“Abah, aku mau nikah!” ucap Nabila serba mendadak. “Ak-aku mau nikah, Bah!”
Harun lantas berdiri, koran di tangannya kontan terlepas dan jatuh.
“Kamu kenapa, Na?” Harun bingung, anaknya mendadak ingin menikah, padahal ia tahu sekali luka di hati Nabila belum sepenuhnya sembuh.
“Aku mau nikah!” ucap Nabila lagi, lebih tegas.
“Iya, tapi tunggu dulu!” pinta Harun mengajak putrinya itu duduk, setidaknya mereka lebih tenang.
Itu terlalu mendadak dan mengejutkan, apalagi sebelumnya Nabila banyak diam dan enggan membahas pernikahan, mereka masih sama-sama memulihkan rasa kecewa meskipun benar Harun sempat berpikir Nabila menikah saja dengan anak temannya, tetapi keputusan tetap Harun berikan pada Nabila untuk mau atau tidak, itu juga belum mereka bahas, hanya sebatas ia dan istrinya.
“Apa yang membuat kamu mendadak mau nikah, Na?” tanya Harun bersuara lembut.
Nabila meremat jemarinya di pangkuan, tidak mungkin kalau alasan karena Daisy dan Hanif bisa diterima, harus ada alasan yang jelas.
“Ak-aku denger obrolan Abah sama umik malam itu, soal mas Rendi.” Nabila mencengkram lantai sampai buku kuku kakinya memutih, tetapi itu membuat Harun paham dan mengangguk kecil. “Mas Rendi lebih dewasa dari mas Hanif, Abah juga kenal sama keluarganya, nggak mungkin Abah setuju kalau dia laki-laki yang buruk, apalagi habis aku dikecewain. Maaf, kalau aku lancang, tapi kalau memang itu lebih baik, Nabila mau, Bah,” jelasnya.
Entahlah, sekarang yang ada di pikiran Nabila hanya bagaimana membuat Daisy bungkam, ia sudah terlalu muak dengan sikap wanita ular itu. Hatinya yang masih hancur dan emosinya yang kurang stabil sejak batal menikah, cukup berpengaruh pada keputusan Nabila hari itu.
Harun mencoba membicarakan masalah itu dengan istrinya dan keluarga Rendi, rupanya orang tua Rendi sangat senang, mereka pun menanti persetujuan itu sejak bertemu Nabila yang dirasa cocok sekali dengan karakter Rendi. Dan mereka sepakat membahas itu lebih lanjut hari esok.
Sementara itu, di rumah Rendi. Sama seperti Harun yang terkejut setengah mati dengan ungkapan Nabila, Rendi pun merasakan hal yang sama, baru saja mereka hampir pulang bersama dan berakhir bertengkar di tengah jalan.
“Aku nggak mau, Ma. Aku udah punya pacar!” ucap Rendi menolak.
“Pacar mana? Anak magang yang balik dari luar negeri dan ninggalin kamu nikah itu, hem? Kamu mau rebut istri orang? Mau jadi pebinor?” cerca Mia geram.
“Suaminya nggak tanggung jawab, Ma—”
“Terus, kamu mau jadi pahlawan bantuin dia, urusin cereinya dia, terus kalian nikahan, gitu?” Mia tidak habis pikir. “Kalau dia serius sama kamu, mau sama kamu, dia nggak akan ninggalin kamu nikah, Rendi!”
“Silvia terpaksa, Ma. Dia butuh yang mendadak dan nggak enak minta ke ak—”
“Alasan konyol! Toh, kalau dia jujur, kita pasti bantu!” Mia tidak menerima itu. “Mama nggak mau tau, Rendi. Kamu pilih nikah sama Nabila, kencan buta sama pilihan Mama atau keluar dari keluarga ini!”
Rendi tertegun, ibunya tidak main-main, wanita itu sudah cukup lelah dengan semua hal yang mengecewakan dan bersumber darinya. Dalam marahnya, selalu mengusahakan yang Rendi inginkan bisa didapatkan, tetapi semua sudah melelahkan sehingga akhirnya ancaman itu terungkap juga.
“Kamu mau buat Mama mati konyol karena sikap bodohmu itu, hah?” Irisan kecewa itu tampak jelas. “Sekarang, kamu pilih!”
Terpaksa, hanya itu dan tak ada pilihan lain.
“Ya, aku mau nikah sama Nabila,” putus Rendi.
***
Rendi turut hadir di pertemuan dua keluarga itu, walaupun hatinya sama sekali tak menerima, ia harus melakukannya demi membahagiakan hati sang ibu sekaligus menghindari kencan buta yang melelahkan. Hal yang sama juga terjadi pada Nabila, pernikahan itu hanya sebagai alat supaya Daisy dan Hanif berhenti mengganggunya meskipun sampai saat itu perasaannya pada Hanif masih ada dan cukup bersalah pada keputusan mendadaknya yang tentu bisa melukai banyak pihak, termasuk dirinya sendiri.
“Jadi, pasnya kapan ini pernikahan mereka ditetapkan?” Yudha sepakat dengan Harun sebagai wali laki-laki. “Lebih cepat, lebih baik, kan?”
“Iya, benar. Anak-anak gimana?” Mia dan Riana menoleh pada dua insan yang sejak tadi diam saja, bertegur sapa saja tidak. Rendi yang datar dan dingin, sedangkan Nabila yang berisik sendiri di kepalanya.
“Ren, gimana?” tanya Yudha.
“Nabila juga gimana?” timpal Harun menatap lembut putrinya.
Keduanya saling bersitatap, tetapi kilatan malu bercampur protes dan tak berdaya di sana membuat mereka seolah pasrah, memutus tatapan itu cepat.
Rendi berdecak lirih. “Aku ikut keputusan Papa dan Mama saja,” jawab lelaki itu dan rasanya mampu menyingkirkan batu besar di d**a Nabila.
“Kalau Nabila?”
Wanita berjilbab itu kontan mendongak dengan bibir gemetaran, sulit mengeluarkan satu kata pun. “Ak-aku … aku, aku ikut Abah gimana,” jawabnya memancing tawa karena mereka menganggap Nabila malu di dekat Rendi.
“Alhamdulillah.”
Usai pembahasan inti di pertemuan itu, Nabila segera pamit meninggalkan ruangan menuju sisi samping rumahnya. Wanita itu diserang panik tiada henti, memang nanti bisa membawa undangan ke pernikahan Hanif dan Daisy sebagai bukti, tetapi perlu diingat kalau pernikahannya dengan Rendi itu mendadak dan tanpa adanya cinta. Masing-masing dari sisi diri Nabila saling menyerang, terlalu berisik sampai membuatnya serba salah dan panik luar biasa.
“Gimana kalau—”
“Kalau apa? Merencanakan apa lagi?” Rendi yang entah sejak kapan berdiri di belakang Nabila pun spontan menyambar. Wanita itu menoleh, bingung mau berekspresi seperti apa. “Kamu yang berteriak mengatakan tidak berharap menikah dengan saya, tapi dalam sekejap kamu yang membuat keluarga ini bertemu dan kita akan menikah. Sekarang, apa yang mau kamu mainkan lagi, Nabila?”
Nabila memejamkan mata sekilas mendengar bentakan tertahan Rendi, jelas di mata lelaki itu sangat marah dan tidak terima.
“Pak Rendi, maaf. Ak-aku bener-bener kacau dari kemarin, sekarang aku udah cukup tenang, jadi … jadi, aku bakal bilang ke mereka soal kita. Kita nggak akan menikah, oke!” Nabila tidak bisa tenang, itu hanya alibinya saja dari semua ketakutan yang ada. “Ak-aku bakal bilang mereka, tunggu!”
Namun, saat Nabila hendak melangkah melewati Rendi, tangan lelaki itu justru mencekalnya dan sedikit kencang menarik Nabila hingga terpelanting ke sisi berlawanan. Rendi berdiri tepat di depan wanita itu, kedua tangannya memenjarakan tubuh Nabila sehingga tak bisa ke mana-mana.
“Pak Rendi—”
“Setelah membuat keributan di kantor, lalu mengganggu perjalanan saya, berlanjut mengusik harapan orang tua dan hidup orang lain, kamu mau mematahkan dan mengatakan itu hanya kesalahan yang konyol atau lelucon?” Rendi menatap tajam iris Nabila, wanita itu tercekat, tidak mampu menjawab selain dari gerak kepalanya saja. “Pernikahan itu akan tetap terjadi, Nabila. Saya akan tetap menikahi kamu dan selamat datang di neraka pilihanmu itu!”
“Tapi, Pak—”
Rendi mengabaikan ucapan Nabila, lelaki itu pergi begitu saja menghampiri keluarganya di ruang tamu.
“Ma, aku dan Nabila mau menikah akhir bulan ini!”