Sepertinya Tuan Bram sudah memberi tahu Kenzi, tentang keadaanku sekarang. Jujur aku sebenarnya belum siap, ini terlalu cepat. Tapi, mau bagaimana lagi. Tak mungkin menghindarinya, yang ada malah akan semakin memperkeruh masalah. "Suruh tunggu, ya!" kata Oma, Pak Rindang langsung bergegas kembali ke depan. Bi Nur masih berdiri, matanya sudah basah. Wanita paruh baya itu menutup mulut dengan kedua telapak tangan. Terlihat getaran di tubuhnya menandakan Ia sedang menangis. Aku cukup paham dengan apa yang ia rasakan. Bagaimanapun mereka memiliki hubungan yang sangat dekat. "Sudah siap?" tanya Oma padaku. "Entahlah Oma," jawabku. Oma memagut pelan, pasti Oma paham dengan yang sedang aku rasakan sekarang. Sebuah situasi yang sangat kacau dan tidak nyaman. "Sekarang atau nanti, hal ini pas

