Daniel pulang dalam keadaan mabuk. Alessia pun membantunya. Dalam keadaan mabuk itu, Daniel memarahi Alessia yang telah membuat perencanaan pernikahannya dengan Alma berakhir. Alessia hanya bisa diam dan bersabar. Awas saja Daniel jika nanti anaknya sudah lahir. Ia akan pulang ke rumahnya meninggalkan Daniel sendirian. Ia akan membuat Daniel menyesal karena telah memperlakukannya seenaknya.
Esoknya, Daniel membuka matanya secara perlahan. Kepala Daniel berdenyut sakit. Melihat wajah yang tak asing di depannya, ia menutup matanya kembali dan langsung memeluknya sehingga Alessia perlahan membuka matanya karena terganggu.
“Daniel,” panggilnya pelan.
“Hmm,”
Alessia tersenyum, sepertinya mood Daniel sedang baik hati ini.
“Aku laper.” ucapnya. Alessia sadar sedari semalam ia belum makan.
“Ya makan.”
“Ga punya uang.”
Daniel mendecak. “Pesen aja ntar gue bayar.”
Alessia tersenyum lebar. Ia memeluk Daniel sangat erat dan mencium pipinya.
“Makasih.”
Daniel cuek.
Alessia langsung membuka fitur aplikasinya. Tak lupa ia bertanya kepada Daniel ingin makan apa, tapi Daniel menjawab terserah. Alessia pun memesan Ayam Geprek.
Ketika tukang kurir sampai, Daniel memberikan dompetnya. Alessia mengambil uang pecahan lima puluh ribu dan membayar kurir tersebut. Setelah diberikan kembalian, Alessia masuk kedalam kamarnya. Ia membangunkan Daniel dan mengajak makan bersama. Akan tetapi ketika melihat isinya adalah Ayam Geprek, Daniel langsung mengomeli Alessia. Ia tidak suka sambal dan tidak bisa makan pedas. Bisa-bisanya Alessia membelikannya Ayam Geprek. Alessia mau mengerjainya?
Alessia kaget. Ia meminta maaf karena dia tidak tau jika Daniel tidak suka Ayam Geprek maupun Sambel. Ia memesan i i karena Daniel tadi berkata terserah.
“Lo tuh ya, udalah... Masakin gue yang lain aja.” suruh Daniel.
“A- aku nggak bisa masak.”
“Hah?”
Alessia takut Daniel akan memarahinya lagi.
“Lo itu gimana sih?? Terus lo bisanya apaan Anjing? Sumpah beban banget sih lo itu.”
Alessia sakit hati mendengarnya.
“Damn it! Gila gue. Ngimpi apa Anjing, gue bisa nikah sama lo? Hah? Lo bego banget ya ampun.”
“Papa nggak pernah nyuruh aku masak, jadi maaf aku nggak bisa. Aku bakalan belajar, jadi jangan ngomong gitu.” ujar Alessia sambil menahan tangisnya.
Daniel menatapnya merendahkan.
“Itu kan emang fakta. Lagian bener nggak sih, itu anak gue?”
“Dan,” omel Alessia. Batinnya tersiksa.
“Terserah lo deh, sana jauh-jauh dari gue. Bawa juga makanan lo! Gue males lihat muka lo!”
Alessia hanya bisa menahan amarahnya dan mengigit bibirnya. Ia lalu bangkit dan membawa makananya keluar dari kamar. Alessia menangis. Sekuat tenaga ia tahan isakannya. Dengan gemetar, ia mengambil handphonenya dan berusaha menelfon papanya. Alessia mau pulang. Ia tidak betah hidup dengan Daniel.
Sayangnya, seperti kemarin. Telfon tersebut tidak di angkat.
***
Daniel pergi keluar lagi meninggalkan Alessia sendirian. Kini tinggal, Alessia seorang diri.
Drt...drt...
Alessia segera mengambil telfonnya. Ia berharap papanya yang menelfonnya. Tapi ternyata Mahesa yang menelfonnya. Alessia segera menjawabnya
“Woi, gimana kabar lo? Lo baik-baik aja?” tanya Mahesa dari sebrang.
“Gue baik kok.” jawab Alessia dengan suara yang bergetar.
“Hei, what happened? Are you okey? Kenapa suara lo bergetar gitu? Daniel ngapain lo? Dia kasar sama lo? Bilang sama gue Sa. I'll be there for you.”
Alessia terisak mendengar perkataan tersebut. Mungkin karena ia sedang hamil dan moodnya naik turun jadi ia langsung menangis mendengar seseorang yang mengkhawatirkannya. Padahal biasanya ia gampang sekali mengendalikan perasaannya. “Gue pingin pulang Sa. Gue nggak mau disini.” isak Alessia.
“Udah gue duga. Orang b******k itu pasti nyakitin lo. Share lock, ntar gue jemput.”
“Lo mau kesini? Emang lo dimana sekarang?” tanya Alessia sembari sekuat tenaga agar tidak terisak.
“Gue- di Nusa Dua sama Arabel nih. Tapi jangan khawatir. Gue pesen tiket ke Jakarta sekarang kok. Gue jemput lo.” jawab Mahesa.
“Gue nggak punya uang Sa. Papa ngusir gue gitu aja tanpa ngasih uang dan semua kartu gue di blok.”
“It's oke. Kan ada gue. Kayak sama siapa aja. Udah ya, gue pesen tiket dulu.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Mahesa mematikan telfonnya.
Alessia memegang telfonnya erat. Ia tersenyum. Ia harap ia bisa keluar dari sini. Ia tak ingin tinggal bersama Daniel.
Tapi sampai malam, Mahesa tak kunjung datang. Ketika ia sudah menyerah menunggu Mahesa. Mahesa terlihat didepan rumahnya. Mahesa langsung memeluk Alessia erat dan berkata sangat merindukan Alessia.
“Baby, kok lo makin kurus sih?” tanya Mahesa khawatir. “Lo tinggal disini?” tanyanya lagi.
“Iya.” jawab Alessia.
“Mau langsung pergi?” tanya Mahesa.
Alessia menganguk. Ia juga sudah membereskan baju-bajunya. Mahesa langsung mengangkat koper dan tas milik Alessia dan membawanya ke taxi online yang ia naiki tadi.
“Jalan Pak.” suruh Mahesa.
“Iya Kak.”
“Terus si b******k Daniel itu gimana?” tanya Mahesa ke Alessia.
“Ga tau, dia sering pergi ninggalin aku.”
“Emang stress sih, lagian lo juga sih Sa. Bisa-bisanya lo nikah sama dia. Kayak nggak ada cowok lain aja.”
“Ya gue juga nggak mau sebenarnya. Tapi mau gimana lagi, gue hamil anaknya.”
“Ya lo juga, bisa-bisanya hamil anaknya dia.” omel Mahesa.
Alessia diam. Ia tak bisa membalas perkataan Mahesa. Ia juga kalau tau laki-laki b******k yang ia jadiin partner itu kakaknya Gina yang terkenal b******k itu, Alessia juga nggak akan mau. Sayangnya, ia malah terpikat dengan wajah gantengnya. Ia harus mulai merubah pikirannya sekarang. Ia tidak boleh begitu saja percaya dengan laki-laki yang memiliki wajah ganteng.
Sementara itu, Daniel yang pulang ke rumah tak mendapati Alessia langsung pergi mencarinya ke tetangga sekitar. Daniel mencarinya bukan karena khawatir atau apapun itu. Ia juga tidak tau kenapa ia mencari perempuan bego itu. Yang ia pikirkan, Alessia sedang mengandung anaknya. Dan sekarang perempuan itu hilang entah kemana.
Meski Daniel tak mau mengakui anak yang dikandung Alessia tapi ia sangat amat sadar, bahwa anak yang dikandung Alessia itu memang anaknya. Ia tidak sebodoh itu sehingga ia tidak tau, itu anaknya atau bukan.
Daniel mengeluarkan handphonenya. Dan segera menelfon Alessia. Tapi sayang, handphone Alessia mati. Daniel akhirnya membiarkannya. Sebentar lagi, perempuan sialan itu pasti pulang. Memangnya mau pergi kemana perempuan yang tidak punya uang sepersen pun itu.