Alessia tak menyangka, saat ini ia bisa bertemu dengan Michael dan Arabella yang ada di Puncak. Mereka bertiga menyewa vila disini dan berencana menginap selama seminggu karena Mahesa yang tiba-tiba mengajak pergi ke Puncak, padahal sewaan hotel Arabel di Nusa Dua masih belum selesai.
Michael dan Arabel yang melihat kedatangan Alessia terkejut. terlebih ketika Mahesa yang membawa koper dan tas milik Alessia. mereka segera mendekati Alessia khawatir.
“Lo diusir sama si Daniel sialan itu?” tanya Arabel khawatir dan bercampur marah.
“Enggak, gue pergi dari rumah. Gue nggak tahan tinggal sama dia.”
“Dia KDRT?” tanya Michael.
“Enggak.” jawab Alessia jujur.
“Lihat nih, Alessia gue makin kurus gara-gara si b******k itu.” kali ini Mahesa yang menimpali.
“Udah masuk dulu, terus istirahat. Nggak baik orang hamil kecapean apalagi banyak pikiran.” suruh Michael.
Alessia berterimakasih lalu berjalan masuk kedalam ditemani oleh Arabella.
Michael langsung menatap Mahesa tajam yang hendak ikut masuk. Ia mencegah sahabatnya itu untuk mengejar Alessia.
“Lo bawa kabur istri orang?” tanya Michael ke Mahesa.
“Dia temen kita Kel,” balas Mahesa santai.
“Gue tau Sa, tapi astaga... Kenapa lo ceroboh banget? Dia istrinya Daniel. Lo tau kan orang nggak waras itu kayak gimana? Gimana kalo misalnya lo digebukin sama doi gara-gara lo bawa kabur istrinya?”
“Nggak mungkin lah, Daniel nggak akan peduli sama Alessia.” jawab Mahesa yakin.
Mahesa tidak tau bahwa keesokan harinya, ketika Daniel masih tidak menemukan keberadaan Alessia dirumah, Daniel mulai menelpon adiknya Gina, bertanya dimana istrinya itu. Meski Daniel terlihat membenci dan tak menyukai Alessia. Tapi Daniel masih memperdulikan keberadaannya. Terlebih wanita itu sedang mengandung anaknya.
Sebenarnya Daniel ingin tidak peduli, ada dimana Alessia. Hanya satu yang menganggu pkirannya hingga ia tidak tenang seperti ini. Alessia sedang hamil anaknya. Satu kenyataan itu membuat Daniel mau tak mau memberikan sedikit perhatian.
Mendengar jawaban adiknya yang tidak mengetahui keberadaan istrinya membuat Daniel semakin khawatir dan tidak tenang. Ia penasaran kemana perempuan itu pergi hingga tak kunjung pulang. Lebih baik saat ini ia mandi terlebih dahulu lalu mulai mencari istrinya. Akan tetapi, ketika ia akan berganti baju dan tak menemukan satupun baju istrinya, membuatnya langsung tertawa tak habis pikir.
Astaga, betapa bodohnya dia, Daniel menghela napas menahan amarah. Lihat saja nanti Alessia jika ia sudah menemukannya, beraninya wanita itu pergi darinya. Dia pikir dia bisa pergi darinya? Daniel tersenyum mengejek. Ia akan memesan tiket ke Malang sekarang.
"Tunggu sebentar sayang, kita akan segera bertemu." batin Daniel.
Ketika Daniel sedang asyik memilih tiket, Alma tiba-tiba menelponnya. Daniel terkejut. Sejak Alma tau kelakuan busuknya, Alma sama sekali tidak memperdulikannya. Tapi pagi ini, Alma menelponnya lebih dulu?
Senyum Daniel terbit. Daniel segera menelpon balik. Tak lama, panggilannya di angkat.
“Halo,”
“Halo Alma? Kamu telpon aku ya? Kenapa?”
“Aku mau ketemu kamu.”
“Kapan? Sekarang? Mau aku jemput nggak?”
“Nggak usah Dan, ditempat kayak biasa jam 10 ini.”
Daniel melihat jam tangannya. Ia tersenyum, “Oke.”
Daniel segera berangkat ke tempat ia biasa dan Alma bertemu. Daniel tidak tau Alma akan membicarakan apa, tapi sejak kemarin Alma selalu menghindarinya. Dan hari ini Alma tiba-tiba menghubunginya kembali. Daniel senang.
Sampai ditempat tujuan, Daniel langsung memesan menu kesukaan Alma. Tak butuh waktu lama Alma datang. Daniel tersenyum. Ia langsung memeluk Alma erat. Alma diam tak membalasnya. Daniel langsung melepaskan pelukannya.
“Aku udah pesenin kesukaan kamu.” kata Daniel.
“Thanks.” jawab Alma.
Daniel memperhatikan Alma. Wajah Alma tak secerah biasanya. Wajahnya terlihat sangat gelap dan penuh kesedihan.
“Alma, sorry ... Aku khilaf Al.”
“Kalau khilaf cuma sekali Dan,” kata Alma yang tiba-tiba saja airmatanya mengalir. “Aku nggak habis pikir sama kamu Dan, kamu punya aku! Tapi kenapa kamu ngelakuin hal kayak gitu sama perempuan lain? Aku kurang apa dimata kamu?”
Daniel memegang tangan Alma lembut. Tapi Alma menepisnya kasar. Daniel berusaha memegangnya kembali.
“Alma, nggak gitu sayang. Kamu nggak kurang apa-apa. Aku beruntung dapetin kamu. Aku- aku- kamu baik Al cantik, aku aja yang nggak bersyukur dapetin kamu.”
“Terus kenapa nggak aku Dan? Kenapa harus perempuan-perempuan itu?”
“Aku pingin jagain kamu Al. Aku nggak mau ngerusak kamu sampai aku bisa nikahin kamu.” balas Daniel. “Aku mau nikahin kamu terus aku juga bakal berubah nggak bakal kaya gitu lagi. Aku minta maaf Al, aku tau aku salah. Kasih aku kesempatan ya?”
“Terus istri kamu?”
“Tch, Aku bakal cerai sama Alessia.” ucap Daniel malas. Terlihat jelas ia tak ingin membicarakan sumber masalahnya itu.
“Terus anak kamu?” tanya Alma lagi.
“Alessia yang bakal rawat anak itu. Lagian bayi kan lebih butuh ibunya.” jawab Daniel. Yah, meski dalam hati Daniel tidak tau apa Alessia bisa merawat anaknya itu mengingat Alessia dengan sengaja memakan nanas hingga mengalami keram perut. “Sampai anak itu lahir Al, tolong tunggu aku sampai itu aja. Aku bakalan berubah.” kata Daniel lagi. “Aku janji sama kamu. Aku bakalan berubah. Aku nggak bakal b******k kayak gitu lagi.”
“Kenapa harus nunggu anak itu lahir? Kenapa nggak sekarang aja? Kamu sama perempuan itu juga nggak harepin anak itu kan? Kenapa masih pertahanin?”
“Terus kamu maunya aku kayak gimana Al? Kamu yang nyuruh aku buat tanggung jawab.” balas Daniel lagi.
“Kenapa nggak di aborsi aja?” tanya Alma pada akhirnya.
Daniel mematung mendengar perkataan itu dari mulut Alma. Daniel memang tidak peduli calon anaknya itu mau hidup atau mati. Tapi dia tidak tau, kenapa perasaanya tak enak mendengar kata seperti itu dari mulut Alma.
“Alma, sebajingan atau sebrengsek apapun aku, aku nggak akan ngelakuin hal kayak gitu. Terserah Alessia ngelakuin apa, tapi aku nggak akan ngelakuin hal kayak gitu,”
“Kenapa?”
“Meski aku nggak mau ngakuin atau nggak ngarepin keberadaannya, itu tetap anakku Al. Dia punya darahku. Fakta itu nggak akan pernah berubah.”
“Jadi kamu lebih milih anak itu daripada aku?”
“Aku lebih milih kamu Al. Aku bilang ke kamu. Aku bakal ninggalin Alessia sama anak itu dan bakal pergi ke sisi kamu! Aku bakal cerain dia.”
“Terus kalau kamu tiba-tiba sayang banget sama anak itu gimana?” tanya Alma lagi. Alma paling tau sifat dari Daniel. Sekali Daniel menyukai atau menyayangi sesuatu, Daniel akan mengejar hal tersebut dan menjaga miliknya sebaik mungkin.
“Nggak akan Al, aku lebih sayang sama kamu. Aku serius waktu bilang, aku bakal lebih milih kamu! Kalau kamu nyuruh aku buat nggak nemuin anak itu, aku nggak akan nemuin anak itu! Aku mohon sama kamu, kasih aku kesempatan.”
Alma menarik tangannya dan langsung pergi begitu saja padahal makanan yang dipesan oleh Daniel masih belum disentuh. Daniel diam. Memberikan waktu untuk Alma berpikir. Sementara Alma, ia ingin Daniel mengejarnya dan lebih meyakinkannya.
Tak lama, Gina menghubunginya memberitahu lokasi Alessia. Daniel langsung meminta pelayan disana untuk membungkus pesanannya. Setelah di bungkus, Daniel langsung menuju tempat itu dengan meminjam motor temannya. Hal ini dikarenakan mobilnya, disita oleh neneknya dan ia dusir hanya dengan membawa koper dan pakaiannya saja.