‘Aku yakin kau pasti tahu jalan untuk keluar dari hutan ini. Temui aku di sana besok, aku akan menemui mu setelah jam sekolahku berakhir. Dan… bersiaplah untuk petualangan panjang denganku. Aku menyayangimu.’
Tersenyum, Wendy melipat kembali catatan kecil yang baru saja dibacanya. Kekehan pelan terdengar dari bibir setelahnya. Catatan itu diberikan Alex sebelum pemuda tampan itu pergi, dan masih dia ingat ciuman Alex di keningnya yang benar-benar menggetarkan jiwanya. Beruntung David tidak mengetahui hal itu.
Dengan gerakan cepat ia menyembunyikan catatan kecil itu ke dalam saku celananya saat pintu kamar mereka terbuka. David muncul dengan nampan di tangannya, ia tersenyum.
“Aku yakin kau belum sarapan.”
David meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja nakas kemudian menghadap kekasihnya yang tersenyum gugup di sampingnya. Tangannya terulur menyingkap poni yang sedikit menutupi mata Wendy dan menciumnya di sana.
David tersenyum tipis. “Baiklah, nikmati sarapan mu. Aku akan keluar sebentar.”
Wendy mendongak, menatap punggung David yang bersiap membuka pintu. “Kau akan berburu?”
“Tidak, aku tidak berselera.” Jawabnya kemudian menghilang di balik pintu.
Wendy menatap pintu yang tertutup dengan perasaan bersalah. Ia tidak mempermasalahkan sikap dingin david saat ini, karena ia mengerti jika David dibakar rasa cemburu. Tapi ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Bagaimana bisa ia tertarik pada pemuda yang baru beberapa kali bertemu dengannya? Dan bagaimana bisa ia berdebar saat Alex memeluk dan mencium keningnya? Apa dia mulai tidak waras? Mengkhianati David sama saja dengan mencari mati.
Kedua matanya terpejam erat saat mengulang kata ‘Mati’ dalam hatinya. Selama ini David memang selalu memperlakukannya dengan baik, seolah-olah dia adalah seorang puteri. Cinta David untuknya juga tak diragukan lagi, laki-laki tampan itu sangat mencintainya lebih dari ia mencintai dirinya sendiri. Bahkan David selalu bisa memaafkannya dan memakluminya jika ia melakukan sebuah kesalahan. Tapi sebuah pengkhianatan tentu bukan sesuatu yang mudah untuk David terima. Teringat kembali ucapan David saat ia melakukan sebuah kesalahan pertama kali.
‘Tak peduli kesalahan apapun yang kau lakukan, besar ataupun kecil aku akan selalu bisa memaafkan mu. Tapi satu hal yang harus kau ingat, jangan pernah mengkhianati ku ataupun meninggalkanku. Meskipun kau mulai bosan padaku, dan cintamu untukku mulai menghilang, kumohon tetaplah berada di sisiku. Dan jika kau tetap melakukannya, maka aku akan mencari mu dan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Ingat itu, Wendy. Karena aku tidak pernah bermain-main dengan ucapan ku.’
Wendy menggeleng beberapa kali masih dengan mata tertutup. “Apa aku berani untuk melakukannya jika akhirnya adalah kehilangan nyawaku sendiri?” Tanyanya pada dirinya sendiri. Matanya terbuka, menampakkan kedua karamelnya yang tampak redup.
Sesaat ia ragu untuk menemui Alex, tapi kemudian ia memantapkan hatinya. “Hanya bertemu bukan berarti mengkhianatinya. Lagipula, setelahnya aku pasti akan kembali lagi ke rumah.” Ia tersenyum. “Ya, aku akan pergi.”
*****
“Kau sedang apa, sayang?”
Clara sedikit tersentak saat lengan kokoh Justyn tiba-tiba melingkari pinggang rampingnya disertai hembusan hangat di area tengkuknya. Ia memekik kaget sebelum Justyn membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman yang dalam.
“Kau mengagetkanku, bodoh.” Kalimat protes Clara langsung terdengar setelah ciuman mereka berakhir.
Justyn yang mendengar kata ‘Bodoh’ dalam kalimat kekasihnya menunjukkan wajah cemberut. “Tega sekali kau menyebut kekasihmu bodoh.
Clara tersenyum, dipeluknya tubuh kekasihnya dengan lembut. “Maaf, aku tidak bermaksud begitu.”
“Baiklah, aku memaafkan mu karena kau berhutang penjelasan saat ini.” Justyn membalas pelukan Clara erat.
“Penjelasan apa?” Pelukan mereka terlepas. Clara menatap Justyn dengan wajah bingung yang menurut Justyn sangat menggemaskan.
Kedua tangan Justyn terulur dan mencubit kedua pipi kekasihnya gemas. “Jangan memasang wajah seperti itu jika kau tidak ingin ku makan saat ini.”
“Aw, sakit tahu.” Clara memberontak, mencoba melepaskan cubitan Justyn di pipinya yang menimbulkan rasa nyeri. Matanya melotot menandakan kekesalannya, namun yang dipelototi tampak santai dan mengangkat bahu cuek.
“Tadi kau sedang apa?”
“Menurutmu aku sedang apa?”
Justyn memutar matanya bosan, Clara memang suka bermain tebak-tebakan dengannya. “Kulihat kau asyik memperhatikan kamar Wendy, kemudian mengikuti pemiliknya kemanapun ia pergi. Seperti penguntit saja.”
Clara tersenyum misterius. “Wendy mulai menjadi pemberontak.”
Kedua hazel Justyn membulat. “Kau serius?”
“Ya, pemberontakan kecil yang dilakukan seorang kekasih saat mulai bosan dengan pasangannya.” Clara menatap Justyn yang balik menatapnya. “Wendy menyukai pemuda yang menemuinya kemarin.”
“Ini tidak bagus, aku harus memberitahu David.”
“Tidak.” Clara menahan lengan Justyn sebelum Justyn menjauh dari sana. “Tidak perlu, karena itu percuma. Kau tahu sendiri, bukan? Tidak ada rahasia yang tidak diketahui David.”
Justyn mengernyit. “Jadi menurutmu dia sudah tahu hal ini?”
“Ya, bahkan sebelum Wendy menyadari perasaannya sendiri.”
“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”
Clara menatap Wendy yang terlihat gelisah di kamarnya, tampak ia masih ragu untuk menjalankan rencananya sendiri. Namun tak juga ingin kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan pencuri hatinya.
“Aku ingin membantunya.” Clara mengalihkan perhatiannya dari Wendy, menatap kekasihnya yang tersenyum hangat di sampingnya. “Jika kau mengijinkannya,” ucapnya penuh harap.
Entah kenapa ia merasakan sebuah perasaan yang kuat antara Wendy dan Alex. Keduanya seperti memiliki benang merah yang saling terhubung dan terikat erat oleh takdir yang disebut cinta.
Dan menurutnya, membantu untuk menyatukan dua orang yang memang seharusnya bersatu bukanlah sebuah kesalahan. Dan ia juga sudah siap akan konsekuensi yang harus diterimanya kelak.
“Tentu saja, aku akan selalu mendampingi mu.” Justyn menarik Clara ke dalam pelukannya. “Mati setelah membantu seseorang memperjuangkan cintanya tidaklah buruk, ketimbang mati karena sikap takut dan pecundang.”
Clara tersenyum dalam pelukannya. “Terima kasih, Justyn. Aku mencintaimu.”
Justyn ikut tersenyum. “Aku juga sangat mencintaimu.”
*****
Wendy berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, mencoba untuk meyakinkan dirinya kembali. Pergi atau tidak? Hanya dua kata itu yang bermunculan di kepalanya.
Didudukkannya tubuhnya di tepi ranjang dengan perasaan bimbang. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan ini, mengunjungi tempat yang sudah membuatnya penasaran sejak dulu terlebih ditemani oleh orang yang membuatnya tertarik.
Tapi apakah ia sudah siap akan hukuman yang diberikan David untuknya jika laki-laki tampan itu mengetahuinya?
Ia menghela napas, memandang kosong ke depan, menatap lurus pada dinding yang tak memiliki daya tarik sedikitpun. Lama ia dengan kegiatan bodohnya itu, sebelum seseorang membuka pintu kamarnya.
Wendy berdiri dengan sikap waspada, menanti sosok yang muncul di balik pintu. Apakah itu David? Tapi kelegaan langsung menyelimutinya ketika yang muncul adalah sosok lain.
“Hai.” Clara mendekat dengan senyum di bibirnya.
Wendy ikut tersenyum. “Hai.”
Clara memperhatikan penampilan Wendy dari atas ke bawah dengan teliti, kemudian mengernyitkan keningnya. “Kau belum pergi? Dia pasti sudah menunggumu saat ini.”
Kening Wendy mengerut. “Pergi?”
“Ya, pergi. Bukankah kalian akan bertemu hari ini?”
“Jangan bilang kau..”
Clara tersenyum. “Aku sudah tahu semuanya, tenang saja rahasia mu aman bersamaku.”
“Apa David tahu hal ini?”
Tubuh Clara sedikit tersentak, tapi kemudian ia berhasil mengendalikan dirinya. “Aku tidak tahu, bisa saja dia tahu, dan bisa saja dia tidak tahu. Tapi itu tidak penting sekarang, karena Alex pasti sudah menunggumu lama. Cepatlah berangkat, untuk urusan David kau tidak perlu khawatir, Justyn sudah menyelesaikannya.”
Wendy tampak ragu, Clara dan Justyn adalah sahabat David sejak lama. Tidak mungkin kan seorang sahabat mengkhianati sahabatnya sendiri dengan mudah, hanya karena seseorang yang belum lama ia kenal seperti dirinya. Dia tidak boleh lengah, tidak menutup kemungkinan Clara sedang menjebaknya, kemudian melaporkannya pada David.
Tapi ternyata Clara bisa membaca pikirannya. “Aku tahu kau tidak percaya padaku, wajar saja. Tapi ketahuilah aku benar-benar berniat membantumu. Cepatlah pergi sebelum David menyadari sesuatu dan kembali ke rumah. Aku akan menemanimu jika perlu.”
Clara mengambil jaket Wendy yang tersampir di sandaran sofa kemudian memakaikannya pada Wendy yang tampak patuh. Kemudian menyeretnya keluar dari kamar setelah memastikan tidak ada sosok David di sana.
*****
Dengan ragu Justyn menghampiri David yang tampak santai menikmati cairan merah pekat berbau karat hasil buruannya. Ia melangkah lamat-lamat, sementara keraguan menyelimutinya.
David yang menyadari kehadirannya segera mendongak, menatap tepat pada sepasang hazel menawan miliknya. “Ada apa?”
“Hari ini kau punya waktu luang?” tanyanya cepat, berusaha menutupi kegugupannya.
“Seperti yang kau lihat.”
“Begini.” Justyn segera bersimpuh di hadapannya, wajahnya terlihat memelas. David yang melihatnya mengernyit.
“Kau kenapa? Tidak biasanya.”
“Kau mau menemaniku? Aku ingin berburu tapi tidak ingin sendiri.”
David berdecak kesal. “Ada Clara yang bisa menemanimu, tapi kenapa kau malah mengajakku?”
“Clara sedang ada kegiatan dan dia tidak ingin diganggu, jadi aku memintamu. Kumohon temani aku. Kau tahu sendiri aku tidak bisa berburu jika sendirian.”
David memutar mata jengah, tapi belum sempat ia menolak kembali Justyn sudah menariknya terbang menjauh.
*****
Alex terlihat menunggu dengan gelisah, punggungnya bersandar lelah pada batang pohon, sementara matanya tak henti-hentinya menatap hutan dan arloji yang melingkari pergelangan tangannya secara bergantian.
Bibir bawahnya ia gigit, takut jika ternyata Wendy tidak menemuinya, dengan begitu usahanya untuk bertemu dengan gadis manis itu tidak akan pernah terjadi lagi. Wendy melarangnya ke hutan lagi setelah pertemuan singkat mereka kemarin. Tentu saja awalnya ia menolak, tapi Wendy telah berjanji untuk selalu menemuinya di saat ada waktu yang tepat.
Kemudian ia punya ide untuk bertemu di luar hutan, dengan begitu mereka bisa bebas dari hewan buas juga dari para penghisap darah yang menurutnya sangat menjijikkan. Selain itu, dia juga bisa memperkenalkan Wendy tentang kehidupan normal para manusia, dan mengingatkan Wendy kembali tentang kenangan masa lalu di kota kelahiran mereka.
“Maaf, aku terlambat.”
Alex segera mendongak menatap wajah Wendy yang tampak lelah, keringat mengalir di pelipisnya dan nafasnya terengah-engah. Segera saja ia berdiri dan menyentuh kedua bahu Wendy lembut.
“Kau habis berlari?” Wendy mengangguk. Alex meraih ranselnya, mengambil sebotol minuman segar dan menyodorkannya pada Wendy yang langsung menerima dan meneguknya cepat.
“Kau tidak harus memaksakan dirimu seperti ini.” Alex menyeka keringat Wendy, tersenyum begitu hangatnya menatap Wendy yang terpaku di hadapannya.
“Kurasa belum saatnya kalian bermesraan di sini. David masih bisa menyadari keberadaan kalian jika tetap di sini. Pergilah, aku akan mengawasi di sini jika sewaktu-waktu David muncul.”
Wendy dan Alex mengangguk mengerti, mereka saling berpegangan tangan dan berlari menjauh dari hutan.
Clara yang menyaksikannya tersenyum. “Kuharap hubungan kalian berhasil.”
*****
Sambil menunggu Alex mempersiapkan semuanya, Wendy memilih untuk berdiri di tepi sungai yang mengalir. Terkadang ia berjongkok sambil mencelupkan tangan kanannya ke dalam air.
“Kau suka tempatnya?”
Wendy kembali berdiri, berusaha untuk sejajar dengan Alex yang menatap ke arah sungai yang mengalir pelan. “Ya, tempatnya sangat indah.”
Senyum tampak di wajah Alex, dipandanginya wajah Wendy yang terlihat begitu takjub dengan pemandangan sekitar. “Ini adalah tempat kesukaanku bersama seseorang.”
Wendy menoleh, menunggu kelanjutan cerita Alex, namun tak dipungkiri jika ia merasa sedikit cemburu saat Alex menyebut kata ‘seseorang’.
“Dulu kami sering ke tempat ini untuk piknik, dan tak sekalipun kita menghabiskan masa liburan tanpa berkunjung ke tempat ini.”
“Dia, seseorang…”
“Dia orang yang sangat berarti dalam hidupku, dari dulu hingga sekarang. Meskipun aku menemukan yang lain, dia tetaplah yang istimewa.” Tatapan mereka bertemu sejenak, sebelum Wendy memalingkan wajahnya ke arah lain. Alex menyadari jika Wendy cemburu.
“Apa kau tidak mengingatnya?” Wendy kembali menatapnya, merasa penasaran sekaligus bingung dengan pertanyaannya. “Seseorang yang kumaksud itu adalah kau, Wendy. Saat kecil kita selalu piknik bersama kak Olive di sini. Di sungai ini, kita selalu bermain bersama, entah itu saling menyiramkan air pada satu sama lain atau berenang, namun pada akhirnya berakhir dengan dimarahi oleh kakakmu. Dan juga pohon di sana,” Alex menunjuk sebuah pohon rindang yang terdapat tikar di bawahnya. “Di sana kita selalu bermain sampai lupa waktu, bahkan kita mengukir nama kita berdua di sana. Kau ingin melihatnya? Ukiran itu masih ada sampai sekarang.”
Tanpa menunggu persetujuan Wendy, Alex segera menarik tangannya dan berjalan mendekati pohon yang dia maksud. Alex menunjukkan letak ukiran yang mereka buat saat kecil. Sebuah lingkaran kecil dengan nama mereka berdua tercetak dengan jelas di sana. Tulisan tangannya terlihat sedikit berantakan, hasil karya anak kecil yang masih dalam proses mempelajari banyak hal termasuk menulis.
“Alexander Kevin Archelaus dan Wendy Xenia Alexandra akan selalu bersama, selamanya.” Wendy membacanya dengan pelan, kemudian kilasan-kilasan masa kecilnya bermunculan dalam pikirannya seperti sebuah film. Ia memegang kepalanya saat rasa pusing tiba-tiba menyerangnya.
“Apa kau lapar? Aku membawa makanan.”
Wendy menatap Alex kemudian mengangguk, entah kenapa rasa pusingnya tiba-tiba menghilang.
Tak perlu menunggu lama, makanan sudah disajikan di hadapannya. Wendy tidak menyangka jika ternyata Alex telah menyiapkan segalanya untuk pertemuan mereka.
“Aku menyiapkan segalanya agar pertemuan kita terasa sempurna. Serasa sedang melakukan piknik, bukan?”
Wendy tertawa. “Ya, kau benar. Ini piknik yang sempurna.”
“Dan tentunya hanya ada kita berdua.”
Sejenak mereka bertatapan dalam diam. Baru menyadari jika ternyata mereka memang hanya berdua.
“Kuharap kita tetap bisa merasakan momen indah ini pada hari-hari berikutnya.” Alex berusaha menghilangkan rasa canggung yang sempat menyelimuti mereka berdua, tatapannya ia arahkan ke depan.
Wendy menatap wajah Alex dari samping, terlihat begitu menikmati wajah tampan itu dalam keheningan. Jika disuruh memilih, dia lebih ingin menghabiskan banyak waktu yang indah bersama Alex, dan untuk sementara dia ingin melupakan David.
Jika tadi ia ragu, maka sekarang ia sudah yakin. Ia akan mempercayakan cinta dan kebahagiaannya bersama Alex, meski nyawa adalah taruhannya. Terasa cepat memang, tapi setidaknya itu lebih baik daripada lambat menyadari, sehingga orang yang kita cintai terlebih dahulu meninggalkan kita sebelum kita menyadari perasaan sendiri.
“Alex.”
“Hm?”
Mereka bertatapan lama, sebelum Wendy mengucapkan sebuah kalimat yang mampu membuat Alex membelalakkan matanya.
“Jika aku memilihmu, maukah kau tetap berada di sampingku apapun yang terjadi?”
“Wendy.”
“Aku menunggu jawabanmu, Alex. Kumohon untuk menjawabnya.”
“Tentu saja aku akan selalu berada di sampingmu tak peduli apapun yang terjadi.”
“Bahkan jika nyawamu terancam?”
Sejenak Alex terdiam, dan itu membuat Wendy gelisah menunggu jawabannya. Alex yang menyadari kegelisahan Wendy tersenyum lembut.
“Aku siap mati untukmu.”
“Kau yakin?”
“Kenapa tidak? Sudah sepuluh tahun lamanya aku menunggumu dan mencari mu, dan di saat aku menemukanmu apakah semudah itu aku melepaskan mu? Melepaskan mu setelah penantian panjang yang kulakukan? Apakah menurutmu itu sesuatu yang mudah kulakukan? Tentu tidak, aku bahkan mengabaikan keselamatan ku dengan mengunjungi sarang vampire hanya untuk menemui mu. Lalu apa alasanku untuk takut dan menyerah?”
Wendy termenung mendengar ucapan Alex. Dilihat dari sikapnya Alex benar-benar serius. Lagipula dia yang memilih Alex tanpa paksaan siapapun, lalu apa alasannya untuk ragu?
“Terima kasih,” ucapnya tulus, setulus senyumannya.
*****
Dia bosan dengan kegiatan tak berarti ini dan ingin segera pergi sebelum ia merasa sangat lapar dan memangsa setiap manusia yang ada di sana. Kedua tangannya ia lipat di d**a, sementara matanya melirik tanpa minat setiap wanita dan laki-laki yang berlalu-lalang di hadapan mereka.
“Wow, David, lihatlah… mereka benar-benar sexy dan menarik. Ini hal yang sangat sayang untuk dilewatkan.”
David mendengus kesal. Jika saja mereka tidak sedang berada di tempat umum, sudah dia pastikan Justyn mendapat pukulan sayang darinya.
“Bisa kau berhenti dengan kegiatan konyol mu itu? Atau aku adukan pada Clara bahwa kekasihnya mulai berpaling darinya dan melirik wanita sexy di pantai.”
“Hei, tidak bisakah kau bersenang-senang sejenak? Ini kejadian langka dan tidak boleh dilewatkan.”
“Kejadian langka apanya? Apa kau tidak tahu bahwa para manusia bodoh ini menjemur tubuh setengah t*******g mereka hampir setiap hari di sini? Sudahlah, aku mau pulang. Inilah yang membuatku tidak ingin ikut denganmu, niatmu selalu bertolak-belakang dengan yang kau lakukan.”
“Tunggu sebentar lagi, aku belum puas. Mereka semua cantik-cantik.” Justyn tetap berusaha keras membujuk David untuk tetap tinggal. Selain karena pemandangan wanita cantik dan sexy, juga karena tak ingin David mengetahui jika Wendy tak ada di rumah dan sedang berkencan dengan Alex.
“Berhenti bersikap kekanakan, Justyn. Atau jangan-jangan kau menyembunyikan sesuatu dariku? Hari ini kau tidak seperti biasanya, kau selalu gugup dan gelisah. Apa yang kau sembunyikan dariku?”
Justyn terdiam sementara wajahnya terlihat panik. “A,aku tidak menyembunyikan apapun, sungguh.”
David menyipitkan matanya, membuat Justyn semakin gugup. “Kau tahu? Entah kenapa aku mulai meragukan kesetiaan mu saat ini. Kau dan Clara pernah hampir mengkhianati ku dulu, jadi tidak menutup kemungkinan jika kalian melakukannya kali ini.”
Beberapa saat David terdiam, kedua matanya terpejam erat dan tak menunggu waktu lama kedua manik kelamnya kembali terlihat, ada kilatan kemarahan di dalam sana.
“Kurang ajar, ini tidak bisa dibiarkan.”
Sebelum David pergi, Justyn cepat-cepat menarik tangannya. Wajahnya terlihat tenang, tidak ada kegugupan seperti beberapa waktu yang lalu, meski ia tahu bahwa rencana mereka telah diketahui.
“Tidakkah kau ingin memberinya kesempatan? Dia berhak menentukan pilihannya.”
“Memberinya kesempatan sama saja dengan membunuhnya. Kau tahu, aku sudah berjanji akan membunuhnya jika ia berpaling dariku.”
“Maka jangan membunuhnya.”
“Selama hidupku tak pernah sekalipun aku melanggar janji dan sumpahku sendiri.”
“Maka lakukanlah demi Wendy. Aku tahu kau sangat mencintainya, dan aku yakin bahwa kau juga tak akan sanggup untuk membunuhnya.”
Rahang David mengeras. “Pengkhianatan tetaplah pengkhianatan, meski dengan diiringi niat baik hal itu tetap tak termaafkan. Dan aku tidak akan pernah melanggar janjiku sendiri sampai kapanpun.”
David kembali hendak melangkah, namun Justyn kembali menariknya, menahannya untuk tetap tinggal.
“Aku tahu kau sangat mencintainya, David. Tapi sadarlah, dia berbeda dengan kita. Tidakkah kau melihat dia tersiksa dengan perbedaan itu? Berkali-kali dia hampir dimangsa oleh vampire musuh mu, dan setiap hari hanya berteman dengan hewan yang bahkan tak bisa mengerti satupun ucapannya. Tidakkah kau kasian melihatnya seperti itu? Dia bukan Wendy yang dulu, yang masih kecil dan belum begitu mengerti apa-apa. Sekarang dia sudah dewasa dan berhak menentukan hidupnya sendiri.”
“Kau tidak mengerti, Justyn.”
“Tidak, kaulah yang tidak mengerti. Kau terlalu dibutakan oleh ambisi mu sehingga buta akan segalanya. Kau bahkan melupakan kenyataan bahwa kaulah yang membuatnya sebatang kara di dunia ini.”
David terdiam, kenyataan yang sempat ia lupakan kembali menamparnya dengan keras, menyadarkannya dari mimpi indah yang hampir ia capai. Kendati demikian keegoisannya tetap mengalahkan akal sehatnya.
“Jika ia tersiksa dengan perbedaan itu, maka aku akan mengubahnya menjadi sepertiku. Ya, seharusnya aku melakukannya sejak dulu.”
Justyn membulatkan matanya, ia tidak menyangka jika ternyata ucapannya malah membuat David mengambil langkah untuk lebih bisa menguasai Wendy daripada melepaskannya. Ia hampir melupakan kekeraskepalaan David yang memang tidak bisa dibantah.
“Lalu menurutmu dia akan bahagia dengan perubahan itu?”
“Tentu saja, selama dia berada di sisiku, maka kebahagiaan akan selalu berlimpah kepadanya.”
“Kau tidak bisa menentukan kebahagiaan seseorang, David! Wendy lebih berhak menentukan kebahagiaannya sendiri.”
“Dan kebahagiannya adalah bersamaku, bukan dengan orang lain.”
David berhasil melangkah menjauh dari sana tanpa bisa dicegah oleh Justyn yang hanya bisa terduduk lemas di atas pasir. Mereka bahkan tak pernah sadar bahwa obrolan serius mereka sempat mengundang tatapan penasaran dari pengunjung pantai lainnya.
Dengan lemas Justyn berdiri dan menjauh dari kerumunan. Wajahnya tampak muram dan gusar, mungkin saat ini yang perlu dia khawatirkan adalah kekasihnya. Karena ia tidak yakin David tak akan melukai Clara saat mereka bertemu, tentu saja karena ide ini berasal darinya.
‘David sudah pulang ke rumah. Kuharap kau berhati-hati,’ ucapnya dalam telepati kepada Clara. Kemudian mengepakkan sayapnya dan terbang secepat kilat menemui sang kekasih.
*****