Part 11 Kekuatan pikiran

3145 Kata
Bizar tidak mengatakan apapun tapi menggeleng pelan dengan sudut bibirnya yang melengkung ke bawah. Kedua matanya yang masih fokus menatap Gibran semakin berkaca-kaca. Kehadiran Gibran setelah lebih dari dua minggu membuatnya berpikir jika tidak akan pernah bisa bertemu lagi. "Kenapa Abi menangis?" Gibran mengusap air mata itu dengan jari jempolnya. Membersihkan sisa air mata di sudut mata Abi dengan jari telunjuknya. Ia bingung dengan bocah kecil itu yang kembali memeluknya dengan manja. "Abi pikir ayah lupa sama Abi. Ayah tidak pernah datang lagi," ungkapnya dengan suara parau. Gibran tersenyum mencium puncak kepalanya. Bahagia mengetahui bocah kecil itu ternyata merindukannya juga. Ia sendiri sampai harus menggunakan nama ayahnya sebagai donatur di sekolah ini dan dirinya sebagai kontraktor yang menangani proyek kecil ini. Semua itu agar bisa kembali punya akses bertemu Abi tanpa mengundang kecurigaan orang lain. Gibran tidak ingin jika anak itu dalam bahaya karena dirinya. Bisa dibilang musuhnya banyak. "Ayah kerja di luar kota. Ayah kan sudah bilang pekerjaan ayah yang sebenarnya. Tapi kejar penjahat itu susah, karena penjahatnya kabur terus. Ayah harus kejar lagi dan tangkap sampai dapat," bisik Gibran. "Tapi hari ini ayah beda. Kaya bos-bos," ungkapnya dengan kening berkerut. "Ayah lagi urus itu," tunjuknya ke arah para pekerja bangunan yang mencampur pasir dan semen. Sebagian lagi sedang menyusun batu bata. "Ayah urus tukang?" Pertanyaan itu diangguki Gibran yang berbisik jika itu pekerjaan lain yang dilakukannya. Gibran menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya hingga bel masuk berbunyi, ia mengantarkan jagoannya itu ke kelas. Abi bercerita jika hari ini ada pelajaran menggambar dan ia mendapatkan nilai A dengan stempel lima bintang. Tapi buku gambarnya belum ia ambil karena masih dikumpulkan di meja gurunya. Ingin sekali ia memperlihatkannya pada Gibran. Gibran bilang bisa lain waktu karena ia akan sesekali mengupayakan untuk datang ke sekolahnya walau tidak setiap hari karena sibuk. Raut kecewa tercetak jelas di wajah bocah itu. Gibran pun memberitahu jika ia sudah memberikan nomor teleponnya pada pak satpam yang berkumis agar mereka tidak ketahuan. Abi boleh minta tolong pak satpam jika ingin bicara dengannya tanpa sepengetahuan bundanya. Tentu saja hal itu membuat Bizar senang dan kembali memeluknya. Gibran sendiri dibuat heran dengan sikap manja yang tiba-tiba ditunjukkan Abi. Termasuk mencium kedua pipinya lalu berakhir di hidung yang kata Abi mancung sebelum anak itu kembali masuk ke dalam kelas. *** "Tante, ayahnya Abical kenapa nda jemput?" Salsa dengan lidah cadelnya menyalimi Aina yang duduk di kursi tunggu. Gadis kecil dengan rambut dikuncir kanan kiri itu dijemput omanya. "Ayahnya Abizar pasti sibuk Salsa. Kamu saja oma yang jemput karena papa kamu dinas keluar kota. Mama kamu di rumah sakit antar dedek bayi imunisasi." Wanita paruh baya itu tampaknya paham jika Aina sulit memberikan jawaban. "Tapi Abical mau banget dijemput pulang sama ayahnya oma. Telus diajak jalan-jalan juga. Om Gib pasti sibuk banget ya Tante?" gadis kecil itu kembali berceloteh dan Aina hanya bisa mengangguk. Tidak mungkin ia memberitahu jika sebenarnya Bizar tidak punya ayah. Ada, tapi dulu saat Bizar masih kecil, ada sahabat kakak iparnya yang menjadi ayah Bizar. Aina tersadar saat mengingat Salsa mengatakan om Gib. Tidak mungkin jika laki-laki itu ada di sini dan mengenali Bizar. Pasti Bizar yang bercerita pada teman sebangkunya itu tentang Gibran setelah melihat foto itu minggu lalu. Mengingat nama Gibran kembali membuat Aina teringat masa-masa sulit yang dialaminya. Janji Gibran yang terdengar sarat akan permohonan agar dirinya bersembunyi masih saja terngiang. Apa kabar dengannya? Haruskah ia mencaritahu? Ia beberapa kali ingin mengetik nama Gibran di internet, namun ia takut jika dirinya goyah dan kembali berharap. Kehidupan sudah berubah dan sudah berjalan di jalurnya masing-masing. "Bunda? Kenapa bunda melamun? Bunda lagi berpikir bagaimana caranya punya pintu Doraemon? Biar kita buka pintu bisa langsung sampai rumah?" Aina terkekeh mendengar celotehan keponakannya. "Iya, kok Bizar bisa tahu? Sudah bisa baca pikiran bunda? Wah... hebat sekali?" Aina mengusap sayang rambutnya. Dari jarak sedekat itu ia bisa mencium aroma parfum pria yang membuatnya tegang. "Bizar tadi dipeluk sama siapa?" Aina menatap Bizar yang membelalak dan kembali memastikan aroma itu dengan mengendus pakaian Bizar, "Bizar tidak bisa bohong. Ada buktinya ini, bau parfum ini bukan parfumnya bunda. Bukan juga wangi minyak telonnya Bizar. Ini wangi parfum laki-laki." "Mmm, tadi Bizar memang dipeluk bunda." "Di-dipeluk sa-sama siapa?" Aina mulai ketakutan. Bizar tidak kenal laki-laki mana pun di sekolah ini selain pak satpam berkumis yang selalu disapanya saat datang dan hendak pulang sekolah. "Tenang dulu bunda. Tarik napas pelan-pelan. Huh.... Jangan marah ya bunda?" Bizar melangkah mundur selangkah sehingga ada jarak di antara mereka, "Bizar tadi dipeluk sama orang ganteng Bunda. Ada om yang kerja awasi tukang. Orangnya keren Bunda, pakai baju bagus sama pakai dasi. Kayak bos-bos. Bukan cuma Bizar yang dipeluk, teman-temannya Bizar juga. Om itu tanya banyak tentang gambar yang mau dipasang di toilet. Katanya... di sekolahnya Bizar ini mau dibuatin toilet baru yang bagus. Sama tempat cuci tangan juga. Nah omnya bilang terima kasih deh sambil peluk. Jangan cemburu Bunda," lanjutnya melangkah mundur sekali lagi dengan bibir mengerucut dan kedua alis yang naik turun. Mau tidak mau Aina kembali terkekeh. "Oh... kirain Bizar punya rahasia dari bunda." "Bunda, opa di panti bilang kalau punya rahasia itu jangan dibagi-bagi. Bukan rahasia lagi namanya." "Terus apa?" "Katanya tunas gosip Bunda," bisik Bizar dan Aina kembali tertawa. "Kamu itu sok tua. Ayo pulang, hari ini bunda mau ajak Bizar makan di luar. Sebenarnya sudah lama bunda mau ajak Bizar ke sana. Tapi baru sekarang punya kesempatan." Aina menggandeng tangan kecilnya keluar ke arah gerbang. Sepanjang perjalanan sambil menunggu taksi online, Bizar bercerita tentang temannya yang lupa membawa pensil warna dan ada juga yang tidak bisa membuat lingkaran. Bagi Bizar yang sudah terbiasa hal itu sangatlah muda. Aina bisa tahu jika keponakannya punya bakat seni menggambar, bahkan sudah pandai mengaplikasikan paduan warna dengan mengingat sekitarnya. Semisal kan pohon akan ia warnai dengan hijau muda dan hijau tua sedangkan batangnya diwarnai coklat muda dan coklat tua. Tapi satu hal yang harus diingat, Bizar tidak suka menggambar bunga. *** "Wah... tempatnya bagus ya Bunda?" Bizar mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Mereka berdua baru saja tiba di Kafe ARU. Kafe yang dulu menjadi buah bibir di tempatnya bekerja. Seperti yang dibayangkan Aina, di kafe itu menggema lagu rindu yang romantis dan membuatnya teringat saat-saat sedang berkaraoke dengan kedua kakaknya. "Di atas sana ada perpustakaannya. Jadi kalau mau membaca buka setelah makan boleh," ungkap Aina melirik ke lantai tiga. Di sana ada banyak orang yang bersantai di lantai sambil membaca buku dan berdiskusi. Sementara lantai duanya adalah lantai mini yang bisa disewa sebagai private room. "Bunda mau kasih tahu Bizar kalau habis makan harus belajar dulu? Begitu?" Bizar mendongak dengan dengan wajah cemberut dan mendesah pasrah ketika Aina mengangguk sambil menahan tawa meskipun bukan itu alasannya. Keduanya pun memesan makanan lebih dulu kemudian memilih duduk di pojok. Aina tidak ingin ada yang mengenali dirinya. Kafe ini terletak di depan kampus dan bisa saja ada teman kuliah atau junior kampusnya yang juga datang ke kafe ini. "Om, kalau mau baca buku di atas, harus pesan makan dulu?" tanya Bizar penasaran. "Tidak harus. Kalau adek mau baca buku saja tanpa pesan apapun, bisa lewat pintu yang ada di samping. Pintu yang warnanya putih. Terus naik tangga ke atas. Kalau sudah lelah baca buku atau kerja tugas, bisa turun lewat situ," karyawan kafe yang membawakan pesanan menunjuk ke arah tangga di belakang Bizar, "Terus pesan makan sama minum di bagian pemesanan." "Oh... begitu? Terus, yang menyanyi itu juga di bayar? Pengamen-pengamen dibayar loh Om? Kok tidak ada kotak uangnya?" Bizar dan segala kekepoannya mulai beraksi. "Yang menyanyi itu suka rela. Tidak dibayar. Mereka biasanya mau menyanyi untuk seseorang atau ingin menyanyi untuk menghibur diri sendiri. Kalau tidak ada yang menyanyi, maka yang diputar adalah lagu-" "Ada... rindu untukmu," Bizar langsung melanjutkan ucapan laki-laki yang menurut Aina masih berusia awal 20-an itu sambil bernyanyi. Mungkin pekerja part time di kafe ini. Laki-laki itu mengangguk sambil mengacungkan jempol pada Bizar dan mengucapkan selamat menikmati hidangan makan siang mereka. "Bunda mau nyanyi?" Bizar menawari. "Bunda tidak pandai menyanyi, telinga pengunjung akan sakit nanti kalau dengar bunda menyanyi." Aina mencoba menolak dengan halus. "Iya, bunda benar." Jawaban itu diucapkan apa adanya namun menohok hati Aina. Mau bagaimana lagi, ia tidak pandai dalam dunia tarik suara. Bizar bahkan lebih memilih di bacakan dongeng dibandingkan mendengar nyanyian pengantar tidur. "Bunda mau ajak Bizar naik ke atas sana? Tempat yang banyak bukunya?" Bizar berbicara sambil mendongak ke atas sana dengan mulut yang masih mengunyah. "Boleh, tapi kita tidak bisa lama-lama. Kita keliling saja dulu. Lain kali kita bisa lebih lama baca buku. Bizar belum tidur siang, belum kerja PR, bunda juga masih ada kerjaan yang belum selesai." "Ok deh Bunda. Apa sih yang nggak buat Bunda." Bizar kembali menaikturunkan alisnya. "Ok deh anak bunda. Apa sih yang nggak buat anak bunda?" Keduanya terkekeh dan melanjutkan makan siang mereka. Rasanya tidak sabar untuk segera naik dan menjelajahi perpustakaan kafe itu. Saat keduanya sudah selesai dan naik ke perpustakaan, Gibran mampir ke kafe hanya sekedar untuk mengecek kondisi kafe. Menemui manajer kafenya yang merasa sedang disidak. Di kafe itu memang manajer kafe dan Jay serta keluarganya yang tahu jika Gibran adalah pemilik kafe romantis itu. Sayangnya panggilan dari bengkel membuatnya tidak bisa tinggal lama. Sekitar 15 menit Gibran pamit setelah berbincang sebentar dengan manajer kafenya. Tepat saat ia keluar dari kafe, Aina dan Bizar turun dari perpustakaan dan bergegas karena taksi online yang dipesannya sudah dekat dengan lokasi kafe. Mereka gagal bertemu kali ini. Sementara manajer kafe yang baru saja mengantar Gibran keluar, membuka pintu kafe untuk masuk dan mempersilahkan Aina dan Bizar keluar lebih dulu. "Terima kasih Om, makanan di sini enak. Bizar suka. Lain kali bunda mau ajak ke sini lagi. Iya kan Bunda?" Aina mengangguk. "Terima kasih atas kunjungannya dan jangan lupa sering-sering mampir ke sini. Setiap tanggal 1 ada pengundian hadiah." "Waw! Hadiahnya apa Om?" Bizar dan kekepoannya jangan ditanya lagi. Manajer kafe itu pun menunjukkan layar ponselnya pada Bizar. "Ada banyak jenis hadiah, mulai uang tunai, sepeda, vocher makan gratis, buku, boneka, game, dan kesempatan jadi icon bulanan kafe ini." Manajer itu menjelaskan dan Bizar mengangguk-angguk. Dia akan memberitahu teman-temannya nanti dan juga ayahnya untuk ke kafe ini. Sementara Aina mengangkat telpon dari driver taksi online yang dipesannya. Manajer kafe yang bernama Yudha yang merupakan teman SMP Gibran itu kembali menoleh. Mencoba mengingat-ingat di mana pernah melihat ibu dari bocah cerewet tadi. Yudha mungkin tidak sadar jika lukisan yang terpasang di jalan masuk ke perpustakaan melalui pintu samping adalah lukisan Aina. *** Jika keluarganya berpikir Gibran mungkin sudah gila karena mencari dan terus mencari tanpa lelah, mungkin itu bisa dibenarkan. Seperti malam ini Mariska masuk ke dalam kamar putra sulungnya itu, ia tanpa sengaja melihat beberapa berkas terkait pencarian Aina dan Alif. Gibran tengah tertidur di tempat tidurnya dengan posisi kaki masih menggantung di sisi tempat tidur. Sementara di dadanya memeluk sebagian berkas yang dibacanya hingga tertidur. "Mama berdoa Aina sama Alif cepat ketemu Gib. Mama tidak bisa bertahan lama-lama lihat kamu seperti ini terus," bisik batin Mariska meraih lembaran-lembaran itu dan menyusunnya. Mengangkat kaki putranya kemudian menarik selimut. Gibran menggeliat dan Mariska pikir akan terbangun, tapi tidak. Setidaknya putranya bisa tidur dengan pulas. "Kalau kamu sudah ketemu mereka berdua, bilang sama mama Gib. Mama yang akan buat gadis itu dan keponakannya berada di sisi kamu. Sekalipun mama mungkin harus merebutnya dari orang lain. Biar saja mama dikatakan jahat. Mama tidak peduli asal anak-anak mama bisa bahagia," Mariska mengusap sayang kepala putranya dan mengecupnya kemudian beranjak menutup pintu kamar Gibran. Walaupun sudah sebesar itu, bagi Marisak Gibran dan Bara akan menjadi bayi di matanya saat anak-anaknya itu tertidur. Gibran membuka matanya dan langsung duduk bersila di atas kasurnya. Ia tercengang mendengar ucapan mamanya barusan. Gibran tidak menyangka jika mamanya akan bisa punya pikiran setega itu. Tapi di sisi lain ia harus akui jika mamanya memiliki keinginan, maka pepatah banyak jalan menuju Roma akan benar-benar dilakukan mamanya. Demi dirinya mamanya bisa menjadi nenek sihir sekalipun. Seperti katanya tadi, tidak masalah jika dikatakan jahat karena demi membuatnya bahagia, mamanya bahkan rela merebut Aina dan Alif dari orang lain. Memikirkan kemungkinan Aina bersama laki-laki lain tentu saja membuat hatinya tercubit. Ia sudah membuang-buang waktu dan parahnya ingkar janji. Sejak masa pemulihannya dimulai, Gibran sudah diam-diam mencaritahu keberadaan mereka. Bahkan mengecek seluruh KUA di Indonesia dengan bantuan Demon. Setiap KUA akan ditanyakan, adakah yang bernama Aina Maida Ahsan yang menikah di KUA ini? Tapi hingga saat ini tidak ada. Harapannya cukup besar jika Aina masih sendiri dan belum menikah dengan siapapun. Walaupun pendapat Bara ada benarnya. Bisa saja Aina menikah sirih dengan seseorang dan membina rumah tangga. Terlebih Alif tentu butuh figur seorang ayah. Lagi-lagi ia merasa tercubit jika sampai itu jadi kenyataan. Gibran tidak akan menampik jika kemungkinan itu ada. Tapi ia juga menguatkan hati dan pikirannya bahwa ia akan bertemu mereka berdua dan melakukan apapun agar mereka berdua bisa bahagia. Termasuk jika Aina ternyata sudah menikah dengan orang lain. Batin Gibran berkecamuk sekali lagi pikirannya ingin mendominasi. Gibran pernah membaca sebuah buku motivasi yang mengajarkan tentang kekuatan pikiran. Jika kita fokus pada pikiran positif maka akan terjadi hal-hal positif juga dalam hidup kita, begitu juga sebaliknya. Pikiran seseorang akan melahirkan sesuatu dan usaha seseorang akan menjadi perangkat untuk mewujudkannya. Maha Kuasa yang akan menentukan hasilnya. Kadang kala muncul sejumlah keraguan dalam pikiran kita. Tugas akal sehat inilah yang harus mengolahnya. Gibran percaya jika kekuatan pikiran memiliki kekuatan yang luar biasa. Dirinya hanya perlu hati-hati mengolah setiap informasi dan masukan yang memenuhi pikirannya. Harapannya agar kekuatan pikirannya juga keyakinannya malam itu membelokkan mobilnya ke arah lain adalah untuk kebaikan mereka bertiga. Kekuatan pikirannya yang sampai saat ini masih terus berusaha agar bisa kembali bertemu. Mengatakan jika dirinya merindu terlalu. Bohong jika dirinya tidak ingin berkeluarga. Hidup memiliki pendamping dan juga anak yang bisa meluruhkan semua penatnya. Seperti ayahnya yang bahagia hidup bersama mamanya dan juga dirinya dan Bara. Bara sendiri sudah bertunangan dengan Aluna. Adiknya itu bahkan mau dijodohkan karena kasihan melihatnya terus diteror untuk menikah sedangkan dirinya masih mencari Aina dan Alif. Sejak Bara tinggal di rumah ini, mamanya semakin ceria dan papanya pun demikian. Bukan rahasia lagi jika kedua orang tuanya ingin memiliki anak lagi. Jika perlu ingin punya banyak agar rumah ini ramai. Tapi sayangnya, Allah punya ketetapan yang tidak bisa diubah oleh manusia. Kondisi rahim mamanya lemah dan beresiko mengandung. Sudah tiga kali mengalami keguguran sehingga memutuskan untuk mengubur keinginan mereka itu. Saat om dan tantenya mengalami masalah rumah tangga karena campur tangan mertua, Aluna pun tinggal bersama mereka di rumah ini. Gadis kecil itu menolak tinggal bersama maminya karena takut dengan eyangnya sendiri. Lalu kehadiran Bara, Jay dan Ratna di rumah ini seakan menjawab impian mereka dulu untuk memiliki banyak anak. Derdi dan Lenata nyaris bercerai dan menurut hukum hak asuh akan jatuh di tangan omnya. Saat itu omnya benar-benar dilema memilih tanggungjawabnya sebagai abdi negara dan juga sebagai kepala rumah tangga. Tapi kekuatan pikiran dari omnya begitu kuat jika istrinya tidak akan menceraikannya. Itu benar-benar terjadi dan mengejutkan semua orang di persidangan. Tantenya menolak bercerai pada saat sidang kedua dan memutuskan rujuk karena pada dasarnya dirinya pun dipaksa bercerai oleh orang tuanya. Meskipun demikian mereka mengambil jalan tengah. Mereka tinggal terpisah untuk beberapa waktu hingga akhirnya mertua omnya luluh dan melepaskan putrinya kembali kepada suaminya. Gibran juga melihat kekuatan pikiran yang luar biasa itu dari papanya. Sekalipun pasiennya sekarat, papanya tidak menyerah. Walau resiko dipecat dan izin prakteknya mungkin akan dicabut, tapi papanya tidak gentar. Terkadang papanya harus menanggung resiko lain dengan surat peringatan atau bahkan tidak digaji pasca operasi. Papanya tidak mengeluh, hanya sejenak memikirkan apa yang terjadi namun memutuskan kembali bangkit dan tidak terjebak dengan kesalahan yang sama. Walau kadang kala sejak sahabatnya menjadi direktur rumah sakit, papanya masih keras kepala. Jangan salahkan Gibran yang keras kepala. Pada dasarnya sejak kecil ia tumbuh di kelilingi oleh orang-orang yang keras kepala. Seperti yang diucapkan mamanya tadi ingin merebut Aina dari orang lain. Kekuatan pikiran seorang Nyonya Hamizan Irsyad jangan diragukan. Gibran pun yakin jika ia terus berpikir positif untuk bisa menemukan merek berdua, waktu akan segera menjawab. Setiap detik akan menjadi saksi dari semua usahanya yang tidak sia-sia. *** "Bunda cerita dong sama Bizar. Di foto ini kenapa ayah yang pangku Bizar? Kenapa bukan papa atau mamanya Bizar? Takut Bizar ngompol?" Bizar mendongak menatap Aina yang baru saja selesai memasukkan pakaian bersih Bizar ke dalam box. "Itu karena Bizar yang nyebelin." Aina melirik keponakannya yang melongo. "Bizar nyebelin? Ya Allah... ampuni bundaku. Jangan berikan Bizar nanti pacar yang nyebelin, suka sindir-sindir," ujarnya sambil geleng-geleng kepala. Aina pun terkekeh sampai kedua sudut matanya berair. "Waktu itu Bizar nangis terus karena digigit nyamuk waktu tidur. Bizar masih mengantuk, tapi telapak kakinya Bizar gatal. Tangannya Bizar kan waktu kecil masih pendek, belum bisa garuk kaki sendiri. Bizar malah tendang-tendang terus, jadinya nyebelin," ujar Aina yang membuat kedua alis tebal Bizar menyatu. "Jadi Bizar ngamuk karena tidak bisa garuk kaki gara-gara digigit nyamuk? Ya Allah... nakal sekali makhluk imut itu." Tawa Aina kembali berderai saat melihat bahu keponakannya terkulai diiringi desahan pasrah. "Terus di foto ini Bizar nda nangis kok?" Bizar kembali meraih frame foto pilihannya beberapa waktu lalu. "Itu karena kakinya Bizar digaruk sama om Gibran," Aina beranjak menata bantal agar Bizar mau segera tidur, "Besok Bizar harus sekolah. Kalau terlambat tidur, nanti terlambat bangun." Bizar menurut dan kembali meletakkan frame di atas nakas. Tapi sebelum meletakkannya, ia terlebih dulu mencium foto papa dan mamanya dan juga Gibran. Setelah itu ia beralih mencium pipi Aina. "Ya Allah... Bizar mau ketemu ayah lagi. Kabulkan Ya Allah," ujar Bizar setelah membaca doa sebelum tidur. "Bizar kalau tidak ketemu Om Gibran jangan kecewa ya? Bunda tidak tahu di mana om Gibran tinggal." Aina mencoba memberikan keponakannya pengertian. "Jangan putus asa bunda, kan bunda yang bilang harus selalu usaha sama berdoa. Nanti Allah yang kabulin. Opa Okan di panti juga bilang bunda, kalau kita fokuuuus, pikir teruuuus, berdoa teruuuus, nanti jadi beneran Bunda. Makanya Bizar pikirin ayah terus. Di foto itu ayah kelihatan keren bunda. Pasti Bizar juga keren karena Bizar anaknya ayah." Aina hanya terdiam dan tidak menanggapi ucapan Bizar. Jarinya terus mengelus kepala keponakannya agar segera lelap. Jujur ia tidak begitu senang membahas Gibran. Takut jika harapan Bizar justru mengecewakan dan berbalik menyakiti mereka. Kembali ke kota ini lagi dengan harapan memulai kembali hidup yang baru. Saat kuliah dulu pernah ia mendengar tentang teori kekuatan pikiran. Seperti Bizar yang mencoba untuk melakukan hal itu dengan mengikuti saran Opa Okan di panti jompo. "Bunda harap Bizar tidak akan tersakiti lagi. Maaf karena bunda tidak bisa cerita semuanya sekarang. Suatu saat nanti, saat Bizar sudah besar bunda akan ceritakan semua yang kita alami agar kamu bisa berhenti berharap sayang," bisik Aina lalu mengecup kening keponakannya. *** -------------------------- Kekuatan pikiran kamu apa? ❤️ ADA RINDU UNTUKMU ❤️ DOKTER JANTUNGKU ❤️ Bukan Jendral Tapi Pangeran "Bagi saya membaca dan menulis itu bukan hobi, tapi kebutuhan." (Helvy Tiana Rosa) --------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN