Bab 5. Menjelang Hari Pernikahan

1068 Kata
“Apa maksud Pak Rendi manggil aku gitu tadi?” Nabila bertanya begitu mereka sudah duduk di mobil. Rendi berdecak lirih, ia melajukan mobilnya. “Saya udah bilang kalau jangan membuat saya malu, Nabila! Drama kamu itu membosankan, tinggal pergi dan diam, itu sudah cukup. Tapi, kamu terlalu berisik, banyak omong, tau?” Pertama kali Rendi berbicara panjang lebar pada Nabila dan sekalinya itu langsung menancap luka, menyudutkan dan menyalahkan sikap Nabila yang wanita itu sendiri juga tidak ingin berada di posisi tadi. “Dengar baik-baik!” Rendi menekankan ucapannya itu. “Apa pun yang terjadi, jangan terlalu berisik dan membuat saya malu! Menjaga nama baik saya itu kewajiban kamu dalam hal dan kondisi apa pun, suka atau tidak suka, anggap saja itu resiko karena kamu sendiri yang memulai masalah ini, mengerti?” Nabila terdiam, belum pulih panik hebat yang menyerangnya tadi, tekanan dari Rendi kembali membuat kedua tangannya gemetaran, Nabila menyembunyikan tangannya di bawah tas. Sepanjang perjalanan menuju butik itu, Nabila hanya diam, menikmati betapa berisiknya isi kepala yang tiada henti menyalahkan sampai-sampai di depan butik itu Nabila tidak mendengar ajakan Rendi untuk turun. “Heh!” Rendi membuka pintu dan menepuk lengan Nabila. “Iy-iya, Pak?” “Turun!” titah Rendi bersuara pelan, mana mungkin di depan ibunya berani membentak atau berucap kasar pada Nabila. Wanita itu mengangguk, beruntung sesampainya di butik itu tangannya tidak gemetaran lagi sehingga bisa mencoba semua baju yang dipilihkan dan mengambil dua untuk acara pernikahan esok. Sebisa mungkin Nabila tampil baik-baik saja, pun dengan Rendi seperti mereka sudah sangat kompak. “Kamu cantik sekali, Na. Tante pilihkan sesuai yang biasanya kamu, tetap indah meskipun tidak terbuka. Kamu lebih indah!” puji Mia mengusap pipi Nabila. Hal yang berbeda menurut Rendi, sebab baginya penampilan Nabila tidak menarik sama sekali, apalagi yang tertutup seperti ibu-ibu itu, Rendi merasa berjalan dengan orang yang lebih tua meskipun umur Nabila masih di bawahnya, tetapi itu pandangan Rendi yang terbiasa dan lebih suka pada mereka yang membiarkan rambut terlihat dan berdandan modern. “Pak Rendi bohong ya tadi?” Nabila memastikan Mia tak ada di dekat mereka. Rendi menyimpan ponselnya. “Kamu tau itu, bukan tipe saya!” Nabila tersenyum tipis dalam anggukannya, seperti yang Rendi katakan tadi, itu sudah paket risiko yang harus Nabila telan karena sudah mengambil keputusan untuk mau menikah dengan Rendi. Tidak ada jalan lain, selain menerima dan meneruskan langkah dengan segala kemungkinan yang ada, mau sakit atau tidak, Nabila hanya perlu terus tersenyum. Setelah urusan baju selesai, Mia meminta Rendi tetap mengantarkan Nabila sampai ke rumah. Dan kembali pada setelan awal di mana mau Nabila berceloteh apa saja, Rendi tidak peduli dan diam. “Pak Rendi, makasi ya. Aku lega hari ini bisa dateng ke nikahan mereka dan kasih undangan, terima kasih sekali,” ucap Nabila sebelum Rendi pulang, tadi sempat bersalaman dengan Harun. Rendi menaikkan sebelah sudut bibirnya dengan tawa sumbang. “Yang benar, terima kasih karena sudah jadi jalan balas dendam, begitu, kan?” Nabila ingin sekali menjelaskan secara rinci pada Rendi, akan tetapi ruangnya terasa sesak dan memaksa wanita itu tetap di sana, menjalani yang sudah berjalan meskipun berat dan ingin berhenti. Akhirnya, wanita itu hanya mampu melihat calon suaminya pergi tanpa berucap lagi, bahkan sekadar melambaikan tangan saja tidak bisa. “Apa udah terlambat kalau aku batalin semua ini?” batinnya. *** Riana cukup terkejut dengan pengakuan putrinya pagi itu, hitungan hari lagi pernikahan akan digelar, sedangkan Nabila baru saja mengatakan kalau pernikahan itu lebih baik dibatalkan karena dirinya dan Rendi tidak mengalami kecocokan, tetapi sebisa mungkin Riana tampil tenang di depan Nabila. “Umik, maaf.” Nabila menunduk sesal “Itu hal wajar, Na.” Riana mengulas senyum yang membuat Nabila bingung. “Wajar, nggak kamu saja yang mengalaminya. Hampir semua calon pengantin mendadak pengen batal nikah dan bilang nggak cocok sama pasangan mereka, padahal sebelumnya baik-baik saja. Ternyata, kamu juga mengalaminya, hehehe. Na, mereka yang sudah lama jalan saja bisa nggak cocok, apalagi kamu yang baru kenal sama Rendi. Tapi, itu bukan jadi alasan untuk berhenti, justru perkenalan yang baik itu setelah menikah. Sabar ya, doa terus biar hatinya tenang!” Melihat senyum tulus itu, Nabila kembali tak berdaya, selain meneruskan yang sudah terjadi. Pernikahannya dengan Rendi tak akan mungkin batal, apalagi waktu itu Rendi dengan tegas meminta supaya mereka segera menikah akhir bulan itu, semakin menambah keyakinan keluarga besar akan keseriusan lelaki itu. Namun, di balik semua itu ada yang harus Nabila tahan sendiri sakitnya karena hanya berpura-pura baik-baik saja. “Saran apa, Ras?” tanya Nabila pada satu-satunya teman baik yang dipunya. “Kalau situasinya menggila, ya ikut gila saja, Na, daripada kamu mati konyol ya, kan? Kita nggak tau ke depannya gimana, Allah Maha Membolak-balikkan hati manusia, siapa tau liat kamu santai, tetap jalan bisa bikin hati luluh. Dan yang pasti, yakin kalau masalah ini bisa bikin kamu deket sama Allah, Na!” tutur Laras. Nabila tersenyum, paham apa yang Laras sampaikan, dirinya hanya perlu terus baik tanpa mempedulikan yang lainnya, termasuk respon Rendi nanti. Sebelum hari pernikahan, baik di rumah Rendi dan Nabila sama-sama menyelenggarakan pengajian sekaligus kirim doa yang dihadiri para keluarga dan tetangga. Nabila belum bertemu Rendi, orang tua mereka yang mengatur itu, bahkan untuk foto sebelum menikah yang biasanya dilakukan para pasangan, mereka akan melakukan itu usai akad terucap sehingga lebih nyaman saat bergaya. “Kamu cantik sekali, Umik terus berdoa buat rumah tangga kamu ya, Nak!” ucap Riana. “Makasi, Umik. Aku cantik juga karena anaknya Umik sama abah,” balas Nabila sembari menahan dadanya yang terus berdebar-debar, tidak bisa membayangkan besok seperti apa disaat Rendi tiba dan mengucapkan akad, sedangkan cinta belum ada di hati mereka atau mungkin tak akan pernah ada. Tetapi, Nabila kembali menegur dirinya sendiri, itu sudah keputusannya, jadi apa pun risikonya bila dia sudah menjadi istri maka sebisa mungkin membuat Rendi tertarik padanya dan bisa berkomunikasi dengan baik meskipun harus menekan egonya sendiri. Hal serupa juga Rendi rasakan di malam itu, perang batinnya semakin nyata, menyesali ucapannya pun di hari itu tak akan berguna, toh besok dirinya akan tetap menikah. Rendi: Saya mau ketemu kamu, Sil. Silvia: Tolong, fokus ke pernikahan anda, Pak. Jangan hubungi saya lagi! Rendi: Ini perintah! Silvia: Maaf, saya nggak akan datang. Rendi mendesus tidak terima, ingin sekali berlari ke rumah wanita itu, tetapi saat tangannya menyambar kunci mobil, langkahnya harus terhenti. “Mau ke mana, Ren?” tanya sang ibu curiga. “Wanita itu lagi?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN