Adrian berlari mengejar Razka yang lebih dulu keluar dari restoran cepat saji itu. Untung saja tempat makan ini tidak langsung menjorok ke arah jalan raya, ada sebuah taman kecil yang berisi mainan anak-anak tentu hal itu membuat Adrian bernafas lega saat melihat Razka duduk di ayunan seorang diri. "Bang!" panggil Adrian dari belakang tetapi bocah kecil tidak menyahutinya. Ia berusaha tetap kukuh pada aksi ngambeknya. "Bang, gak boleh loh diemin orang tua yang manggil anaknya. Nanti dosa." "Apa?" tanya Razka dengan bibir mengerucut membuat Adrian gemas melihat anaknya itu. Rasanya sudah lama sekali rasanya Adrian tak menghabiskan waktu bersama Razkana. "Kenapa kabur?" "Karena pengen aja," ujarnya membuat Adrian terkekeh. "Jadi kalo gak pengen, gak kabur dong?" pertanyaan Adrian memb

