Real Fear

1649 Kata
Di kamar nuansa putih itu Yeji menutup matanya tenang. Dengan suara Jeno yang bergema tak kalah menenangkan ia dengar. "......Bagai bintang yang berkelap-kelip indah di tengah gelapnya langit malam. Kehadirannya bagaikan bintang terang dan langit gelap adalah kehidupanku yang kelewat kelam...." Jeno membaca kata perkata di salah satu novel romansa yang Yeji koleksi. Sambil beberapa kali melirik pada gadis yang menyandarkan kepala di bahunya. Sedikit pegal tapi ia tetap ingin Yeji bersandar padanya. Menikmati aroma vanila yang menguar dari rambut hazel yang jatuh menjuntai indah menjadi candu barunya. Jeno sedikit menurunkan buku yang ia pegang. Dia menyingkirkan beberapa helai rambut Yeji yang mengganggu pemandangannya. Jeno merasa dia tak akan pernah bosan dengan wajah Yeji. Empat hari yang lalu ia membuat wajah Yeji memerah seperti kepiting rebus karena Jeno memperhatikan wajah cantik itu dengan intens cukup lama hingga Yeji salah tingkah dan langsung menyembunyikan wajahnya dengan selimut. Membuat Jeno kian gemas. Karena suara Jeno tidak lagi terdengar, Yeji mendongak dan mendapati Jeno sedang menatapnya untuk yang kesekian kali. Wajah bulat itu mencebik dengan pipi yang lagi-lagi merona. "Tuhkan kamu mulai lagi." Gadis itu merengek dan menegapkan tubuhnya. "Emang aku kenapa?" Jeno menggoda Yeji dengan memperdalam tatapannya dan mendekatkan wajahnya hingga hanya tersisa jarak 10 cm dengan wajah Yeji. Itu terlalu dekat untuk Yeji hingga hembusan nafas Jeno terasa di wajahnya. Wajahnya kian panas. Jeno yang selalu suka pada wajah merona Yeji tertawa geli melihat Yeji yang mengerjap kesal. Jeno mencubit kedua pipi Yeji. "Kamu jangan ngegemesin gitu kalo lagi kesel." Bibir Yeji kian mencebik membuat pandangan Jeno beralih pada bibir merah muda yang sering kali gadis itu gigit tanpa alasan. Terlebih ketika Yeji sedang terfokus pada sesuatu maka bibir itu akan semakin gencar digigit. "Ini juga ngapain bibir dimaju-majuin, hah?" Jeno melepaskan cubitan tangan kanannya pada pipi Yeji dan beralih mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada bibir Yeji. Jangan tanya bagaimana keadaan Yeji. Sudah memerah parah dengan jantung jumpalitan tak menentu. Beberapa hari ini Jeno seringkali membuat Yeji seperti itu. Dari mulai kecupan kecil di puncak kepala, hingga punggung tangannya Jeno lakukan sebelum mengucapkan selamat malam. Sering kali Yeji dapati Jeno tengah memperhatikan dirinya diam diam ataupun terang-terangan. Sudah Yeji bilang itu membuat Yeji berharap akan kepastian, kan? "Kenapa?" Jeno yang sebelumnya tersenyum usil segera menangkup wajah Yeji ketika ia melihat sorot sendu terlintas. Menghela nafas, Yeji menggelengkan kepala sebelum melepas tangan Jeno di pipinya lalu menggenggam tangan penuh urat itu erat. "Kamu ngapain aja di Busan?" Tanyanya untuk mengalihkan apa yang sesungguhnya ia pikirkan. "Nengok Bunda." Jeno mengambil alih genggaman itu dan mengusap pelan tangan Yeji. "Jisung juga nengok tapi gak nginep." Yeji menunduk. Merasa ada yang salah, Jeno mengangkat dagu Yeji dengan ibu jarinya. "Kenapa?" Tanya Jeno lagi. "Aku..." Jeno menghela nafas dan mengusap pelan rambut Yeji. "It's okay kalau masih belum mau ngasih tau." Yeji menggeleng lalu mengistirahatkan lagi kepalanya di bahu Jeno bedanya kali ini mereka berhadapan dan hanya terhalang kedua kaki mereka yang saling menyilang. "I miss you too." Tersenyum sambil mengelus rambut Yeji, Jeno mengubah posisinya untuk duduk disebelah Yeji dan bersandar di jendela, membuat Yeji semakin nyaman. "Aku ajak kamu kesana nanti." "Kamu janji?" Yeji mengangkat jari kelingkingnya. Astaga.. Yeji benar-benar menggemaskan. Menautkan jari kelingking mereka, Jeno menjawab, "Janji." "Aku lanjutin baca?" Yeji hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Jeno kembali membaca rangkaian kata yang tersusun begitu rapi dan indah itu. Dua jam berlalu. Jeno melirik jam yang sudah menunjukan pukul 10 malam lewat dan gadis di sampingnya ini ternyata sudah tertidur. Meletakkan bukunya, Jeno mengangkat Yeji untuk dipindahkan ke tempat tidur lalu menyelimuti gadis itu. Jeno duduk di sisi ranjang sambil merapihkan rambut Yeji sebentar sebelum menunduk dan mengecup dahi Yeji lalu berbisik, "Have a nice dream." Pria itu keluar dari kamar Yeji dan memasuki kamarnya untuk mandi. Jeno masih berpikir apakah ia harus memberi tahu Yeji kalau dia sudah bertunangan? Tapi pertunangan tanpa cinta itu jelas bukan sesuatu yang penting dibanding dengan cara bagaimana ia mengambil satu langkah lebih maju dan memperjelas hubungan yang ia inginkan dengan Yeji. Pepohonan berubah warna menjadi gradasi warna orange, coklat dan merah menandai bahwa awal musim gugur baru saja dimulai. Jeno tidak suka musim gugur. Udaranya begitu ambigu. Ia akan merasa kedinginan tapi terlalu panas untuk minum minuman hangat. Satu hal yang ia suka tentang musim gugur adalah warna dedaunan itu. Jeno selalu merasa takjub pada musim gugur. Jadilah Jeno duduk diatap sekolah untuk memandangi gradasi warna itu. Hening. Jeno suka. Mencoba menyangkal hatinya yang entah mengapa gelisah, Jeno merasa ada sesuatu yang salah atau ia lupakan tapi ia tak tahu pasti. Jadinya dia melanjutkan untuk tenggelam dalam keheningan mencoba mencoba mengerti perasaannya yang tiba-tiba jadi tidak enak. Namun keheningan itu tak bertahan lama saat pintu atap terbuka dengan kasar dan muncul lah Bomin dengan wajah paniknya yang membuat Jeno mengernyit. "Gawat, Jen! Yeji!" Segera bangkit, Jeno mendekati Bomin. "Yeji kenapa?" "Dia ilang! Tadi anak-anak bilang Yeji ngilang gitu aja pas di Mall! HP nya juga gak bisa dihubungin." Tak ada tersangka lain di otak Jeno selain Ayah Yeji karena Jeno melihat Theo masih ada di lapangan Golf. Jeno segera menghidupkan ponselnya yang segera diberondong oleh panggilan tak terjawab dari sahabatnya. Panik meraja, Jeno segera berlari untuk turun dari atap diikuti Bomin. Pria itu menghubungi Somi dan langsung diangkat. "Jeno lo dimana?! Gue daritadi telpon lo!" "Gimana caranya dia bisa ilang, Somi?! Dibawah pengawasan kalian langsung!" Menekan beberapakali tombol lift yang tak kunjung terbuka, Jeno menggunakan tangga darurat. Jeno heran sekaligus geram. Bagaimana bisa ketika seluruh member ada bersama Yeji saat itu. "Gak tau! Tadinya dia ijin ke kamar mandi dan karena deket dia gak mau dianter jadi gue biarin aja. Tapi dia gak keluar-keluar dan pas kita cek dia udah gak ada." Isakan Somi terdengar membuat Jeno yang benar-benar ingin memaki jadi tidak tega. Menaiki motornya, Jeno bertanya sebelum memakai helm. "Sekarang kalian dimana?" "Kita di mall. Masih nyisir tempat ini takutnya dia ke toko lain. Maaf Jen." Tangis Somi terdengar membuat Jeno semakin panik. Segera mematikan ponselnya, Jeno memacu kuda besinya menuju Mall tempat sahabatnya dan Yeji pergi. Shit! Sebentar lagi malam dan Jeno benar-benar akan gila. Tiba di Mall bersama Bomin, Jeno segera disambut oleh member phoenix yang sudah berkumpul di lobby mall. "Shuhua sama Renjun masih stay di customer service takutnya Yeji kesana." Ujar Haechan. "Kita udah nyisir semua lantai dan kamar mandi tapi gak ada." Tambah Jaemin. "Kalian udah cek tangga darurat?" Tanya Jeno. "Belum." Jawab mereka. "Jisung lo ke rumah besar, jaga-jaga kalau dia pulang. Haechan lo ke security sistem buat cek CCTV, Somi temenin Shuhua di customer service, Ryujin Jaemin lo cari di tangga darurat, Chenle Chaeryeong dan Yuna cari di basement. Suruh Renjun turun ke sini dan lacak tracker yang gue pasang." Tak butuh waktu lama mereka segera berpencar menyisakan Jeno yang bertanya pada Bomin. "Tempat yang biasanya dia datengin dimana aja?" "Gue gak tau, Jen. Tuh anak gak bakal kemana-mana selain ke sekolah. Tau sendiri keadaan dia gimana." Mengerang sambil menyugar rambutnya, Jeno memerintahkan Bomin untuk berjaga di Sekolah. "Just in case. Kayak yang lo bilang dia gak akan kemana-mana selain ke Sekolah." Bomin mengangguk dan mengajak beberapa anggota keamanan sekolah untuk berjaga. Sialan! Jeno tau pasti ada sesuatu yang salah. Inikah alasan dirinya tak bisa tenang sedari tadi? Begitu Bomin pergi Renjun datang. "s**t, Jen! Dia ada disekitar sini tadi." Informasi Renjun mebuat rahang Jeno mengeras. Telpon Jeno berdering dan langsung pria itu angkat saat nama Haechan muncul. "Ada yang narik dia pergi, Jen! Gue gak bisa liat siapa tapi dia pake baju serba item." "f**k! Pantes aja dia gak teriak. Cowok itu megang pisau Jen." Tambah Haechan. Tubuh Jeno melemas. Kepalanya pening dan takut yang tak pernah ia rasakan mulai menghampiri tubuhnya. "Jen! I found him." Jeno segera melihat Renjun yang membuka aplikasi pelacaknya yang terlihat seperti google satelite. "Masih di sekitar Gangnam. 5 Km dari Mall." "Share lokasinya. Gue tunggu kalian disana." Jeno segera berlari ke motornya untuk pergi duluan. God please... Mohonnya saat langit mulai gelap. Harusnya ia ikut ke mall tadi. Tapi saat ini bukan waktunya untuk menyalahkan diri sendiri, Yeji ada dalam bahaya. Hanya butuh waktu beberapa menit Jeno sampai di tempat yang Renjun share. Motor itu ada di parkiran sebuah mini market tapi penggunanya tidak ada. Jeno tetap masuk untuk menyisir tempat itu namun hasilnya nihil. Saat ia keluar motor dan mobil teman-temannya sudah berkumpul juga di depan mini market. Jeno memerintahkan mereka untuk segera berpencar. Langit sudah benar-benar gelap membuat wajah Jeno semakin pucat dengan ketakutan yang semakin nyata. Tak henti-hentinya ia berdoa agar Yeji baik-baik saja. Ditengah kekalutannya yang menjelajahi gang sepi dan gelap Jeno bahkan tak merasakan angin dingin yang menerpa tubuhnya. "Pergi! Aku mohon. Tolong!" "Itu.. Kayak suara Yeji Eonnie." Ujar Chaeryeong yang mengikuti Jeno. Ya. Jeno mengenali tangisan itu. Berlari menuju sumber suara dengan seluruh tenaganya menuju perempatan sepi yang tadi ia lewati, tiga-tiba saja ada sosok yang juga berlari keluar dari perempatan sehingga tubrukan tubuh itu tak bisa terhindari. Mencium aroma vanila lembut yang ia kenal, Jeno menyadari orang yang bertubrukan dengannya adalah gadis yang ia cari. Namun pandangan Jeno tertuju pada sosok berbalut baju serba hitam yang kali ini tak memakai masker, Jeno berteriak, "Phoenix! Here!" Jeno segera berlari mengejar pria yang juga berlari tak kalah cepat. "Sergap motornya! Kepung!" Haechan berteriak membuat Jeno berhenti ketika seluruh member phoenix yang ikut mencari. Berbalik, Jeno melihat Somi dan Shuhua memeluk Yeji sambil menangis. Berjalan mendekat dengan langkah lunglai Jeno sedikit meringis melihat rambut hazel yang diikat satu itu sudah tak berbentuk dan lutut gadis itu terluka. Jeno menarik Yeji untuk masuk dalam dekapan hangatnya. Ia memeluk gadis itu erat sambil terpejam sadar bahwa rasa takut itu masih ia miliki. "I'm sorry." Lirihnya. Yeji yang merasa begitu aman dan nyaman dalam pelukan Jeno memeluk pria itu tak kalah kuat. Pelindungnya sudah datang. Tidak akan ada yang menyakitinya sekarang. "Maaf." Mengecup puncak kepala Yeji lamat, Jeno kembali mengucapkan maaf yang Yeji jawab dengan mempererat pelukannya pada tubuh Jeno.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN