Chapter 14

1220 Kata
Malam itu Chang Kyun ke kembali ke Bukit Rubah bersama Eun Kwang yang berjalan di belakangnya. Terlihat sang Roh Gunung yang sudah menunggu kedatangan sang Gumiho. Chang Kyun lantas menghampiri Young Jae yang berdiri di ujung tebing dan membelakanginya. "Roh Gunung, Tuan Muda sudah ada di sini," tegur Eun Kwang. Tanpa berbalik, Young Jae kemudian menegur Chang Kyun. "Dari mana saja kau?" "Bukan aku." Bukannya menjawab pertanyaan Young Jae, Chang Kyun justru membuat pembelaan untuk dirinya. "Kalau begitu kenapa kau pergi pagi-pagi sekali tanpa berpamitan seperti tengah melarikan diri?" "Roh Gunung ..." Eun Kwang menegur dengan hati-hati. Tak ingin jika Young Jae mencurigai Chang Kyun. Chang Kyun kemudian menjawab. "Hanyang, aku pergi ke Hanyang." Young Jae kemudian berbalik dan berhadapan dengan Chang Kyun. "Bukankah aku sudah melarangmu pergi ke sana?" "Aku ... akan bersekolah." "Apa?" Dahi Young Jae mengernyit. Baik sang Roh Gunung maupun Eun Kwang sama-sama terkejut. Chang Kyun kembali berbicara. "Mulai besok, aku akan pergi ke Sungkyunkwan." "Ya!" Young Jae tiba-tiba berbicara dengan suara yang meninggi. "Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan? Kau ingin belajar konfusius? Kenapa kau pergi ke tempat itu?" "Aku hanya ingin bersekolah. Jeoseung Saja Hyeongnim menyuruh aku mengatakannya pada Hyeongnim." Young Jae menatap tak percaya. "Kau bertemu dengan Jung Dae Hyeon?" Chang Kyun mengangguk. "Jadi maksudmu, jika dia tidak menyuruhmu mengatakannya padaku, kau tidak akan pernah mengatakannnya padaku?" Chang Kyun kembali mengangguk. "Woah ... rubah ini benar-benar." Young Jae tersenyum tak percaya. Dan tatapan tajamnya segera mengarah pada Eun Kwang. "Ya! Rubah tua! Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk mengawasi anak ini? Apa saja yang kau kerjakan selama ini?" "Tuan ... sekarang bukan saatnya untuk mempermasalahkan hal itu. Tuan Muda sering menghilang secara tiba-tiba, bagaimana aku bisa mencarinya?" "Gunakan hidungmu!" Young Jae menghela napas kesal dan kembali memandang Chang Kyun. "Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau benar-benar akan pergi ke sana?" Chang Kyun mengangguk. "Aku lulus dengan nilai terbaik." "Aku sudah tahu! Kau sudah berusia tujuh ratus tahun. Memangnya apa saja yang kau lakukan selama itu jika mengerjakan soal ujian saja tidak bisa?" Young Jae sekilas memalingkan wajahnya dan tampak mempertimbangkan sesuatu sebelum kembali memandang Chang Kyun. "Jawablah dengan jujur. Kau tidak melakukannya, kan?" Chang Kyun menggeleng. "Jawab menggunakan mulutmu." "Tidak, itu bukan aku. Jika aku memakan hati manusia, ekorku tidak akan bertambah." "Benar juga," gumam Young Jae. Eun Kwang menengahi. "Tapi menurutku yang membunuh bangsawan itu adalah manusia, Roh Gunung. Tidak ada bekas dari serangan bangsa kami. Aku sangat yakin bahwa itu adalah ulah manusia." "Manusia serakah mana yang berani melakukan hal serendah itu di tempatku?" gumam Young Jae. Bukannya terlihat kesal, sang Roh Gunung justru terlihat khawatir. Young Jae kemudian kembali memandang Chang Kyun. "Kau benar-benar ingin pergi ke Sungkyunkwan?" Chang Kyun mengangguk. "Kalau begitu pergilah." "Tuan ..." Eun Kwang tampak tak percaya dengan ucapan Young Jae. "Kau juga harus pergi dari sini Rubah tua." "Kenapa? Kenapa Tuan ingin kami pergi?" "Aku memiliki firasat buruk tentang kalian." Young Jae kembali memandang Chang Kyun. "Sampai keadaan tenang, tinggallah di Sungkyunkwan. Sekarang juga tinggalkan tempat ini dan carilah jalan lain untuk turun." "Apakah ada yang akan datang?" tanya Chang Kyun. Suara Young Jae kembali melembut. "Itulah sebabnya kau harus pergi. Hutanku tidak akan aman bagi kalian untuk beberapa hari ke depan. Untuk sementara waktu bersembunyilah." "Tuan mengusir kami?" tanya Eun Kwang. "Tetaplah di sini jika kau ingin mati di tangan para pemburu." Eun Kwang terkejut. "Pemburu?" Young Jae menjatuhkan pandangannya pada desa di bawah sana dan melihat beberapa cahaya yang bergerak menuju kaki gunung. Young Jae kemudian berkata, "mereka akan segera datang. Kalian harus segera pergi." Young Jae kembali memandang Chang Kyun, namun saat itu Chang Kyun tiba-tiba memeluknya. "Apa yang kau lakukan? Aku hanya menyuruhmu untuk mengungsi, bukannya pergi selamanya." "Berikan aku hadiah," ucap Chang Kyun kemudian. Young Jae tertawa pelan. "Kau benar-benar. Apakah kau benar-benar rubah berusia tujuh ratus tahun?" Chang Kyun kemudian menjauh, dan saat itu Roh Gunung membuka telapak tangannya di udara. Bersamaan dengan itu satu kelopak bunga Pohon Penyangga Surga gugur dan terjatuh pada telapak tangan sang Roh Gunung. Young Jae menggenggam kelopak bunga itu. "Ini adalah hadiah untukmu." Young Jae kembali membuka telapak tangannya dan saat itu kelopak bunga yang sempat ia genggam menjadi seekor kunang-kunang yang kemudian terbang di sekitar Chang Kyun. "Dia akan menjanggamu ... setiap waktu." Young Jae menjatuhkan pandangannya pada Eun Kwang. "Besok pagi pergilah ke Kuil. Sekarang kalian harus pergi." "Baik, Tuan." Eun Kwang kemudian mengajak Chang Kyun untuk segera pergi. Terlihat berat untuk meninggalkan tempat itu, pada akhirnya Chang Kyun pergi. Keduanya menuruni gunung melalui jalan yang berbeda, dan kunang-kunang itu terbang di hadapan Chang Kyun seakan tengah membimbing langkah kedua rubah itu. Sedangkan dari bagian lain, para prajurit istana dan pemburu telah sampai di kaki gunung Baekdu. Beberapa orang membawa obor untuk menerangi jalan mereka. Sang Panglima yang mendapatkan perintah langsung dari Raja lantas memberikan perintah. "Temukan makhluk itu dalam keadaan hidup atau mati! Jangan pergi dengan tangan kosong." "Baik!" Semua orang menjawab dengan serempak dan langsung membubarkan diri. Mereka menjarah Baekdusan tanpa memiliki kekhawatiran bahwa sang pemikik gunung akan murka. "Inilah sebabnya aku berhenti menjadi manusia," gumam Young Jae setelah mendengar keributan di gunung miliknya. "Mereka benar-benar berisik." Young Jae menghela napas dan saat itu beberapa kelopak bunga Pohon Penyangga Surga berguguran. Menjadi kunang-kunang yang menghampiri para pemburu Gumiho yang tengah menjarah Baekdusan. Dan sang Roh Gunung lantas menghilang. THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED// Chang Kyun telah kembali ke Hanyang. Tak lagi menjadi bangsawan Joseon, Chang Kyun membiarkan rambut hitan legamnya tergerai menutupi punggungnya. Tanpa ada Seo Eun Kwang di sampingnya, sang rubah kini berdiri di atap salah satu rumah. Memandang rembulan yang masih menggantung di langit dalam keadaan tak sempurna. Kunang-kunang yang diberikan oleh Roh Gunung sebagai hadiah masih terbang di sekitar Chang Kyun, seakan menegaskan bahwa ucapan Roh Gunung sebelumnya bukan hanya sebuah perkataan yang akan berlalu begitu saja. Kunang-kunang itu selalu berada di sekitar Chang Kyun seakan ingin menjaga sang rubah. Angin tenang berhembus, menerbangkan ujung rambut serta pakaian Chang Kyun ke udara. Tatapan dingin yang diliputi oleh kesedihan. Saat itu tanpa sepengetahuan Chang Kyun, kunang-kunang itu hingga pada benang hitam yang kembali mengikat jari kelingking sang rubah. Benang hitam itu mengarah ke bawah dan memasuki bangunan di bawah kaki sang rubah. Dan di sanalah ujung dari benang merah itu tersembunyi. Tepat di bawah Chang Kyun berdiri, di sanalah Pangeran Yi Tan tertidur dalam kesakitan ketika benang hitam itu mengikat tangannya dengan erat. Sementara sang rubah masih terpikat pada rembulan yang dingin. Untuk kesekian kalinya seperti itu, dan perasaan yang sama selalu menghampiri sang rubah ketika ia tak mampu memalingkan diri dari sang rembulan yang terkadang terlalu kejam baginya. Dalam kesepian yang selalu menjebaknya, mulut Shin Chang Kyun kembali mengumamkan sesuatu. Sebuah kalimat yang akan membuat Roh Gunung sedih jika sampai ia mendengar hal itu. "Aku merindukanmu ... Naeuri ..." Di bawah tempat sang Gumiho berdiri, seorang Pangeran meringkuk dalam kesakitan. Menggenggam benang hitam yang tak ia sadari keberadaannya. THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED// Naeuri : Tuan. Daegam : Tuan. Yeonggam : Tuan. Naeuri biasanya digunakan untuk memanggil bangsawan laki-laki yang belum menikah. Sejauh ini apakah kalian menyadari sesuatu tentang si Gumiho? Masih ingat di bagian terakhir dari Chapter 3? Di sana Roh Gunung bertanya apakah si Gumiho masih merindukan seseorang. Apa kalian sudah menyadari sesuatu? Siapakah Naeuri yang dimaksud oleh sang rubah?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN