bc

Not A Cinderella Story

book_age18+
2
IKUTI
1K
BACA
dark
family
HE
age gap
arranged marriage
playboy
kickass heroine
stepfather
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
city
office/work place
childhood crush
affair
addiction
like
intro-logo
Uraian

Malam kelahiran Selina Kanara Wiratama seharusnya menjadi momen paling bahagia. Namun bagi Wisnu, malam itu adalah awal dari neraka. Di saat ia tengah memuaskan nafsu dengan wanita lain di sebuah kamar hotel, sang istri justru berjuang sendirian hingga mengembuskan napas terakhir demi melahirkan Selina ke dunia.Tumbuh dengan label "pembawa sial", Selina tak pernah tahu rasanya pelukan seorang ayah. Baginya, Wisnu hanyalah pria dingin yang menatapnya dengan kebencian mendalam. Kehadiran ibu tiri dan adik tiri semakin menenggelamkan Selina dalam pengasingan di rumahnya sendiri.Puncaknya, saat perusahaan Wiratama di ambang kehancuran, Wisnu melakukan satu hal yang paling hina: Menjual Selina.Selina dijadikan tumbal untuk mendapatkan investasi dari Albi Narendra, seorang CEO muda yang dingin dan angkuh. Albi tidak butuh cinta, ia hanya menginginkan Selina karena kecantikan gadis itu yang tenang dan misterius—tanpa tahu bahwa di balik diamnya, Selina menyimpan rahasia besar.Selina mengira ia keluar dari neraka sang ayah, namun ia salah. Menikah dengan Albi berarti masuk ke dalam sangkar emas milik pria yang perangainya persis seperti ayahnya: b******k dan tak punya hati.Ini bukan dongeng tentang sepatu kaca. Ini adalah cerita tentang Selina, yang harus bertahan hidup di tengah pria-pria yang mencoba mematahkan sayapnya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Malam Kelahiran
"Akh... Mas, jangan kasar-kasar..." rintih wanita itu di tengah deru napas yang memburu. Wisnu tak bergeming. Ia terus bergerak dengan egois, seolah meluapkan kemarahan pada dunia melalui sentuhan yang kasar. Begitu gairahnya tuntas, ia mengempaskan tubuh wanita itu ke ranjang tanpa perasaan, lalu melangkah menuju kamar mandi tanpa sepatah kata pun. Di dalam, ia mandi cukup lama. Uap air panas memenuhi ruangan, mengaburkan cermin sebagaimana ia mengaburkan nuraninya malam itu. Setelah merasa bersih dari "dosa" sesaatnya, Wisnu keluar dan merogoh dompet. Ia menghamburkan lima belas lembar uang pecahan seratus ribu ke arah wanita itu—seperti memberi makan ternak. Tanpa harga diri, wanita itu memunguti lembaran merah tersebut dengan gerakan kilat. Drrrtt... drttt... Ponsel di atas nakas bergetar hebat. Wisnu menarik napas panjang, mengubah raut wajahnya yang dingin menjadi lembut dalam sekejap. "Halo, Sayang?" ucapnya, suaranya mendadak penuh kasih kepada Jasmine, istri yang ia klaim sangat ia cintai. "Sayang... aku mulas. Aku sedang kontraksi..." Suara Jasmine terdengar gemetar dan menahan perih di seberang telepon. "Sial!" desis Wisnu tertahan. Jantungnya mencelos. "Ke rumah sakit sekarang sama sopir! Aku menyusul, aku segera ke sana!" Dengan gerakan kalap, Wisnu menyambar pakaiannya. Ia berlari keluar, memacu mobilnya secepat kilat membelah jalanan malam, mengabaikan rasa bersalah yang mulai merayap di tengkuknya. Sesampainya di rumah sakit, bau karbol yang menyengat menyambutnya. Ia menemukan Jasmine sedang bertarung melawan gelombang rasa sakit yang hebat. Wajah istrinya pucat pasi, keringat dingin membanjiri pelipisnya. "Maaas... sakit..." rintih Jasmine sambil mencengkeram erat pinggiran brankar hingga buku-buku jarinya memutih. Wisnu segera menyambar tangan istrinya, menggenggamnya kuat seolah takut Jasmine akan hanyut dibawa rasa sakit itu. Ia mengusap keringat di dahi istrinya dengan jemari yang gemetar. "Maafkan aku, Sayang... aku telat. Maafkan aku," bisiknya, kali ini dengan ketulusan yang menyayat. "Enggak apa-apa, Mas..." Jasmine memaksakan senyum di tengah ringisannya. Air mata menetes dari sudut matanya, jatuh membasahi bantal. "Tahan ya, Sayang. Kamu kuat," ucap Wisnu. Melihat tubuh Jasmine yang terguncang hebat demi melahirkan darah dagingnya, d**a Wisnu terasa sesak seperti dihantam godam. Ia menunduk, tak sanggup menatap mata suci istrinya sementara tubuhnya sendiri masih menyisakan aroma dosa dari hotel tadi. Ya Tuhan... doa Wisnu dalam hati dengan penuh keputusasaan. Jangan ambil istriku. Aku mohon. Aku berjanji akan berubah. Aku tidak akan nakal lagi, aku tidak akan mengkhianatinya lagi. Tolong selamatkan dia... Keheningan ketegangan itu pecah saat suara tangis bayi perempuan menggema di ruang persalinan. Wisnu terisak, rasa lega luar biasa menyelimutinya. Jasmine selamat. Bayi mereka selamat. Wisnu mendekat, mengecup kening Jasmine dengan sangat lama, seolah ingin menyalurkan seluruh sisa hidupnya untuk wanita itu. "Terima kasih sudah bertahan. Kamu ibu yang hebat... kamu luar biasa," bisiknya parau. Jasmine hanya mampu tersenyum lemah, matanya menyiratkan kebahagiaan yang tulus meski tenaganya telah terkuras habis. Setelah Jasmine dipindahkan ke ruang pemulihan untuk beristirahat, Wisnu melangkah menuju ruang bayi. Di balik kaca transparan, ia menatap putri kecilnya yang mungil. Di sana, di depan jiwa yang murni itu, Wisnu berjanji bahwa pria b******k yang menghamburkan uang di kamar hotel tadi telah mati, digantikan oleh seorang ayah yang akan menjaga kesetiaannya sampai mati. "Selina Kanara Wiratama... itu nama bayi kita, Sayang," bisik Wisnu lembut. Malam itu, ia menimang Selina dalam dekapannya, menatap wajah mungil yang sangat mirip dengan istrinya. Jasmine terbaring di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya sepucat kertas, namun seulas senyum lemah terukir saat melihat betapa tulus Wisnu menyayangi buah hati mereka. Hatinya merasa damai, meski tubuhnya terasa kian merapuh. "Sayang..." panggil Jasmine lirih, nyaris tak terdengar. "Apa, Sayang?" sahut Wisnu tanpa mengalihkan pandangan dari Selina yang tertidur lelap. Senyumnya masih mengembang. "Jika aku tak sanggup lagi bertahan hidup... tolong, jangan pernah benci Selina," ucap Jasmine pelan, namun kata-katanya menghantam udara seperti petir. Seketika, senyum di wajah Wisnu sirna. Ia menoleh cepat ke arah istrinya dengan tatapan tak percaya. "Kamu bicara apa, Sayang? Jangan mengada-ada." "Aku sudah tidak kuat... dadaku sesak, Mas. Sakit sekali," Jasmine bicara dengan napas yang mulai putus-putus, setiap kata tampak membutuhkan tenaga besar. "Jangan bicara begitu! Kita akan hidup sampai tua. Kita akan besarkan Selina bersama-sama. Aku janji, aku akan berubah menjadi pria yang lebih baik lagi. Tolong, jangan bicara seolah kamu akan pergi!" Wisnu mendekat, suaranya bergetar antara marah dan ketakutan. Jasmine meneteskan air mata, membasahi pipinya yang tirus. "Sayangi Selina... berjanjilah padaku, Mas." Wisnu hanya terdiam, terpaku menatap manik mata Jasmine yang basah. "Cari wanita yang benar-benar menyayanginya, ya? Jangan hanya menuruti egomu... cari wanita yang berhati baik untuk menjaganya," lanjut Jasmine, seolah sedang mendiktekan wasiat terakhir. "Nggak, Sayang! Berhenti bicara seperti itu!" Wisnu meletakkan Selina dengan terburu-buru ke dalam boks bayi, lalu menyambar tangan Jasmine dan menggenggamnya erat. "Aku nggak mau dengar lagi!" "Aku sakit, Mas... sudah lama sekali aku menahannya," bisik Jasmine jujur. "Sakit apa? Sejak kapan?" Wisnu mendesak, suaranya parau. Jasmine membungkam mulutnya. Ia tak ingin Wisnu tahu bahwa kehamilan ini sebenarnya mempertaruhkan nyawanya sejak awal. Ia takut Wisnu akan menyalahkan Selina jika tahu bahwa janin itu yang membuat kondisi tubuhnya merosot tajam. "Sudah lama..." hanya itu yang keluar dari bibirnya. "Kita akan berobat. Kamu pasti sembuh, Sayang. Pasti!" Wisnu mengecup kening Jasmine berkali-kali, mencoba menyalurkan kekuatan yang ia sendiri pun hampir kehilangan. Keesokan harinya, maut seolah makin mendekat. Wajah Jasmine kian memucat, tubuhnya lunglai tak berdaya. Ia divonis menderita leukimia stadium lanjut. Jasmine menolak menyusui Selina; ia didera ketakutan yang luar biasa bahwa penyakitnya akan menular atau ia tak cukup kuat untuk memberikan kehidupan bagi putrinya. Hari demi hari di rumah sakit berubah menjadi siksaan. Jasmine terus mengulang pesan yang sama: Cintai Selina. Namun, Wisnu selalu bungkam. Ia enggan berjanji, seolah dengan tidak berjanji, ia bisa menunda kepergian istrinya. Hingga malam kelam itu tiba. Jasmine mengembuskan napas terakhirnya tepat di dalam dekapan Wisnu. Pelukan yang seharusnya hangat itu mendadak terasa dingin. "Jasmine? Sayang, bangun!" Wisnu mengguncang tubuh istrinya. "Sayang, jangan bercanda! Bangun!" teriaknya penuh emosi. Air mata yang sejak tadi ditahannya tumpah tak terbendung. Ia tak siap, ia tak terima istrinya direnggut secepat ini. Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit... Layar monitor menunjukkan garis lurus yang statis. Suara denging panjang itu seolah menjadi lonceng kematian yang memekakkan telinga. "Istri Anda sudah tidak ada, Pak," ucap dokter pelan, menundukkan kepala dengan wajah penuh penyesalan. Dunia Wisnu runtuh. Ia terdiam seribu bahasa, menatap tubuh kaku wanita yang paling ia cintai. Meski hidupnya b******k, Jasmine adalah satu-satunya pelabuhan tempat ia pulang. Kini, pelabuhan itu telah hancur. Ia menoleh ke arah boks bayi, tempat Selina menggeliat pelan. Bukannya rasa cinta yang muncul, justru sebongkah kebencian mulai mengeras di hatinya. "Ini semua gara-gara kamu, Selina..." desisnya dengan suara rendah yang penuh amarah. "Kamu yang membunuh ibumu."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Putri Korban dan Janji Gelap Sang CEO

read
5.5K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.8K
bc

SECRET LOVE AFFAIR (Dikejar Duda Posesif)

read
27.2K
bc

Revenge

read
36.0K
bc

Marriage of Revenge

read
29.5K
bc

I Love You Dad

read
295.1K
bc

The CEO's Little Wife

read
682.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook