IX

2274 Kata

“Mencintai baik dan burukmu. Dan aku menerima kamu apa adanya. Dan bagian terbaiknya, kamu wania yang paling cantik bahkan saat kita sedang berdebat.” -             Senja memasuki gedung kantornya itu. Terasa sangat asing memang. Padahal ini baru satu bulan Senja tidak menginjakan kaki ke gedung tinggi tiga puluh lantai itu. Melewati lobi yang sudah biasa Senja lewati bertahun tahun lamanya.             Kenangan lama menyeruak saat Senja menapakan kaki. Ia teringat Bagas. Ini memang terlalu melankolis. Senja sendiri mengakuinya. Ia terlalu lemah dalam merindukan seseorang. Setiap sudut kantor ini punya eksistensi Bagas di dalamnya. Ini seperti membuat Senja mengingat bagas secara tidak langsung.             “Senja!!” teriakan perempuan perempuan itu membuat Senja berbalik dan tak melan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN