Yi Tan sampai di kaki Baekdusan dengan berjalan kaki setelah menitipkan kuda miliknya di perkampungan. Berbekalkan sebilah pedang serta panah, Yi Tan mencari jalan untuk pergi ke sebuah Kuil yang pernah diceritakan oleh Yi Seok ketika mereka melintasi tempat itu.
Dan saat itu kedatangan Yi Tan telah berhasil mengusik sang pemilik Gunung. Young Jae keluar dari balik Pohon Penyangga Surga dengan garis wajah yang terlihat serius. Mengarahkan pandangannya ke samping, Young Jae menemukan Eun Kwang yang tengah bermain-main dengan seekor kelinci di gazebo. Young Jae kemudian menghampiri si rubah tua.
"Kau akan memakannya?" tegur Young Jae ketika ia menaiki tangga batu. Namun teguran kali itu terdengar lebih serius.
Eun Kwang mendongak. "Tentu saja tidak. Tuan Muda sangat menyukai kelinci, aku tidak akan berani memakannya."
Tak ingin melontarkan kalimat tak penting seperti biasanya, Young Jae kemudian kembali menegur dengan penuh pertimbangan ketika Eun Kwang kembali sibuk dengan seekor kelinci putih.
"Seo Eun Kwang."
"Ya?" Eun Kwang kembali mendongak.
"Pergilah dan cari tahu siapa yang datang ke tempatku."
Eun Kwang menatap penuh tanya. "Apakah ada yang datang? Siapa?"
"Jika aku tahu, aku tidak akan menyuruhmu."
Batin Eun Kwang tersentak akan pemikirannya sendiri. Dia langsung bangkit. "Mungkinkah para pemburu itu kembali kemari?"
"Pergilah dan pastikan sendiri."
"Eih ... Roh Gunung ini bagaimana? Jika mereka menangkap aku, aku harus bagaimana?"
"Sembunyikan ekormu dan mereka tidak akan mengenalimu. Manusia tidak bisa mengendus seperti dirimu."
Eun Kwang menatap sinis. "Roh Gunung selalu mengatakan hal yang tidak perlu. Baiklah, aku akan pergi."
Eun Kwang kemudian pergi, meninggalkan seekor kelinci yang kemudian menghampiri kaki Young Jae.
Young Jae kemudian berucap, ditujukan pada kelinci itu. "Pergilah ... kau akan mati jika rubah tua itu lupa diri."
Seakan mendengar ucapan Young Jae, kelinci itu tiba-tiba menjauh dan melompat dari gazebo. Young Jae kemudian mengarahkan pandangannya pada lembah di bawah singgasananya. Perasaan gelisah itu tiba-tiba kembali. Roh Gunung merasa cukup penasaran tentang identitas dari orang yang baru saja menginjakkan kaki di Baekdusan.
Young Jae kemudian berkata dengan tenang namun sarat akan ancaman. "Aku akan membuat perhitungan denganmu jika terjadi sesuatu pada rubahku, Jeoseung Saja sialan."
THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//
Sementara itu Eun Kwang yang berhasil menemukan keberadaan Yi Tan mengawasi sang Pangeran dari kejauhan. Berjalan mengendap-endap, Eun Kwang bersembunyi di balik pepohonan dan berpindah-pindah tempat mengikuti ke mana Yi Tan pergi.
"Siapa Tuan Muda itu? Dia bukan pemburu tapi kenapa membawa panah?" gumam Eun Kwang penuh pertimbangan.
Menyadari ke mana Yi Tan akan pergi, Eun Kwang kemudian pergi ke arah lain. Dan setelah mendaki cukup jauh, pada akhirnya Yi Tan menemukan Kuil yang ia tuju.
Yi Tan memasuki halaman. Tak seperti Kuil-Kuil lainnya, Kuil di Baekdusan tak memperlihatkan kehidupan di sana. Kuil itu sangat sepi dan bahkan suara angin dengan bebas masuk ke pendengaran.
Langkah tegap Yi Tan berjalan meyusuri halaman menuju bangunan Kuil. Dan ketika Yi Tan telah berada di bawah anak tangga menuju teras Kuil, saat itu ekor mata sang Pangeran menyadari keberadaan orang lain di sana.
Yi Tan menoleh ke samping kiri dan menemukan seorang Biksu yang berdiri memunggunginya di bawah sebuah pohon yang berada di ujung halaman. Yi Tan lantas menghampiri Biksu tersebut.
"Permisi, Biksu." Yi Tan menegur ketika menjangkau tempat Biksu itu.
Biksu itu berbalik, dan rupanya itu adalah si rubah tua Seo Eun Kwang. Dia berlari menjauh sebelumnya hanya untuk mendahului Yi Tan sampai di tempat itu.
"Siapakah Tuan Muda ini?"
"Aku hanya datang untuk bersinggah. Jika Biksu tidak keberatan, izinkan aku menanyakannya satu hal pada Biksu."
Eun Kwang tersenyum layaknya seorang Biksu pada umumnya. Namun bukannya kedamaian yang diperlihatkan oleh si rubah tua itu. Senyuman itu lebih terlihat seperti sebuah senyuman yang memiliki niatan terselubung.
Eun Kwang kemudian berkata, "jika Tuan Muda tidak keberatan, izinkan aku bertanya satu hal terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Tuan Muda."
Yi Tan tak ingin membuang waktu dengan percakapan yang sia-sia. "Kalau begitu apa pertanyaan Biksu untukku?"
"Siapa nama Tuan Muda dan dari mana Tuan Muda berasal? Itu adalah salah satu bentuk dari rasa hormat jika Tuan Muda tengah bersinggah di tempat asing dan bertanya pada seseorang."
"Maafkan atas ketidaksopananku sebelumnya, Biksu."
Eun Kwang kembali tersenyum. "Aku bisa mengerti dengan hal itu, Tuan Muda. Tuan Muda tidak seperti penduduk desa di bawah sana. Apakah Tuan Muda datang dari jauh?"
"Namaku adalah Yi Tan, dan aku datang dari Hanyang."
Batin Eun Kwang tersentak. Sempat terkejut selama beberapa detik, Eun Kwang berusaha untuk menutupi wajah terkejutnya.
"Celaka lah kita, Roh Gunung," batin Eun Kwang ketika langsung mengenali bahwa yang berada di hadapannya saat ini adalah Pangeran Yi Tan yang baru saja kehilangan mempelai wanitanya.
Yi Tan kemudian menegur sang Biksu. "Jadi, apakah sekarang Biksu bersedia untuk menjawab pertanyaanku?"
Eun Kwang tersenyum tipis, tiba-tiba bersikap sedikit canggung. "Jika aku bisa membantu, aku akan memberikan jawaban itu pada Tuan Muda."
Yi Tan bertanya dengan ragu-ragu. "Bukit Rubah ... mungkinkah Biksu tahu di mana tempat itu?"
Batin Eun Kwang kembali tersentak. Diperhatikannya barang bawaan sang Pangeran yang terlihat seperti orang yang tengah ingin berburu.
"Jangan-jangan ..." batin Eun Kwang dan tiba-tiba merasa gelisah.
Eun Kwang kemudian bertanya dengan hati-hati. "Apakah Tuan Muda baru saja menanyakan tentang Bukit Rubah?
"Benar. Aku mendengar bahwa di Baekdusan ada tempat yang dinamakan dengan Bukit Rubah. Di manakah tepatnya tempat itu berada?"
Eun Kwang mengarahkan pandangannya ke langit dan berkata. "Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Tuan Muda tidak bisa pergi ke manapun saat hujan."
Yi Tan turut memandang langit, namun cuaca hari itu terlalu cerah untuk turun hujan. Yi Tan kembali memandang Eun Kwang.
"Tidak ada tanda-tanda bahwa akan turun hujan. Kenapa Biksu mengatakan bahwa akan turun hujan?"
"Tuan Muda hanya sebentar melihatnya. Coba Tuan Muda perhatikan sekali lagi."
Yi Tan kembali mendongak untuk memastikan. Dan saat itu awan gelap tiba-tiba berbondong-bondong berkumpul tepat di atas mereka. Dahi Yi Tan mengernyit dan kembali memandang sang Biksu dengan tatapan tak percaya.
Eun Kwang kembali tersenyum dan kemudian berkata, "jika Tuan Muda memang berniat untuk bersinggah, bukankah Tuan Muda harus memasuki Kuil ini terlebih dahulu sebelum pergi? Hujan yang tiba-tiba di Baekdusan, Tuan Muda tidak perlu heran dengan hal itu. Hal itu sudah sering terjadi di sini."
Eun Kwang sedikit menundukkan kepalanya dan berjalan melewati Yi Tan menuju bangunan Kuil. Dan dalam perjalanannya Eun Kwang menggunakan sihirnya untuk mendatangkan hujan.
Yi Tan terkejut ketika tiba-tiba hujan turun dengan deras. Tak memiliki pilihan lain, sang Pangeran pun lantas berlari menyusul si rubah tua.
Memasuki bangunan Kuil dengan pakaian yang sedikit basah, langkah Yi Tan kemudian terhenti di tengah ruangan ketika ia menemukan sebuah lukisan rubah ekor sembilan yang berada di samping patung Budha, sementara di sisi lain terdapat pula sebuah lukisan yang menunjukkan seorang bangsawan yang tengah duduk di atas pohon dan tengah membaca buku. Namun lukisan si rubah ekor sembilan lah yang berhasil menarik perhatian dari sang Pangeran.
Yi Tan bergumam dengan penuh keraguan. "Ini ... kenapa ini ada di sini?"
Yi Tan dikejutkan oleh suara pintu yang tertutup dengan keras. Dia segera menoleh ke belakang dan mendapati pintu Kuil telah tertutup dengan sendirinya. Sementara si Biksu yang sebelumnya ia lihat tiba-tiba menghilang.
Tangan kiri Yi Tan bergerak perlahan menyentuh gagang pedang miliknya, bersiap untuk kemungkinan buruk yang akan terjadi ketika ia singgah di tempat asing. Sementara itu hujan di luar sana masih sangat deras dan itu terjadi karena Eun Kwang tidak mahir menggunakan sihirnya. Alih-alih hanya menurunkan hujan di sekitar Kuil, Seo Eun Kwang justru menurunkan hujan di seluruh bagian Baekdusan dan membuat Roh Gunung merasa kesal.
THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//