XVIII

1509 Kata

“Menangislah, karena kamu tidak bisa berlama lama menahannya.”. -                      Tama mematung karena balasan pesan tak kunjung ia dapatkan, rasanya aneh. Tama kembali membuka ponselnya, sekarang dia sudah berada di kamar hotelnya. Kembali dari London ke Manchaster dalam perjalanan yang melelahkan.             Tama mengernyit saat menatap nama kontak Senja yang masih sama di ponselnya ‘Calon adik ipar’ rasanya sangat geli menatap nama kontak yang ia buatkan untuk Senja itu.             Tama ingat kali pertama Bagas mempertemukan Senja denganya. Sebuah pertemuan kecil. Yang akan Tama ingat selalu. ^^^             Tama duduk, di sudut kafe karena tak menyukai keramaian. Berkali kali ia menatap layar ponselnya. Entah kenapa, Bagas ngotot untuk bertemu di kafe ini untuk bertemu d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN