01. Mood
Aku enggak tahu, kenapa aku tak bisa marah padamu.
"Lo kenapa sih cemberut kayak gitu? udah jelek tambah jelek tau nggak.” Letta menelengkan kepalanya,, mencoba melihat ekspresi gadis yang sekarang sudah tertelungkup di meja.
Sejak masuk kelas muka Melody sudah ditekuk membuat orang yang ingin menyapanya mengurungkan niatnya daripada kena semprotan seperti yang dialami Radit tadi pagi. Radit yang memang tidak tahu apa yang terjadi dengan Melody, dengan santainya bicara kepada gadis itu untuk meminjam PR matematikanya, dan hasilnya memang Radit mendapatkan apa yang dia inginkan tapi sebelum itu terlebih dahulu mendapatkan semprotan dari Melody.
"Gara-gara Alan lagi?" tebak Letta, dan sepertinya tepat sasaran. Karena dia melihat reaksi Melody yang semakin cemberut. Letta menghela nafas,
"Dia kenapa lagi sih?" Letta tak habis pkir dengan sikap Alan yang sampai saat ini tidak sadar bahwa Melody mencintainya. Terkadang dia bimbang apa cowok itu memang nggak bisa peka sedikit atau memang nggak tahu arti tatapan Melody untuknya.
Tak ada balasan dari Melody, gadis itu masih asik menelungkupkan wajahnya. Hanya kedua bahunya yang naik turun, menandakan gadis itu masih hidup, Setelah cukup lama berdiam diri, dan menenangkan diri. Akhirnya, suara Melody terdengar.
Melody mengangkat kepalanya perlahan. "Diaa," perkataan Melody terputus karena mendengar suara orang yang sedang jadi objek pembicaraan mereka. Alan. Dengan cepat Melody merubah raut mukanya dari wajah sedih menjadi wajah biasa, tak lupa menghapus bekas air mata yang sempat turun dipipinya. Lalu tersenyum seperti biasa.
"Serius amat bu, ngomongin apa sih?" Alan menarik bangkunya menghadap dua gadis yang tengah sibuk ngobrol "Ngomongin gue ya" lanjutnya dengan alis yang ia naik turunkan.
Letta memandang Melody, tampak kasihan dengan temannya itu. Ketika Melody menoleh ke arahnya, dan tersenyum kecil. Mereka berdua berkata. “PD.”
Selalu seperti itu, Melody menyembunyikan perasaannya dari Alan. Karena ia tahu, Alan tak mungkin mengerti.
***
Melody melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan yang sering dia kunjungi jika ia sedang ingin menyendiri, seperti hari ini. Setelah terdengar bunyi bel istirahat dia langsung meluncur ke Ruang Musik. Ruang dimana dia bisa menyalurkan perasaannya secara tak langsung tanpa diketahui oleh orangnya. Bukan dia tak ingin mengatakannya tapi ah sudahlah mengingatnya saja membuat dia sesak.
"Kak Melody kesini juga?" ucap sebuah suara yang membuat Melody langsung menolehkan kepalanya kebelakang.
"Kamu juga?" tanyanya balik saat mengetahui siapa yang bertanya kepadanya Sasa, adik kelas sekaligus teman satu ekskul musiknya.
Gadis itu mengangguk lalu mengampiri Melody yang tengah memegang sebuah gitar ditangannya "Iya kak, lagi suntuk nih makanya kesini. Hari ini gitar ya kak" tanyanya ketika melihat Melody mulai memetikan gitar yang ia pegang.
"Ia, nih lagi coba-coba aja sih."
Sasa bertepuk tangan. "Nyanyi dong kak, lagu Maudy Ayunda." Ia menarik kursi dan duduk di sana, sudah bersiap untuk mendengarkan lagu dari Melody.
Melody yang mendengar itu langsung mengernyitkan dahinya heran,tapi langsung terkekeh
"Lo ya, baru dateng udah nyuruh gue nyanyi aja," candanya sambil geleng-geleng kepala. Jujur dia sangat jarang bernyanyi didepan orang lain apalagi dengan sesorang yang belum terlalu dekat dengan dirinya contohnya Sasa ini. “Suara gue jelek, cuman mau kasih tahu.”
Sasa nyengir, dia merasa salah tingkah mendengar perkataan kakak kelasnya itu, "Yah kak sekali doang, boleh ya," dia menggabungkan tangannya, meminta dengan sangat pada Melody untuk mengabulkan permintaannya itu.
Dia benar-benar ingin mendengar Melody menyanyi. Selama dia mengikuti ekskul musik belum pernah dia mendengar suara kakak kelasnya itu, padahal kata temannya yang tak sengaja mendengar Melody menyanyi mengatakan suara Melody bagus sangat bagus malah.
Melody tertawa kecil "Boleh, tapi yang mana?" akhirnya kalimat itu yang dikeluarkan Melody. Tak apalah sekali-sekali dia juga ingin menghilangkan rasa sesak yang ia rasakan saat ini
"Lagu apa ya." Sasa memegang dagunya, bertanda bahwa dia sedang berfikir " Emm yang kusimpan dalam mimpi aja gimana kak?" usulnya dengan menatap harap kearah Melody. Dan betapa senangnya dia melihat Melody mengangguk menyanggupi keinginannya.
"Boleh, tapi kalau nggak bagus jangan salahin ya" peringatnya setelah mengucapkan itu dia menghirup nafas dalam sebelum memulai petikan gitar dan memulai menyanyikan lagu itu
Senyumanmu sinari setiap kesedihan di hati
Tatapanmu hiasi setiap sudut angan-anganku
Mungkinkah ku jadi pilihan hatimu
Tiada henti ku selalu berangan
Melody memejamkan matanya, menyesapi lirik lagu itu. Lagu yang seakan menyindir dirinya sendiri. Tentang perasaannya terhadap sahabatnya.
Andai dirimu memilih hatiku
Kan ku serahkan cinta tulus di hatiku
Meski kau takkan pernah tahu ketulusan hatiku ini
Biar ku simpan dalam mimpi (ku simpan dalam mimpi)
Keindahan hatimu (indah hatimu) selalu membuatku terkagum
Keindahan hadirmu sungguh ku dambakan saat ini
Mungkinkah ku jadi pilihan hatimu
Tiada henti ku selalu berangan (selalu berangan)
Senyuman tipis terukir dibibir gadis itu. Dibenaknya kini penuh dengan Alan dan Alan. Senyuman, sikap dan kenangan mereka. Terasa seperti film didalam benaknya, berputar dan berputar sesuai dengan lirik yang dia nyanyikan
Andai dirimu memilih hatiku (memilih hatiku)
Kan ku serahkan cinta tulus di hatiku
Meski kau takkan pernah tahu ketulusan hatiku ini
Biar ku simpan dalam mimpi
Bibirnya dengan indah melatunkan lagu itu. Setiap lirik yang dia keluarkan seakan mempunyai kenangan tersendiri. Tangannya dengan cekatan memetik gitar seakan dia sudah melatih diri memainkan gitar itu untuk menyanyikan lagu ini.
Andai dirimu memilih hatiku (memilih hatiku)
Kan ku serahkan cinta tulus di hatiku
Meski kau takkan pernah tahu ketulusan hatiku ini
Biar ku simpan dalam mimpi
Sasa yang mendengarnya menatap Melody kagum. Suara kakak kelasnya itu benar-benar bagus. Tanpa sadar dia ikut menyanyi tanpa suara, mengikuti petikan gitar Melody.
(andai dirimu memilih hatiku)
Kan ku serahkan cinta tulus di hatiku
Meski kau takkan pernah tahu semua yang ku rasakan ini
Biar ku simpan dalam mimpi
Biar ku simpan dalam mimpi
Matanya terbuka, petikan gitarpun sudah tak terdengar menandakan dia sudah selesai menyanyikan lagu itu. Melody menatap Sasa yang tengah menatapnya "Kenapa? Jelek ya? Kan udah..."
Ucapannya terputus karena tepuk tangan yang diberikan Sasa. Sasa tersenyum senang, benar kata temanya suara Kak Melody benar-benar bagus, hingga dia ikut terhanyut dalam lagu itu.
"Siapa yang bilang jelek kak. Keren banget keren" Sasa mengacungkan dua jempolnya ke Melody dan membuat gadis itu tersenyum simpul. "ajarinn dong kak biar bisa kayak gitu"
Melody yang hendak membalas ucapan Sasa harus mengurungkan niatnya karena terdengar ringthone hpnya menandakan ada pesan masuk. Dirogoh saku roknya mengambil benda yang berbunyi itu dan membuka pesan yang baru ia terima.
From : Alan
Mel, Lo dimana? Ngilang aja. Cepet ke kantin kita semua udah di kantin.
Senyum tipis terukir dibibir Melody, hanya mendapatkan pesan begini saja yang sudah menjadi makan sehari-harinya masih membuat jantung Melody berdegup kencang. Setelah membaca pesan itu Melody memasukan kembali hpnya kedalam saku, dan meletakkan gitar yang ia gunakan tadi ketempat semula.
"Dari siapa kak, senyum-senyum gitu" ledek Sasa membuat Melody teringat bahwa dia tidak sendiri diruangan itu.
Melody tertawa kecil mendengar ucapan Sasa itu "Apaan sih Sa. Dari temen nih ngajakin ke kantin, mau ikut?" tawarnya pada Sasa.
Sasa menggeleng pelan "Nggak ah kak, gue masih mau disini aja" tolaknya halus kepada kakak kelasnya itu
"Oke dah kalau gitu, gue duluan ya" ujarnya lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan itu, tapi belum dia membuka pintu suara sasa kembali terdnegar membuat dia menoleh kearah gadis itu.
"Kapan-kapan ajarin gue ya kak" teriak Sasa saat Melody sudah berada didekat pintu
Melody tersenyum lalu mengangguk "Ok, gue duluan" tanpa menunggu balasan Sasa Melody keluar dari ruangan itu melangkahkan kakinya cepat menuuju teman-temannya yang tapi sebelumnya kembali kekelas untuk mengambil sesuatu.
***
Matanya sibuk mencari orang yang mengiriminya sms, diedarkan pandangannya keseluruh penjuru kantin tapi tak juga menemukan orang yang dicarinya. Baru saja dia ingin mengambil hp untuk mengetikan pesan, saat dilihatnya tangan yang melambai-lambai kearahnya. Tanpa pikir panjang dia menghampiri mereka dan menjatuhkan diri pada bangku disamping Alan.
"Mel, lo darimana aja sih" semprot Alan langsung saat Melody sudah duduk disampingnya. Dia heran sesaat setelah bel berbunyi gadis itu hilang entah kemana "Lo kemana sih, ngilang mulu perasaan". Sikap Melody itu bukan hanya sekali saja, tapi berulang kali yang membuat dia ingin mengikuti gadis itu dari belakang.
Melody menoleh kearah Alan yang tengah menatapnya dengan tatapan bertanya. Jantungnya berdebar dua kali lipat melihat wajah Alan, tapi dia mencoba untuk mengontrol ekspresinya "ah itu gue ada urusan jadi langsung keluar. Eh gue mesen makanan dulu ya" Melody bangkit dari tempat duduknya tapi belum sempat dia melangkah lengannya ditahan oleh Alan membuat gadis itu mengernyit bingung.
"Nggak usah, makan ini aja" Alan menyodorkan makanan yang sempat dibelinya tadi karena dia yakin saat Melody menghilang gadis itu akan datang 5 menit sebelum bel kalau tidak diingatkan.
Senyuman merekah dibibir Melody dan menjatuhkan kembali tubuhnya "Lo perhatian banget sih Lan. Thanks ya. Oh iya gue bawain makanan favorite lo, tapi gue nggak tau lo suka apa nggak" diserahkannya kotak bekal yang dia bawa dari rumah itu
"Ciee Alan dibawain bekal sama calo bini" Celetuk Andre yang membuat pipi Melody merah seketika
"Lah Mel kok gue kok kagak"
"Lah emang lo siapa, pacar aja bukan" ejek Andi membuat teman-temannya tertawa medengrnya
Alan mengacak-acak rambut Melody lembut membuat gadis itu kesal "Iya dong kan gue sahabat lo, sesama sahabat kan harus saling memperhatikan satu sama lain. Ngomong-ngomong makasi ya bekalnya"
Deg ucapan Alan membuat jantung Melody seakan berhenti berdetak, senyuman yang tadi terukir di bibirnya semakin lama semakin memudar dan itu membuat Alan bingung.
"Mel lo kenapa?" Alan menatap Melody heran karena tiba-tiba ekspresi gadis itu berubah.
"Nggak nggak apa-apa kok. Ya udah thanks ya buat makanannya" ucap Melody dengan senyum mengembang diwajahnya. Diraihnya makanan itu dan mulai memakannya perlahan.
Jujur ucapan Alan barusan masih terngiang-ngiang dalam kepalanya, membuat dia tak sadar Alan dan yang lainnya memperhatikannya. Saat pandangannya bertabrakan dengan Letta, dia melihat Letta memberikan senyuman semangat. Dan dibalas dengan gelengan pelan oleh gadis itu.
Letta menghembuskan nafas pelan melihat sikap Melody yang tiba-tiba berubah saat Alan mengucapkan itu. Dia tak habis fikir Alan sampai sekarang belum menyadari perasaan Melody, dia bingung Alan itu orang yang nggak peka atau bodoh sih. Tiba-tiba sebuah ide muncul dikepalanya.
"Mel, lo kan ikut eksul musik. Nyanyi dong buat kita-kita, gue belum pernah denger lu nyanyi yayaya"
Melody yang tengah asik memakan makannya tersedak mendengar ucapan Letta itu, dengan cepat tangannya meraih minum yang disodorkan Alan dan meneguknya hingga tandas.
"Apaa sih Let, kok ngomong gitu tiba-tiba" Melody menatap Letta curiga terlebih lagi melihat senyuman tipis dibibir gadis itu meski hanya seperkian detik
"Nggak kenapa-kenapa. Gue lagi pingin dengerin lo nyanyi aja."
Mulut Melody hendak menjawab ucapan Letta, ketika suara Alan dan yang lainnya memotongnya.
"Yup bener banget tuh Mel, nyanyi dong dikit doang"
"Iya Mel, ayolah masa sama temen sendiri pelit"
"Ayo Mel"
Dan entah apa lagi ucapan teman-temannya yang membuat dia mendengus sebal. "Iya deh iya, gue nyanyi mau lagu apa lo" akhirnya ucapan itu yang keluar dari bibirnya.
Letta yang mendengar itu tersenyum penuh kemenangan "Lagunya apa ya" tangannya menyangga dagunya seakan memperlihatkan bahwa dia benar-benar memikirkan lagu apa yang akan dinyanyikan Melody. "Terserah lo aja lah, tentang perasaan lo sekarang ini aja gimana"
Dan lagi-lagi kalimat itu membuat Melody tersedak, padahal dia tidak makan ataupun minum. Dia melirik tajam kearah Letta. Lo-mau-ngajak- ribut.
"Lo kenapa sih kesedak terus" Alan menatap Melody dengan kenng berkerut heran dengan tingkah gadis itu yang hari ini sedikit tidak seperti biasanya.
"Ah nggak gue nggak apa-apa" ucap Melody tanpa menoleh kearah Alan "Oke gue nyanyi dan kalau jelek tanggung sendiri"
"Oke sip" Andre mengacungkan dua jempolnya
"Sip dah" sambung Teo dengan mata yang dikedipkan satu kearah Melody
"Ayee" ucap mereka serempak
Melody mengatur nafasnya mencoba untuk tenang, setelah dia merasa tenang bibirnya mulai menyanyikan lirik lagu yang pas dengan perasaannya saat ini.
Bilakah dia tahu
Apa yang t'lah terjadi
Semenjak hari itu
Hati ini miliknya
Bibirnya dengan lincah menyanyikan lagu itu, matanya terpejam menikmati lagu yang ia bawakan. Perasaannya menyatu dengan lagu ini, perasaan tentang Alan
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang ku rasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang ku damba
Suara Melody seakan menghipnotis teman-temannya, termasuk Alan. Jika teman-temannya ikut menutup mata meresapi lagu yang sedang dibawakan melody, beda halnya dengan Alan, cowok itu malah memperhatikan Melody dengan pandangan tak terbaca.
Bilakah dia mengerti
Apa yang t'lah terjadi
Hasratku tak tertahan
Tuk dapatkan dirinya
"selesai" suara Melody membuat teman-temannya membuka mata serentak dan menatap tajam kearah gadis itu.
"Kan lagunya belum selesai, Mel lanjutin dong"
"Iya Mel, padahal gue lagi meresapi liriknya ah lu mah nggak seru."
"Bodo, itumah derita elo pada" Melody menjulurkan lidahnya, mengejek teman-temannya yang sudah memasang muka kesal.
"Mentang-mentang suara bagus, nggak mau didengerin" cibir Letta yang dibalas dengan hendikkan bahu Melody yang seakan mengatakan masa bodo
"Buat siapa tuh Mel" celetuk seseorang yang membuat Melody tiba-tiba merasakan panas dipipinya.
"Buat orang lah Lan" ucapnya setelah berhasil menghilangkan muka merahnya yang sempat ia rasakan tadi.
Alan menyentil dahi Melody pelan yang membuat gadis itu melotot kearahnya "Yaiyalah Mel, Orang masa iya Orang Hutan kan nggak lucu"
"Bisa nggak sih nggak usah nyentil-nyentil gitu, nyebelin banget" omel Melody. Alan ini benar-benar cowok nyebelin nggak usah pakai sentil segala kan bisa yang lain misalnya cium ehh, Mel jangan salah fokus please
Alan terkekeh melihat reaksi Melody "Idih ngambekan. Makanya kasih tau gue buat siapa" lanjutnya lagi penasaran. Selama dia mengenal gadis itu jarang dia mendengar cerita bahwa Melody sedang menyukai seseorang.
Melody menatap Alan dengan tatapan yang sulit terbaca. Ada dorongan dalam hatinya yang mengatakan bahwa dialah yang dia sayang, bahwa cowok itulah yang sudah memasuki relung hatinya hingga saat ini tapi
"Ah kepo lo Lan, balik yuk udah bel tuh" Melody bangkit dari bangkunya dan berjalan kearah kelasnya meninggalkan teman-temannya yang memandangnya penasaran, kecuali Letta karena gadis itu sudah tahu siapa orang yang dimaksud oleh Melody.
*****
Sunyi sangat sunyi disana, tak ada yang berani mengeluarkan suara kecuali goresan pena dan pensil dengan kertas. Bahkan untuk meminta jawaban saja mereka tidak berani, karena kalau sampai ketahuan bisa nilai mereka bisa hancur langsung. Selain itu juga, lirikan dari guru killer itu membuat mereka mau tak mau menguras otaknya untuk menjawab pertanyaan.
Tak terkecual Melody, gadis itu bahkan terlihat menggigit kecil pensilnya. Kenapa deretan angka ini sangat menyebalkan, gerutunya dalam hati. Matanya melirik ke arah samping, bahkan Letta yang sangat membenci pelajaran matematika terlihat serius mengerjakannya.
Dan detik-detik selanjutnya dihabiskan oleh Melody dengan angka yang tiba-tiba muncul dikepalanya "Bodo ah, yang penting jadi" ujarnya.
"Waktu habis, kumpulkan sekarang juga"
Kalimat itu sukses membuat semua disana tanpa sadar protes
"Yah, bu. Ini belum selesai"
"Iya bu cepet amat"
"Bu, kasih waktu tambahan dong"
Dan masih banyak lagi yang diucapkan teman-temannya itu.
"Boleh-boleh" ujar sang guru yang membuat semua murid disana mendesah lega. "Tapi ulangan kalian ibu nggak nilai. Sekarang kumpulin" teriaknya dan langsung membuat mereka semua lari maju kedepan.
"Melody, kamu antarkan ini keruangan saya, sekarang"
"Iya bu" Melody bangkit dan berjalan ke arah meja guru merapikan kertas ulangan itu lalu membawanya keluar kelas.
****
Melody selesai memasukkan alat tulis dan bukunya kedalam tasnya tepat pada saat Guru yang mengajar keluar dari kelas itu.
"Lo mau kemana sih, buru-buruu amat" Letta yang memperhatikan Melody dari tadi menatapnya bingung.
"Ah, iya gue pingin cepet pulang baca novel yang belum gue sempat baca kemarin" ucap Melody dengan mata yang mengarah pada mejanya melihat apa ada yang ketinggalan. Setelah merasa tidak ada dia bangkit dari duduknya. "Let, ayok lo nggak balik"
Letta mengangguk dan mengambil tas yang ada disampingnya mengampirkannya kebahunya. "Ayo"
Suara tawa kedua gadis itu terdengar sepanjang lorong sekolah, senyum dikeduanya mengembang memperlihatkan topik yang sedang mereka bicarakan benar-benar menarik perhatian mereka.
"Mel" panggil Letta kepada Melody saat mereka sudah hampir sampai pada parkiran
"Apaan Let?" Melody menoleh kearah Letta dan menunggu ucapan selanjutnya dari gadis itu
"Gue penasaran lo kemana aja sih, nggak sekali dua kali loh tapi beberapa kali. Tiba-tiba ngilang nggak tau kemana. Sampe Alan cape nyariin lo" cecar Letta panjang lebar. Dia sudah benar-benar penasaran kemana sahabatnya itu menghilang.
Melody terlihat berpikir, apakah dia harus memberitahukan Letta kemana dia pergi atau nggak, tapi nggak ada salahnya kan kalau dia kasih tau Letta " Keruang Musik"
"Keruang Musik?" ulang Letta seakan tidak percaya dengan apa yang ada di dengarnya. Sungguh tak ada kepikiran sama sekali oleh dirinya bahwa Melody selalu pergi ke Ruang Musik, dia malahan mengira Melody ke perpustakaan. Mengingat apa yang sempat dipikirkannya membuat Letta tersenyum geli.
"Lo kenapa sih, senyum-senyum sendiri" tanya Melody heran dengan reaksi Letta yang tiba-tiba senyum-senyum sendiri
"Gue kirain lo ke perpus. Siapa tahu saking lo desperate gara-gara Alan lo berubah jadi rajin." Ledek Letta sambil terkekeh kecil
Melody mencibir saat mendengar ucapan Letta "Bahasa lo Let, desperate"
"Desperate karena siapa?" ujar seseorang
Suara itu sontak membuat dua gadis itu kaget dan menoleh kebelakang, menemukan Alan yang menenteng tasnya dibahu kanannya yang tengah menatap mereka dengan tatapan penasaran. Melody dan Letta berpandangan menukar kode yang seakan mengatakan dia nggak denger kan, Nggak dan sebagainya
Alan mendekati dua gadis yang tengah melotot satu sama lain "Heh kalian kenapa sih"
Melody menggeleng cepat "nggak apa-apa kok. Ya kan Let" ucapnya sambil melirik Letta mencari dukungan Letta dan bersyukur saat gadis itu mengangguk "Lo sendiri sejak kapan disitu?"
Kening Alan mengkerut melihat dua orang itu ditambah lagi dengan pertanyaan yang Melody katakan seakan ada yang mereka sembunyiin "Gue baru aja kok. Kalian kenapa sih" sambil berjaan kearah kedua gadis itu.
Tanpa sadar Melody menghembuskan nafas lega "Nggak kenapa-kenapa. Balik yuk Lan, gue pingin baca novel kemarin gue beli"
Alan mengacak rambut Melody lembut "Dasar" Tangannya meraih tangan Melody, mengaitkannya dengan jemarinya tanpa mengetahui dampak yang ia timbulkan ada jantung gadis itu "Ngomong-ngomong, lagu yang lo nyanyiin buat siapa lo belum jawab pertanyaan gue tadi?"
Pertanyaan itu sontak membuat Melody kaget, tak mengira Alan masih mengingat pertanyaan yang belum dia jawab "Ah itu buat orang Lan" buat elo Lan buat elo batinnya.
"Lo kenapa nggak cerita-cerita sama gue?" Alan menatap Melody penuh selidik, tak biasanya gadis itu tak menceritakan apa yang sedang dirasakannya. Biasanya, jangan ditanya kapan dan dimana gadis itu selalu akan menceritakan segala sesuatunya ke dia. Mau jam 12 malampun kalau Melody sedang sedih atau apa pasti dia menelponnya, tapi sekarang dia baru tahu kalau gadis itu menyukai seseorang.
Melody nggak tahu harus bilang apa, Letta yang mengetahui itu mendahuluinya menjawab "Kepo banget sih lo Lan."
Alan mendengus sebal tidak puas dengan jawaban Melody dan Letta. Sedangkan Melody melirik Letta dan menyunggingkan senyum terima kasih kearah gadis itu yang dibalas senyuman oleh Letta.