Seorang Panglima yang diutus oleh Baginda Raja untuk menangkap Gumiho di Baekdusan kembali menghadap sang Raja dengan tangan kosong, dalam artian bahwa dia tidak menemukan apapun di Baekdusan.
"Bagaimana? Kau berhasil menangkap makhluk itu?" tegur sang Raja.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Yang Mulia. Hamba telah mengerahkan para prajurit dan juga pemburu untuk menjarah Baekdusan, tapi kami tidak menemukan keberadaan Makhluk itu, Yang Mulia. Tapi ... bukan hanya itu, Yang Mulia."
"Ada apa? Cepat katakan."
Sang Panglima berucap dengan ragu. "Kami juga tidak bisa menemukan keberadaan jasad dari Nona Kim Si Hyeon."
Sang Raja tampak terkejut. "Bagaimana dengan Bangsawan Kim?"
"Hamba mengunjungi kediaman Bangsawan Kim untuk memastikannya, Yang Mulia. Tapi mereka masih menunggu kabar dari istana."
Sang Raja menghela napas frustasi. Dan Kasim Hong yang mengerti keadaan lantas berbicara kepada sang Panglima.
Kasim Hong lantas menegur Baginda Raja. "Yang Mulia, ada hal yang ingin hamba sampaikan."
"Katakan."
"Putra Mahkota sudah kembali ke istana, Yang Mulia."
"Baiklah, aku mengerti. Segera kirimkan surat kepada Bangsawan Kim."
"Baik, Yang Mulia."
Kasim Hong kemudian pergi, meninggalkan sang Raja yang kembali tenggelam dalam pikiran kelamnya.
Sang Raja bergumam, "kenapa aku tidak pernah bisa menjadi seorang ayah yang baik untuk anak itu?"
THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//
Di saat semua orang masih sibuk membicarakan kemalangan yang menimpa Pangeran Yi Tan, kala itu Chang Kyun kembali menutup pendengarannya. Berjalan melewati gerbang Sungkyunkwan untuk kali ke dua, hari itu menjadi hari pertama Chang Kyun menjadi seorang mahasiswa konfusius. Bisa Chang Kyun lihat beberapa pelajar baru yang juga baru saja datang. Semua memiliki kenalan, namun Chang Kyun tak mengenal siapapun sehingga ia hanya berjalan seorang diri.
"Siapa namamu, Tuan Muda?" teguran itu datang dari arah samping.
Seorang pemuda pemilik senyuman manis tiba-tiba berjalan di samping Chang Kyun. Chang Kyun memandang pemuda yang terlihat sangat ramah itu.
"Hong Joo Chan ... itu adalah namaku." Pemuda itu melakukan perkenalan dengan garis senyum yang sempat melebar di wajahnya. "Siapa namamu?"
"Shin Chang Kyun," jawab Chang Kyun.
"Oh!" Pemuda bernama Hong Joo Chan itu langsung menahan lengan Chang Kyun dan langkah keduanya sontak terhenti. Pemuda itu tampak terkejut.
"Shin Chang Kyun? Peringkat pertama? Kau orangnya?"
Chang Kyun mengangguk.
Joo Chan tersenyum tak percaya. "Woah ... sungguh kebetulan sekali kita bertemu di sini. Bagaimana kalau kita menjadi teman? Kau dan aku?"
"Teman?"
Joo Chan mengangguk dengan semangat.
"Aku tidak pernah memiliki teman." Chang Kyun langsung pergi meninggalkan Joo Chan.
Joo Chan tertegun setelah mendengar perkataan Chang Kyun. "K-kenapa dia berbicara seperti itu?"
Joo Chan kemudian mengejar Chang Kyun. "Shin Chang Kyun, tunggu sebentar ..."
Dan hari itu Chang Kyun mendapatkan teman baru. Meski Chang Kyun tak tertarik untuk berteman dengan Joo Chan, namun manusia itu cukup gigih hingga pada akhirnya tanpa persetujuan dari Chang Kyun, pemuda itu memutuskan untuk menjadi teman sang rubah. Dan Hong Joo Chan adalah teman manusia ke dua dalam tujuh ratus tahun kehidupan Shin Chang Kyun.
Meninggalkan Ibu Kota, sesuai dengan perintah Roh Gunung semalam sebelum meninggalkan Baekdusan. Hari itu Eun Kwang kembali ke Baekdusan, namun dengan penampilan yang tiba-tiba berubah menjadi seorang Biksu. Dan inilah wujud lain yang sering digunakan oleh Eun Kwang. Rubah tua ini memang sering menyamar menjadi Biksu dan tinggal di Kuil yang berada di Baekdusan. Dan karena wujudnya itulah dia sering mendapatkan kebaikan dari manusia, meski Eun Kwang tidak akan bisa memakan beras ataupun makanan lainnya yang diberikan oleh manusia padanya.
Dalam perjalanan Eun Kwang bertemu dengan para pemburu yang hendak meninggalkan Baekdusan. Dan saat akan berpapasan, Eun Kwang sengaja membaca sutra untuk membuat perannya sebagai seorang Biksu menjadi lebih sempurna.
"Gumiho apanya? Mana ada yang seperti itu?" ucap salah satu dari pemburu itu.
Eun Kwang menghentikan langkahnya dan memperhatikan para pemburu yang berjalan pergi itu.
Pemburu lainnya menyahut, "mungkin makhluk itu sudah melarikan diri."
"Tidak mungkin ... makhluk seperti itu tidak akan meninggalkan daerah kekuasaannya apapun yang terjadi."
"Itu benar. Bahkan kita tidak menemukan tanda-tanda bahwa pernah ada siluman rubah di sini."
"Dasar tukang gosip," cibir Eun Kwang, namun saat itu ekor Eun Kwang tiba-tiba menyembul di balik punggung.
"Tapi anehnya, ke mana jasad bangsawan itu? Aku dengar mereka belum membawanya pergi. Tapi jasadnya sudah tidak ada."
"Mungkin saja sudah dimakan oleh hewan buas."
"Ya! Jaga bicaramu."
Eun Kwang menatap sinis dan kembali melanjutkan perjalanan. Namun tepat saat berbalik, dia langsung terlonjak.
"Apa ini?!"
Eun Kwang langsung menarik ujung ekornya dan merasa kesal setelah menyadari bahwa itu adalah ekornya sendiri. Dia kemudian melemparkan ekornya.
"Apa-apaan ini? Ternyata ekorku sendiri. Mengagetkan saja."
Eun Kwang menyembunyikan ekornya dan bergegas mendaki Baekdusan untuk kembali ke Bukit Rubah. Dan sesampainya di Bukit Rubah, Eun Kwang segera mendekati Pohon Penyangga Surga.
"Tuan ... aku sudah datang."
"Bagaimana dengan anak rubah itu?" Young Jae tiba-tiba menegur dari arah lain.
Eun Kwang menoleh, mendapati sang Roh Gunung tengah duduk di gazebo. Eun Kwang kemudian menghampiri Young Jae dan duduk di anak tangga.
"Tuan Muda sudah pergi ke Sungkyunkwan saat aku meninggalkan Hanyang."
"Apa dia terlihat senang?"
"Tentu saja ..." Eun Kwang tersenyum lebar. Meski tak banyak yang bisa ditunjukkan oleh Chang Kyun dengan raut wajah datar dan tatapan dinginnya, namun Eun Kwang tahu kapan saja Chang Kyun merasa senang, sedih atau gelisah.
"Tuan Muda terlihat sangat senang ketika pergi ke Sungkyunkwan. Aku juga melihat Tuan Muda sudah mendapatkan teman baru."
Dahi Young Jae mengernyit. "Teman? Maksudmu dia berteman dengan manusia?"
Eun Kwang mengangguk. "Aku melihatnya, manusia itu terus saja menempel pada Tuan Muda dan meminta untuk dijadikan teman. Sepertinya manusia itu adalah pemuda yang baik."
Tak sesenang Eun Kwang, Young Jae justru mengkhawatirkan sesuatu setelah mendengar ucapan Eun Kwang. Memandang ke arah lain, Young Jae kemudian bergumam, "jadi dia memutuskan untuk berteman lagi dengan manusia?"
"Tuan mengatakan sesuatu?" tegur Eun Kwang ketika ia tak begitu mendengar ucapan Young Jae.
"Tidak." Young Jae kembali memandang Eun Kwang. "Apakah para pemburu itu sudah pergi?"
Eun Kwang mengangguk. "Aku berpapasan dengan mereka di bawah. Tapi, Tuan ... aku dengar mereka tidak menemukan jasad bangsawan itu. Lalu siapa yang membawa jasadnya pergi?"
"Kau tidak perlu ikut campur dalam urusan manusia. Bangsawan malang itu sudah menemukan tempat yang lebih baik sekarang."
"Kalau begitu, bagaimana selanjutnya? Apakah Tuan Muda tidak boleh kembali ke sini lagi?"
"Siapa yang mengatakan hal itu?" Suara Young Jae tiba-tiba sedikit meninggi.
"Tuan sendiri yang menyuruh kami pergi."
"Aku menyuruh kalian mengungsi, bukan pergi untuk selamanya. Jika para pemburu itu tidak kembali lagi, bawa anak itu pulang. Bermain di Ibu Kota hanya akan membuatnya terluka."
Eun Kwang menatap dengan mata yang memicing. Dia kemudian berbicara dengan nada menyelidik. "Sebenarnya ... apa yang sedang Roh Gunung pikirkan? Kenapa Tuan selalu mengatakan bahwa Tuan Muda akan terluka jika pergi ke Hanyang?"
"Ada berapa banyak orang yang tinggal di Hanyang? Kau pikir apa yang akan terjadi jika mereka tahu bahwa Tuan Muda yang berada di hadapan mereka adalah siluman rubah ekor sembilan? Kau tidak pernah memikirkannya?"
"Oh! Benar sekali ..." Eun Kwang memukul kepalanya sendiri. "Kenapa aku tidak pernah memikirkannya?"
"Norigae itu ... apa masih berfungsi dengan baik?"
Eun Kwang menjelaskan sembari tersenyum lebar. "Tuan tenang saja ... selama Tuan Muda memakai itu, bangsa kami tidak akan bisa menemukan Tuan Muda meski mereka saling berhadapan sekalipun."
Sudut bibir Young Jae tersungging. "Itukah sebabnya kau tidak pernah bisa menemukan anak itu saat dia pergi secara diam-diam?"
Eun Kwang tersenyum canggung sembari menggaruk tengkuknya. "Meski aku yang memberikannya, bukan berarti itu tidak berlaku bagiku."
Eun Kwang tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh! Berhubung Tuan Muda berada di Sungkyunkwan, aku harus pergi ke suatu tempat."
"Ke mana?"
"Gunung Seorak."
Young Jae menatap penuh selidik. "Kenapa kau ingin pergi ke Gunung Seorak?"
"Tentu saja memastikan keadaan di sana. Aku tidak pernah bisa pergi ke sana jika Tuan Muda ada di sini. Dia pasti akan ikut."
"Ada berapa banyak kawananmu di sana."
Eun Kwang menjawab dengan penuh pertimbangan. "Jika dihitung sejak hari itu, seharusnya sudah ribuan. Tapi aku sempat mendengar kabar bahwa beberapa dari mereka pergi. Siapa yang terkuat, dialah yang memimpin. Begitulah cara kamu hidup di Gunung Seorak."
"Kalau begitu bagaimana dengan rubah kecil itu?"
"Eh?" Eun Kwang tertegun atas pertanyaan Young Jae.
"Ada berapa Gumiho yang tinggal di Gunung Seorak?"
"Tidak ada, Tuan Muda adalah satu-satunya Gumiho yang lahir di Gunung Seorak hingga detik ini."
Young Jae kemudian tersenyum dan bergumam, "itulah mengapa dia sangat istimewa."
"Kalau begitu, bolehkah aku pergi sekarang, Tuan?"
"Pergilah. Pastikan kau melihat keadaan anak itu sebelum kembali kemari."
"Baik, aku mengerti. Kalau begitu aku pamit sekarang."
Eun Kwang kemudian bergegas untuk pergi. Tidak berjalan seperti manusia, hanya dalam hitungan detik siluman rubah itu telah menghilang dari pandangan si Roh Gunung.
Young Jae kemudian mengarahkan pandangannya ke lembah di bawah singgasana yang ia tempati.
Si Roh Gunung kemudian berkata, "dia adalah satu-satunya, itukah sebabnya dia akan lebih sering terluka. Benarkah orang itu akan datang lagi di kehidupan ini? Sungguh ikatan yang menyedihkan ..."
THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//