Kasim Hong memasuki ruangan di mana sang Raja berada. Berjalan dengan kepala yang tertunduk, Kasim Hong berdiri di tengah ruangan dengan wajah yang terlihat sedikit gelisah.
"Yang Mulia, hamba datang membawakan kabar dari seorang prajurit."
"Katakanlah."
"Dengan sangat menyesal, hamba mengabarkan berita tentang kematian Nona Kim Si Hyeon, putri dari bangsawan Kim."
Baginda Raja terkejut dan langsung berdiri. "Apa maksudmu? Jangan bicara sembarangan."
"Hamba tidak akan berani berbohong kepada Yang Mulia. Jika hamba berbohong, hamba rela mendapatkan hukuman mati, Yang Mulia."
"Tidak ..." Baginda Raja tampak gelisah. "Bagaimana ... bagaimana bisa? Apa yang terjadi padanya?"
Kasim Hong kemudian mengatakan sesuai dengan penjelasan sang prajurit. "Saat melintas di kaki Baekdusan, rombongan Nona Kim Si Hyeon diserang oleh siluman rubah ekor sembilan. Tidak ada yang selamat, termasuk Nona Kim Si Hyeon yang jasadnya ditemukan di dekat Bukit Rubah, Yang Mulia."
Baginda Raja menatap tak percaya. "Gumiho? Apakah ini masuk akal?!"
Baginda Raja tiba-tiba menggebrak meja dan duduk dengan pasrah. "Setidaknya berikan aku alasan yang masuk akal. Kenapa kalian justru mengatakan hal seperti ini?"
"Rumor tentang adanya Gumiho di Baekdusan memang sudah ada sejak lama, Yang Mulia. Tapi ... ini adalah kali pertama terdengar kabar bahwa Gumiho itu menyerang manusia."
"Kau berharap aku mempercayainya?"
Kasim Hong menunduk dalam, tak bisa menjawab tuntutan sang Raja. Dan sebelum bisa dicegah, rumor itu sudah menyebar luas. Bukan hanya di Ibu Kota, melainkan hampir ke seluruh penjuru Joseon. Calon istri Pangeran Yi Tan diserang oleh Gumiho saat dalam perjalanan ke istana dan tewas.
Banyak orang yang merasa iba. Namun tak sedikit yang mengutuk sang Gumiho. Dan pada kenyataannya, Yi Tan menjadi orang terakhir yang mengetahui hal itu.
Kasim Jang yang melayan-i Yi Tan berlari menghampiri Yi Tan yang kala itu tengah membaca buku di gazebo.
"Pangeran ... Pangeran ..." Kasim Jang memanggil-manggil Yi Tan dan berhasil mendapatkan perhatian sang Pangeran.
Sampai di gazebo, Kasim Jang langsung berlutut dan menunduk dalam. Pria itu terlihat sangat gelisah.
Yi Tan kemudian menegur dengan suara yang tenang. "Kenapa kau berlari seperti itu, Kasim Jang? Adakah sesuatu yang mendesak?"
"Hamba menyesal harus menyampaikan berita ini kepada Pangeran."
"Katakanlah."
"Putri dari bangsawan Kim ..." Kasim Jang terlihat sangat ragu. "Nona Kim Si Hyeon sudah tiada, Pangeran."
Yi Tan tertegun, ujung lembar buku yang sempat menyangkut pada jemarinya lantas terlepas begitu saja. Kala itu, bunga musim semi di sekitar tempat Yi Tan berada berguguran.
"Apa yang sedang kau bicarakan, Kasim Jang?" Meski terkejut, Yi Tan berusaha untuk tetap tenang.
"Seorang prajurit membawakan kabar bahwa rombongan Nona Kim Si Hyeon diserang oleh Gumiho ketika melintas di kaki Baekdusan, Pangeran ... tidak ada yang selamat. Dan kabarnya jasad Nona Kim Si Hyeon ditemukan di dekat Bukit Rubah. Hamba benar-benar menyesal harus menyampaikan ini pada Pangeran."
Yi Tan memalingkan wajahnya. Terlihat kebingungan harus bersikap bagaimana. Sang Pangeran tak bisa berkata-kata hingga dadanya yang semakin terasa sesak itu memberikannya rasa sakit yang datang secara perlahan.
Kedua tangan Yi Tan mengepal dan tangan kirinya terangkat menepuk dadanya selama beberapa kali dengan tempo yang lambat.
"Bagaimana ..." Yi Tan bernapas dengan berat. "Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Katakan padaku bahwa ini tidak benar ..."
Yi Tan kembali memandang Kasim Jang dan tiba-tiba berbicara dengan suara yang meninggi. "Kasim Jang!"
Yi Tan mulai gelisah, tak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Merasa sangat kehilangan namun tidak bisa menangis, merasa putus asa namun tidak bisa marah. Dan pada akhirnya kenangan singkat yang Yi Tan buat dengan Kim Si Hyeon berhasil menggoreskan luka di hati sang Pangeran.
Hanya dalam hitungan jam dia bisa melihat wajah Si Hyeon. Namun kabar duka itu datang lebih dulu sebelum pertemuan itu terlaksana.
Hari itu para penduduk di Ibu Kota tak henti-hentinya membicarakan kemalangan yang dialami oleh sang Pangeran. Namun para penduduk yang tinggal di kaki Baekdusan justru meragukan bahwa Kim Si Hyeon benar-benar dibunuh oleh si Gumiho, mengingat belum pernah ada penyerangan terhadap manusia sebelumnya.
Mereka sering menemukan ternak mereka mati, dan itu sudah jelas pekerjaan si rubah tua Seo Eun Kwang. Namun tidak ada yang pernah mendengar bahwa Gumiho yang tinggal di Baekdusan menyerang manusia.
Dan hari itu juga Yi Tan menemui Baginda Raja. Tampak tenang di luar, namun siapapun yang melihat Yi Tan pasti akan tahu bahwa sang Pangeran tidak berada dalam keadaan yang baik-baik saja.
"Pangeran Yi Tan," teguran bernada khawatir itu langsung dilontarkan oleh Baginda Raja.
"Yang Mulia." Yi Tan menyela, berbicara tanpa perasaan. "Hamba datang untuk berpamitan."
Baginda Raja terlihat bingung. "A-apa yang sedang kau bicarakan, Pangeran Yi Tan?"
"Hamba berterimakasih atas kebaikan yang telah Yang Mulia berikan kepada hamba. Tapi hamba berpikir bahwa hamba harus kembali ke rumah hamba sekarang."
"Pangeran Yi Tan, aku memahami bagaimana perasaanmu. Tapi kau tidak bisa lagi meninggalkan istana. Selamanya kau harus tinggal di sini. Dengan menyetujui pernikahan itu, kau juga menerima kesepakatan tempo hari."
Yi Tan perlahan mengangkat wajahnya dan mempertemukan tatapan sayunya dengan tatapan khawatir sang Raja.
Yi Tan berkata, "pernikahan hamba tidak ada hubungannya dengan kesepakatan tempo hari, Yang Mulia. Tapi karena Yang Mulia berpikir seperti itu, maka hamba juga akan berpikir seperti itu."
"Apa yang sedang kau bicarakan?"
"Pernikahan hamba sudah berakhir ... itu berarti kesepakatan tempo hari yang Yang Mulia katakan juga sudah berakhir."
Baginda Raja terkejut. "Pangeran Yi Tan ..."
"Seperti yang hamba katakan sejak awal, hamba tidak menginginkan apapun dari istana. Meski hamba menerima pernikahan, tapi bukan berarti hamba bersedia untuk melengserkan Putra Mahkota ... hamba datang untuk berpamitan, mohon jaga kesehatan Yang Mulia."
Yi Tan membungkuk dalam dan berbalik meninggalkan sang Raja yang tak mampu berkata-kata lagi.
"Apa yang sebenarnya sedang dia pikirkan?" ucap Baginda Raja, tak habis pikir.
Kasim Hong kemudian menghampiri sang Raja dan berusaha untuk menenangkan keadaan. "Yang Mulia harus memberikan waktu pada Pangeran Yi Tan. Saat ini Pangeran Yi Tan masih sangat terguncang dengan kabar kematian Nona Kim Si Hyeon. Jika kita memberikannya waktu, Pangeran akan kembali memahami situasi."
Baginda Raja membuang napas dan tampak putus asa. "Apakah Putra Mahkota belum kembali?"
"Hamba belum mendapatkan kabar dari Kasim Choi, Yang Mulia. Jika Yang Mulia berkenan, hamba akan mengirimkan pesan kepada Kasim Choi."
"Tidak perlu, biarkan saja."
"Baik, Yang Mulia."
THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//
Yi Tan melangkahkan kakinya menuju Gwanghwamun dengan Kasim Jang yang berjalan di belakangnya. Tanpa izin dari Yi Tan, Kasim Jang mengikuti sang Pangeran. Dan itu terjadi karena Kasim Hong yang menugaskan Kasim Jang untuk tinggal di rumah Yi Tan.
Berjalan dengan tatapan kosong yang tampak terluka, Yi Tan tak lagi memiliki ketertarikan terhadap apapun yang berada di sekitarnya. Dan ketika hendak menjangkau Gwanghwamun, saat itu dari arah berlawanan Bae Jin Young datang dalam wujud Putra Mahkota Yi Geum bersama dengan Kasim Choi dari arah berlawanan.
Yi Tan menyadari keberadaan Yi Geum, begitupun sebaliknya. Namun keduanya tampak mengabaikan satu sama lain. Yi Tan yang berpaling untuk menyembunyikan lukanya, sementara Yi Geum yang berpaling karena dia bukanlah Putra Mahkota yang sesungguhnya.
Terlihat lebih dingin dan angkuh, Jin Young berpapasan dengan Yi Tan tanpa menaruh ketertarikan pada sang Pangeran. Dan hal itu sempat membuat kedua kasim yang turut berpapasan meresa heran sekaligus bingung.
Kasim Choi dan Kasim Jang sempat saling bertukar pandang. Namun tak ada dari keduanya yang mengerti keadaan yang terjadi di sana. Dan hari itu di mata dunia, Pangeran Yi Tan dan Putra Mahkota Yi Geum menjadi orang asing.
Bae Jin Young yang datang ke istana sebagai Putra Mahkota Yi Geum yang hendak mempertahankan takhta, sedangkan Yi Tan yang kembali meninggalkan istana setelah terluka.
Pada akhirnya benang merah yang mengikat jari kelingking Yi Tan terputus dan menghilang. Menyisakan benang hitam yang masih mengikat jari kelingkingnya dengan erat.
Adakah takdir istimewa yang dihubungkan oleh benang hitam itu. Jika benang merah itu bisa terputus dengan begitu mudahnya, bagaimana dengan benang hitam itu. Akankah benang hitam itu memberikan takdir yang baik atau justru sebaliknya. Untuk sesaat, Yi Tan tak lagi ingin berharap.
THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//