Ia merasakan getaran rasa bersalah dan juga rasa sakit bersamaan. Kembali, di malam yang sudah berlalu ratusan kali. Shilla menangisi hal yang sama. “Maaf, maaf Mas....” rintih Shilla dengan sesenggukan. Ia menekan wajahnya kuat kuat ke bantal agar tak mengganggu tidur Arsen. Puteranya itu akan tumbuh dengan baik. Ia berjanji. Akan menjadikan Arsen anak laki laki yang setia dan mau menghormati orang lain tanpa membedakan asal muasalnya. Shilla tau, ia takan membiarkan anaknya punya kenangan yang sama dengannya. Di hina karena tak memiliki orang tua. “Arsen sabar ya sayang. Sebentar lagi, Bunda akan kasih tau. Tapi Bunda mohon, Arsen kasih waktu ke Bunda buat siap siap.“ ucap Shilla dengan lirih. “Tapi rasanya Bunda kok engga pernah siap ya...?” tanya Shill

