Cahaya kecil di langit muncul beriringan dengan bulan yang berpendar di gelapnya malam. Angin berembus menerbangkan gorden dan masuk melalui jendela kamar. Seisi ruangan terasa sepi. Dua insan yang baru melepas status lajangnya duduk berjauhan dengan kesibukan masing-masing.
Setelah pesta pernikahan usai, mereka pergi ke rumah yang sudah disediakan Dareen di atas bukit. Rumah besar yang hanya ditempati dua orang pembantu dan satu orang tukang kebun. Tentunya supir yang saat itu mengantarkan.
Keheningan mendera mereka. Nada yang sedikit gugup dengan yang namanya malam pertama, terus menatap ponsel. Di-scroll berulang-ulang sosial medianya. Matanya tampak melihat gawai itu, tapi pikirannya entah ke mana.
Dareen yang sudah sedikit lelah langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Suara gemerisik air memenuhi seisi ruangan. Apa yang harus aku lakuin? batin Nada.
Ditatapnya menyeluruh ruangan yang lumayan besar ini. Hanya ada satu ranjang berukuran besar yang tertata rapi tepat di tengah, dengan meja kecil di samping kanan dan kiri. Di depan kamar mandi terdapat pintu yang diyakini sebagai ruang baju. Di ujung kiri yang menghadap ke luar, terdapat pintu kecil menuju balkon.
Nada tertunduk. Kakinya ia goyangkan untuk menghilangkan kegugupan, sedangkan Dareen terdengar bersenandung di kamar mandi. Waktu terasa melambat. Bola matanya tak henti sibuk menelusuri tempat untuk bersembunyi dari sang suami. Bukan untuk bercanda, hanya saja gadis itu tidak siap dengan apa yang terjadi di malam pertama ini.
Kata orang malam pertama itu begitu menegangkan. Mungkin itu pula yang dirasakan Nada saat ini. Ia ingat perkataan Aarelia bahwa gadis itu memasukkan sesuatu untuk menghilangkan grogi ke koper miliknya.
“Apa yang dimasukin Arel, ya? Bukan barang aneh kan?” gumam Nada sembari mengambil koper besar di bawah kasur.
Perlahan dibuka kopernya dengan hati-hati. Bersiap barang kali ia memasukkan sesuatu yang tak terduga. Benar saja, betapa terkejutnya Nada ketika melihat sesuatu yang tertata rapi di koper.
Diangkatnya satu per satu berbagai macam lingeri dan baju-baju yang terlihat terbuka. Tak ada satu pun baju tidur yang sering ia kenakan sehari-hari. Ya, Nada biasanya lebih suka memakai baju kaus dan celana panjang bahan yang kelonggaran. Namun, kali ini membuatnya melongo.
Sedikit panik, dicari lagi dan lagi memastikan isi di dalamnya. Namun, nihil. Tak ada baju yang dipikirkannya, yang ada hanya baju-baju pendek dan terbuka dengan sedikit renda-renda.
Diembuskannya napas yang terasa memberat. Matanya menatap pintu kamar mandi memastikan Dareen belum keluar agar ia tak tahu yang sedang terjadi. Wajahnya mulai memerah.
“Apa yang harus aku lakuin?” tutur Nada pelan.
Ketika akan membereskan semua yang sedikit berserakan di lantai. Tiba-tiba angin meniup sebuah lingeri berwarna pink yang terlihat begitu mini dan terbuka di bagian lainnya.
Nada merangkak untuk mengambilnya. Namun, naas, lingeri itu jatuh tepat di bawah kaki Dareen. Ia yang melihat hal itu langsung mengernyit. Menatap istrinya dan barang aneh itu. Sontak diangkat olehnya. Sadar akan apa yang dipegang, Dareen membulatkan mata. Mulutnya menganga dan terkesiap. Kemudian dipalingkan wajahnya dan meminta Nada untuk mengambilnya.
Wajah Nada memerah seakan aliran darahnya berkumpul di kepala. Tangannya dengan cepat ia ulurkan untuk mengambil barang aneh itu. Kemudian disembunyikan di balik badan.
“Saya hari ini tidur di ruang baca, ya. Nada tidur di sini aja dengan nyaman,” tuturnya lembut.
Diambilnya ponsel dan kunci ruangan di meja. Kemudian berjalan ke luar kamar. Menyisakan beragam pertanyaan di benak Nada.
Jujur saja, ia paling tidak suka sendirian. Bukan karena takut akan hal-hal mistis, melainkan sendiri di tempat asing itu terasa membosankan. Namun, apalah daya, kejadian tadi membuat keadaan menjadi canggung. Kalau berdua pun pasti akan terasa lebih aneh.
Nada menghela napas dan terduduk di pinggir kasur. Tubuhnya lunglai dan tak bertenaga. Kejadian tadi sungguh menguras energi. Diambilnya ponsel di samping nakas dan mencari nama sahabatnya, Arelia.
“Aku harus buat perhitungan sama kamu, Arel.”
Telepon berdering berkali-kali, tapi tak ada jawaban dari yang punya. Ini sudah ketiga kalinya ia menelepon. Namun, yang punya tak jua menjawab. Akhirnya Nada menyerah dan beranjak dari duduknya menuju kamar mandi.
Bingung dengan kostum tidur yang harus dikenakannya, akhirnya gadis itu mengambil asal lingeri yang ada dan menaruhnya di pinggiran kasur. Pasrah, hanya itu yang harus dilakukannya. Toh, hari ini Dareen tidur di ruangan lain. Begitu pikirnya.
Suara gemerisik air terdengar nyaring memenuhi seisi ruangan. Ditambah nyanyian parau yang membuat siapa saja yang mendengar ingin menyumpal mulut manisnya. Kalau saja Dareen ada di sana, mungkin ia sudah berkali-kali menggedor kamar mandi dan bersiap menutup mulut Nada. Lagi pula Dareen takakan tidur bareng malam ini, begitu pikir Nada.
Saat ruangan tak ada siapa pun, seorang wanita yang masih terbilang muda masuk ke kamar. Dilihatnya lingeri cantik di kasur dan kemudian diambilnya. Wanita itu berjalan dengan pelan dan hilang di balik pintu.
Nada yang sudah selesai dengan ritual mandinya keluar dan mendapati lingeri yang sudah disiapkannya tak ada di kasur. Tanpa pikir panjang, ia mengambil setelan lainnya di koper. Mungkin lupa mengeluarkan, begitu pikirnya. Tak ada prasangka dalam benak wanita itu.
Masih berbalut handuk kecil yang hanya menutupi bagian d**a sampai paha, Dareen mengetuk pintu dan bersiap akan masuk. Nada berteriak dan memintanya untuk sebentar saja diam di sana.
“Jangaan masuk, diam sebentar di sana. Aku belum pakai baju,” teriak Nada.
Dareen mengangguk. Sekelebat pikiran liar menghinggapi tatkala mendengar kata-kata Nada. Namun, sedetik kemudian dibuyarkan. Berkali-kali ditelan salivanya. Tentu saja, ini membuat dirinya gugup.
Nada lekas mengenakan pakaiannya sebelum mempersilakan yang punya kamar masuk.
“Udah, masuk aja. Ada yang mau dicari?” tanya Nada.
Daren masuk ke kamar dan melihat gugup ke arah Nada. Rambut yang basah dan pakaian yang sedikit terbuka. Ditambah wajah polosnya yang taksadar kalau apa yang dikenakan membuat adrenalin sang suami terpacu.
“S-saya mau ambil kunci lemari di laci. Sebentar, ya,” ucapnya.
Sungguh, pikiran Dareen seakan kosong, tangannya terus bergetar. Berkali-kali diembuskannya napas pelan. Mukanya sudah memerah. Dengan keadaan seperti itu, tanpa sengaja ia menjatuhkan gelas yang ada di nakas. Kemudian membuat pecahannya berserakan di lantai.
Refleks, Nada datang membantu dan dengan sigap memunguti pecahan yang ada di lantai. Dareen yang mencium aroma sabun di sebelahnya bergeming, padahal Nada sudah menyuruhnya untuk menyingkir sebentar. Tentu saja hal itu membuat Nada kesulitan dan tanpa sengaja tertusuk pecahan yang tajam. Darah segar mengalir dari jemarinya.
Dareen tersadar dan bangkit untuk mengambil kotak P3K di laci meja. Didudukkannya Nada di pinggiran kasur, kemudian mengambil jemarinya. Matanya fokus menatap luka sayatan di jari Nada.
Hal itu membuat Nada terkesiap dan tersenyum memandang wajah tampan sang suami. Seakan ada sesuatu yang mengusik hati, matanya menelusuri muka Dareen. Setiap inchinya begitu indah. Matanya yang seperti diamond, alisnya yang tebal, hidungnya yang sedikit mancung, dan terakhir terhenti di bibir merahnya.
Dareen yang sudah selesai mengobati jari Nada, menatap gadis itu. Netra mereka bertemu. Embusan napas mereka saling beradu. Sepersekian detik tanpa berkedip. Pikiran-pikiran liar merasuk kala aroma sabun tercium lagi. Wangi khas dari keduanya.
Entah apa yang merasuki Nada, dikecupnya sekilas bibir ranum Dareen. Kemudian menutup mukanya dengan telapak tangan. Lelaki itu takterkejut. Senyum nakal menghiasi wajahnya.
“Boleh tidur di sini malam ini?” tanya Dareen.
Nada mengangguk. Dareen menggenggam tangan Nada dan menyingkirkan dari wajah mungil gadis itu. Kemudian menyatukan kembali bibirnya dengan Nada. Kali ini lebih dalam, disesap dan dikulum. Jemarinya menyentuh leher putih Nada.
Keduanya seakan mengisi satu sama lain. Kali ini lengan Nada sudah mengalung dengan indah di leher jenjang Dareen. Menangkupkan kepalanya agar lebih dalam lagi. Tangan nakal Dareen menyentuh paha putihnya. Membuat gejolak aneh dan memabukkan.
Rangsangan itu menumbuhkan gelora yang takbisa lagi untuk dibendung. Menyatukan diri dalam buaian dan belaian. Mungkin karena ini pertama kali bagi mereka untuk memadu kasih. Tentu saja hal itu, menumbuhkan cinta yang sempat diragukan Nada. Mungkin juga Dareen.
Sebuah dering telepon menghentikan aktivitas mereka. Keduanya tersadar dengan yang sudah terjadi. Dareen kemudian bangkit dan berjalan ke luar, mempersilakan Nada untuk mengangkat telepon.
Dilihatnya nama yang terpampang di layar. Arelia. Ah! Kamu tahu betul caranya merusak suasana, batin Nada.
“Ada apa tadi nelpon?” ucap Arelia setelah salam dari Nada terdengar.
“Kamu tuh paling bisa merusak suasana, ya,” tutur Nada.
“Lah, kenapa, ya? Lagi apa hayoo,” goda Arelia.
“You know lah.” Arelia berteriak kegirangan. Keduanya tertawa.
“Tadi aku mau tanya, kenapa koper isinya lingeri semua, ya?” tanya Nada sedikit kesal.
“Gimana? Oke ‘kan? Kado pernikahan buat kamu,” jawab gadis itu jahil.
“Oke, sih, tapi kan malu pakai yang beginian,” timpal Nada.
“Nanti juga terbiasa. Lagian pakaian yang begitu wajib loh. Kali aja abis ini aku bakal jadi tante,” ucap Arelia diiringi kekehan.
“Ngaco, orang malam pertamaku gagal gara-gara kamu, nih.” Nada merungut. Arelia hanya tertawa mendengar kekesalan sahabatnya.
Ah, andai Arelia enggak menelepon, pasti malam ini udah ada sesuatu terjadi.
“Oh iya, kamu taruh berapa lingeri di koper?”
“Ada empat, warnanya kece-kece. Paling kece yang warna merah, itu desainnya benar-benar aku suka. Udah dulu ya Nada, ini ada pembeli lagi,” jawabnya. Telepon terputus, padahal ia masih ingin bertanya.
Nada terdiam, merah? Ia tak menemukan warna merah. Apa Arelia salah atau lupa masukin, ya? Entahlah, perihal lingeri tak perlu dibuat pusing. Akhirnya direbahkan tubuhnya di kasur dan bersiap untuk memasuki alam mimpi. Ah, malam pertamanya ternyata gagal. Dareen pun tak berani masuk ke kamar lagi.