Setelah melakukan piknik singkat yang menyenangkan, Alex mengajak Wendy untuk ke suatu tempat yang menyimpan kenangan yang lebih banyak dan indah.
Setibanya di sana Wendy tertegun, menatap rumah sederhana yang tertutup rapat tak berpenghuni namun tetap terlihat bersih dan nyaman. Rumah itu tampak familiar, tapi ia tidak bisa mengingatnya.
“Ini rumah siapa?” tanyanya pada Alex yang sibuk membuka pintu.
Alex tersenyum, membuka lebar-lebar pintu di hadapannya kemudian mempersilahkan Wendy masuk. “Selamat datang kembali ke rumah, Wendy,” ujarnya di tengah senyum menawannya.
“Rumah?” Wendy bertanya bingung. Alex mengangguk kemudian menariknya untuk masuk.
Mereka melangkah beriringan masuk ke dalam rumah. Wendy merasa heran kenapa rumah ini tampak begitu bersih dan rapi, sementara Alex mengatakan bahwa rumah ini sudah tidak pernah ditempati sejak sepuluh tahun yang lalu. Bukankah seharusnya rumah itu sekarang terlihat kotor, berdebu dengan sarang laba-laba di mana-mana?.
“Setiap seminggu sekali aku ke sini untuk membersihkannya, meski Brenda dan orangtuaku mengatakan bahwa hal itu sia-sia karena pemiliknya sudah menghilang dan tak akan pernah kembali lagi.”
Senyum miris tampak di bibir Alex ketika menceritakannya. Diambilnya sebuah bingkai foto, mengusap permukaan kacanya dengan lembut sambil menatap sosok manis di dalamnya. “Tapi aku tidak pernah menggubris ucapan mereka, karena aku percaya bahwa usahaku tidak akan sia-sia.” Diletakkannya kembali bingkai foto itu di tempatnya semula kemudian melangkah ke sisi lain.
Diam-diam Wendy memperhatikan wajah yang ada di dalam foto dengan seksama. Kembali ia merasa familiar, foto anak kecil yang tengah tersenyum lebar ke arah kamera dengan tangan yang membentuk huruf ‘V’ itu mengingatkannya pada seseorang.
Merasa lelah karena tak bisa mengingat apa-apa ia mengikuti langkah Alex. Melupakan kenyataan bahwa seseorang yang dia maksud adalah dirinya sendiri. Anak kecil dalam foto itu adalah dirinya sepuluh tahun yang lalu.
Alex sibuk mengenalkan Wendy tentang benda kesukaannya saat masih kecil dulu, dan berusaha untuk tidak melewatkan satu cerita pun untuk membuat Wendy kembali mengingat semuanya.
Sementara Wendy tampak mencerna setiap cerita Alex dan berusaha untuk mengingatnya, meski yang bisa dia dapatkan hanya rasa sakit di kepalanya yang seperti ingin meledak jika ia tetap memaksakannya. Kendati demikian, sedikit demi sedikit sebuah kenangan berhasil kembali dalam ingatannya.
Alex mengeluarkan sebuah album dari dalam lemari yang awalnya terkunci rapat dan terjaga, disodorkannya album itu pada Wendy yang menerimanya dalam kebingungan yang besar. “Bukalah, kau akan mengerti setelah melihat isinya.”
Wendy mengangguk kemudian membuka sampulnya, membuka lembar perlembar dari halaman yang menyimpan begitu banyak kenangan masa lalunya yang begitu nyata sampai pada lembar terakhir.
Tapi kemudian ia merasa pikirannya berputar-putar sekarang. Sekelebat kenangan-kenangan masa lalunya bermunculan membuatnya pusing, dan akhirnya tak sadarkan diri dalam pelukan Alex yang dengan sigap menangkap tubuh mungilnya sebelum menghantam lantai yang keras.
*****
“Wendy.”
Suara panggilan yang samar-samar itu mampu memanggil Wendy kembali ke alam sadarnya. Tubuhnya langsung terduduk dengan deru nafas yang tak beraturan. Pandangannya menyapu ke sekeliling, kemudian berhenti pada wajah tampan yang menatapnya khawatir.
Sebulir air mata lolos membasahi pipinya. Tangan kanannya terangkat sekedar menyentuh sisi kiri wajah Alex. “Alex? Alexander?” lirihnya haru.
Kedua mata Alex membelalak singkat, menatap tak percaya pada Wendy. Namun setelahnya ia menganggukkan kepalanya pelan dan menggenggam jemari Wendy yang masih menempel di pipi kirinya. “Ya, ini aku, Alex teman kecilmu. Kau ingat sekarang?”
Tangis Wendy meledak. Dipeluknya tubuh Alex erat sambil meluapkan perasaannya. “Aku ingat sekarang, Alex. Aku ingat semuanya,” ujarnya di sela-sela tangisnya yang kian tak tertahan.
Alex balik memeluk tubuh Wendy yang bergetar. Diusap-usapnya punggung dan rambutnya bergantian. “Aku merindukanmu, sangat. Selama sepuluh tahun ini aku terus berdo’a dan berharap agar dapat bertemu denganmu kembali. Dan ternyata Tuhan mengabulkannya, Dia mempertemukan kita dalam keadaan kau tak mengingat apa-apa membuatku hampir putus asa. Tapi sekarang kau benar-benar kembali, kembali seperti Wendy yang dulu aku kenal.”
Wendy mengangguk, tiba-tiba teringat suatu hal. Pelukannya terlepas begitu saja, ditatapnya wajah Alex dengan mata memerah dan sembab akibat menangis. “Aku bermimpi kak Olive menyapaku, mengajakku ke tempat piknik yang baru saja kita kunjungi kemudian memelukku erat dan mengatakan selamat datang kembali ke rumah.”
Air muka Alex tiba-tiba mengeruh mendengar nama Olive disebut oleh Wendy. Tapi sebisa mungkin ia memaksakan senyumnya untuk tetap berkembang, sebelum kalimat terakhir Wendy keluar dan berhasil menghapus paksa senyumnya.
“Di mana kak Olive? Aku merindukannya, aku ingin menemuinya sekarang.”
Wendy memasang ekspresi bingung saat tanpa mengucapkan apapun Alex tiba-tiba berdiri dan melangkah mendekati pintu. “Kau mau kemana?” tanyanya.
Tanpa membalikkan tubuhnya Alex menjawab. “Bukankah kau ingin bertemu dengan kak Olive? Jika iya, maka ikut aku.”
*****
Kerutan di kening Wendy terlihat jelas saat menyadari Alex mengajaknya ke sebuah pemakaman dengan nisan-nisan yang tertera setiap nama di sana. Sementara Alex tetap berjalan di depannya, tak berbicara sepatah katapun, hanya berjalan dalam diam dan akhirnya berhenti tepat di hadapan sebuah makam yang tampak lebih bersih dari makam yang lain.
“Kenapa kita ke sini, bukannya bertemu kak Olive?”
“Kita sudah bertemu kak Olive sekarang, dia berada persis di hadapanmu.” Alex menjawab tanpa menoleh ke arah Wendy.
Wendy semakin bingung, tatapannya mencari-cari ke setiap arah. “Aku tidak melihat siapapun selain kita berdua di sini. Jangan bercanda, Alex.”
“Aku tidak sedang bercanda. Perhatikan apa yang ada di bawah.” Suara Alex terdengar serak dan berat seperti menahan sesuatu.
Wendy menurunkan pandangannya menuruti perintah Alex, awalnya ia biasa saja sebelum ia membaca sederat nama yang tercetak jelas di permukaan batu nisan di hadapannya. Tangan kanannya sontak terangkat menutup mulutnya, matanya membulat sempurna.
Kepalanya menggeleng keras, berusaha menolak kenyataan yang ada di hadapannya. “Ini tidak lucu. Hentikan lelucon mu sekarang. Aku yakin kau dan kka Olive pasti bersekongkol untuk mengerjai ku, iya ‘kan?” Wendy mengedarkan pandangannya seperti mencari-cari sesuatu. “Kak Olive, kau di mana? Keluarlah sekarang! Aku sudah tahu rencana kalian! Jadi berhenti bersembunyi dan tunjukkan dirimu!”
Alex tidak bisa menahan tangisnya, dilihatnya Wendy yang berlari-lari seperti orang kesetanan mencari ke segala arah. Berteriak menyerukan nama kakak yang sangat disayanginya sampai suaranya serak.
Ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus, dia harus meyakinkan gadis manis itu sebelum Wendy kehilangan suaranya akibat berteriak. Dilangkahkannya kaki jenjangnya mendekati Wendy yang masih berteriak-teriak tidak karuan.
Direngkuhnya tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya, meski Wendy berusaha untuk menolak dan melepaskan pelukannya berulang kali.
“Lepaskan aku, Alex. Aku harus menemui kak Olive. Dia bersembunyi dengan sangat baik dan tak mau menunjukkan dirinya. Aku harus menemukannya.”
“Sadarlah. Aku tahu ini sangat sulit untukmu, tapi kau harus menerima kenyataan.”
Raut wajah Wendy tampak sangat tidak suka. “Sudah kubilang untuk menghentikan lelucon mu, Alex, karena lelucon mu sama sekali tidak lucu dan sangat kuno!”
“Berhentilah bertingkah seperti orang bodoh, Wendy! Kau tahu aku serius dan tak sedikitpun mengatakan kebohongan! Kak Olive sudah tidak ada sejak sepuluh tahun yang lalu! Aku yakin kau melihat sendiri jasadnya saat itu!”
Wendy bungkam, sementara air mata mulai mengenang di pelupuknya. Ia bersimpuh di sana, kemudian isakannya terdengar pilu dan menyayat hati.
“Kak Olive,” lirihnya. Tangannya mengusap nisan dengan lembut dan hati-hati. “Kak Olive, maafkan aku.”
Alex berjongkok di samping Wendy, menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya tak lupa mencium pucuk kepalanya dengan lembut, berusaha menenangkannya.
“Maafkan aku, kak. Ini semua salahku. Maafkan aku.” Wendy meracau sambil berusaha melepaskan pelukan Alex yang semakin mengeratkan pelukannya.
*****
Alex menggenggam tangan Wendy sambil menatap wajah tidurnya yang benar-benar damai, tak seperti beberapa saat yang lalu. Dia benar-benar kacau dan menangis tanpa henti sambil menggumam kan kata maaf berulang kali. Hati Alex sakit melihatnya.
“Alex?”
Tersentak dari lamunan singkatnya, Alex menatap khawatir pada Wendy yang berusaha mendudukkan tubuhnya, wajahnya terlihat sangat lelah dengan mata sembab dan sedikit bengkak.
“Ya?”
“Bisa kau ceritakan kenapa kak Olive bisa meninggal?”
Alex menggeleng tanpa sengaja. “Wendy, kau sudah menangis selama lebih dari sejam tadi, dan kurasa kedua matamu juga sudah pasti lelah melakukannya kembali. Sekarang kau istirahat dan besok kita lanjutkan pembicaraan ini.” Tangan Alex bersiap untuk mendorong tubuh Wendy agar berbaring kembali namun cepat-cepat ditepis oleh Wendy.
“Tidak. Aku ingin mengetahuinya sekarang juga. Tidak ada kata besok atau lusa.”
Alex menyerah, percuma melawan kekeraskepalaan Wendy karena pada akhirnya dia selalu mengalah. Dia tidak akan pernah bisa menolak permintaan gadis manis itu.
“Baiklah. Kau ingin aku mulai dari mana?”
“Kenapa kak Olive bisa mati? Maksudku, apa dia dibunuh?”
Diam, Alex mengangguk. Napas Wendy mulai terasa sesak.
“Siapa yang membunuhnya?” tanyanya serak, dia merasa tangisnya akan pecah sebentar lagi.
“Kau benar-benar ingin tahu siapa yang membunuhnya?”
Wendy mengangguk cepat. “Tentu saja, mungkin aku bisa menuntutnya ke pengadilan atas pembunuhan.”
Alex terlihat ragu untuk berucap tapi pada akhirnya ia membuka suara. “Bagaimana jika aku mengatakan bahwa yang membunuh kak Olive adalah kekasihmu sendiri?”
“Kekasihku?” Alex mengangguk. “Maksudmu?”
“Yang membunuh kak Olive adalah David.”
Wendy merasa jiwanya seperti direnggut paksa dari dalam tubuhnya. Dia tidak salah dengar, ‘kan? Orang yang membunuh kakaknya adalah orang yang selama ini merawatnya dan memberikannya kasih sayang serta cinta. ‘Kenyataan pahit apa lagi ini?’ teriak bathinnya frustasi.
David yang dia anggap baik dan hangat ternyata memiliki sisi kejam di dalam hatinya. Laki-laki tampan itu selalu memberinya kasih sayang sehingga lupa akan segalanya termasuk jati dirinya sendiri, ternyata adalah orang yang sudah merenggut orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
Membunuh kakaknya tanpa rasa belas kasihan dan membuatnya sebatang kara di dunia ini.
Kedua tangan Wendy terangkat menuju rambutnya, menariknya keras hingga rasanya bulu-bulu halus dan lembut itu akan terlepas dari kulitnya. Ia menggeleng, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Tidak, tidak mungkin, David tidak mungkin melakukannya. Katakan padaku bahwa kali ini kau sedang bercanda, Alex. Itu hanya alasanmu agar aku membencinya, ‘kan? Tolong katakan kau berbohong.”
“Sayangnya aku tidak bercanda. Kalau soal aku ingin membuatmu membencinya, itu memang benar. Tapi bukan dengan memalsukan informasi bahwa dia yang telah membunuh kakakmu, kau tidak berfikir aku akan melepaskan pembunuh kakakmu dan membiarkannya menghirup udara segar tanpa menyeretnya masuk penjara, bukan? Kalau pembunuhnya hanya manusia biasa sudah kupastikan ia mendekam di penjara atau dihukum mati. Tapi sayangnya ia bukan manusia biasa, yang bahkan keberadaannya masih ada yang meragukannya dan tidak mungkin polisi mengurung vampire di dalam selnya. Itu mustahil, meski kemungkinan kecilnya ada. Dan hal terburuknya, para polisi hanya mengatakan bahwa kematian kak Olive karena diserang serigala buas. Tidak ada tersangka dan kasusnya langsung ditutup begitu saja, bahkan bukti yang kuungkap tidak bisa membuat mereka percaya.”
Wendy tak mengatakan apa-apa, pikirannya kosong begitupun tatapannya. Mengundang tatapan khawatir dari Alex yang berusaha menyadarkannya dari lamunannya.
“Wendy? Kau tidak apa-apa, ‘kan? Aku tahu ini sulit bagimu, tapi kenyataan tetap menjadi kenyataan, jangan berharap ini hanya sebuah mimpi buruk.”
“Aku hanya tidak menyangka, bahwa selama ini aku tinggal dan menjalin hubungan dengan pembunuh kakakku. Aku merasa sangat jahat pada kak Olive. Bagaimana mungkin aku bisa terlena pada rayuannya dan terperangkap oleh pesonanya?”
“Jangan salahkan dirimu, itu sama sekali bukan salahmu. Kau hanya korban di sini.”
Kembali Wendy terisak, namun kali ini lebih tenang tak seperti sebelumnya. Dan sebelum dia membalas pelukan Alex, suara dobrakan pintu yang terdengar keras menyentak mereka berdua.
Keduanya menatap daun pintu yang tergeletak tak berdaya di lantai, sementara sang pelaku berdiri dengan angkuh di atasnya.
Tubuh Wendy langsung bergetar begitu menatap sosok yang baru saja tiba dan membuat kekacauan itu. Kedua matanya berkilat penuh amarah dan aura pembunuh yang disebarkannya membuat siapapun pasti akan merasa ketakutan.
Perlahan sosok itu mendekat, membuat Wendy tanpa sengaja bersembunyi di balik punggung Alex yang siap melindunginya.
“Keluar, Wendy. Jangan bersembunyi dariku.”
Alex meradang mendengar kalimat bernada perintah dan arogan yang dikeluarkan sosok di hadapannya. Ia berdiri, membalas tatapan tajam yang dilayangkan David tak kalah tajamnya.
“Berhenti memerintahnya sesuka hatimu. Kau bukan siapa-siapanya, kau tahu.”
David mendengus kesal, senyum sinis tampak di bibir tipisnya. “Aku kekasihnya, dan dia milikku.”
“Kau bukan kekasihnya, dan berhenti mengklaimnya seperti itu!”
“Kenapa? Kurasa tidak ada yang salah dari ucapanku. Benar kan, Wendy?”
Alex merasa tubuh Wendy semakin merapat pada punggungnya, dan bisa dia pastikan gadis manis itu benar-benar ketakutan sekarang.
“Kau tidak ingin menjawabku, Wendy? Tega sekali kau pada kekasihmu sendiri.” Tatapan David melembut. “Kemari, sayang. Aku tidak akan melukaimu,” bujuknya pelan, berharap Wendy akan menuruti perintahnya.
Namun yang dia dapatkan hanyalah gelengan kepala dari gadis manis itu, membuat emosinya kian memuncak dan amarahnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Rahangnya menegas, dan serta-merta barang-barang di dalam kamar tiba-tiba melayang dan terhempas ke lantai dengan keras.
Suara pecahan kaca terdengar jelas dan siap melukai siapa saja di ruangan itu. Alex dengan sigap memeluk tubuh Wendy, berusaha melindunginya dari serpihan kaca yang bertebaran di sekitar. Beberapa serpihan kaca mengenai punggungnya sangat dalam, ia meringsis tanpa suara. Sakitnya memang tak tertahankan, tapi ia tak ingin menunjukkannya pada Wendy untuk membuat gadis itu khawatir.
Tawa David menggema, seperti mengejek sikap sok pahlawan Alex yang berusaha melindungi Wendy.
“Well, kuakui kau sangat berani dan kuat. Tapi bagaimana dengan ini?”
Tubuh Alex terangkat, menghentak langit-langit dengan keras kemudian terhempas ke lantai.
“Arghh!” Alex tak bisa tak berteriak kesakitan saat sekujur tubuhnya rasanya seperti dialiri sengatan listrik dengan tekanan yang sangat tinggi. Tubuhnya meringkuk kesakitan di lantai. Rasa sakit saat serpihan kaca menusuk punggungnya, dan saat tubuhnya dihempaskan dengan keras ke atas dan keb awah tak sebanding dengan rasa sakit yang ia rasakan sekarang. Setetes air mata menuruni pipinya.
Sementara Wendy berusaha menghampirinya tapi sia-sia karena David sudah terlebih dahulu memegang tangannya. “Hentikan, David! Kau bisa membunuhnya!” teriaknya histeris.
“Apa kau tidak menyadarinya atau kau memang bodoh, Wendy? Aku memang sedang berusaha membunuhnya. Jadi berhenti berteriak padaku.”
“Kau memang iblis!”
David menyeringai. “Kau baru menyadarinya, sayang?”
Wajah penuh benci Wendy berubah memelas saat mendengar teriakan Alex yang semakin lama terdengar semakin memilukan. “Kumohon, David. Apapun yang sedang kau lakukan sekarang kumohon hentikan. Aku tak ingin kehilangan orang terpenting dalam hidupku untuk yang kedua kalinya.”
Kalimat terakhir Wendy membuat David membeku, tak ayal sihir yang ia lakukan pada Alex juga ikut berhenti.
Wendy yang merasa pegangan David pada pergelengan tangannya mengendur segera melepasnya dan berlari menghampiri Alex yang terbatuk-batuk sambil mengeluarkan darah. Diangkatnya kepala Alex ke pangkuannya. “Kau tidak apa-apa, ‘kan?” tanyanya khawatir, meski tanpa bertanyapun ia sudah tahu jawabannya hanya dengan melihat keadaan Alex yang benar-benar lemas, bahkan napasnya terdengar tak beraturan, terlebih darah yang keluar dari mulutnya.
“Katakan kau baik-baik saja, Alex, jangan membuatku panik.”
Alex memaksakan sebuah senyuman. “Aku tidak apa-apa,” gumamnya nyaris tak terdengar.
Air mata mengairi kedua pipi Wendy tanpa pertahanan. Ia tak sanggup melihat keadaan Alex sekarang, itu membuatnya ikut sakit. “Maafkan aku,” lirihnya. Ia merasa bahwa semua adalah salahnya. Alex tidak akan terluka jika bukan karena dia. Ini adalah urusan antara David dan dia, tapi Alex malah rela menjadi tameng untuknya.
“Kau tak berpikir aku akan melepasnya begitu saja, ‘kan? Setelah kalimatmu tadi, aku malah semakin bernafsu untuk membunuhnya. Akan kubuat orang yang kau anggap penting itu menghembuskan nap
as terakhirnya saat ini juga agar tak ada lagi yang bisa menghalangiku untuk mendapatkanmu!”
Wendy hampir melupakan keberadaan David di sana. Dilihatnya David yang tengah menutup kedua matanya sementara kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Ia merasakan sesuatu yang buruk akan menghampiri Alex sebentar lagi.
Dan saat kedua mata kelam itu terbuka dan bersiap melakukan p*********n pada tubuh tak berdaya Alex, Wendy sudah lebih dulu beranjak melindungi tubuh Alex dan menerima serangan David.
Wendy merasa seperti ada ribuan es yang menusuk jantungnya dari dalam. Tangan kanannya terangkat dan menekan dadanya kuat. Sedetik kemudian ia memuntahkan darah segar dan merasakan bahwa jantungnya mulai membeku, dan pada akhirnya tubuhnya ambruk di hadapan Alex yang membulatkan kedua matanya.
“Wendy!” Alex segera mendekati tubuh lemah Wendy. Ia yakin Wendy masih bernapas saat ini. “Wendy, kau mendengarku? Kumohon bertahanlah.”
“Alex.” Wendy menyentuh sisi kiri wajah Alex seraya tersenyum meski rasa sakit menghujam jantungnya. “A,aku… mencintaimu…. Dan.. maafkan.. aku..”
“Aku tahu, karena aku juga merasakannya sekarang.” Alex menggenggam jemari Wendy yang mulai mendingin dengan erat, berharap dengan begitu tubuh Wendy kembali hangat. “Aku hanya berharap kau mengatakannya saat kau dalam keadaan sehat, bukan sakit seperti saat ini. Dan kau tak perlu meminta maaf, itu sama sekali bukan salahmu.”
“Aku-”
“Jangan berbicara lagi,” potong Alex cepat kemudian memeluk tubuh Wendy dengan erat seakan tak ingin melepaskannya lagi.
Sementara di sisi lain David menatap hampa pemandangan di depannya, tubuhnya merosot ke lantai dan tanpa ia sadari setetes air mata membasahi pipinya yang dingin. Ia meraba pipinya dan menatap tak percaya pada tangannya yang basah oleh air mata.
Ia meneteskan air mata? Makhluk kejam dan pemangsa seperti dirinya meneteskan air mata kesedihan?
Ia masih tidak percaya pada reaksi tubuhnya saat itu bahkan saat teriakan Alex menggema memanggil nama Wendy. David tahu meski tak harus menoleh, Wendy baru saja menghembuskan naoas terakhirnya sesaat yang lalu.
Ia tersenyum, bukan senyum sinis seperti yang ia lakukan beberapa menit yang lalu, tapi senyum miris. Bagaimana mungkin ia bisa tersenyum saat ia baru saja membunuh orang yang sangat ia cintai?
Dan akhirnya ia menangis.
Menangis selayaknya manusia biasa pada umumnya.
Ia masih meratapi perbuatannya saat menyadari seseorang mulai mendekatinya. Ia mendongak dan sesuatu yang panas langsung mengenai wajahnya. Ia berteriak kesakitan sambil memegang wajahnya yang terasa perih.
Setelah berhasil melawan rasa sakit di wajahnya ia menatap sang pelaku. Dilihatnya Alex berdiri sambil menahan sakit dengan botol di tangannya. Ia tahu apa yang ada di dalam botol itu, air suci. Pantas saja wajahnya terasa seperti terbakar dan melepuh seperti sekarang.
Amarahnya meluap dan ingin segera menghabisi pemuda jangkung itu. Dialah yang menyebabkan Wendy meninggal dan merasakan sakit seperti tadi. Kali ini Alex akan benar-benar mati di tangannya.
“Kau harus mati,” desisnya tajam seraya bergerak menyerang Alex.
Tapi lagi-lagi air panas itu mengenai tubuhnya, kali ini tangannya yang melepuh.
Saat David lengah, Alex segera menuangkan semua air suci dari botol di tangannya ke arah David yang langsung berteriak kesakitan. Seluruh tubuh bagian atasnya terkena air suci dan melepuh, dan David benar-benar tersiksa dengan keadaan itu. Tentu saja Alex tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menghabisi David.
Segera saja ia mengeluarkan besi perak yang memang sudah ia persiapkan saat Wendy pingsan sepulang dari mengunjungi makam Olive. Ia merasakan firasat aneh dan seperti memberinya petunjuk bahwa David akan mendatangi mereka dan bersiap membunuhnya. Maka dari itu ia mempersiapkan segalanya, termasuk air suci yang dipercaya ampuh mengusir vampire dan yang paling penting adalah perak.
Vampire boleh tahan dengan sinar matahari, tapi tidak dengan perak.
Alex menggenggam besi memanjang seperti paku namun lebih besar ditangannya dengan erat, memposisikannya sebaik mungkin untuk menancapkannya dengan tepat di jantung David yang mulai kewalahan melawan rasa sakit di tubuhnya.
Dengan segala kekuatan yang ia punya, segera kaki jenjangnya berlari menerjang tubuh David yang tak siap akan serangannya yang tiba-tiba dan menancapkan perak di tangannya tepat di jantung David yang bahkan belum sempat melawan.
Kedua mata David membelalak lebar saat Alex dengan tidak sabaran menancapkan perak ke tubuhnya lebih dalam lagi sehingga menembus jantungnya.
Dan akhirnya ia menutup matanya diiringi hembusan nafas terakhirnya.
Alex beranjak dari tubuh kaku David yang perlahan-lahan mulai menjadi debu. Napasnya terengah-engah namun hatinya bersorak gembira.
‘Aku berhasil membunuhnya, Wendy. Kuharap kau senang di sana.’
Dengan langkah tertatih-tatih ia berjalan menuju dapur, mengambil jerigen berisi penuh bensin serta pemantik dan kembali ke ruangan di mana tubuh kaku Wendy dan David berada.
Dengan segera ia menuangkan isi bensin ke seluruh ruangan termasuk tubuh Wendy dan debu David, dan terakhir menyirami tubuhnya sendiri.
Sebelum ia menyalakan pemantik, sebuah ketukan mengalihkan perhatiannya.
Di sana, di balik kaca jendela yang tertutup seseorang berdiri sambil berusaha menghancurkan kaca. Ia tersenyum, namun tak beranjak dari tempatnya.
“Hentikan, Alex! Jangan pernah lakukan hal itu!”
Alex mendengarnya tentu saja, meski samar-samar namun teriakan itu tetap menganggunya. Ia tahu Brenda berusaha menolongnya, tapi satu hal yang harus diketahui gadis manis di luar sana bahwa ini adalah jalan yang ia pilih dan tak akan pernah mengubahnya.
Pelan ia membuka penutup pemantik dan mulai menyalakannya. Sesaat ia menatap ke arah Brenda yang tertegun dengan perbuatannya. Ia tahu gadis itu pasti syok.
“Maafkan aku, tapi aku sangat mencintainya. Dan aku tidak bisa hidup tanpanya,” bisiknya meski ia tahu Brenda tak akan bisa mendengarnya.
Kemudian pemantik yang sudah menyala itu ia jatuhkan begitu saja dari genggamannya, membiarkan api itu melahap habis tubuhnya beserta seluruh isi ruangan tanpa terkecuali.
*****
Brenda menangis dan berteriak tanpa henti. Menyaksikan kematian tragis orang yang kau cintai sungguh bukan suatu pemandangan yang pantas untuk dilihat. Cinta Alex pada Wendy begitu besar sampai ia rela menyusul kematiannya.
Ia bersimpuh sambil menutup mulutnya. Kedua sosok yang sedari tadi berdiam diri tak jauh dari tubuhnya mendekatinya, berusaha membuatnya tenang dan menjauh dari sana setelah melihat api mulai menjalar ke setiap sisi rumah.
Ia terlambat. Dan ia benar-benar menyesali hal itu. Kenapa dia baru tiba saat Alex mulai menyirami tubuhnya dengan bensin? Dan kenapa juga kedua sosok di sampingnya baru memberitahunya soal ini beberapa menit yang lalu dan hanya berdiam diri tak melakukan apa-apa?
Ia menyentak sentuhan Justyn dan Clara yang bermaksud baik padanya. Kemudian berjalan sempoyongan meninggalkan rumah yang kini tinggal serpihannya saja termakan api ganas.
“Semoga kalian bahagia di sana,” lirihnya sebelum tubuhnya benar-benar meninggalkan tempat itu.
Justyn dan Clara menatap punggung Brenda yang semakin menjauh dengan perasaan bersalah. Mereka tak sekejam itu membiarkan Wendy dan Alex tersiksa di dalam, tentu saja mereka ingin sekali membantunya. Tapi mereka tidak bisa, benar-benar tidak bisa karena David telah menyegel rumah agar mereka atau makhluk lainnya tak ada yang bisa masuk maupun keluar.
Mereka yang memiliki kekuatan di bawah David tak bisa menerobosnya. Jadi yang bisa mereka lakukan hanya diam menyaksikan pertarungan mematikan itu sampai semua tokoh uatamanya meninggal satu persatu.
Justyn merengkuh tubuh bergetar Clara dan mengajaknya pergi dari sana. Setidaknya ia merasa bersyukur Clara tidak apa-apa karena ternyata setelah meninggalkan pantai David langsung mencari Wendy, bukan kekasihnya. Tapi meski begitu ia tetap merasa bersalah.
Mereka kemudian meninggalkan rumah yang hancur terbakar dengan tiga sosok yang mati dalam memperjuangkan cinta mereka di dalam sana.
******
The End
******