bc

Cermin di Ujung Senja

book_age18+
698
IKUTI
2.1K
BACA
time-travel
love after marriage
second chance
brave
drama
comedy
sweet
bxg
multi-character
another world
like
intro-logo
Uraian

Apa kau percaya takdir? Saat kedua insan saling percaya bahwa cinta akan membawa pada sebuah takdir, saat itu alam semesta akan mendukung. Untuk saling memegang dan memeluk di waktu yang tak disangka. Kisah ini bukan hanya tentang roman picisan masa sekolah, bukan pula tentang erotisme yang menggebu-gebu. Ini adalah tentang perasaan yang murni dan saling merindukan. Tentang sebuah hubungan yang tak lekang oleh waktu.

“Di mana pun dan dalam kehidupan apa pun, aku akan berkali-kali jatuh cinta dan memilihmu, kemudian menikah denganmu.” —Dareen Felix

chap-preview
Pratinjau gratis
Bukan Pernikahan Impian
Hari yang lelah sudah dilalui oleh seorang gadis berpenampilan cantik. Wajahnya lesu dan tak sesegar pagi. Dikuncinya pintu toko bunga yang seharian menjadi tempatnya berlindung. Kemudian berjalan menuju sepeda yang terparkir di pinggir toko. Setelah itu, dinaikinya sepeda tua dengan keranjang di depan. Perlahan membelah angin yang sesekali memainkan rambut hitam sebahunya. Senyum terukir dari wajah mungilnya. Di perjalanan menuju rumah, dirinya dikagetkan oleh sebuah mobil merah yang hampir saja menyerempet gadis itu. Namun, sang pengendara tak berhenti barang sedetik pun. “Kenapa rese banget sih? Kan jadi luka. Padahal rumah tinggal sebentar lagi,” gumamnya sambil memanyunkan bibir. Dengan kaki yang lecet, diseret sepeda kesayangannya itu menuju rumah yang berpagar tinggi. Namun, Nada dibuat terheran karena mobil yang tadi menyenggolnya terparkir dengan manis di garasi belakang rumah. Ya, Nada memang lebih senang untuk masuk lewat pintu belakang daripada pintu depan. Tanpa curiga, dilangkahkan kakinya masuk ke rumah. Baru membuka pintu, tangan Mamah menyeretnya ke ruang tamu dan mendudukan gadis itu di bangku yang seberang sudah ada beberapa pasang mata melihat gerak-geriknya. “Ini ada apa, ya, Mah?” bisiknya kepada mamah. “Udah duduk aja dulu, ya,” ucap mamah. Nada terdiam dan masih bertanya dalam hati akan kejadian yang ada di ruangan ini. “Nada, bulan depan kamu akan menikah dengan Dareen,” ucap ayah kemudian. Netra gadis itu membulat dan mulutnya terbuka lebar. Ditatapnya Ayah dan Mamah seakan menanti penjelasan lebih lanjut. Namun, sayangnya mereka hanya fokus melihat lawan bicara di depannya. “Dareen sudah setuju, ‘kan? Nada sepertinya setuju,” ujar seorang lelaki paruh baya di sebelah lelaki tampan bersurai hitam. “Tunggu ... tunggu ... maksudnya gimana, ya? Aku belum bilang setuju, loh, Mah, Yah.” Gadis itu berujar menolak ide dari kedua orang tuanya. “Tentang ini nanti kita bicarakan, ya. Sekarang kita fokus aja dengan pernikahanmu dan Dareen,” jawab ayah tegas. Nada bergeming menatap tajam lelaki yang diduga bernama Dareen. Ia yang dilihat memalingkan wajah dan berpura-pura tak melihat tatapan tajam Nada. Karena kesal dengan keadaan yang tak bisa ia mengerti, akhirnya Nada bangkit dari duduknya. “Saya permisi dulu mau ke atas, ya. Silakan dilanjutkan pembicaraan yang saya tak tahu ini,” ucapnya dengan sedikit menekankan kata-katanya. Mereka menatap punggung Nada yang menjauh. Tak disangka mata Dareen terus tertuju pada gadis bertubuh mungil itu. Kemudian seulas senyum mengembang dari bibir ranumnya. Matanya berbinar. Saat itu juga, lelaki itu sudah melabuhkan hatinya untuk Nada. Memang, ini adalah pernikahan yang diatur oleh kedua orang tua mereka. Walau pada awalnya ia menolak keras perjodohan itu, tetapi setelah melihat Nada, Dareen mulai membayangkan hidup bersama gadis itu. Angannya untuk membangun rumah tangga dan terus bersama gadis impiannya memenuhi pikirannya. Ya, apa pun yang terjadi, aku akan menikahimu, Nada, batinnya. *** Sebuah pintu diketuk berkali-kali, tapi tak ada sahutan dari yang punya kamar bahkan tak ada kata-kata mengusir dari dalam. Entah apa yang sedang terjadi di dalam, padahal kedua orang tuanya begitu khawatir dengan keadaan satu-satunya putri mereka. Satu jam. Dua jam. Namun, belum ada tanda-tanda Nada akan meninggalkan singgasana terindahnya. Mamah berkali-kali menghampiri kamar dan mengetuk dari mulai lembut sampai kencang. Lagi-lagi hanya dua paruh baya itu yang capek karena harus naik turun ke lantai dua. “Nada. Ayo dong keluar dan bicara sama Mamah dan Ayah. Kita bakal jelasin semua yang terjadi,” ucap Mamah pelan seakan sudah putus harap. Pintu terbuka, perlahan kepala gadis itu menyembul dari balik pintu. Matanya bengkak dan sembab karena habis menangis. Rambutnya dibiarkan berantakan tak tertata. Bibir mungilnya bergetar kala mengingat keputusan kedua orang tuanya. “Mah, Nada pingin istirahat. Boleh kan?” ucapnya lemah. Bukannya mendapat persetujuan dari mamah, Nada malah ditarik dan diajak ke meja dapur. Sudah tersaji makanan kesukaannya. Kentang balado dan tahu goreng yang digoreng tak begitu garing. “Nada boleh istirahat setelah kamu makan, ya. Kamu kan belum makan dari semenjak pulang ke rumah,” tutur mamah lembut. Nada mengangguk tanda menyetujui ide Mamah. Langsung dilahapnya makanan yang tersaji sampai hampir habis. Ia tak peduli dengan tatapan intens Mamah yang menatap lekat dirinya. “Kamu tahu, Nada, mamah paling senang melihat kamu makan dengan lahap. Ternyata anak mamah sudah gadis sekarang,” ujar Mamah. “Mah, Nada belum siap untuk menikah. Masak aja nggak bisa, gimana mau ngurus anak orang.” Gadis itu mengalihkan topik yang memang sejak tadi ingin diucapkan. “Mamah mengerti, tapi kamu harus tahu kalau keluarga Dareen sudah menyelamatkan ayahmu dari kecelakaan yang terjadi di pabrik. Makanya sebagai balas jasanya, keluarga mereka ingin menikahkan anak lelaki mereka dengan kamu, Nada,” jelas mamah masih dengan suara lembut. “Apa enggak ada cara lain untuk membalas jasa mereka selain menikah?” Mamah bergeming dengan senyum yang sedikit memudar. Ada rasa sedih yang terpancar dari raut wajahnya. Matanya seakan ingin menumpahkan cairan bening, tapi berusaha ditahannya. Kemudian ia tersenyum menatap putri kesayangannya. “Mamah sedih, ya.” Nada bersuara lebih lembut kali ini. Ada rasa bersalah karena telah membuat wanita yang paling ia sayangi hampir menangis. “Baiklah, Nada akan menikah dengan Dareen,” tutur Nada yang mengalah dengan keadaan. Gadis itu memilih untuk membuat semua orang bahagia, ketimbang memikirkan kebahagiaannya sendiri. Pada akhirnya ia kalah karena takdir memang sudah menuliskan pernikahan yang tak diimpikannya. Mungkinkah ia bisa bahagia setelah bersama dengan Dareen? atau malah harus menanggung sedih yang tak terkira? Biarlah takdir pula yang memutuskan. *** Ruang aula yang berbalut serba putih sudah penuh dengan manusia yang penasaran pernikahan dua orang anak pesohor di kota. Tak terkecuali semua kerabat dan teman-teman dari kedua mempelai. Sang mempelai pria sudah duduk dengan tenang di depan penghulu, sedangkan mempelai wanita menunggu di ruangan yang khusus dipakai sebagai ruang rias. Hiruk pikuk di luar samar-samar terdengar oleh Nada. Dirinya terus menatap cermin dan berharap ini adalah mimpi. Ia ingin terbangun dari hal tak masuk akal ini. Pikirannya melayang entah ke mana seakan hanya raga tanpa jiwa. Sebuah ketukan di pintu menyadarkan dirinya bahwa ia masih berada di dunia nyata dan masih bisa untuk berpijak. Wajahnya diarahkan ke sumber suara. Gadis cantik yang seumuran dengannya berdiri dengan begitu anggun, mengenakan gaun pink, warna favoritnya. “Arelia, gimana dong? Apa yang harus aku lakuin?” tanya Nada kepada sahabat satu-satunya. Arelia menatap netra Nada dalam. “Apa aku saja yang gantikan, nih?” celetuknya diiringi tawa renyah. “Boleh, boleh,” tutur Nada kegirangan. “Ngaco, mana bisa kaya gitu. Aku yakin Dareen adalah yang terbaik buat kamu. Kamu juga belum kenal betul Dareen itu seperti apa, kan?” tutur Arelia menenangkan. Nada hanya bisa tersenyum getir. Ia tak bisa lagi mundur. Satu-satunya jalan adalah maju dan hadapi apa yang akan menjadi takdirnya. Semoga bahagia yang tercipta setelah ini. “Nada kamu sudah boleh keluar,” tutur Mba Diah, sepupu Nada. “Iya, Mba,” ucapnya kepada Mba Diah, “bantu aku ayo, Arel,” lanjut Nada. Gadis cantik itu berjalan dengan dipegangi oleh Arelia. Gaun putih ala-ala princess yang dikenakan begitu besar sehingga sulit untuk menjaga keseimbangan. Belum lagi rambut yang penuh dengan hiasan menambah beban di bagian kepala mungilnya. Semua mata menatap gadis cantik yang sebentar lagi akan sah menjadi istri dari Dareen Felix. Senyum bahagia merekah dari bibir kedua paruh baya yang duduk di bangku paling depan. Ditengoknya wajah kedua orang tua di samping kanan yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya. Mereka tak kalah bahagia. Perlahan, tapi pasti. Nada berjalan terus ke depan sembari menundukkan kepala. Dirinya tak sanggup menatap kedua oang tuanya. Ini hari bahagia mereka. Jangan nangis, ya, Nada. Dirinya membatin. Tibalah ia di bangku mempelai wanita untuk mendampingi mempelai lelaki dalam ijab kabul. Dareen tersenyum manis dengan lesung pipi yang samar telihat. Namun, yang diberi senyum tak acuh dengan keadaan di sampingnya. Ia lebih memilih menatap bunga yang menghiasi meja. Peristiwa ijab kabul terlaksana dengan baik. Setelah saksi mengucap, “Sah.” Sontak hadiri melafalkan hamdalah tanda bersyukur dengan dua orang yang resmi menjadi suami istri itu. Mata Nada berkaca-kaca menahan diri untuk tidak menangis. Ya, bukan menangis bahagia tentunya, ia menangis karena memikirkan takdirnya yang kacau itu. Acara berlangsung lebih lama daripada yang terpikirkan oleh Nada. Rasa pegal di kaki dan wajah mendera kala menyalami tamu yang datang. Dareen tak henti menatap gadis itu dengan iba. Digenggam tangan wanita yang berstatus istrinya itu untuk menguatkan. Nada membulatkan matanya tanda kaget, kemudian mengempaskan genggaman itu. Dareen tak jua menyerah, digenggamnya untuk kedua kali tangan mungil Nada sambil berbisik, “Sebentar aja. Jangan dilepas, ya. Sebentar aja.” Sontak wajah Nada memerah. Debaran jantungnya seakan berpacu cepat. Raut wajahnya berubah menjadi lebih cerah. Sepertinya wanita itu mulai jatuh ke dalam perangkap cinta yang dipasang Dareen. Pertahanannya runtuh sekejap dengan genggaman hangat suaminya. Senyum manis merekah dari wajah sendu yang diperlihatkan beberapa menit yang lalu. “Senyum kamu manis. Terus senyum seperti itu,” tutur Dareen yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik dan ekspresi Nada. Kejadian kedua mempelai ini sejak tadi diperhatikan oleh sepasang mata yang iri dengan kedekatan keduanya. Ya, siapa lagi kalau bukan Arelia dan Nathan Oliver, kakak sepupu Dareen Felix. Kedua orang itu, sejak tadi memperhatikan perubahan ekspresi keduanya dari bangku tamu. Tak pelak senyum tersungging dari wajah mereka. Sungguh suatu pemandangan yang tak boleh dilewatkan. Ini pasti seru untuk bahan guyonan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.9K
bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
83.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook