Wendy terlonjak kaget, saat di hadapannya tiba-tiba muncul sosok yang baru saja menghilang dari pandangannya beberapa waktu yang lalu. Bibirnya mengeram kesal, dengan tatapan tajam mengarah pada sosok tampan yang hanya tersenyum di hadapannya.
“Hai, sayang.”
“Kau dari mana saja? Kau bilang akan tinggal di rumah seharian ini, tapi kenapa kau tiba-tiba menghilang?”
David terkekeh pelan, didekatinya kekasihnya dan menariknya ke dalam pelukannya. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud meninggalkanmu.”
Sesaat mereka terdiam, membiarkan keheningan menyelimuti mereka.
“Apa kalian akan terus berpelukan seperti itu sampai beberapa jam ke depan?”
Pelukan mereka terlepas dengan cepat. Wendy menoleh ke asal suara dengan mata membulat lucu, baru dia sadari bahwa masih ada dua sosok lagi di rumah itu selain mereka berdua.
Seseorang dengan tubuh sedikit pendek, wajah tampan dengan senyum kekanakannya, sedang berdiri bersandar di dinding tepat di samping jendela yang terbuka lebar. Sedang seorang gadis yang terlihat seumuran dengannya tengah duduk santai di atas sofa, memamerkan senyumnya yang menawan.
“Kalian siapa?” Wendy bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari dua sosok asing itu.
Dirasakannya tangan David melingkari pinggangnya posesif, menariknya untuk lebih mendekat padanya. “Mereka temanku. Merekalah yang menyebabkan aku menghilang tiba-tiba, memanggilku untuk meminta bantuan yang bahkan bisa mereka selesaikan dengan mudah.”
Ada nada kesal dalam suara David. Nada kekesalan yang pastinya ditujukan pada dua sosok yang ia maksud. Sementara Wendy hanya mengangguk mengerti di sampingnya.
“Kau tidak ingin memperkenalkan kami?” Suara kekanakan itu terdengar dari sosok tampan yang berdiri di samping jendela, senyumnya melebar.
David mendengus kesal. “Kau bisa melakukannya sendiri tanpa meminta bantuan ku, bukan?” ujarnya ketus, tak ayal membuat sosok tampan itu memudarkan senyumnya.
Sosok manis yang sejak tadi berdiam diri kini melangkah mendekati Wendy dan David. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. “Hai, Wendy. Perkenalkan, namaku Clara.” Ujarnya ramah dan mengulurkan tangannya yang langsung diterima oleh Wendy.
“Dan aku Justyn, kekasih Clara.” Pemuda yang memperkenalkan diri sebagai Justyn mendekat, merangkul bahu gadis manis yang ia akui sebagai kekasihnya. “Kami berdua adalah sahabat David.”
Wendy tersenyum, tatapannya beralih pada sosok di sampingnya. “Kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau kau punya dua orang teman.”
David mengangkat bahu santai. “Mereka tidak penting untuk diceritakan.”
Justyn dan Clara hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya. Mereka sudah mengenal David sejak lama, jadi mereka tidak mempermasalahkan sikap menjengkelkannya itu. Meski sebenarnya Justyn ingin sekali menghadiahkan sebuah pukulan di wajah tampan yang selalu menampilkan ekspresi dingin itu.
*****
Brenda sedang membaca buku di mejanya, saat sosok yang ia rindukan muncul di ambang pintu. Matanya membulat lucu, segera saja ia berdiri saat sosok itu mulai berjalan menuju mejanya. Ekspresinya tampak tidak percaya sekaligus senang.
“Alex, kenapa kau bisa di sini?”
Yang diberi pertanyaan memberinya senyuman. “Sekolah, tentu saja.”
“Maksudku, bukannya kau sudah berhenti dari sekolah? Dan bukankah seharusnya kau di hutan saat ini?”
“Aku belum mengatakan pada pihak sekolah bahwa aku berhenti, bukan? Lagipula pencarian ku sudah selesai.”
Brenda mengerjap, membenarkan kalimat pertama Alex. Tapi ada satu hal yang membuatnya bingung, yaitu kalimat terakhir pemuda tampan itu. “Kau tidak bisa menemukan Wendy?”
Alex mengangkat wajahnya, menatap tepat pada foxy di hadapannya. “Aku sudah menemukannya.” Senyumnya berkembang, tak menyadari ekspresi Brenda yang berangsur-angsur mengalami perubahan.
“Benarkah?”
Alex mengangguk antusias, dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya.
Entah Brenda harus senang mendengarnya atau tidak. Di sisi lain ia senang, dengan ditemukannya Wendy berarti Alex akan tetap berada di sisinya, bukan di dalam hutan untuk melakukan pencarian. Tapi di sisi lain ia kecewa, perhatian Alex nantinya hanya akan diberikan pada gadis manis itu. Dan ia tidak bisa membayangkan hal itu terjadi.
*****
“Jujur padaku.”
Kata ambigu itu sukses menimbulkan kerutan di kening Wendy. Dengan alis yang terangkat ia memandang punggung tegap David yang tengah membelakanginya saat ini.
Buku dalam pangkuannya ia tutup, berusaha memusatkan perhatiannya pada sosok tampan yang sejak tadi memandang keluar jendela dalam diam.
“Apa maksudmu?”
“Saat aku pergi,” David memberi jeda sejenak, rahangnya tampak mengeras, membuat Wendy di belakang sana semakin kebingungan. “Ada yang menemui mu, bukan?”
Firasat buruk menghampiri Wendy. Ia tidak menyangka David akan mengetahui hal itu, sementara laki-laki tampan itu mengatakan bahwa ia tidak ada di rumah saat kejadian itu berlangsung.
Ternyata kediaman Wendy mampu menyulutkan api kemarahan dalam diri David. Ia berbalik dengan wajah mengeras, menatap tajam pada sosok yang tengah duduk bersila di atas ranjang.
“Kenapa kau diam saja?”
“A,aku..” Kedua karamel Wendy bergerak-gerak gelisah. “Bagaimana kau bisa tahu?”
Ekspresi David kembali seperti semula, datar dan dingin. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. “Aku mencium baunya di tubuhmu.”
Tubuh Wendy menegang, ia melupakan sebuah kenyataan bahwa Alex memeluknya saat mereka bertemu.
“Dia manusia, tercium dari baunya. Siapa dia? Aku tidak pernah melihatmu berteman dengan manusia sebelumnya. Atau jangan-jangan kau ke tempat itu?”
“Tidak, aku bertemu dengannya saat ia sedang tersesat di hutan ini. Karena kasihan aku membantunya keluar.”
Alex mengangkat alisnya. “Seharusnya kau membawanya ke rumah dan mengurungnya. Aku bisa memanfaatkan darahnya.”
“Dia hanya seorang kakek-kakek, kau tidak mungkin membunuhnya dengan kejam. Kasian dia.”
“Baunya tidak tercium seperti itu, itu bau tubuh laki-laki yang masih muda dan segar. Lagipula, sejak kapan kau mempunyai rasa kasian, Wendy? Biasanya kau tidak mempermasalahkan aku membunuh siapapun, anak kecil atau orang tua yang sudah bau tanah sekalipun.”
Kini Wendy benar-benar kesulitan untuk mengeluarkan suara. Semua ucapan David benar, dia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Biasanya ia akan langsung memberitahu David jika dia kebetulan bertemu dengan manusia, bahkan jika itu anak kecil yang sedang tersesat gara-gara mencari bolanya yang masuk ke dalam hutan.
Tapi entah kenapa, ia memperlakukan Alex dengan cara yang berbeda. Ia bahkan menyuruh Alex untuk pulang sebelum David melihatnya, tidak memanggilnya untuk masuk ke dalam rumah dan memberinya minuman yang dapat menghilangkan kesadaran pemuda itu, dan menunggu David memangsanya.
Tatapan Alex padanya mampu membuat hatinya perlahan-lahan luluh. Ia dapat melihat sebuah cinta dan kesungguhan di mata pemuda jangkung itu, bahkan saat Alex memeluknya, dapat ia rasakan jantungnya berdegup dengan kencang.
Alex memiliki sesuatu yang tidak ia pahami. Alex mungkin tidak memiliki kekuatan seperti David, tapi pemuda tampan itu seperti memiliki suatu hipnotis alami.
“Aku akan membunuhnya.”
Kalimat kejam itu mampu membuat Wendy kembali ke dunia nyata. “Kau akan apa?”
“Laki-laki itu, jika kau berani bertemu dengannya kembali, maka aku akan membunuhnya.”
Dengan berakhirnya kalimat itu, tubuh David perlahan-lahan berubah menjadi kabut hitam kemudian menghilang.
*****
Akhirnya hari yang ditunggu Alex datang juga. Wajahnya tampak cerah menatap hutan di hadapannya, hutan yang menjadi tempat tinggal Wendy selama bertahun-tahun.
Ia tersenyum puas, saat rumah mewah itu kini berada di hadapannya, berdiri kokoh di dalam hutan belantara. Rumah itu memang mewah kelihatannya, tapi tetap saja ada aura suram yang terpancar membuat bulu kuduk merinding.
Tapi bukan Alex namanya jika ia semudah itu menyerah dan lari terbirit-b***t selayaknya manusia pengecut. Bahkan jika ia bertemu dengan salah satu vampire pemilik rumah itu, ia akan berusaha melawannya. Meskipun ia tahu vampire bukan mahkluk yang mudah untuk dikalahkan, apalagi oleh manusia biasa yang tak mempunyai pengalaman bertarung seperti dirinya.
Tubuhnya segera bersembunyi di balik pohon besar saat pintu rumah itu terbuka. Dua orang keluar sambil bergandengan tangan, raut wajah mereka tampak begitu bahagia dengan sebuah senyuman. Mereka mengobrol ringan dan tertawa bersama.
‘Mereka pasti sepasang kekasih. Sungguh pasangan yang sangat bahagia.’
Salah satu sosok yang ia maksud mendadak berhenti melangkah, memendarkan pandangannya liar ke segala arah mencari-cari sesuatu. Alex yang menyadari situasi bahaya sebisa mungkin menyembunyikan tubuhnya dari pandangan pasangan tersebut. Ia bisa mati jika ketahuan.
“Ada apa, Justyn?” Suara lembut itu mengalun, memberi pertanyaan pada laki-laki tampan di hadapannya yang masih mengedarkan pandangan dan menajamkan indera penciumannya.
“Aku merasakan bau darah manusia di sekitar sini.”
“Benarkah?” Clara melakukan hal yang sama, bedanya, ia melakukannya dengan tenang dan lamat-lamat, sehingga memudahkannya untuk menemukan objek yang dicarinya. Sudut bibirnya terangkat, sementara pandangannya menatap lurus pada salah satu pohon besar yang mengelilingi rumah.
“Sepertinya aku sudah menemukannya,” ujarnya pelan dan berjalan lambat mendekati sasarannya.
Degup jantung yang berpacu dengan cepat terdengar jelas, serta aroma darah segar yang menguar begitu tajam dan menggairahkan. Mereka tahu, seseorang di balik pohon itu pasti sedang ketakutan saat ini. Betapa mereka tidak sabar untuk melihatnya dan memangsanya habis-habisan.
“Kalian sedang apa?” Sebuah pertanyaan menghentikan langkah mereka. Keduanya berbalik menatap Wendy yang berdiri di depan pintu, menatap bingung dengan tingkah aneh mereka.
“Tidak ada, hanya melakukan permainan iseng.” Clara tersenyum, memandang wajah kekasihnya kemudian menariknya pergi. “Kami pergi.”
Wendy menatap kepergian kedua sahabat kekasihnya bingung. Merasa aneh dan seperti ada yang mereka sembunyikan, jelas-jelas ia melihat keduanya seperti mencari sesuatu saat ia sedang bermain bersama ketiga kelincinya di pinggir jendela, namun saat dihampiri mereka malah melenggang pergi dengan santainya.
Wendy mengangkat bahu, mengelus bulu-bulu halus kelinci putihnya kemudian melangkah untuk masuk kembali ke dalam rumah, tapi sebuah suara menghentikannya.
“Wendy.”
Suara itu, terasa familiar di telinganya. Segera saja ia berbalik dan menatap sosok Alex yang berdiri di depan sebuah pohon. Matanya terlihat waspada menatap ke sekeliling, was-was jika ada serangan tiba-tiba dari dua makhluk penghisap darah yang hampir menemukannya.
“Alex?”
Ada binar-binar kebahagiaan di pancaran mata Alex saat Wendy menyebut namanya, ternyata gadis manis itu masih mengingatnya. Tapi tentu saja ia tetap harus waspada. Tidak menutup kemungkinan di dalam sana atau di sekitar rumah itu masih ada vampire lainnya.
Alex berjalan mendekat, ia tersenyum. “Aku senang kau masih mengingatku.”
“Tentu saja. Tapi, apa yang kau lakukan di sini?”
“Menemui mu.”
Tubuh Wendy menegang, baru teringat akan pesan David padanya untuk tidak bertemu kembali dengan Alex. Ia menatap ke dalam rumah sebentar kemudian kembali berhadapan dengan Alex yang tampak bingung.
“Kau tidak seharusnya ke sini.”
“Kenapa?”
“Tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Sekarang kau harus pergi.”
“Tapi aku masih ingin bertemu denganmu.” Alex bersikeras, dia sudah berjalan jauh ke dalam hutan dan hampir dimangsa, tapi hanya beberapa menit mereka bertemu Wendy sudah mengusirnya.
Sementara Wendy terlihat berusaha mendorongnya menjauh dari rumah, wajahnya pucat pasi, panik untuk hal yang tidak diketahui Alex.
*****
“Sepertinya kejadian ini akan menjadi hal yang menarik.”
Justyn menyeringai sambil memeluk Clara dari samping. Sebenarnya mereka tidak benar-benar pergi dari rumah, mereka hanya bersembunyi untuk melihat apa yang akan terjadi antara Wendy dan pemuda tampan yang tidak mereka kenal, namun memiliki hubungan masa lalu yang kuat dengan Wendy.
“Tentu saja, menarik sekaligus menegangkan. Aku berharap David melihatnya.”
Justyn mengarahkan tatapannya pada salah satu jendela kamar yang terbuka lebar, di mana David berdiri di sana sambil melihat ke bawah, tepat pada dua sosok yang saling mempertahankan kekeraskepalaannya.
“Keinginanmu terkabulkan, David melihat semuanya. Sepertinya akan ada pertumpahan darah setelah ini.”
*****
“Kau tampak tegang.”
Wendy segera menghentikan langkahnya begitu mendengar seruan David padanya. Laki-laki tampan itu baru saja keluar dari kamar mereka, sikapnya santai dengan senyum tipis di bibirnya. Seperti tidak mengetahui kejadian yang baru saja terjadi.
“Di mana dia?”
“D,dia siapa?” Keringat dingin mengaliri pelipis Wendy, dan tubuhnya semakin gemetar saat David mendekatinya.
“Kau berkeringat, padahal aku hanya menanyakan keberadaan ketiga kelinci mu.” Tangan David dengan lembut menghapus keringat Wendy, ia tersenyum, begitu menikmati kegugupan kekasihnya saat ini.
“Oh.” Wendy tersenyum lega. “Di dalam kandangnya.”
David menatapnya tajam dari bawah ke atas, menelisik penampilannya dengan seksama. “Kau butuh mandi, sayang. Untuk menyegarkan tubuhmu setelah bermain seharian bersama ketiga kelinci lucu itu. Lihatlah, bahkan ada bulu menempel di pipimu.”
Wendy mengangguk. “Iya, aku akan mandi sekarang.”
*****
David berdiri di salah satu atap rumah sambil menatap ke depan. Kedua sayap hitamnya mengepak pelan di punggung tegapnya. Tatapannya tajam mengawasi setiap pergerakan yang dilakukan pemuda tampan di dalam salah satu kamar yang ia intai.
Sepasang iris kelamnya menyipit saat pemuda tampan di dalam sana mengambil sebuah figura. Ia mengenal salah satu anak kecil dalam foto itu, ia tahu meski itu sudah lewat bertahun-tahun yang lalu. Anak kecil yang memeluk boneka beruang itu adalah Wendy, ia yakin itu. Ia masih sangat mengingat bagaimana rupa Wendy saat pertama kali mereka bertemu.
Sepasang karamelnya yang polos tampak berkaca-kaca saat mereka bertatapan untuk pertama kalinya. Entah alasan apa yang mendorongnya untuk membawa anak kecil yang tidak tahu apa-apa itu ke istana kecilnya.
Ia akui ia memang memiliki sedikit ketertarikan pada bocah manis itu, ketertarikan yang sebenarnya tidak wajar. Ia tertarik pada anak kecil pada pandangan pertama, apa itu bisa disebut sebagai Love at the first sight?
Tapi setidaknya keputusannya membawa Wendy saat itu bukanlah suatu keputusan yang salah, karena sekarang Wendy tumbuh dengan baik dan tentu saja ia semakin manis dan menarik. Membuatnya semakin mencintai gadis manis itu dan tak akan membiarkan siapapun merebutnya dari sisinya.
“Wendy adalah milikku,” desisnya tajam. Tatapannya kembali fokus pada Alex yang kini berbaring di ranjang sambil memeluk figura berbingkai coklat kehitaman miliknya.
Ia mengernyit tak suka saat mengingat wajah Alex. Dia anak kecil yang bersembunyi di balik semak-semak saat ia sedang menghisap darah kakak Wendy, ia tidak bodoh jika hanya untuk menyadari kehadiran orang lain di sekitarnya.
Penciumannya sangat tajam dan instingnya begitu kuat untuk mengetahui hal sekecil apapun. Bahkan ia tahu tentang pertemuan pertama Alex dan Wendy meski ia berada jauh dari rumah saat itu.
Mulai sekarang ia harus lebih waspada mengawasi Wendy, bertemunya Wendy dengan Alex akan membuat semua yang dibinanya selama ini menjadi kacau. Alex akan membuat ingatan Wendy kembali dengan cerita-cerita masa lalunya. Dan ia tidak menginginkan hal itu terjadi, terlebih soal kematian kakaknya yang disebabkan olehnya, Wendy pasti akan sangat membenci dan menjauhinya.
*****