemudian Kenzi menoleh ke arahku dengan sisa senyumnya. Sebuah kecupan ia singahkan di pipiku, yang berada tepat di sampingnya. "Kamu tau, Sayang. Akulah orang yang paling berbahagia untuk saat ini," ucap Kenzi kemudian. Entah mengapa mataku kembali memanas. Senyum masih terpasang di bibirku. Tapi, air mata itu juga kembali hadir. Aku buru - buru menyekanya dengan telapak tanganku. "Pakai saja bajuku," ucapnya lagi. "Masih ingat?" Aku tersenyum getir, bagaimana aku bisa lupa. Itu pertemuan pertama dengannya. Yang akhirnya membawaku dalam kisah hidup yang penuh drama. Sebelum akhirnya aku sampai di saat ini. Keningku menyandar

