Eun Kwang kembali ke Bukit Rubah dan kembali memanggil-manggil Roh Gunung dengan panik.
"Roh Gunung ... Tuan ..."
Roh Gunung kemudian menampakkan diri dengan membawa seruling miliknya di tangan kiri. Dan Eun Kwang pun segera menghampiri sang Roh Gunung.
"Aigoo! Ini benar-benar gawat, Tuan. Kita berada dalam masalah besar."
"Cepat katakan."
"Wanita yang kita temukan jasadnya tadi pagi, dia adalah putri bangsawan Kim yang akan dinikahkan dengan Pangeran Yi Tan."
"Pangeran Yi Tan?" Dahi Young Jae mengernyit.
Eun Kwang segera mengangguk. "Benar, Tuan. Tuan masih ingat dengan Pangeran setengah bangsawan? Dialah Pangeran Yi Tan."
"Lalu apa yang mereka katakan tentang kematian wanita itu?"
"Rumor sudah menyebar luas, Tuan. Mereka mengatakan bahwa Tuan Muda lah yang telah membunuh putri dari bangsawan Kim. Aigoo! Bagaimana sekarang? Bagaimana jika ada pemburu yang datang kemari?"
Eun Kwang terlihat sangat gelisah. Berbeda dengan Young Jae yang menyimpan kegelisahannya dan tetap bersikap tenang. Bagaimanapun jika seperti ini, para pemburu akan mendatangi Baekdusan.
"Apakah sudah ada yang mengambil jasad wanita itu?"
"Belum, Tuan. Aku masih melihat jasad gadis malang itu."
Young Jae kemudian menjatuhkan pandangannya pada Eun Kwang. "Seo Eun Kwang."
"Ya, Tuan?"
"Secepatnya bawa Chang Kyun kembali."
"Apa yang ingin Tuan lakukan?"
"Jangan banyak bertanya dan temukan anak itu secepatnya."
"Baik, Tuan."
Tak memiliki waktu untuk memikirkan alasan Young Jae, Eun Kwang segera pergi meninggalkan Baekdusan. Sementara Young Jae menjatuhkan pandangannya pada perkampungan di bawah Baekdusan. Young Jae kemudian menggunakan serulingnya untuk memukul Pohon Penyangga Surga dan setelah itu satu kelopak bunga terlepas. menari-nari di udara, terbang menuju sebuah perkampungan.
Roh Gunung berkata, "siapapun kau, datanglah kemari dan berikan pemakaman yang layak untuk gadis malang ini."
Kelopak bunga yang dikirimkan oleh Young Jae kemudian sampai pada seorang pria paruh baya yang tengah memotong kayu di halaman. Melihat kelopak bunga berada di atas kayu yang hendak ia potong, pria itu lantas mengambil kelopak bunga itu dan terkejut ketika melihat dari mana asal bunga itu.
Pria itu segera memangdang ke arah Baekdusan. Dan ketika pria itu kembali memandang kelopak bunga di tangannya, kelopak bunga itu tiba-tiba memudar.
Young Jae kembali berkata, "aku meminta bantuan."
Seakan bisa mendengarkan ucapan sang Roh Gunung, pria itu menaruh kapak di tangannya dan buru-buru menuju teras rumah.
"Istriku, aku akan pergi ke Baekdusan sebentar," seru pria itu sembari memasuki rumah.
Sang istri menyahut, "untuk apa kau pergi ke Baekdusan? Kau tidak mendengar apa yang mereka katakan? Seorang bangsawan diserang oleh Gumiho."
"Tidak ada yang seperti itu. Sudah, aku pergi dulu."
Pria itu kemudian buru-buru meninggalkan rumah dan mengabaikan kekhawatiran sang istri.
THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED //
Sementara itu Chang Kyun yang masih berada di Hanyang tampak berdiri di tengah jembatan yang berada di atas aliran sungai yang tak begitu lebar.
Orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar Chang Kyun telah menyampaikan skandal kematian Kim Si Hyeon kepada sang Gumiho. Dan Chang Kyun bahkan tak bisa menyangkal di saat ia mendengar semua orang tengah tuduhan padanya.
"Apa Pak tua Seo yang melakukannya?" gumam Chang Kyun. Untuk sesaat berpikir bahwa yang menyerang Kim Si Hyeon adalah Eun Kwang.
"Aigoo ... benar-benar malang sekali nasib gadis itu. Raja pasti akan sangat murka," ucap seorang wanita yang berjalan melewati Chang Kyun bersama wanita seusianya.
"Baginda Raja pasti akan mengirim para pemburu untuk mendapatkan Gumiho itu. Ada-ada saja."
Chang Kyun memutar langkahnya dan memandang kedua wanita yang telah pergi. Namun semua suara tiba-tiba terdengar dalam waktu yang bersamaan di telinga Chang Kyun. Setelah menutup pendengarannya, Chang Kyun memutuskan untuk mendengarkan semua suara yang berada di sekitarnya. Dan saat itu semua orang tengah membicarakannya, menuduhnya sebagai pembunuh Kim Si Hyeon.
"Bukan aku, kenapa semua manusia menyalahkan aku?"
Tatapan dingin itu kembali menunjukkan kesedihan ketika para manusia di sekitarnya hanya membicarakan hal yang buruk tentangnya. Hingga pada akhirnya si rubah yang kesepian itupun melangkah kakinya menjauhi keramaian. Membatalkan niatannya untuk menetap di Hanyang malam itu, Chang Kyun memutuskan untuk kembali ke Baekdusan dengan membawa perasaan kecewanya.
THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//
Setelah kembali ke rumahnya, Yi Tan mengurung diri di kamar. Duduk di sudut ruangan yang gelap, memikirkan tentang kemalangan yang menimpa calon istrinya. Yi Tan tidak menyangka bahwa hari saat pertama ia melihat wajah Si Hyeon juga menjadi kali terakhir ia melihat gadis itu.
Untuk sesaat Yi Tan tak ingin melakukan apapun. Dan saat itu terdengar sedikit keributan di halaman rumah.
Pangeran Yi Seok datang berkunjung setelah mendengar kemalangan yang dialami oleh sang kakak. Dan saat ini sang Pangeran tengah berbicara dengan Seon Dol dan juga Kasim Jang di halaman.
"Bagaimana keadaan Hyeongnim?" tanya Yi Seok, terlihat cukup khawatir.
Seon Dol menjawab dengan khawatir. "Sejak Pangeran Yi Tan kembali, beliau tidak keluar dari kamarnya, Pangeran. Bagaimana ini? Pangeran belum memakan apapun sejak pagi."
Yi Seok mengalihkan pandangannya pada Kasim Jang yang kebetulan ia kenal. "Kenapa Kasim Jang ada di sini?"
Kasim Jang menyahut, "hamba ditugaskan oleh Yang Mulia untuk tinggal di rumah Pangeran Yi Tan, Pangeran."
"Mungkinkah sudah terjadi sesuatu di istana?"
"Hamba tidak tahu menahu tentang hal itu, Pangeran. Tapi saat dalam perjalanan kemari, kami berpapasan dengan Putra Mahkota."
Dahi Yi Seok mengernyit. "Putra Mahkota sudah kembali?"
"Benar, Pangeran."
"Lalu, apa Putra Mahkota mengatakan sesuatu pada Yi Tan Hyeongnim?"
"Tidak, Pangeran. Kami hanya berpapasan tanpa saling menyapa."
Yi Seok merasa ada yang salah dari ucapan Kasim Jang. "Yi Tan Hyeongnim berpapasan dengan Putra Mahkota, tapi Putra Mahkota tidak mengatakan apapun pada Yi Tan Hyeongnim?"
"Benar, Pangeran."
Yi Seok sejenak memalingkan wajahnya dan bergumam penuh pertimbangan. "Bukankah ini terdengar sangat aneh?"
Kasim Jang lantas menyahut, "benar, Pangeran. Pangeran juga menyadarinya? Hamba pikir ini terlalu aneh."
"Apa yang sedang kau bicarakan?" tegur Seon Dol.
"Coba kau ingat, bukankah hubungan Pangeran Yi Tan dan Putra Mahkota cukup baik selama ini? Tapi Putra Mahkota justru tidak mengatakan apapun saat berpapasan dengan Pangeran Yi Tan. Aku yakin Putra Mahkota juga pasti sudah mendengar kabar tentang Nona Kim Si Hyeon."
Seon Dol kemudian menyahut dengan ragu. "M-meski Putra Mahkota sangat baik kepada Pangeran Yi Tan, tapi Pangeran Yi Tan selalu bersikap dingin pada Putra Mahkota. Mungkin itulah alasannya kenapa Putra Mahkota tidak menyapa Pangeran Yi Tan ketika berpapasan."
"Tidak ... bukan seperti itu ..." Kasim Jang bersikeras dengan pendapatnya. "Aku merasa bahwa Putra Mahkota terlihat sangat berbeda dari biasanya."
"Apanya yang berbeda?" Yi Seok menengahi."
Kasim Jang tiba-tiba bersikap canggung. "Begini ... Pangeran. Hamba sempat melihatnya sekilas, Putra Mahkota benar-benar terlihat berbeda. Putra Mahkota bahkan tidak memandang ke arah Pangeran Yi Tan. Hamba berpikir itu sangatlah aneh, dan juga ..."
"Lanjutkan," tegur Yi Seok.
Kasim Jang melanjutkan dengan takut-takut. "Hamba tidak sengaja bertemu pandang dengan Putra Mahkota."
"Ya! Kau!" Seon Dol langsung memukul lengan Kasim Jang. "Beraninya kau memandang mata Putra Mahkota. Kau sudah bosan hidup!"
"Tidak ... aku sudah mengatakan bahwa aku tidak sengaja."
Yi Seok kembali menengahi. "Apa yang terjadi?"
Kasim Jang kembali berbicara dengan ragu. "Cara Putra Mahkota memandang seseorang benar-benar berbeda. Itu membuat hamba merinding, Pangeran."
"Memangnya bagaimana cara Putra Mahkota memandang seseorang selama ini?" Seon Dol menyahut.
"Putra Mahkota selalu memandang dengan tatapan yang lembut dan hangat. Tapi tadi pagi tatapannya terlihat sangat tajam dan dingin. Aku yakin dengan hal itu. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Putra Mahkota ketika meninggalkan istana."
"Apa yang kau bicarakan?"
Yi Seok membiarkan kedua pria di hadapannya berdebat ketika ia tengah mempertimbangkan sesuatu. Dan setelah tak lagi memiliki keperluan dengan kedua orang itu, Yi Seok memutuskan untuk meninggalkan keduanya.
"Aku akan melihat keadaan Hyeongnim."
Kedua pria itu langsung menghentikan perdebatan mereka dan Yi Seok pun bergegas memasuki rumah. Langkah Yi Seok terhenti di depan pintu kamar Yi Tan. Sang Pangeran bersuara terlebih dahulu untuk memberitahukan kedatangannya.
"Hyeongnim ... ini aku, Yi Seok."
"Pangeran bisa masuk," Yi Tan menyahut dari dalam.
Yi Seok kemudian memasuki kamar Yi Tan. Tak menemukan Yi Tan di ruang tidur, Yi Seok menemukan Yi Tan di ruang belajar. Saat itu Yi Tan telah duduk di balik meja dan membaca buku, dan itu hanya dia lakukan sebagai pengalihan.
Yi Seok kemudian menghampiri Yi Tan dan duduk di depan meja, berhadapan dengan dang kakak.
Yi Seok kemudian menegur. "Hyeongnim sudah makan?"
Yi Tan menutup buku di hadapannya dan memandang Yi Seok, bersikap seperti tak terjadi apapun. "Kenapa Pangeran ada di sini?"
"Tentu saja aku datang karena mengkhawatirkan Hyeongnim. Hyeongnim tiba-tiba meninggalkan istana."
"Seperti yang Pangeran lihat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dariku."
"Hyeongnim ..."
"Bagaimanapun tidak ada yang bisa aku lakukan di istana." Yi Tan Tiba tersenyum, namun tampak memaksakan diri.
Yi Seok kemudian memilih untuk sejenak berada di pihak Yi Tan. "Benar, akan lebih baik jika Hyeongnim tetap di sini ... aku tidak tahu harus mengatakan apa untuk menghibur Hyeongnim. Jika Hyeongnim ingin berbicara denganku, katakan saja."
"Ada hal yang ingin aku tanyakan pada Pangeran."
"Hyeongnim bisa mengatakannya sekarang."
"Tentang Gumiho di Baekdusan ..." Yi Tan terlihat sangat ragu sehingga ia memberikan jeda saat berbicara. "Apakah makhluk itu memang benar-benar ada?"
Yi Seok mengerti bagaimana perasaan Yi Tan sekarang. Yi Seok bahkan tidak sampai hati untuk membicarakan tentang kematian Kim Si Hyeon. Namun saat itu Yi Tan sendiri yang memutuskan topik pembicaraan mereka.
Yi Seok lantas menjawab dengan hati-hati. "Itulah yang aku dengar dari oran-orang, Hyeongnim. Meski tidak ada dari mereka yang bertemu langsung dengan Gumiho itu, mereka tetap mempercayai bahwa di sana memang hidup seekor Gumiho."
"Bukit Rubah, mungkinkah Gumiho itu benar-benar tinggal di sana?"
Yi Seok mulai menaruh kecurigaan terhadap pertanyaan Yi Tan. "Apa yang Hyeongnim pikirkan saat ini?"
Yi Tan menjatuhkan pandangannya. Terdiam sesaat sebelum kembali menyahut. "Aku hanya merasa penasaran. Jika Gumiho itu sudah lama tinggal di sana, lalu kenapa baru sekarang dia melukai manusia?"
"Untuk sementara waktu, Hyeongnim menetaplah di rumah. Jangan pikirkan apapun. Keadaan akan membaik dengan cepat ketika Hyeongnim tidak memikirkannya."
Yi Tan kembali tersenyum. "Benarkah Gumiho memakan hati manusia?"
"Hyeongnim ..."
"Aku merasa sangat penasaran."
THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//
Pria yang sebelumnya mendapatkan undangan dari Roh Gunung pada akhirnya sampai di Baekdusan. Berjalan mengarah ke Bukit Rubah, langkah pria itu terhenti ketika ia melihat jasad Kim Si Hyeon. Pria itu tentu saja terkejut sebelum akhirnya berlari menghampiri jasad itu.
"Astaga, kenapa mereka belum membawa jasad nona ini?" gumam pria itu.
Tiba-tiba angin datang, menggerakkan dedaunan dengan lembut. Namun itu hanya berlaku di sekitar tempat pria itu. Dan pria itu memandang sekeliling guna mencari tahu apa yang tengah terjadi. Seketika batin pria itu tersentak ketika menyadari apa yang terjadi. Pria itu segera berlutut.
"Roh Gunung?"
Pria itu masih ingat hari di mana kali pertama ia bertemu dengan Roh Gunung Baekdusan. Dan pria ini adalah satu-satunya manusia yang pernah berhadapan langsung dengan dengan Roh Gunung.
"Kau masih mengingatku?" tegur Young Jae yang muncul di belakang pria itu.
Pria itu menyahut dengan suara yang gemetar tanpa berani menoleh. "Ya, Roh Gunung."
"Aku ingin meminta bantuan darimu."
"Apa yang harus aku lakukan, Roh Gunung?"
"Berikan pemakaman yang layak untuk gadis malang ini."
"Ye?" Pria itu terkejut.
"Dia sudah terlalu lama berada di sini, itu sedikit menggangguku. Kau bisa memakamkannya di sini."
"Y-ye, aku akan melakukannya."
Angin kembali berhembus dan Roh Gunung kembali menghilang. Pria itu segera berdiri dan menghampiri jasad Kim Si Hyeon. Melakukan apa yang diperintahkan oleh Roh Gunung.
Dan ketika langit telah kehilangan cahayanya, Baginda Raja memanggil seorang panglima.
"Pastikan kau menemukan Gumiho yang telah mencabik-cabik putri bangsawan Kim. Ini adalah perintah."
"Hamba menerima perintah Yang Mulia," jawab panglima itu dengan tegas dan kemudian segera meninggalkan tempat itu.
Kasim Hong memandang sang Raja dengan cemas. Dan malam itu juga beberapa prajurit istana serta para pemburu meninggalkan Hanyang dan bergegas pergi ke Baekdusan untuk menangkap sang Gumiho sesuai dengan perintah sang Raja.
THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//