10 years later
Gelap, sepi dan mengerikan.
Hanya tiga kata yang dapat menggambarkan suasana di tempat itu. Pohon-pohon yang menjulang tinggi berdiri tegak di setiap sisi, ranting-rantingnya bergerak ke kiri dan kanan mengikuti arah hembusan angin. Menciptakan suara gesekan yang berisik dan merupakan satu-satunya suara yang dapat didengar di sana.
Tak ada cahaya, matahari seolah-olah bersembunyi tak berani menunjukkan dirinya. Meskipun ia ingin, ia juga tak dibutuhkan di sana. Karena keberadaannya hanya mengganggu dan merusak segalanya. Tak ada kata siang, karena tempat itu selalu menggelap, tanpa sedikitpun cahaya matahari yang menyinarinya.
Sepasang kekasih. Ah, lebih tepatnya pemangsa dan korbannya terlihat berjalan beriringan menuju sebuah rumah. Rumah mewah bergaya klasik-modern dengan segala perabotan yang unik dan jarang ditemukan di tempat umum.
Dinding-dinding kokoh yang membentengi setiap ruangan dilapisi dengan cat berwarna hitam dan putih, serta lukisan-lukisan dengan gambar abstrak menghiasinya.
Mereka berjalan menaiki tangga, menapakinya satu persatu hingga akhirnya tiba di puncak. Melewati beberapa ruangan kemudian memasuki sebuah kamar yang sangat luas, sebuah kamar yang terlihat sangat kontras dengan keadaan di luar. Kamar itu seluruhnya dihiasai dengan warna emas, terlalu mewah dan sangat berkelas.
Tanpa mereka sadari. Seseorang sejak tadi memperhatikan mereka di balik buku tebal yang ia baca. Kepalanya menggeleng pelan dengan senyum penuh arti. Ia sudah hafal apa yang akan terjadi pada wanita itu. Berakhir dengan cara mengenaskan kemudian dikubur begitu saja di halaman belakang atau diberikan pada anjing-anjing buas peliharaan mereka.
“Aaaaarrgggghh….”
Ia menyeringai. Dugaannya tak pernah meleset, selalu tepat sasaran. Tepat setelah ia menutup buku yang sudah ia baca setengahnya, seseorang yang menjadi biang dari pekikan pilu tadi muncul di sampingnya. Melewatinya begitu saja dengan langkah angkuh menuju kursi kebesarannya, duduk dengan menyilangkan kaki sambil menikmati segelas darah segar yang baru saja didapatkannya.
“Sepertinya kau benar-benar kenyang hari ini. Kulihat sudah ada empat korban yang kau bawa.”
Laki-laki yang menjadi lawan bicaranya tersenyum, senyum sinis yang benar-benar memuakkan namun mempesona dalam waktu yang bersamaan. Ia beranjak dari kursi kebesarannya, berjalan mendekati gadis manis yang menatapnya dengan wajah tenang meski jantungnya berdegup kencang.
“Apa kau ingin mengatakan bahwa kau cemburu?” bisiknya tepat di telinga lawan bicaranya.
Gadis manis itu tersenyum mengejek. “Cemburu? Untuk apa? Mereka tidak ada hubungannya denganku.”
Laki-laki itu menjauhkan wajahnya. Berjalan kembali menuju kursi kebesarannya, duduk dengan gaya angkuh dan tatapan tajam yang seolah-olah ingin menelanjangi gadis di hadapannya. “Wendy Xenia Alexander, kau pasti tahu betul bahwa kau tidak bisa membohongiku. Aku tahu kau cemburu karena aku menyentuh mereka, sementara sudah seminggu ini aku mengabaikan mu.”
“Aku tidak pernah mengatakan hal itu.”
“Matamu yang memberitahuku, sayang. Apa kau ingin bermain-main malam ini?”
Wendy menghentakkan buku bacaannya ke permukaan meja dengan keras. “Kau menjijikkan! Apa hanya kalimat itu yang bisa kau ucapkan?” Kemudian ia berlalu.
“Kasar sekali.” Seringainya semakin berkembang.
*****
Kemilau jingga sang surya berpadu dengan langit sore, semakin menambah keindahan pemandangan langit kala itu. Seseorang dengan pandangan kosongnya menatap jauh ke arah matahari yang mulai terbenam. Ia tak benar-benar menikmati keindahan yang tersuguhkan di hadapannya, tapi ia sedang memikirkan seseorang. Seseorang yang sudah bertahun-tahun menghilang dari pandangannya, seseorang yang sangat istimewa dan tak akan pernah bisa ia lupakan.
Seseorang mendekatinya, menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Bibirnya sedikit terbuka hendak mengucapkan sebuah kalimat, tapi kemudian tertutup lagi. Ia sadar, kehadirannya hanya akan mengganggu pikiran pemuda jangkung di depannya. Bahkan, ia tahu bahwa dia tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengannya. Gadis manis yang hanya dapat ia kenal dalam kurun waktu yang sangat singkat. Sangat singkat sampai-sampai ia tak mengingat bagaimana rupa gadis itu, yang ia ingat hanya senyum polos dan perlakuan baiknya pada setiap orang.
“Ada apa, Brenda?”
Tubuhnya tersentak, sungguh ia tak menyadari jika pemuda yang sejak tadi ia pikirkan kini sedang memandangnya. Bukan tatapan lembut, hanya tatapan biasa yang tak mendefinisikan apa-apa. Ia hanya sahabat bagi pemuda itu, dan tak akan pernah berubah sampai kapanpun bahkan jika ia memohon sekalipun.
“Tidak, aku hanya ingin menemanimu melihat matahari terbenam. Apa aku mengganggu?”
“Tidak.” Ia tersenyum sambil menatap kearah matahari yang sudah tenggelam sempurna, kemudian berbalik untuk menatap gadis yang terlihat lebih tenang hari ini. “Tapi kau terlambat, mataharinya sudah terbenam.”
“Ah, benar. Aku terlambat.” Brenda mengusap tengkuknya pelan, entah mengapa ia merasa sangat canggung dengan suasana yang tiba-tiba kaku ini.
“Sebaiknya kita pulang, sudah malam. Kau tidak ingin tinggal di sini sampai esok hari untuk melihat matahari kembali muncul, bukan?”
Brenda tergelak. “Aku tidak se-nekad itu.”
Hening. Tak ada yang berbicara setelahnya. Hanya suara deburan ombak yang terkadang menyapu bibir pantai yang terdengar saling menyahuti.
“Alex.” Brenda berinisiatif menyebut nama pemuda yang sudah mulai melangkah jauh meninggalkannya, membuat pemuda itu berbalik dengan alis terangkat.
“Ya?”
“Kau baik-baik saja, kan?” Brenda menggigit bibir saat menanyakan pertanyaan konyol yang jelas-jelas ia sudah tahu jawabannya. ‘Dasar bodoh,’ rutuknya.
Alex tersenyum. Senyum yang mempunyai makna terselubung dan hingga saat ini tidak bisa diartikan oleh Brenda. “Aku rasa kau sudah mendapatkan jawabannya sebelum aku menjawabnya. Aku tak pernah merasa lebih baik sejak kejadian itu.” Pandangannya mulai kosong. “Bahkan aku mulai lupa apa itu kebahagiaan yang sebenarnya. Yang aku tahu saat ini hanya kebahagiaan palsu yang tak sedetikpun aku menikmatinya.” Setelahnya ia berlalu dari sana, meninggalkan Brenda tanpa menatapnya sedikitpun atau bahkan sekedar mengucapkan kata perpisahan.
Sungguh ironis, bukan?
*****
Ia masih setia berdiri di sana, di atas bumbung atap yang setiap saat dapat menghempas tubuhnya jatuh ke bawah. Pandangannya ia labuhkan pada langit yang diselubungi warna hitam pekat di atas sana, tak ada bulan bahkan bintang satu pun.
Lalu apa yang membuatnya betah menatap hamparan langit yang gelap itu? Entahlah, ia sendiri tak tahu jawabannya. Yang ia tahu ia hanya ingin menatapnya, hingga kebisuan langit itu menjawab setiap pertanyaan yang terbesit di pikirannya selama ini.
“Kau sedang apa di sini? Malam sudah semakin larut, kau tidak tidur?”
Sepasang tangan kokoh tiba-tiba melingkar di pinggangnya yang ramping, tak lupa sebuah ciuman kecil di perpotongan lehernya. Ia tak terkejut, malah reaksinya terlihat biasa saja, perlakuan itu sudah sering ia dapatkan dari laki-laki yang berstatus kekasihnya itu.
Ia menyentuh kedua tangan kokoh yang mengekang tubuhnya seraya menyandarkan punggungnya pada d**a bidang laki-laki yang sedang memeluknya dari belakang itu, untuk mencari kenyamanan dan kehangatan dari dinginnya malam yang mulai menusuk hingga ke tulang. “Aku sama sekali tidak mengantuk. Aku sudah mencoba tidur beberapa kali, namun rasanya mata ini begitu sulit untuk terpejam.”
“Insomnia?”
“Begitulah.”
“Kau mau jalan-jalan sebentar?”
Kedua karamelnya berbinar cerah, mendengar ajakan yang jarang sekali ia dengar dari bibir tipis laki-laki tampan yang masih setia memeluknya dengan erat itu. “Kau serius mengajakku jalan-jalan?” Karamelnya semakin berbinar saat sebuah anggukan didapatkannya. “Kemana?”
“Ketempat yang tak pernah kau kunjungi selama ini.”
Dan kepakan sayap mulai terdengar setelahnya.
*****
“Aku tidak pernah tahu bahwa ada tempat seindah ini di hutan terpencil ini.”
Wendy segera melangkahkan kakinya mendekati kumpulan bunga-bunga yang sedang bermekaran dengan begitu indahnya, tepat setelah kaki mereka menapaki tanah. Ia kemudian menatap ke sekeliling. Taman itu begitu luas, nyaris tak terlihat jika ia memiliki ujung. Sekilas taman itu tampak biasa-biasa saja tak berbeda jauh dengan taman pada umumnya, yang membedakannya hanya bunga-bunganya yang tampak hidup dari bunga biasa.
Bukan berarti bunga-bunga yang ditanam para manusia itu tidak hidup. Hanya saja, yang ini jauh lebih hidup. Pernahkah kalian melihat manusia menanam bunga atau pohon yang mengeluarkan suara nyanyian? Jawabannya tentu saja tidak, bukan?
Tapi di sini kalian bisa melihatnya, ada ribuan bahkan jutaan tanaman yang bernyanyi dengan merdunya. Suara nyanyian mereka begitu sinkron, membuat siapapun yang mendengarnya tak akan pernah merasakan kepuasan. Ingin, ingin dan ingin mendengarkan mereka bernyanyi terus-menerus.
Saat kulit kita bersentuhan dengan kelopaknya, maka mereka akan berhenti mengeluarkan suara. Menutup dengan cepat dan akan terbuka kembali saat tak merasakan apa-apa lagi. Dan Wendy benar-benar menikmati hal itu. Ia terus melakukannya berulang-ulang, begitu menikmati respon sang bunga yang tampak begitu takut untuk disentuh meski ia tak membawa ancaman apapun.
Seekor kunang-kunang tiba-tiba terbang melewatinya. Tertarik dengan warna kuning kehijauan yang diciptakan ekornya, Wendy mengikutinya, melewati ribuan bunga yang tingginya hampir mencapai pinggangnya. Langkahnya berhenti di tengah jalan, saat puluhan ekor kunang-kunang tampak mengelilinginya. Membentuk sebuah formasi yang begitu indah, seolah-olah mereka pernah dilatih sebelumnya untuk melakukan aksi itu.
Namun, tiba-tiba saja puluhan kunang-kunang itu berhenti mengelilinginya dan terbang ke arah kanannya. Wendy tak tinggal diam, ia terus mengikuti kunang-kunang itu sampai akhirnya kedua karamelnya menangkap sesuatu di depan sana. Ratusan bangunan dengan tinggi dan bentuk yang beragam serta cahaya yang menghiasinya.
“David.”
Laki-laki yang sejak tadi hanya berdiri dan memperhatikan gerak-geriknya mulai melangkah mendekatinya. “Ada apa?” Menanyakan sebuah pertanyaan meski ia sudah tahu apa yang ada dipikiran kekasih manisnya itu. Ia ikut menatap ke depan, menatap objek yang tampaknya begitu menarik di mata gadis bertubuh mungil di sampingnya.
“Tempat apa itu? Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.”
“Bukan apa-apa, hanya tempat yang tidak boleh kau dekati.”
Wendy menatap David meminta penjelasan. “Kenapa aku tidak boleh mendekatinya? Apa yang salah dengan tempat itu?”
“Bukan tempatnya, tapi para penghuninya. Mereka berbahaya, jadi jangan sekali-kali kau mendekati tempat itu.”
“Bukankah para korbanmu semuanya berasal dari sana? Mereka sama sekali tidak berbahaya. Tapi kaulah yang berbahaya.”
David mulai geram, tangannya terkepal erat menahan emosi yang siap meledak. “Sejak kapan kau mulai berani membantahku? Kalau aku bilang jangan mendekati tempat itu maka kau harus menjauhinya. Patuhilah setiap kata-kataku jika kau tak ingin berakhir tragis seperti mereka.”
Wendy bungkam. Ingin melawanpun rasanya begitu sulit saat ini, jadi yang bisa ia lakukan hanya pasrah dan menjadi anak yang patuh. Meski ia begitu ingin mengenal tempat yang terlihat begitu damai itu dan tinggal di sana.
“Sudah cukup jalan-jalannya, kita pulang sekarang.”
“Ya, aku juga sudah mengantuk.” Wendy menjawab tak semangat kemudian menggapai tangan David untuk membawanya terbang menuju istananya.
*****
“Alex, apa kau sudah menyelesaikan tugas dari Tuan Albert?”
Alex yang awalnya menatap keluar jendela semenjak kedatangannya di sekolah itu menoleh kearah pintu, di mana gadis cantik yang baru saja mengutarakan sebuah pertanyaan padanya dengan senyum yang menghiasi bibirnya. “Kau bertanya padaku?” Tanyanya seraya tersenyum manis, senyum yang seolah-olah ingin menyadarkan gadis cantik yang kini sudah duduk manis di sampingnya akan pertanyaannya.
Brenda meringis. “Ah, iya. Aku lupa kalau kau adalah siswa paling jenius, disiplin dan tidak pernah melalaikan tugas. Maafkan atas pertanyaanku yang tidak sopan tadi, tuan. Haahh… aku lupa mengerjakannya, bagaimana ini?”
“Aku sudah tahu motifmu, Brenda, aku sudah hafal kebiasaanmu itu. Berpura-pura lupa mengerjakannya walau pada kenyataannya kau mengingatnya. Kau ingin menyalin tugasku lagi, kan? Seperti biasa itu sudah menjadi kebiasaan burukmu setiap ada tugas.” Tanpa membiarkan Brenda memberi pembelaan atas tuduhannya tadi, Alex langsung mengeluarkan buku tugasnya dan menaruhnya di atas meja Brenda yang tampak cemberut dengan ucapannya.
“Kau menghinaku? Well, aku tahu aku bodoh dan kau tidak perlu repot-repot untuk memberitahuku.” Meski cemberut Brenda tetap menyalin tugas Alex dengan antusias, karena hanya dengan hal ini dia bisa mendapatkan nilai yang tinggi tak peduli dengan kerutan di kening para guru saat memeriksanya.
“Aku tidak pernah mengatakan kau bodoh, karena pada kenyataannya kau tidak bodoh. Kau hanya malas.”
“Ya, aku sudah sering mendengarkan hal itu darimu, Tuan Alexander Kevin Archelaus yang terhormat, bahkan telingaku sudah bosan mendengarnya. Kau mengatakannya setiap hari, ingat?”
“Baiklah itu terserah padamu, Brenda. Aku tidak berhak mengaturmu. Tapi ingatlah bahwa kemalasanmu hanya akan membuatmu sengsara. Tidak selamanya kau harus bergantung pada orang lain, suatu saat kau harus menolong dirimu sendiri, karena aku juga tidak selamanya bisa berada di sampingmu.”
Brenda terdiam, bahkan tangannya yang sedang menulis pun ikut berhenti. Ia menatap punggung tegap Alex yang saat ini tengah berjalan menuju pintu hingga akhirnya menghilang di balik tembok pembatas antara dinding dan koridor.
Ia sadar, sangat sadar bahwa ia tidak bisa selamanya bergantung pada Alex. Tapi sebelum hari itu datang, ia ingin menikmati kebersamaannya dengan pemuda yang ia kenal sejak ia masih berumur tujuh tahun itu sepuasnya. Ia hanya ingin bergantung pada pemuda tampan itu, membuatnya terlihat bodoh dan tak berdaya. Karena ia hanya ingin lebih diperhatikan.
*****