Night at Bluefire

1286 Kata
Yeji perlahan mulai tenang. Tapi hatinya yang tidak mau tenang ketika baru menyadari posisi mereka tadi. Hah! Sesantai itu ia duduk di pangkuan Jeno dan saling berpelukan. Yeji agak meringis. Pelukan Jeno begitu hangat dan nyaman. Aroma kopi lembut itu juga membuat Yeji bisa berlama-lama disana. Pelukan yang mengingatkannya pada kehangatan yang dulu ia dapat dari papa. Hufft.. Mengingat papa, Yeji jadi khawatir Jeno akan melakukan sesuatu pada ayahnya. Percaya diri sekali! Yeji mendengus menertawakan diri sendiri yang berpikir Jeno akan mendatangi ayahnya untuk membalaskan apa yang pernah pria tua itu lakukan padanya. Tapi, 'I should've kill him.' Jeno terdengar serius saat mengatakannya. Ck. Sekarang Yeji sedang dilema. "Kenapa?" Suara pria disamping Yeji menyadarkannya dari lamunan yang kelewat absurd. Menolehkan kepalanya, Yeji menatap Jeno yang sedang melepas sabuk pengaman. "Apanya yang kenapa?" Jeno mengernyit saat Yeji menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan lagi. "Kamu ngelamunin apa sampe gak sadar kita udah nyampe?" Yeji langsung melihat sekitar dan menyengir lebih ke meringis sebenarnya. Ia bahkan tidak sadar Jeno keluar untuk membuka gerbang gua. "Heh! Ngelamun lagi. Ayo bantu bawa eskrim nya. Jisung sama Yuna bakal nangis kalo eskrimnya meleleh." Ujar Jeno menjentikkan jarinya di depan wajah Yeji. Yeji mengangguk lalu mengambil satu kantong plastik di kursi belakang. ? "Yeaayy!!! Jeno oppa dat-." Yuna yang berteriak menghampiri Jeno terhenti saat melihat Yeji yang berdiri dibelakang Jeno. "Yeji Eonnie ikut?" Yuna memberikan sorot bertanya pada Jeno yang mengendikan bahunya. Yeji mulai merasa canggung. "Yuna kira Jeno oppa mau nginep." "Emang nginep." Ujar Jeno singkat lalu berjalan masuk ke arah dapur. "Kok lama, Jen? Ngapain du-?" Shuhua juga mengernyit saat melihat Yeji. "Yang lo maksud tadi itu Yeji?" "Hmm. Itu eskrimnya agak meleleh masukin kulkas aja dulu." Ujar Jeno meninggalkan teman-temannya yang masih meminta sorot penjelasan. "Ayo." Jeno mengajak Yeji yang sudah amat-sangat tidak nyaman ke tempat lain. Melihat gadis yang terus menunduk itu Jeno menggenggam tangan Yeji yang seketika mendongak. "Ingat apa yang aku bilang tadi? Siapa yang berkuasa disini?" Menghembuskan nafasnya lambat lewat hidung, Yeji menjawab. "Kamu." "That's right. Jadi gak perlu takut." Mereka sudah sampai di depan sebuah pintu dengan gambar anjing siberian husky dan beruang madu. Jika Yeji memperhatikan, setiap kamar di markas memiliki gambar sesuai dengan julukan masing-masing member. Ya, ini ruangan Jeno dan Haechan. Pertama kali melihat kamar itu, Yeji merasa agak aneh karena kamar ini berbanding terbalik dengan kemewahan di ruangan sebelumnya. Tapi terlihat begitu nyaman. Mengingatkan Yeji pada kamarnya di rumah dulu. Kamarnya yang dulu memang sederhana. Aroma mawar yang kuat tapi menenangkan menyeruak dalam indra penciuman Yeji. Senyum di wajah Yeji mengembang karena tidak terlalu terintimidasi dengan kemewahan yang tiga bulan ini terus mengelilinginya. "Masuk." Ujar Jeno yang mendengus geli saat melihat wajah Yeji. Wajah gadis itu lucu ternyata. Kelewat lucu. Sehingga berbahaya untuk kesehatan jantung Jeno. "Aku mau mandi dulu. Kamu bisa nunggu disini atau mau keluar juga gak papa." Yeji hanya mengangguk dengan mata yang masih memperhatikan sekitar. "Kamar aku aneh banget ya sampe harus di liatin gitu?" Ujar Jeno menyilangkan tangannya di depan d**a. "Nyaman and warm." 'Kayak yang punya' Yeji mengerjap dengan slide comment yang muncul tiba-tiba di otaknya. "Mikir apalagi? Kamu sering ngelamun." "E-enggak. Sana mandi. Aku tunggu disini aja." Jeno mengangguk dan berjalan ke arah lemari dan membuka kemejanya begitu saja di depan Yeji yang melotot kaget. Yeji ingin memejamkan matanya. Sungguh. Tapi dia terlalu shock bahkan untuk berkedip. Dia jadi salah fokus pada pahatan indah di perut pria itu yang membuatnya menelan saliva nya kelat. Shit! It looks like a chocolate bar. Astaga Yeji!! Jaga mata!! Batin Yeji menyadarkan. Sedangkan Jeno yang melirik sebentar pada wajah Yeji yang memerah tersenyum miring. Anggap pembalasan untuk apa yg gadis itu lakukan ketika melepaskan ikat rambut dan menyugarnya menggunakan jari. "Kenapa? Bagus, ya?" Ucap Jeno sambil tersenyum usil. Yeji membelalakan matanya sebelum menatap Jeno sengit. "Lee Jeno!" Jeno tertawa lalu mengambil baju gantinya dan berjalan ke kamar mandi. Sebelum masuk dan menutup pintu, Jeno berkata. "Mau ikut?" Masih dengan senyum usilnya. "Lee Jeno sialan!!" Yeji akhirnya mengeluarkan kata-kata mulia nya diiringi dengan sebuah buku melayang ke arah pintu kamar mandi yang segera Jeno tutup. Masih mengatur nafasnya yang memburu karena emosi Jeno menjahilinya dan juga malu karena kedapatan menikmati pemandangan coklat bar buatan Tuhan itu. Menangkup pipinya yang memanas, Yeji mengerang karena merasa bodoh. Sialan! Perut itu mengingatkannya pada salah satu tokoh novel yang ia baca. Tok tok tok! "Lee Jen?" Yeji mengangkat kepalanya pada pintu yang terbuka memunculkan Shuhua yang tersenyum kaku. "Jeno kemana?" "Lagi mandi." "Oh. Ehmm.. Mau ikut ke dapur? Kita masak disana." Yeji berpikir sebentar lalu mengangguk. ? Jeno yang sudah selesai bingung ketika mendapati kamarnya kosong. Yeji kemana? Segera keluar dan menuju dapur, Jeno menemukan Yeji sedang membantu Shuhua dan Jaemin memotong beberapa buah. "Hey, I was looking for you." Ujarnya lalu duduk di sebelah Yeji yang menjawab dengan senyuman. Suasana tumben sekali hening dan Jeno paham member phoenix masih bingung. Beberapakali Haechan, Jaemin, dan Renjun mencoba mencairkan suasana. Berhasil memang, tapi masih saja canggung. "Emang nanti mau nonton apa?" Tanya Yeji pelan pada Jeno. "Film horror biasanya. Mereka suka dikagetin dan di takut-takutin." Jeno keluar dari game yang ia mainkan lalu melihat pada Yeji yang mengernyit. "Horror hantu, kan?" Yeji memastikan. "Kenapa? Takut?" Yeji menggeleng. Dia tidak takut hantu. Tapi dia tadi mendengar Jaemin menyebut judul yang akan mereka tonton. 'The Texas Chainsaw Massacre.' Ia pernah mendengar film itu. Bukan hantu memang. Tapi film itu salah satu film yang membuktikan kalau manusia lebih menyeramkan dari hantu. Dan itu mengingatkannya pada masa-masa dimana ia masih tinggal bersama ayahnya. "Aku gak ikut nonton boleh?" "Why? Kita bisa ubah fil-." "No. Aku juga kebetulan ngantuk." Yeji langsung menyela. "Yakin?" Jeno bertanya. Yeji mengangguk yakin karena dia benar-benar tidak mau gangguan paniknya kambuh lagi. Sungguh. Karena kejadian di supermarket tadi tubuhnya benar-benar pegal. Pusing dan takut membuat otot tubuhnya menegang berlebih. "Gak mau makan dulu?" "Kan tadi udah." Yeji tersenyum membuat fokus Yeji tertuju pada bibir tipis yang ternyata berwarna merah muda tanpa dipoles apapun. Sebelum otaknya traveling terlalu jauh, Jeno mengangguk. ? "Aku tidur dimana?" Tanya Yeji usai ia keluar dari dapur bersama Jeno. "Dikamar aku aja." Jawaban Jeno membuat Yeji terhenti. "Tenang aja. Aku nanti tidur di tempat lain." Kata Jeno melihat wajah terkejut Yeji. "Yakin?" "Iya yakin. Bisa sama Jisung, bisa di mini theatre. Banyak tempat disini." Yeji mengangguk lalu masuk ke kamar dengan nuansa kuning hangat itu. "Lampunya bisa di terangin gak?" Karena ini terlalu gelap untuknya. Jeno berpikir sebentar karena memang kamarnya di desain tidak terlalu terang. "Tunggu disini." Jeno keluar untuk mengambil lampu portable di kamar Somi. Tak butuh waktu lama, Jeno tiba. "Gak papa kan kalau aku tinggal sendiri?" Ujarnya yang duduk di sisi ranjang. Lagipula ia harus berbicara dengan yang lain agar bisa mengerti dan menerima Yeji untuk masuk di bluefire beberapa hari kedepan karena ia tidak mungkin membiarkan Yeji sendiri sedangkan ia tidak tahu apakah Papa Yeji masih memata-matai putrinya atau tidak. "Nggak papa. Kamu serius ada tempat untuk tidur?" Yeji mengubah posisi tidurnya jadi menyamping sambil menikmati usapan tangan Jeno di kepalanya. "Iya ada. Tenang aja." Jeno menarik selimut dan membentangkannya menutupi tubuh Yeji yang segera meringkuk mencari kehangatan. Dan semuanya terjadi begitu saja saat Jeno memberi sebuah kecupan singkat di sisi kepala Yeji. "Good night." Bisiknya. Yeji terpaku. Karena untuk sesaat ia merasa ia adalah tokoh utama di dalam novel romansa. Saudara tirinya ini membuat Yeji berharap akan suatu hubungan yang lebih dari teman ataupun saudara juga membuat Yeji apakah cinta itu benar-benar ada? Sedangkan Jeno.... Entahlah... Pria itu menelan salivanya kelat saat menghirup aroma vanila yang menguar dari rambut Yeji. Aroma itu terus menggangunya semenjak ia membiarkan Yeji duduk dalam pangkuannya di mobil. Menghela nafas berat, Jeno berpikir untuk mulai memperjelas perasaan yang ia punya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN