Sekarang Jeno sedang duduk di mini theater sambil memakan eskrim cone rasa tiramisu. Mengabaikan tatapan penasaran teman-temannya yang bahkan menunda untuk menonton demi sebuah penjelasan.
Tak lama, Jeno selesai dan mengelap sisi bibirnya dengan ibu jari. "Gue gak tau harus mulai dari mana." Ujarnya lalu mengambil bantal dan memeluknya.
"Well, kenapa bawa Yeji kesini?"
Jeno mengernyitkan dahinya mendengar tanya Ryujin. "Gue kira cuma Somi yang kontra sama dia."
"Ini bukan masalah pro dan kontra, Lee." Ujar Shuhua.
"Ya terus?"
"Sedeket itu sampe lo bawa dia kesini? Saat lo tau dia inceran utama Theo?" Tambah Shuhua.
"Kayaknya gue yang harus nanya ke lo, Sha. Berapa kali lo curigain gue hari ini?" Jeno memberi sorot mencurigai pada Shuhua yang menatapnya tajam.
"Gue cuma peduli. Lo sendiri yang bilang Yeji gak akan pernah jadi member Phoenix. Apa yang bakal Hawk bilang kalau tau lo ingkar sama ucapan lo?"
"Yang bilang Yeji jadi member Phoenix siapa?" Jeno mengernyitkan dahinya menatap Shuhua.
"Lo yang bikin seolah-olah kayak gtu." Ucap Ryujin.
Menghela nafas Jeno memberi sorot serius pada member terlebih yang perempuan -karena untuk member lelaki phoenix merasa ini bukan masalah penting- yang seketika melunturkan tatapan sinis yang mereka beri. "Dia bukan member phoenix. Dan selamanya akan gitu."
"Tapi dia adalah orang yang harus member Phoenix lindungi." Tambah Jeno
"Dengan alasan?" Tanya Somi.
"Kalian tau dia inceran Theo dan masih gak mau lindungin dia? Ketika kalian tau separah apa obsesinya Theo sama Yeji dan kalian bakal biarin dia gitu aja?"
Ryujin yang geram langsung menjawab. "Artinya Hawk bakal semakin nganggep kita lawan. Masalah lagi."
"Lo takut, Ryujin?"
"Bukan git-"
"Kalo bukan takut jadi masalahnya dimana?" Jeno menyela sambil mengistirahatkan tubuhnya di sandaran sofa bed.
Suasana hening menguasai ruangan persegi yang begitu nyaman dan hangat karena member phoenix tidak bisa menjawab Jeno dan hanya menunduk sebelum mendongak saat Jeno berujar. "Tadi ada yang nguntit Yeji."
Membelalakan mata, mereka terfokus lagi pada Jeno.
"Makanya tadi gue minta Renjun lacak tracker yang gue pasang."
"Theo?" Terka Renjun.
"Bukan.. Papa kandung Yeji."
Ucapan Jeno membuat jantung member phoenix seketika mencelos. Terror ayah kandung Yeji yang mengerikan ternyata belum berakhir.
"Dirumah besar ga ada siapapun makanya gue bawa dia kesini. Gue tau terlalu tiba-tiba buat kalian, tapi gua gak punya pilihan lain. Satu-satunya tempat yang aman cuma disini baik itu dari Theo ataupun dari Papa Yeji."
Dengan wajah yang menunjukkan sorot khawatir dan prihatin, mereka mengangguk.
"So, protect her. That's an order." Perintah Jeno mutlak.
?
Hari ini adalah seminggu setelah Jeno membawa Yeji ke Markas. Hubungan Yeji dengan member phoenix membaik. Yang membuat Jeno terkesima adalah Somi.
Somi terlihat tidak suka pada Yeji tapi di hari kedua Yeji bermalam di bluefire, Somi mengizinkan bahkan memaksa Jeno untuk membiarkan Yeji tidur di kamarnya. Jeno yang merasa aneh tak bisa menahan diri untuk bertanya pada Somi dan wanita itu menjawab, "Kamar lo gelap. Dia punya nyctophobia."
Jeno tak menyangka malah Somi yang sangat dekat Yeji ketika Jeno berpikir membuat Somi menerima Yeji akan cukup sulit.
Bahkan sekarangpun, Yeji sudah pergi bersama Somi untuk mengganti baju sedangkan Jeno masih duduk sendiri di lapangan golf yang sepi karena memang hanya akan ramai saat sore hari ataupun pagi hari. Di siang hari, lapangan golf ini tidak ada yang tertarik untuk datang.
Mungkin hanya Jeno yang tertarik. Karena kepalanya mulai pusing dengan kebisingan murid-murid yang lain.
Namun keheningan itu tak bertahan lama saat ada yang datang dan berdiri di depan Jeno ikut menatap pada hamparan rumput hijau lapangan golf.
Pria itu adalah Theo. Jeno jelas tahu postur tubuh tinggi dihadapannya.
"Lee Jeno yang agung. Gue kira lo bukan tipe yang bakal makan omongan lo sendiri." Suara Theo mengudara membuat keheningan itu agak terusik.
Jeno meminum air putih sebelum menjawab, "Omongan gue yang mana? Yang tentang gue bakal bakar markas Hawk kalo lo ngusik Phoenix dan pake Yeji sebagai umpan?"
Theo berbalik melihat Jeno yang sudah menatapnya sambil menyilangkan kaki. "Berhubungan lah sama apa yang gue maksud."
"Maksudnya?" Jeno mengernyit.
"Tentang ucapan lo yang gak akan jadiin Yeji sebagai member phoenix."
Jeno tertawa. "Lo harus ganti informan lo, Theo. Berapakali lo dapet info palsu dari dia?"
"Sayangnya itu gak palsu ngeliat gimana kalian udah deket banget sama Yeji." Theo melipat tangannya di depan d**a.
Tersenyum, Jeno bangkit lalu menepuk pundak Theo. "Dia bukan member kita tapi mulai sekarang dia punya perlindungan ganda dari Phoenix."
Tersenyum remeh, Jeno berujar, "Kenapa? Lo masih mau rekrut dia? Well, good luck." Jeno beranjak untuk mengganti bajunya karena sebentar lagi ia ada kelas konsultasi mental.
"Terus gimana sama Lia?" Perkataan Theo membuat langkah Jeno terhenti dan berbalik pada Theo.
"Jangan kira gue buta, Jeno. Lo suka sama saudara tiri lo." Theo menyeringai. "Apa Yeji tau kalo lo udah tunangan?"
Jeno terkekeh geli. "Emang kenapa kalo Yeji tau gue udah tunangan? Asal lo tau, tunangan itu cuma buat Merger Marketing. Itu cuma pertunangan uang yang bisa gue batalin kapanpun gue mau."
"Lo pikir gue bakal biarin kejadian Lia terulang lagi?" Raut muka Theo menjadi serius.
"Kejadian apa? Kejadian lo yang terlalu takut buat confess ke Lia sampe keduluan orang tua Lia yang langsung jodohin sama gue?"
"Ck.. Theo.. Theo... Kayaknya kejadian itu udah terulang lagi. Lo yang terlalu takut dan sok keren buat confess sampe keduluan orang lain."
Theo tersenyum penuh arti pada Jeno. "Lo dapetin Lia karena pengaruh orangtua lo. Menurut lo apa yg akan papa lo lakuin saat tau hubungan lo sama Yeji?"
Kali ini Jeno tertawa. Begitu keras sampai pria itu memeluk perutnya karena terlalu lucu pada ucapan Theo. "Hahahaha! Kayaknya kita harus lurusin beberapa hal, Theo. Pertama, gue gak pernah berusaha dapetin Lia. Dia 'dikasih' sama orang tuanya buat gue. Gue yang gak mau semua aset gue disita bisa apa selain nerima?"
Jeno menghilangkan raut ramah diwajahnya. "Kedua, karena lo juga udah tau gue usaha buat dapetin Yeji, kita bersaing secara sehat. Sebagai cowok sejati."
Pemuda Lee itu melangkah kedepan mensejajarkan tubuhnya dengan Pemuda Choi yang tak lagi tersenyum remeh, lalu berbisik. "Fyi, Theo. Gue udah ada satu langkah di depan lo."
?
Bluefire ternyata tidak sekaku yang Yeji kira. Orang-orangnya ramah dan hangat terlepas dari image menakutkan mereka di sekolah. Mungkin itu alasannya Jeno lebih suka disana dibanding di rumah besar.
Ia pun merasa begitu.
Penerimaan member phoenix membuat hatinya tenang.
Yeji tidak pernah lagi berangkat dan pulang sekolah sendiri. Selalu bersama member phoenix. Ia merasa begitu di lindungi.
Ada banyak hal yang Yeji ketahui tentang phoenix.
Ternyata nama phoenix di pakai karena semua membernya adalah potterheads. Beruntung mereka tidak menamai perkumpulan itu dengan nama hogwarts atau nama-nama asrama di sana.
Hal wajib di bluefire adalah menonton film bareng dan bermain baseball. Makanan yang wajib ada adalah jelly, eskrim, mie dan makanan buatan Shuhua.
Renjun sangat menyukai choco cookies buatan shuhua sedangkan Yuna dan Jisung suka muffin. Chenle adalah chef kedua disana. Mie buatannya disukai semua member. Bahkan Yeji terkejut saat pertama kali mencoba karena saking enaknya.
Somi ternyata lebih ramah dari yang Yeji kira. Yeji bahkan tidak percaya kini ia jadi begitu dekat ketika sebelumnya ia dan Somi hanya akan saling melemparkan tatapan sinis jika bertemu.
Satu hal lagi.
Jeno dan Jisung setiap sabtu akan pergi ke Busan untuk ke makam Bunda mereka. Sore mereka berangkat dan ketika malamnya hanya Jisung yang muncul sedangkan Jeno akan datang minggu sore bahkan malam.
Seperti hari ini. Yeji sedang duduk di windows bench nya menunggu Jeno yang bahkan jam 8 malam belum datang.
Kadang Yeji penasaran apa yang Jeno lakukan di Busan. Dimana pria itu tidur?
Haechan bilang phoenix punya satu markas kecil di Busan, tapi apa yang Jeno lakukan di Markas yang Ryujin bilang lebih tepat di sebut gudang penyimpanan itu?
Entah lah.. Yeji tidak tau... Ia juga tidak berani bertanya.
Soal hubungannya dengan Jeno...
Ia juga tidak tahu pasti.
Jeno penuh dengan perhatian kecil manis yang membuat Yeji nyaman dan berharap akan sebuah kepastian.
Tapi kala mengingat status mereka sekarang ia jadi bingung sendiri. Saudara tiri. Walaupun tiri, sepertinya jika ada hubungan yang serius diantara mereka tetap saja terdengar salah.
Yeji menghela nafas lalu menyenderkan kepalanya ke kaca jendela. Yeji hanya bisa mengikuti alur yang Jeno buat.
Seketika wajah murung itu berseri ketika mendapati sebuah motor hitam yang sangat ia tahu jelas milik siapa memasuki garasi rumah.
Yeji bangkit untuk mengembalikan buku yang ia baca ke tempat semula dan merapihkan kamarnya yang agak berantakan karena bosan menunggu Jeno datang.
Ketika sedang memasang selimut ke kasur, pintu kamar Yeji diketuk dari luar.
Membuka pintu, Yeji disambut dengan senyuman manis pria yang ia tunggu sejak tadi.
"Hai." Sapa pria itu hangat membuat senyum ikut mengembang diwajah Yeji.
Akhirnya perasaan gelisah dan sesak setiap tak melihat Jeno, menghilang dari d**a Yeji yang seketika berbunga-bunga.
Sedangkan Jeno terdiam menikmati wajah yang terus mengganggu pikirannya ketika di Busan.
Si cantik bermata indah.
Mereka terdiam saling tatap untuk mengagumi wajah mereka masing-masing mengobati apa yang orang bilang 'rindu' yang telah menjalar dan tumbuh subur tanpa bisa dikontrol.
Lalu pandangan Jeno jatuh pada pipi bulat yang merona itu.
Jeno mengangkat tangan kanannya untuk mengusap pelan pipi Yeji yang mengerjap kaget.
Lalu usapan itu berubah menjadi sebuah cubitan gemas dari Jeno yang terkekeh lucu.
"I miss you." Ujar Jeno sambil menatap lekat pada manik hazel Yeji.
Ya tuhan...
Kaki Yeji lemas seketika.