Bab 4. Kirim Undangan Di Hari Pernikahan

1212 Kata
“Akhir bulan?” Mia berdiri, keningnya mengerut tipis. Rendi mengangguk mantap. “Ya, aku mau menikahi Nabila akhir bulan ini dan dia setuju. Mama bisa mengatur semuanya, kan?” “Tante—” “Nabila malu, Ma. Aslinya, dia senang menikah cepat karena untuk rasa sakit tidak bisa menunggu obatnya terlalu lama,” potong Rendi menatap Nabila penuh syarat, ada seringai tipis di sudut bibirnya menandakan bahwa ia tak main-main dengan keputusan itu dan Nabila tidak akan bisa menolak. “Sekali lagi, saya ucapkan selamat datang, Nabila!” tambah lelaki itu berbisik semakin menakuti Nabila. Hanya anggukan kecil yang bisa Nabila tunjukkan di sana sebagai jawaban, Rendi itu bukan dari keluarga biasa, mereka orang kaya raya dan terpandang, Nabila khawatir bila melawan maka keluarganya yang akan menjadi taruhan. Sungguh, Nabila menyesali pikiran sesaatnya itu. Bahkan, disaat wanita itu sadar dan bisa berpikir dengan benar, senyuman orang tuanya seakan tidak rela untuk dilepas begitu saja karena dirinya yang labil. Setelah hari itu, suara-suara sumbang sudah mulai merata ke segala penjuru kantor, baik tentang pernikahan yang batal, lalu kasus Daisy hingga kabar Rendi menikah dengan Nabila. Di tangan wanita itu sudah ada undangan baru, bukan namanya dengan Hanif yang dulu belum sempat dibagikan, melainkan nama Rendi yang tercetak tebal di undangan berwarna coklat gelap itu. “Maaf, kalau aku ganggu,” ucap Nabila meremat ponselnya sedikit. Rendi terdengar berdecak tidak suka di seberang sana. [Katakan saja, ada apa!] Nabila menunduk, menatap satu undangan yang belum terbagikan, sebab itu untuk Daisy seperti janjinya. “Pa-pak Rendi bisa tolong temani aku ke nikahannya Daisy dan mas Hanif? Ak-aku udah jan—” [Ya, saya jemput kamu. Nggak perlu menjelaskan apa pun, saya tau kamu memanfaatkan pernikahan itu untuk ajang balas dendam, kan?] Rendi rasa tebakannya benar, lalu panggilan itu berakhir tanpa satu pun diantara mereka yang mengakhiri. Ponsel itu segera Nabila simpan ke tas, lagi-lagi kepalanya berisik dan merasa tertekan. Nabila menutup kedua telinganya dengan tangan rapat-rapat hingga keringat dingin membasahi tubuhnya, wanita itu lemas. Masalah itu benar-benar membuat Nabila kacau, baik mental dan fisiknya, di samping itu Nabila juga memikirkan keuangan kedua orang tuanya, Nabila sudah mendengar semua tanpa mereka tahu, semua tabungan orang tuanya sudah habis, sedangkan pernikahan itu justru batal. Rasa bersalah Nabila menggunung dan terus menikamnya tanpa bisa mengeluh. “Ya Allah, umik, abah!” gumamnya memulihkan diri. “Nana minta maaf.” Dua hari sebelum pernikahan Hanif dan Daisy yang bertepatan dengan tanggal lahir Nabila, wanita berjilbab itu lebih banyak diam dan mengurung diri. Beberapa baju yang sudah ia siapkan untuk tampil cantik di depan Hanif terpaksa harus Nabila singkirkan, berganti dengan baju selayaknya para tamu. Rendi menepati janjinya untuk menjemput Nabila, ramah dan hangatnya Rendi cukup membuat orang tua wanita itu tenang, berbeda dengan rasa campur aduk yang Nabila rasakan disaat berhadapan dengan bos sekaligus calon suaminya itu. “Saya nggak mau bergandengan tangan, ingat itu!” ucap Rendi tegas. Nabila mengangguk, dirinya juga tidak akan sembarang sentuh. “Iya, Pak.” Rendi menoleh sambil menghidupkan mobilnya, lalu mulai melaju usai pamit. “Jangan mempermalukan saya di acara itu dengan menangisi Hanif! Paham?” Lagi dan lagi, Nabila mengangguk setuju, wanita itu sedang menahan sakitnya harus melihat lelaki yang dicintai menikahi wanita lain, bahkan tega bermain belakang. Maka, ia banyak diam. *** Kehadiran Nabila dan Rendi di resepsi pernikahan Hanif dan Daisy kontan menyita perhatian karena sebagian besar tamu di sana teman sekantor yang mengetahui hubungan lama mereka. Rendi menyikukan lengannya, Nabila pun paham kalau harus bersikap sesuai aturan lelaki itu. Mereka membalas sapaan beberapa tamu sampai pada titik puncak di mana seolah Rendi mengantarkan Nabila bernostalgia, tetapi dengan kenangan yang buruk. “Aku kira nggak akan dateng,” celetuk Daisy dengan suara pelan. Nabila hanya melirik singkat, sebelum menatap mantap mantan calon suami yang telah sah menjadi suami wanita lain itu sekaligus calon ayah. “Selamat atas pernikahannya, Mas Hanif.” Nabila meremat tasnya, ia berusaha tegar dan terlihat baik. “Nabila—” “Aku doakan pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan dan berbahagia selalu,” potong Nabila sembari mengeluarkan undangannya, sebelum Hanif membalas lagi. “Dan mohon doanya juga karena aku dan Mas Rendi akan menikah akhir bulan nanti, ini undangan pernikahan kami untuk kalian,” tambah wanita itu menyerahkan undangan ke tangan Hanif, pun melirik Daisy yang kaget tal percaya. “Ka-kamu beneran mau nikah, Na?” tanya Hanif seolah tak bisa menerima itu, bersama Daisy itu murni kebodohannya, sedangkan rasa cinta itu masih utuh untuk Nabila seorang. Nabila mengangguk, sedangkan Rendi cukup diam saja sudah mengintimidasi di sana. “Kenapa harus sama Pak Rendi, Na? Kamu udah kenal baik sama Pak Rendi?” Hanif terpancing cemburu, kalaupun ada yang untuk Nabila, tidak Rendi orangnya. “Kenapa Mas peduli?” Nabila menggigit bibir bawahnya yang bergetar singkat. “Perhatikan dan jaga istrimu saja, nggak perlu mikirin aku, cukup doa baiknya, permisi! Ayo, Mas!” Rendi menepuk bahu kiri Hanif dan menatap datar Daisy, seperti tadi ia tak perlu banyak bicara, diam saja sudah menakutkan dan siapa juga yang mau meragukan bos sepertinya. “Na, jangan gegabah! Pikirkan lagi!” ujar Hanif lantas membuat Daisy mengamuk dan sedikit gaduh. Sementara itu, Nabila segera mencari tempat paling sepi, tak peduli Rendi berjalan menuju ruang tamu VIP, wanita itu hanya butuh ketenangan untuk menuntaskan sedihnya. Di sana, tidak ada yang peduli, bahkan untuk meyakinkannya semua akan baik-baik saja juga tidak ada. Nabila terisak-isak sembari menepuk dadanya yang sesak, ia kembali panik sampai tangannya gemetaran dan didekap hingga pulih juga tersisa jejak keringat dinginnya itu. “Oke, Na. Und-undangan udah kamu kasih, udah selesai! Urusan kamu sama mereka udah selesai, oke! Tenang, Na! Tenang!” gumamnya memulihkan diri, lalu mencari keberadaan Rendi. Tampaknya Rendi juga sempat mencari di mana Nabila berada, lelaki itu terdengar menggerutu lirih dan tak bisa Nabila dengar jelas. “Bis-bisa pulang sekarang aja, Pak?” Nabila membuka suara, ia masih gagap. “Nggak bisa,” jawab Rendi singkat, menunjukkan pesan di ponselnya. “Fitting baju nikah, jelas?” “Ha-harus sekarang?” Masalahnya, Nabila butuh ruang sendiri, dirinya masih diliputi kegelisahan. Rendi tidak menjawabnya, lelaki itu lantas bangun dan berjalan melewati Nabila tanpa memperhatikan wajah pucat wanita itu. Tidak ada pilihan lain, Nabila harus mengekor pada Rendi sampai urusan hari itu selesai. “Pak Rendi, tunggu!” pintanya. Akan tetapi, Rendi terus berlalu. Tanpa Nabila tahu, seorang wanita berseragam senada dengan warna baju pengantin datang menghadang, mengayunkan tangannya menampar pipi kanan Nabila kencang hingga tersungkur. “Ibu?” “Nabila!” Hanif berlari menghampiri hendak melindungi Nabila. “Ibu, jangan!” Nabila segera menyembunyikan tangannya yang gemetaran, lalu berdiri menjauhi Hanif dan sang ibu. “Syukur dia nggak jadi mantu di sini, lepas dari kamu, dia malah godain bosmu. Dasar matre!” “Buk—” “Iya, bener, aku matre!” sambar Nabila, menyunggingkan senyuman. “Undangannya sudah diterima sama menantu Ibu, kalau Ibu mau datang, silakan!” “Nabila …,” lirih Hanif. “Apa sih, Mas?” balas Nabila, menatap Hanif dengan matanya yang memerah. “Mau apa lagi? Mas-masih kurang nyakitinnya?” Hanif menggelengkan kepalanya lemah, semua orang memperhatikan mereka, tetapi perhatian Hanif justru tertuju pada tangan mantan calon istrinya itu. “Na, kamu—” “Ayo, Sayang!” sahut Rendi membawa Nabila pergi. “Sa-yang?” batin Nabila tercengang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN