Kerutan di dahi Arka terlihat jelas dan kecemasan membuat Arka langsung berganti pakaian dan pergi menuju pintu. Dengan terburu buru, Arka tiba tiba terhenti. Ia berbalik badan dan mendekati Shilla. Mengusap puncak kepala Shilla dengan lembut. “Maaf, Shilla...” tutur Arka dengan lembut, nyaris tanpa suara. Dan laki laki itu pergi. Tak kembali sampai esok harinya. Saat suara pintu di tutup. Shilla bangkit dengan rasa sakit yang kian menjalar dan menganga. “Maaf? Maaf untuk apa? Karena sudah menyakitiku, atau karena kamu lebih memilih, menemui perempuan itu?” Shilla seperti berbicara pada Arka yang tertinggal di hatinya. Hari ini, setelah rasa sakit hati, kekecewaan, marah dan di tambah Shilla merasa tak berharga lagi di mata

