Part 4

2434 Kata
Kejadian itu sudah lewat bertahun-tahun yang lalu. Namun baginya kejadian itu terasa baru terjadi kemarin. Atau itu hanya perasaannya yang masih belum bisa menerima semuanya? Dan, apakah hanya dia yang masih mengingat kejadian mengerikan itu? Ia menghela napas panjang dan memejamkan kedua matanya. Kilasan memori kejadian itu kembali berputar dalam pikirannya. Di mana saat itu dia masihlah seorang bocah berumur 7 tahun. Berjalan sendirian dalam gelapnya malam tanpa mengenal kata takut, hingga ia sampai pada tempat tujuannya dan malah disuguhkan oleh peristiwa yang tak terduga. Otaknya menyuruhnya untuk berlari dan meminta tolong pada warga lainnya. Namun yang terjadi malah sebaliknya, ia tetap berdiam diri dibalik persembunyiannya. Semua sudah terlambat ketika ia melihat bocah manis seumurannya dibawa pergi oleh sosok asing yang menjadi biang dari kematian perempuan cantik yang kini terbujur kaku. Meskipun ia berteriak pada akhirnya, semua sudah terlanjur terjadi. Dan ia benar-benar menyesali kebodohannya itu. “Wendy, kau di mana? Apa kau masih hidup? Jika iya, tolong beri aku petunjuk akan keberadaan mu. Kumohon.” Kedua tangannya mengepal erat, seiring dengan tetesan cairan asin itu mengaliri pipinya. ***** “Kau serius akan pergi?” Alex tidak menjawab, namun gerakan kedua tangannya yang tengah memasukkan barang ke dalam tas punggung besar berwarna hitam itu tak berhenti. Mengambil segala sesuatu yang menurutnya penting untuk menunjang pencarian panjangnya, dan setelah semuanya sudah masuk sempurna ke dalam tas, kini tinggal ia mempersiapkan diri untuk keberangkatannya. Ia beranjak dari posisinya, meraih sebuah jaket kulit berwarna coklat terang yang tersampir rapi di atas ranjang kemudian mengenakannya. Terlihat begitu tidak peduli dengan keberadaan gadis cantik dengan postur tubuh lebih pendek darinya yang kini hanya bisa menghela nafas. “Aku tahu tujuanmu baik, tapi aku rasa ini juga tidak akan berhasil.” Alex menatapnya tajam seolah mengatakan kalimat protes akan ucapan gadis cantik itu. “Kita tidak akan tahu hasilnya sebelum kita mencobanya terlebih dahulu.” “Tapi kau mau mencarinya kemana? Dunia ini luas, Alex, tidak sesempit yang kau bayangkan.” “Aku akan memulai pencarian di hutan terdekat dulu bisa saja dia ada di sana. Karena seperti yang kita tahu, makhluk bengis itu selalu membawa mangsanya ke dalam hutan. Tapi jika memang dia tidak ada, aku tidak akan menyerah untuk mencari ke tempat yang lebih jauh. Bahkan jika harus, aku akan mencarinya ke ujung dunia sekalipun.” Ia berbalik, menyampirkan tas punggungnya ke bahu kanan dan menghampiri pintu. “Jaga ayah dan ibuku selama aku pergi.” “Lalu bagaimana dengan sekolahmu?” “Aku berhenti.” Setelahnya ia pergi dari sana, meninggalkan rumah sederhananya yang nyaman untuk memulai sebuah petualangan baru yang ia tidak tahu akan semengerikan apa nantinya. ***** Dan di sinilah dia sekarang. Di depan hutan lebat yang tampak mengerikan dan pastinya dihuni oleh binatang-binatang buas yang kapan saja bisa menyerangnya. Namun tekadnya terlalu kuat untuk membuatnya mundur. Karena jika ia mundur sekarang maka peluangnya untuk bertemu dengan gadis manis itu tidak akan pernah ada, dan tentu saja itu akan membuatnya menyesal seumur hidup. Perlahan ia melangkah, memposisikan tas punggungnya senyaman mungkin agar tidak membebani langkahnya. Ia tidak tahu bahwa ternyata hutan ini terlihat jauh lebih mengerikan bila dibandingkan dengan bayangannya selama ini. Gelap dan sedikit pengap. Cahaya matahari sedikitpun tak ada, membuat permukaan tanah dan dedaunan pohon terlihat lembab. Mungkin saja hujan baru turun sebelum ia datang. Setidaknya itu yang ada di pikirannya. Bukan suatu hal yang aneh jika ia merasa sedikit takut, karena itu lumrah dirasakan oleh manusia biasa seperti dirinya. Tatapannya tajam dan selalu waspada akan kemungkinan buruk yang menimpanya. Tapi dia laki-laki, dan laki-laki tentu harus bisa melewati rintangan sesulit apapun untuk bisa membuktikan bahwa dia benar-benar lelaki sejati. Buru-buru ia mengeluarkan ponselnya, hanya sekedar ingin melihat apakah ada jaringan atau tidak. Dan perkiraannya benar, tidak ada jaringan sama sekali. Itu tidak mengherankan melihat kondisi hutan yang dipijaknya saat ini begitu tertutup dan jauh dari jangkauan kota. Kembali ponsel canggih itu ia masukkan ke dalam tas dan mulai melangkah kembali, sebelum matahari terbenam dan membuatnya semakin kesulitan. ***** Langit sudah mulai berwarna jingga di atas sana menandakan sebentar lagi malam. Dan hal inilah yang dikhawatirkan Alex. Sudah seharian ia berjalan dan mencari, namun tak ada tanda atau petunjuk sedikitpun yang ia temukan. Atau dia yang salah tempat untuk mencari? Dia menggeleng. Tidak ada kata salah tempat, yang ada hanya masalah waktu. Cepat atau lambat Wendy pasti akan dia temukan. Ya, dan dia harus tetap mempertahankan sikap optimisnya itu. Pandangannya mengedar, berusaha mencari tempat yang tepat untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya. Berjalan seharian tanpa henti tentu sangat melelahkan. Selain mengistirahatkan tubuhnya, ia juga perlu mengganjal perutnya yang sejak tadi pagi belum terisi apa-apa. Tempat yang aman dan pastinya jauh dari jangkauan para binatang buas. Bukankah sangat mustahil menemukan tempat seperti itu di hutan yang luas dan mengerikan ini? Ini hutan dan tentu saja tempat hunian para binatang liar. Bahkan tidak ada yang berani menjejakkan kakinya ke hutan ini walau hanya sekedar untuk mencari kayu bakar atau sekedar untuk menikmati perkemahan. Tidak ada kecuali dirinya. Atau para korban yang pastinya sudah tidak ada lagi di dunia ini. “Haahhh.. di mana saja semuanya sama. Para binatang buas itu pasti akan menemukanku juga. Mungkin sebaiknya aku di sini saja. Setidaknya pohon besar ini bisa menjadi tempat persembunyian ku nanti.” Ia terkekeh sejenak. Bukan menertawakan sesuatu yang lucu melainkan menertawakan dirinya sendiri. Tentu saja pohon besar di hadapannya tidak bisa melindunginya, kecuali jika ia bisa memanjat naik. Kepalanya sedikit mendongak untuk melihat seberapa tingginya pohon itu. dan kenyataan di hadapannya membuatnya menelan ludah sendiri. Pohon itu terlalu tinggi dan besar, mana mungkin orang yang tidak punya pengalaman seperti dia bisa memanjatnya. Setelah menjernihkan pikirannya ia mulai membentang tikar kecil yang dibawanya. Mengeluarkan beberapa bungkus mie instan, satu kompor kecil, sebotol mineral dan sebuah panci untuk memanaskan air. Sembari menunggu airnya mendidih, ia mencari beberapa potong kayu untuk membuat api unggun. Selain berfungsi sebagai penerangan, api unggun itu katanya juga bisa mencegah para binatang buas untuk mendekatinya. Setidaknya ia berharap asumsi para tetangganya itu benar adanya. ***** Saat tidur semua berlalu dengan cepat, bukan? Tak heran jika kita merasa baru memejamkan mata beberapa jam bahkan menit fajar sudah menjemput dengan riangnya. Siang atau malam hutan itu memang terlihat sama saja, sama-sama gelap dan menakutkan. Tapi setidaknya efek embun pagi masih bisa dirasakan di sana. Segarnya udara pagi tentu menjadi pembeda sendiri antara siang dan malam. Alex menggeliat tidak nyaman saat dirasakannya sebuah jilatan-jilatan kecil di wajahnya. Perlahan ia membuka mata dan mengumpulkan kesadarannya. Bulu-bulu halus dan lembut yang mengenai tubuhnya membuatnya tersentak dan segera mendudukkan dirinya. Jaket yang semalam ia pakai untuk menghangatkan tubuhnya dari dinginnya udara malam terjatuh begitu saja di pangkuannya. Ia menatap ke sekeliling. Api unggun yang dibuatnya sudah mati sempurna. Beberapa bungkus mie instan yang sudah kosong berserakan di pinggir tikar yang dia gunakan untuk tidur, begitu pula dengan panci dan kompor yang dia biarkan begitu saja tanpa dia rapikan terlebih dahulu sebelum mengistirahatkan tubuhnya semalam. Sedikit dia merasakan sebuah gerakan di balik jaket di pangkuannya. Sedikit was-was ia menyingkap selimut itu, bisa saja sesuatu yang bergerak di dalam sana adalah seekor ular atau binatang kecil berbisa lainnya. Tapi ternyata perkiraannya salah. Alih-alih merasa takut ia malah menghembuskan napas lega. Ia tersenyum sementara kedua tangannya menggendong kelinci putih yang sudah membangunkannya dari tidurnya itu. “Hai, kelinci manis. Terima kasih sudah membangunkan ku.” Ia terus mengelus bulu halus kelinci lucu di pangkuannya yang ternyata berjumlah tiga ekor, tak menyadari sosok yang mulai mendekat ke arahnya. Suara pijakan di atas daun-daun yang sedikit kering membuatnya menoleh dengan cepat dengan sebatang kayu di tangannya. Sosok di hadapannya tampak kaget, namun tidak menunjukkan tanda-tanda ia akan melakukan perlawanan. Ekspresinya malah berubah terlihat datar dan biasa saja. “Maaf mengagetkan mu, tapi kelinci itu milikku.” Alex gelagapan. “Ah, m,maaf, aku pikir tadi binatang buas yang akan menyerang ku.” Kayu di tangannya perlahan diturunkannya. Menyerahkan tiga ekor kelinci di pangkuannya pada sosok manis di hadapannya yang dengan cepat mengambilnya. “Maaf soal tadi.” Alex masih merasa tidak enak. Namun tampaknya gadis di hadapannya tak mengambil pusing tentang hal itu. “Tidak apa-apa,” ujarnya tenang. Sejenak tatapan mereka bertemu. Namun tak berlangsung lama ketika gadis manis itu perlahan mulai meninggalkannya. Dan ia terlambat menyadari sesuatu. Sepasang karamel itu sangat familiar untuknya, bentuk wajah dan tubuhnya yang mungil. Mungkinkah jika dia.. “Wendy?” ***** “Dari mana pagi-pagi begini?” Suara husky yang dalam dan menyentuh itu langsung menyambutnya ketika ia memijakkan kaki di dalam rumah mewah satu-satunya di hutan itu. Wendy tersenyum kecil. “Jalan-jalan.” “Kau tidak ke tempat itu, ‘kan?” “Tadinya aku ingin sekali, tapi sayangnya aku mengingat ancaman mu.” “Baguslah, itu artinya kau masih mengingatku.” “Percaya diri sekali.” Wendy mencibir, tapi kemudian ia berlari ke dalam pelukan laki-laki tampan yang memang sedang merentangkan kedua tangan untuk menyambut pelukan hangatnya. Mereka berpelukan cukup lama seakan hal itu jarang sekali mereka lakukan. Sebelum kelinci lucu yang ternyata masih berada dalam gendongan Wendy menggeliat tak nyaman. Mereka menyudahi pelukan hangat itu sambil tertawa bersama. Menyadari kebodohan mereka yang hampir saja membunuh makhluk lucu itu hanya karena sedang menyalurkan kasih sayang satu sama lain. Tangan kanan Alex terangkat untuk mengusap kepala kelinci dalam gendongan Wendy. “Kau suka kelincinya?” “Ya, tapi mereka sama liarnya denganmu. Baru ku tinggal sebentar saja mereka sudah menghilang.” Alex tergelak. “Aku liar? Lalu bagaimana denganmu?” Godanya. Tak ayal membuat semburat merah itu muncul bersamaan menghiasi pipi tirus gadis manis di hadapannya. “Sudahlah, aku mau mandi.” Wendy meletakkan ketiga kelinci dalam gendongannya ke dalam kandang yang sudah tersedia. Setelah memberikan beberapa wortel ia beranjak dari sana. “Kau tidak berburu hari ini?” Tanyanya sembari mengambil sepasang baju dari dalam lemari. Mereka sedang berada di kamar saat ini. “Tidak.” Alis Wendy terangkat, ia bingung. Tidak biasanya laki-laki tampan di hadapannya seperti ini, melewati satu hari untuk berburu mangsa dan memilih untuk tinggal di rumah tanpa kegiatan berarti. “Kenapa?” “Diet.” “Aku tidak tahu kalau vampire juga bisa obesitas.” Candanya. “Haha.. tidak, hanya ingin menikmati waktu berdua denganmu, salahkah?” “Tentu saja tidak.” Wendy baru saja akan menutup pintu kamar mandi sebelum suara husky itu kembali menyapu indera pendengarnya. “Mau ku mandikan?” Dan kalimat itu sukses membuat pintu di hadapannya terbanting keras. “Aku bukan anak kecil lagi!” Setelahnya hanya suara tawa David yang terdengar mendominasi ruangan mewah itu. Tawanya begitu lepas tanpa beban. Dan itu kali pertama Wendy mendengarnya. Ia memegang d**a kirinya, tersenyum dengan lembut sebelum memulai ritual mandinya. ***** Alex merutuki dirinya sendiri yang begitu lamban. Seharusnya ia membiarkan saja dulu barang-barangnya dan mengejar gadis manis yang ia yakini Wendy itu. Dan sekarang ia benar-benar kehilangan jejak. Sosok mungil itu tidak terlihat di mana-mana setelah pertemuan singkat mereka. Kembali ia berpikir. Dia yang terlalu lamban atau gadis manis itu yang terlalu cepat? Atau bisa saja gadis manis itu bukan manusia biasa melainkan vampire? Tapi warna kulitnya tidak sepucat makhluk penghisap darah itu, bahkan kulitnya terasa hangat seperti manusia pada umumnya ketika ia tidak sengaja menyentuh tangannya saat menyerahkan tiga ekor kelinci miliknya. Ia terus berjalan tanpa arah. Beban di punggungnya juga terasa berat setelah berjam-jam menggendongnya. Haruskah dia beristirahat lagi? Tidak. Dia tidak boleh selemah ini. Sebelum dia menemukan Wendy dia tidak boleh beristirahat, karena itu hanya akan memperlambat langkahnya. Ia mengatur nafas ketika rasa lelah mulai menghampirinya. Berlari dalam jarak yang cukup jauh membuat napasnya memburu dan kakinya yang terasa perih di balik sneakers putih yang dipakainya. Tubuhnya ia sandarkan pada batang pohon yang menjulang tinggi. Dadanya naik turun menandakan bahwa ia benar-benar kelelahan. Baru saja ia selesai menikmati segarnya air yang melewati tenggorokannya, suara geraman seekor anjing hitam mengagetkannya dari samping. Ia tidak sadar ternyata kini di hadapannya sebuah rumah mewah berdiri dengan kokohnya Tubuhnya menegang. Berusaha menggapai potongan kayu yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya untuk mengusir anjing yang kini menggonggong dengan keras padanya. ***** Pintu kamar mandi berwarna putih itu terbuka lebar. Wendy keluar dengan perasaan segar dan sehelai handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah. Ia mengedarkan pandangan saat tak menemukan sosok David di kamar mereka berdua. “Di mana dia? Bukannya dia bilang akan tinggal di rumah seharian ini?” tanyanya pada diri sendiri. Tidak mau memusingkan hal itu ia menggantung handuk putih di tangannya pada gantungan di samping pintu. Menghampiri meja rias untuk melihat pantulan wajahnya dan merapikan rambutnya yang berantakan. Suara ribut anjing peliharaan mereka di luar sana membuatnya merasa terganggu. Tidak biasanya anjing liar itu menggonggong begitu keras, kecuali jika ia sedang lapar. Ia mengerutkan kening. “Bukannya David sudah memberinya makan tadi pagi? Lalu kenapa dia masih menggonggong? Atau jangan-jangan..” Segera saja ia menuju balkon. Melihat tepat ke arah seekor anjing yang tampak begitu bersemangat ingin menyerang seorang pemuda tak jauh di hadapannya. Dugaannya benar, ada orang asing yang berusaha menerobos masuk ke rumah mewahnya bersama David. Dengan berbekal sebuah tongkat ia menuju lantai dasar. Berjalan dengan pelan ke arah anjing dan pemuda yang masih sibuk mempertahankan keselamatan dirinya. “Kau,” ujarnya terputus saat melihat pemuda di hadapannya adalah pemuda yang ia temui tadi pagi. Melihat tidak ada tanda bahaya dari pemuda itu ia memberi perintah pada anjingnya yang tampak begitu penurut dan meninggalkan mereka berdua. “Sedang apa kau di sini?” Ia mengernyit bingung melihat pemuda jangkung di hadapannya malah tersenyum lebar padanya. “Wendy.” “Bagaimana kau bisa tahu namaku?” Alex tidak salah lagi. Gadis manis di hadapannya benar-benar Wendy. Tanpa berpikir panjang ia segera merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. “Wendy, aku merindukanmu.” Dengan susah payah Wendy melepaskan pelukan itu. Ia tidak mengenal pemuda asing di hadapannya, tapi pemuda itu malah memeluknya dan mengatakan ia merindukannya. Bukankah konyol jika pemuda itu begitu merindukannya sementara mereka baru bertemu beberapa menit tadi pagi. “Kau siapa?” Pertanyaan yang sukses membuat Alex menegang. Tapi setidaknya itu wajar, mereka baru bertemu lagi setelah sepuluh tahun berpisah. “Aku Alex, kau ingat? Teman kecilmu dulu, kita selalu bermain bersama.” Tapi kerutan di kening gadis manis di hadapannya membuat Alex kecewa. Wendy sudah melupakannya, benar-benar melupakannya. “Aku tidak ingat jika aku punya teman kecil dulu. Maaf, sepertinya kau salah orang. Dan ku sarankan kau untuk segera pulang, ini bukan tempat untuk orang-orang sepertimu.” Tubuhnya berbalik untuk memasuki rumah mewahnya kembali. Namun belum juga beranjak dari sana, ia kembali menatap wajah pemud jangkung yang hanya bisa menatapnya dalam diam. “Sekedar informasi, aku sudah tinggal di hutan ini sejak lahir. Dan teman-temanku hanya para binatang yang tinggal bersamaku di sini selain David.” “Kau tidak ingat kak Olive?” Wendy kembali menatap Alex, tapi bibirnya tertutup rapat menandakan ia tidak ingin menanggapi pertanyaan pemuda tampan itu. “Dia kakak yang sangat kau sayangi. Orang yang menjagamu penuh kasih sayang setelah kematian kedua orangtuamu. Kalian tinggal berdua di sebuah rumah sederhana yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahku. Apa kau tetap tidak mengingatnya?” Wendy menggeleng. “Bahkan kedua orangtuamu?” “Aku sama sekali tidak mengerti dengan yang kau katakan.” Alex hanya bisa terdiam dengan berbagai pertanyaan di kepalanya. Bahkan ketika Wendy sudah meninggalkannya sendirian di sana. Tidak apa-apa jika Wendy melupakannya, hubungan pertemanan mereka juga masih bisa dibilang baru saat itu. Tapi bagaimana mungkin dia bisa melupakan kedua orang tua beserta kakak yang selalu berada di sisinya selama ia terlahir di dunia ini. Sedikitpun memori tentang keluarganya ia tidak ingat sama sekali. Bahkan ia tampak nyaman tinggal di hutan ini. Bukankah itu terasa ganjil? Biasanya orang-orang yang diculik suatu saat akan melakukan perlawanan dan berusaha kabur. Tapi Wendy justru menampakkan hal yang berbeda. Satu kesimpulan yang diambilnya. Ingatan Wendy di masa lalu pasti telah dihapus oleh orang yang bernama David itu. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN