Chapter 18

2039 Kata
"Roh Gunung ..." seru Eun Kwang yang kembali ke Bukit Rubah sembari berlari, menghampiri Young Jae yang berlindung di bawah Pohon Penyangga Surga dari air hujan. Eun Kwang kemudian sampai di hadapan Young Jae dan langsung mengeluh. "Aigoo! Buluku jadi basah." "Apakah ini ulahmu?" tegur Young Jae bernada kesal. Eun Kwang memandang si Roh Gunung. "Aku tidak tahu jika hujannya akan selebat ini." Young Jae menghela napas. "Tidak bisakah kalian menggunakan sihir kalian dengan baik?" Eun Kwang terlihat bingung. "Kalian? Siapa yang Roh Gunung maksud?" "Kau!" Suara Young Jae sedikit meninggi. "Kau selalu bermasalah dengan ekormu dan rubah kecil itu selalu bermasalah dengan telinganya. Dan sekarang kau menurunkan hujan selebat ini, kau ingin membuat bencana untuk desa di bawah sana?" Eun Kwang menggaruk tengkuknya dan terlihat serba salah. "Begini ... Tuan. Aku tidak memiliki cara lain selain ini untuk menahan Pangeran Yi Tan." Young Jae tertegun. "Siapa?" "Pangeran Yi Tan." Young Jae menggunakan seruling di tangannya untuk memukul Pohon Penyangga Surga, dan detik itu pula hujan berhenti. Langit gelap menyingkir dan matahari kembali bersinar terang. Tak lagi marah, Young Jae berbicara dengan lebih serius kali ini. "Pangeran Yi Tan?" Eun Kwang mengangguk. "Pangeran setengah bangsawan yang baru saja kehilangan mempelai wanitanya. Bangsawan yang jasadnya kita temukan di sini waktu itu, Tuan Muda." "Kenapa dia datang kemari?" Eun Kwang tiba-tiba terlihat gelisah. "Itulah yang menjadi masalah, Tuan ... celaka lah kita." "Apa maksudmu?" "Dia membawa busur dan beberapa anak panah, sepertinya dia datang untuk berburu." "Apa yang ingin dia buru di sini?" Eun Kwang berucap dengan sedikit emosional. "Apa lagi yang akan dia buru di sini ketika dia menanyakan Bukit Rubah? Tentu saja Pangeran Yi Tan datang untuk menangkap Tuan Muda ... Aigoo! Padahal Tuan Muda tidak melakukan hal yang buruk, kenapa para manusia terus saja menyusahkannya. Tuan Muda kami yang malang." Young Jae tak terkejut, namun sudah pasti dia juga merasa khawatir. Tapi sebagai pemilik gunung, dia harus tetap tenang untuk bisa bersikap lebih bijak. Jika dia ingin sebenarnya dia bisa langsung mengusir si Pangeran, namun dia memiliki kontrak kerja yang sudah ia sepakati sebelum diangkat menjadi pemilik baru Baekdusan. Dan dalam kontrak itu menyebutkan bahwa Roh Gunung tidak diizinkan mencampuri sesuatu yang berkaitan dengan hati dan keinginan manusia. "Di mana Pangeran itu sekarang?" "Aku menyuruhnya menunggu di Kuil. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Tuan? Tuan Muda benar-benar dalam bahaya." "Anak rubah itu tidak ada di sini. Kau lah yang sedang dalam bahaya, Rubah tua." "Heh?" Eun Kwang memekik. "M-maksud Tuan, Pangeran Yi Tan akan membunuhku?" "Lebih baik kau mati dari pada harus membunuh manusia." "Tuan!" Eun Kwang berucap tak terima. "Teganya Tuan mengatakan hal semacam itu. Jika aku mati di tangan Pangeran itu, siapa lagi yang akan merawat Tuan Muda? Tidak akan ada lagi yang menghitung ekornya jika aku tidak ada, tidak ada yang memperhatikan Tuan Muda lebih baik dari aku di dunia ini. Bisa-bisanya Tuan mengatakan hal seperti itu?" Eun Kwang kemudian menggerutu, "hatiku terasa sakit." "Jika kau mati di tangan manusia, anak rubah itu sudah pasti akan membunuh manusia." Eun Kwang tertegun. "Bagaimana Tuan bisa tahu?" "Aku Roh Gunung, apa yang tidak aku ketahui?" Eun Kwang menatap sinis dan mencibir, "jika sudah tahu kenapa harus menakut-nakuti aku?" "Kau tidak akan mati, sekarang kembalilah ke Kuil." Eun Kwang menatap tanpa minat. "Roh Gunung sudah tahu jika nyawaku sedang terancam, tapi kenapa malah menyuruhku kembali?" "Jika kau tidak kembali, bangsawan itu akan segera mengetahui jika kau adalah siluman rubah yang dia cari. Kau ingin hal itu terjadi?" "Tentu saja tidak!" sahut Eun Kwang yang kemudian berbicara dengan suara yang pelan. "Kenapa bukan Roh Gunung sendiri yang menemuinya?" "Sejak kapan Roh Gunung muncul di hadapan manusia?" "Aku tahu, aku tahu. Baiklah ... aku akan pergi. Aku melakukan semua ini hanya demi Tuan Muda." Dengan kesal Eun Kwang kembali pergi. Jika tahu seperti itu, mungkin si rubah tua itu akan tetap berada di Hanyang. Dia justru mengalami kesusahan karena Roh Gunung menyuruhnya pergi ke sana kemari. THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED// Pintu Kuil terbuka dari luar, Yi Tan yang kala itu duduk di tengah ruangan menoleh. Mendapati si Biksu kembali setelah pergi tiba-tiba. Meski hujan sudah berhenti, Yi Tan tetap berada di sana karena si Biksu berhutang jawaban padanya. Eun Kwang kemudian duduk di sebelah Yi Tan dan berkata, "apakah aku membuat Tuan Muda bingung karena pergi secara tiba-tiba?" Yi Tan sekilas memandang Eun Kwang dan memalingkan wajahnya. "Aku hanya berpikir jika Biksu memiliki urusan lain." Yi Tan mengarahkan kembali pandangannya pada lukisan si siluman rubah. Dia kemudian bertanya, "yang di sana itu ... kenapa lukisan itu berada di sana?" Eun Kwang tersenyum. "Dibandingkan dengan bertanya kenapa lukisan itu berada di sana, tidakkah Tuan Muda merasa penasaran tentang siapa yang membuat lukisan itu?" Yi Tan kembali memandang Eun Kwang. "Apakah itu suatu hal yang perlu untuk diketahui?" "Tentu saja. Asal Tuan Muda tahu saja, lukisan itu adalah sejarah Baekdusan." "Apa maksud Biksu?" "Di sebelah sana." Eun Kwang menunjuk ke arah lukisan seorang pemuda yang tengah belajar. "Tuan Muda itu ada di dunia nyata." "Siapakah dia?" "Tuan Muda itu adalah seorang Cendekiawan yang hidup ratusan tahun lalu." "Tapi kenapa lukisan itu ditaruh di sini?" "Dialah pemilik Baekdusan saat ini." Yi Tan memandang Eun Kwang dengan tatapan tak percaya. "Maksud Biksu?" "Benar sekali." Eun Kwang balik memandang. "Dia adalah Roh Gunung, pemilik Baekdusan saat ini." Yi Tan kembali memandang lukisan yang memperlihatkan sosok sang Roh Gunung. Yi Tan kemudian bertanya, "dia manusia, tapi kenapa bisa berakhir menjadi Roh Gunung?" Eun Kwang menjelaskan sembari memandang lukisan Roh Gunung. "Dahulu Roh Gunung adalah seorang Tuan Muda yang sangat bijaksana. Dari yang aku dengar, dia menerima kebaikan dari pemilik Baekdusan sebelumnya. Tuan Muda itu menjalani hidupnya sebagai orang baik. Meski dia sudah sangat bijaksana, namun dia terus belajar dan belajar. Dia terus belajar sampai akhir ..." Yi Tan menangkap ketulusan dalam ucapan Eun Kwang saat ini. Menegaskan bahwa apa yang diceritakan oleh si rubah tua itu bukan hanya sekedar bualan. Eun Kwang melanjutkan, "dan ketika perjalanannya di dunia ini telah selesai, pemilik Baekdusan sebelumnya membuatnya mendapatkan promosi hingga langit mengangkat Tuan Muda itu sebagai pemilik Baekdusan menggantikan pemilik yang lama." "Kalau begitu bagaimana dengan lukisan rubah ekor sembilan di sana?" Yi Tan mengalihkan pandangannya kembali pada lukisan sang rubah. Eun Kwang memandang lukisan itu dan tersenyum sebelum memberikan penjelasan pada sang Pangeran. "Dia sudah berada di sisi Roh Gunung sejak Roh Gunung masih menjadi manusia." Yi Tan kembali memandang Eun Kwang, terlihat tak percaya. "Itukah alasannya lukisannya juga ditaruh di sini?" Eun Kwang mengangguk. "Itu benar, Tuan Muda. Kuil ini memang sengaja dibangun untuk menghormati pemilik gunung. Pernahkah Tuan Muda mendengar bahwa Roh Gunung ditemani oleh seekor harimau?" "Ya, aku pernah mendengarnya." "Tapi hal itu tidak berlaku di Baekdusan. Tidak ada harimau di Baekdusan." Yi Tan kembali memandang lukisan si rubah dan berkata, "jadi maksud Biksu, rubah ekor sembilan itu adalah pendamping dari Roh Gunung?" "Benar, Tuan Muda. Para penduduk di kaki Baekdusan sudah mendengar tentang hal itu, itulah sebabnya mereka tidak berani mengusik rubah kecil itu." "Rubah kecil?" ucap Yi Tan tanpa mengalihkan pandangannya dari lukisan rubah dewasa yang terlihat sangat gagah itu. Bukannya rubah kecil seperti yang dikatakan oleh Eun Kwang. "Dahulu setelah diangkat menjadi pemilik gunung, Roh Gunung menemui seorang pelukis yang singgah di Baekdusan. Roh Gunung sendirilah yang meminta agar pelukis itu melukis dirinya dan juga sang rubah kecil. Setelah lukisan itu selesai dikerjakan, pelukis itu menemui penduduk di kaki gunung dan menyerahkan kedua lukisan ini. Begitulah bagaimana lukisan ini bisa ada di tempat ini." "Bukankah itu terjadi di waktu yang lampau?" "Jika tidak salah menghitung, seperti sudah ratusan tahun, Tuan Muda." Sudah ratusan tahun namun lukisan itu masih terlihat sangat jelas. Itulah yang membuat Yi Tan sejenak mengagumi karya seni yang berasal dari ratusan tahun itu. "Apakah rubah ekor sembilan itu adalah makhluk yang jahat?" tanya Yi Tan kemudian. Eun Kwang menatap tak terima. "Manusia ini ... kenapa tidak mengerti juga?" batin Eun Kwang. Yi Tan kembali bertanya. "Apakah rubah kecil itu membunuh manusia?" Bukan sebagai sebuah tuduhan, melainkan sebuah pertanyaan yang benar-benar menginginkan sebuah jawaban. Jika siluman rubah itu adalah milik Roh Gunung, Yi Tan tidak ingin mencurigai makhluk itu. Namun hatinya masih sangat ragu setelah kembali teringat bahwa mempelai wanitanya kehilangan nyawa di tempat itu. Eun Kwang kemudian balik bertanya, "tapi ... sebelumnya Tuan Muda menanyakan tentang Bukit Rubah. Kenapa Tuan Muda mencari tempat itu?" "Aku ingin memastikan sesuatu." Eun Kwang bertanya dengan hati-hati. "Memastikan sesuatu yang seperti apa?" "Aku juga tidak yakin. Tapi ..." Yi Tan memandang Eun Kwang. "Apakah rubah itu benar-benar ada di sini?" Eun Kwang tertegun, merasa kesulitan untuk menjawab. Dia kemudian tersenyum canggung. "Untuk itu aku tidak bisa memberikan jawaban kepada Tuan Muda. Rubah kecil itu tidak pernah menemui manusia." "Kalau begitu di mana tempat itu? Bukit Rubah itu." Eun Kwang berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan. "Hari sudah sore. Jika aku memberitahukan sekarang di mana tempat itu, Tuan Muda pasti akan langsung pergi ke sana. Untuk itu aku akan memberitahukan di mana tempat itu pada Tuan Muda besok pagi. Aku akan pergi sebentar, Tuan Muda bisa beristirahat di sini." Yi Tan tak bisa menahan Eun Kwang dan membiarkan rubah tua itu pergi. Pandangan sang Pangeran lantas kembali mengarah pada lukisan sang rubah. Entah kenapa perasaan marah yang ia bawa dari Hanyang tiba-tiba menghilang. Dan hal itu terjadi sejak ia memasuki Kuil tersebut. THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED// Malam kembali tiba, Baekdusan diselimuti oleh kegelapan. Terlihat Pangeran Yi Tan yang tengah tertidur di sudut ruangan dalam posisi duduk bersandar pada tiang kayu. Pintu Kuil terbuka secara perlahan, sebuah bayangan hitam berjalan masuk dengan langkah yang tenang. Mengarah ke tempat sang Pangeran berada. Seruling di tangannya menunjukkan identitas dari siluet yang telah berdiri di hadapan sang Pangeran tersebut. Young Jae menjatuhkan pandangannya pada Yi Tan. Namun keadaan cukup gelap untuk bisa melihat wajah pemuda itu. Eun Kwang kemudian datang dan menyalakan beberapa lilin di ruangan itu. Setelah semua lilin menyala, Eun Kwang mendekati Young Jae. "Sekarang harus bagaimana, Tuan?" tegur Eun Kwang dengan suara yang sengaja dipelankan. Pandangan Young Jae yang sempat teralihkan lantas kembali terjatuh pada sosok Yi Tan. Kala itu batin Roh Gunung tersentak, menunjukkan reaksi terkejut begitu bisa melihat wajah sang Pangeran karena bantuan dari cahaya lilin yang dibawa oleh Eun Kwang. Young Jae kemudian berucap dengan nada tak percaya. "Orang itu ... apakah dia orangnya?" "Benar, Tuan. Dia adalah Pangeran Yi Tan, si setengah bangsawan." "Bagaimana—" Young Jae tak melanjutkan ucapannya. Eun Kwang menegur dengan hati-hati. "Ada apa? Apakah ada masalah lain, Tuan?" Young Jae tiba-tiba terlihat gelisah tanpa sebab. Dia kemudian menegur, "Seo Eun Kwang." "Ya?" "Besok ... pastikan dia sampai di Bukit Rubah." "Heh?!" Eun Kwang berseru, memandang Roh Gunung dengan tatapan tak percaya. "Kenapa Tuan menyuruh aku membawanya ke Bukit Rubah? Apa yang sedang Tuan pikirkan sebenarnya? Orang ini datang untuk menangkap Tuan Muda." "Jangan bertanya lagi dan pastikan bahwa besok orang ini sampai di Bukit Rubah." Terlihat marah, Young Jae lantas berjalan menuju pintu keluar. Sementara Eun Kwang yang menyadari perubahan suasana hati Young Jae lantas tak berani menegur si Roh Gunung. "Sebenarnya apa yang sedang dia pikirkan?" gerutu Eun Kwang dengan gelisah. Young Jae keluar dari bangunan Kuil, dan saat itu pintu di belakangnya tertutup dengan sangat keras dan menyentak batin Yi Tan. Sang Pangeran terbangun dan tak mendapati siapapun selain lilin-lilin yang sudah menyala. Namun saat itu tiba-tiba terdengar petir yang menyambar di luar tempatnya berlindung. Tepat saat Roh Gunung meninggalkan Kuil, angin tiba-tiba berhembus dengan kencang, awan hitam berbondong-bondong datang dan kilatan cahaya menari-nari di atas Baekdusan. Para penduduk yang tinggal di kaki Baekdusan keluar dari rumah mereka dan terlihat panik. "Ada apa ini? Apa yang terjadi?" "Sepertinya ada yang membuat Roh Gunung marah. Ini sudah lama tidak terjadi." "Jangan sampai kemarahan Roh Gunung menimbukan bencana. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Para penduduk panik dan meyakini bahwa fenomena alam yang tiba-tiba itu dikarena oleh Roh Gunung yang tengah marah. Dan hal itu merupakan sebuah kenyataannya. Sudah sangat lama Young Jae tidak semarah ini hingga harus membuat semua penduduk ketakutan. Dan hari itu entah apa yang membuat Roh Gunung begitu marah. Mungkinkah kedatangan Pangeran Yi Tan ke Baekdusan adalah salah satu alasannya? Hanya Roh Gunung sendirilah yang tahu jawaban. THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN