15

1138 Kata
Nara mengerjap matanya pelan saat merasakan sinar matahari menumbus cela-cela gorden kamarnya. Prempuan itu tersenyum lebar saat mendapati sepasang lengan kekar memeluk pingganya erat. Nara merasakan sesuatu yang berbeda saat mendepati wajah Adrian saat pertama kali membuka mata. Sungguh pemandangan yang membuat Nara takjub. Jarinya terulur untuk menyentuh hidung mancung Adrian yang sempurna. Lalu merambat pada alisnya yang hitam dan tebal hingga tangan Nara sampai pada bibir tipis milik Adrian. "Naraa...." lenguh Adrian membuat Nara cepat-cepat menutup mata. "Pura-pura tidur, huh?" tanya Adrian dengan suara serak sehabis bangun tidur. Nara merasakan degub jantungnya yang kian bertambah cepat berdetak. Nara masih saja memejamkan matanya erat. Lalu tiba-tiba Nara merasakan sesuatu benda kenyal yang menyentuh bibirnya. Sontak mata Nara terbuka lebar saat Adrian tengah menciumnya. Mendapat persetujuan dari Nara yang kembali memejamkan mata menikmati sentuhannya, Adrian semakin menggila saat merasakan manis dari bibir mungil Nara. Tok.. Tokk... "Ayah Bunda, Bangunnn!" ketukan pintu beserta teriakan Dariel dan Razka membuat Nara mendorong pelan tubuh Adrian. Adrian melepaskannya, lelaki itu berdecak sebal sambil melirik pintu yang masih saja di gedor keras. Nara terkekeh dengan tingkah Bossnya. Nara bangkit dari kasurnya lalu dengan centilnya prempuan itu mencium sekilas bibir Adrian. "s**t!" umpat Adrian yang tergoda mebuat Nara terkekeh lalu berjalan untuk membuka pintu. "Ayah Bunda! Buka pintunya!" teriak kedua anaknya lagi membuat Nara berdecak dengan tingkah tak sabaran Dariel dan Razka. "Iya, sebentar sayang." Nara membuka pintu kamarnya, tepat itu juga kedua bocah itu terjatuh karena mereka menyadarkan tubuhnya pada pintu kamar orang tuanya. Brukk... "Aduhh, buntut Iyel gak mulus lagi." "Awh, sakit buntut Babang." Nara tak kuasa menahan tawanya saat kedua anaknya terjatuh dengan posisi saling menimpa. "Bunda, bantuin. Jangan ketawa, sakit buntut Iyel," ujar Dariel dengan bibir mencebik. "Lagian kalian berdua kenapa nyadar di pintu, sakit gak?" tanya Nara seraya membantu kedua putranya berdiri sekaligus mengelus b****g Dariel dan Razka. "Gak kok, Bun. Babang kan kuat, Iyel aja yang cemen, huuuu!" Razka menjulurkan lidahnya mengejek Dariel. Merasa tak terima kedua Dariel mengejar Razka yang lebih dulu naik ke kasur bersembunyi dibalik tubuh Adrian. "Hahahah, Ayah! Ada monters cadel!" seru Razka sambil menunjuk Dariel yang menatap saudaranya sambil mendengus. "Iyel gak cadel! Iyel gak cadel!" teriak Dariel berusaha membuktikan bahwa dirinya tidak cadel. "Coba ngomong 'R' kalo Iyel bisa?" "Lrrrrrrr.." "Hahahah," tawa Adrian dan Razka kompak mengisi kamar itu, Dariel mencebik bibirnya kesal lalu menatap Nara dengan mata berembun. "Bundaaa... Hikss, Ayah sama Babang jahat," Dariel berlari menuju Nara dengan air mata yang membasahi pipinya. Nara merantangkan tangannya, menggendong Dariel yang kini menyembunyikan wajah di ceruk leher Nara. Nara hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah Adrian dan Raziel yang semakin kompak. "Babang, minta maaf sama Iyel. Gak boleh gitu sama Iyel, Bang," ujar Nara seraya membawa Dariel  yang berada digendongnya untuk duduk di kasur. Razka beringsut mendekati Dariel yang kini tengah memeluk Nara. "Iyel, maafin Babang yah," ujar Razka merasa bersalah saat mendengar Dariel terisak dipelukan Nara. Diam-diam Adrian dan Nara saling berpandangan. Melihat interaksi Dariel dan Razka yang begitu polos, mudah berkelahi, mudah berteman membuat mereka terhibur dari dunia orang dewasa yang penuh drama. Dariel terisak semakin kencang membuat rasa bersalah Razka semakin mendalam, matanya pun kini mengembun. Siap meluncurkan air mata dengan deras. "Iyel... Hikss maafin Babang hikss," ujar Razka dengan air mata yang mengalir. Dariel yang mendengarnya langsung mengalihkan pandangnya pada Razka. Bocah cadel itu melepaskan pelukannya lalu berpindah memeluk Razka. "Iya, Iyel maafin Babang, kok," Nara dan Adrian sama-sama tersenyum melihat kedua putra mereka berpelukan. Adrian yang melihat itu pun mengedipkan sebelah matanya, lalu merentangkan kedua tanganya mengkode Nara untuk masuk kedalam pelukannya. Malu-malu Nara masuk kedalam pelukan Adrian yang menenangkan. Dengan pipi bersemu merah, Nara berharap bisa selalu merasakan pelukan hangat dari Adrian. *** Setelah acara berpelukan selesai, Nara bergegas memerintah ketiga laki-laki itu untuk segera mandi sedangkan Nara memilih untuk membuatkan sarapan untuk keluarganya. Untunglah hari ini libur, sehingga Nara tidak perlu tergesa-gesa membuatkan sarapan untuk suami dan anaknya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, ketiga lelaki berbeda umur itu telah siap sarapan dengan pakaian santai. Tentunya dengan acara morning kiss sebelum memulai acara saarapan untuk keluarga itu. Adrian yang paling merasa bahagia, lalaki itu tidak segan-segan mengacak penampilan Nara saat kedua anaknya tengah sibuk dengan sarapan. "Aku ingin kita segera berbulan madu, Nara," ujar Adrian saat mereka tengah duduk santai didepan televisi. Dariel dan Razka tengah bermain mobil-mobilan didepan mereka. Nara mengerutkan keningnya. Berbulan madu? Berarti mereka akan melakukan 'itu' kan? Nara meneguk ludahnya susah payah, entah mengapa ia menjadi gugup mendengarnya. "Bulan madu? Tapi, anak-anak belum libur sekolah?" tanya Nara. Prempuan yang kini tengah memakai daster batik itu memilih menyusun mainan Dariel dan Razka perlahan kedalam box mainan. "Anak-anak? Itu namanya liburan keluarga, Nara. Aku hanya ingin kita berdua saja," ujar Adrian membuat pipi Nara bersemu merah. "Jadi anak-anak siapa yang jaga?" tanya Nara khawatir bagaimana nasib kedua jagoannya. "Baby sister? Itu akan lebih baik." Nara mengeleng keras. "Gak, aku gak percaya sama baby sister sekarang," ujarnya seraya menutup box mainan itu, kemudian beralih ke box yang kedua. "Jadi kita akan membawa mereka?" tanya Adrian menatap Dariel dan Razka yang kini tengah tergelak hebat. Entah sedang memainkan apa. "Tunggu," ucap Adrian yang tiba-tiba mendapat ide. "Bagaimana kita menitipkan Babang dan Iyel dengan Shireen?" tanya Adrian. "Ayolah, Nara. Kita tidak pernah menghabiskan waktu berdua," bujuk Adrian lagi. Nara menghela nafas, apa ia sanggup meninggalkan kedua anaknya. "Kalo mereka gak mau, gimana? Aku sih yes aja kalo mereka mau," ujar Nara membuat Adrian berseru senang. Matanya berbinar menatap Nara yang kini meringgis. "Babang Iyel, sini dulu," panggil Adrian pada kedua anaknya. Mereka segera berlari berhamburan mendekati kedua orang tuanya. "Ada apa, Yah?" tanya Razka memilih duduk dipangkuan Adrian sedangkan Dariel duduk dipangkuan Nara yang tengah merapikan mainan mereka. "Ayah sama Bunda mau pergi. Babang sama Iyel nanti tinggal sama Tante Shireen ya?" tanya Adrian pelan, pria itu sangat mengharapkan bahwa kedua anaknya mau ditinggal. Dariel mengerutkan keningnya. "Ayah sama Bunda mau ke mana? Iyel mau ikutt! Iyel gak mau ditinggal!" seru Dariel sambil menatap Adrian dan Nara. "Gak boleh," Adrian memutar otaknya, mencari cara agar kedua anaknya mau tidak tinggal. "Babang sama Iyel sini dulu, Ayah mau bisikin sesuatu." Dariel mendekat kearah Adrian. Lelaki itu kemudian membisikan sesuatu pada telinga anaknya bergantian. Tiba-tiba Dariel dan Razka berseru senang. "Iya, Babang sama Iyel mau ditinggal!" seru mereka berdua kompak membuat Nara mengerutkan keningnya. Ada yang gak beres, nih. -batin Nara. "Beneran Iyel sama Babang mau ditinggal? Ayah sama Bunda lama loh baliknya." Dariel terdiam sebentar. Kalo Ayah sama Bundanya tidak pergi berarti ia tidak mendapatkan apa yang Ayahnya bisikan tadi. "Gak papa, Bunda. Babang sama Iyel mau kok ditinggal," sela Razka lebih dulu saat Dariel masih berpikir. Kemudian anak itu pun menganguk semangat mendengar pendapat saudaranya. Nara mengehela nafas. Kalo sudah begini, prempuan itu hanya bisa menganguk pada Adrian yang kini berseru senang. "Yesss!" "Yeeeeeayy!" "Yeeeayy! Iyel punya adek bayi!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN