14

1555 Kata
Suasana di ruang makan keluarga Adrian nampak begitu ramai karena celotehan Dariel dan Razka. Antara satu sama lain tidak mau mengalah menyerukan kemauannya. Satu minta dipisah yang satunya lagi minta nambah. "Bunda, Iyel gak suka kuningnya." Dariel mengansurkan piringnya pada Nara untuk membuang bagian kuning telur mata sapi yang berada di nasi gorengnya. "Itu enak, Yel. Apalagi yang setengah matang, eumm... Lumerr gituh," ucap Razka sambil membayangkan betapa lezatnya kuning telur yang dipecah dalam keadaan setengah matang. Dariel menutup mulutnya. "Wlek, gak enak, Bang," ucap Dariel. Sedangkan Nara nampak sudah terbiasa dengan perdebatan kecil mereka. "Kuningnya udah Bunda pisahin. Tapi, harus dihabis ya," perintah Nara yang cepat diangguki oleh Dariel. Setelah selesai membantu kedua anaknya untuk sarapan, Nara bergegas kembali ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Adrian. Sedangkan pria itu kini masih berada di dalam kamar. "Nah, kopi untuk Pak Boss udah jadi!" seru Nara saat mencicipi rasa kopi yang ia buat. Pas, Nara sudah tahu bahwa Adrian adalah tipe lelaki yang menyukai gula lebih banyak. Nara membawa kopi itu untuk disajikan di meja makan, bertepatan saat Adrian turun dari kamarnya. Pria itu nampak sudah siap dengan setelan kerjanya yang begitu memukau. "Pagi, Ayah!" sapa Dariel dan Razka kompak. Adrian membalas sapaannya lalu menciumi pipi kedua anaknya. Tiba-tiba saja jantung Nara berdegub kencang saat Adrian berjalan mendekati Nara yang berada diujung meja makan. "Boss, jangan cium. Malu ada anak-anak." Nara menundukan wajahnya yang memerah sedangkan Adrian menatap Nara dengan sebelah alis yang terangkat. "Siapa yang mau mencium kamu?" tanya Adrian membuat Nara cepat mendongakan wajahnya. "Hah?!" "Itu kopi untuk aku kan." Nara terkesiap. "Eh? Iya untuk kamu." Nara merasakan pipinya memerah menahan malu sekarang. Bisa-bisanya, ia berharap bahwa Adrian akan menciumnya. Cup... Nara merasakan ada sesuatu yang hangat menempel di keningnya. Matanya membulat saat Adrian memberikan senyuman jahilnya. "Itu kan yang kamu mau." Adrian mengabaikan wajah Nara yang kini benar-benar memerah. Dengan santainya lelaki itu mengambil cangkir kopi yang berada di tangan Nara, mengabaikan Nara yang masih terdiam membatu. "Bunda, gak makan?" tanya Dariel saat Nara masih diam saja diujung meja makan. Nara tersentak, buru-buru ia menganguk dan mendekat kearah mereka. Disela-sela makannya, Nara masih sempat memperhatikan Adrian yang tengah bercoleteh dengan Dariel dan Razka. Ia tidak tahu, Bossnya yang terkenal datar bisa berubah menghangat pada anak kecil. "Bunda, ngapain lihat Ayah terus?" Nara memelototkan matanya saat medengar Razka bertanya seperti itu. Tentu hal itu mengundang perhatian Adrian yang kini menatap Nara. "Eh? Gak kok," elak Nara cepat sebelum membuat Adrian memberikan senyuman mengejeknya. "Bunda, ngelihatin jam. Tuhh." tunjuk Nara pada jam dinding besar yang tertempel di dindng, dan betapa beruntungnya Nara karena jam itu berada di balakang tubuh Adrian. Nara menghela nafasnya beruntung. Mungkin setelah ini dirinya harus berterima kasih pada jam dinding yang telah menyelamatkan paginya. Setelah semua telah menyelesaikan sarapannya. Dengan cepat Nara membereskan semuannya. Untung saja tangan Nara telah terlatih membereskan pekerjaan rumah sehingga saat ini dirinya telah siap untuk berangkat bekerja. Adria menyuruh Nara untuk naik kedalam mobilnya. Sebelum berangkat ke kantor, mereka terlebih dulu mengantarkan Dariel dan Razka ke sekolah mereka. Didalam mobil pun, Dariel dan Razka masih asik saja berbincang. Dari mengapa gajah mempunyai belalai, ikan yang bisa berenanga dan entah apalagi karena Nara tidak terlalu mendengarnya. Setelah sampai didepan gerbang sekolah Dariel dan Razka -yang kebetulan satu sekolah- Nara berpesan pada mereka agar tidak kemana-mana sebelum ia menjemputnya. Dariel dan Razka pun mengangguk patuh, lalu menyalami tangan Nara dan Adrian bergantian. Tak lupa Nara yang memberikan kecupan pipi pada kedua anaknya. Saat Dariel dan Razka telah masuk kedalam gerbang. Nara mengalihkan pandangnya ke arah Adrian. "Ayok, Boss! Kita berangkat!" seru Nara bersemangat. "Ada yang mau aku bicarakan," ujar Adrian membuat kening Nara mengerut Nara. Detik itu juga Nara merasakan perubahan aura mobil ini yang tiba-tiba mencekam. "Apa?" tanya Nara. "Aku mau kamu berhenti bekerja." "Kenapa?" tanya Nara dengan emosi tersulut. Tiba-tiba saja Adrian memintanya untuk berhenti bekerja. "Aku bisa membagi waktuku antara menjadi ibu dan seorang karyawan. Itu sudah aku lakukan sejak dulu sebelum menikah denganmu," ujar Nara saat Adrian hanya diam saja. Tentu saja Nara tidak mau berhenti dari pekerjaan yang selama ini mengidupinya. "Tapi sekarang kamu sudah menikah denganku, Nara. Dan tidak ada alasan lagi kamu untuk bekeraja, aku bisa menafkahimu. Aku mau kamu fokus dengan anak-anak." Adrian mencengkram stir mobil kuat saat Nara masih saja menolak untuk berhenti bekerja. "Aku tetap tidak mau untuk berhenti. Kamu tahu? Aku sudah nyaman dengan pekerjaanku." Nara mengalihkan pandangnnya ke arah jendela. "Apa kamu lupa, kenapa aku ingin menikahimu?" tanya Adrian membuat perhatian Nara kembali menatap pria itu. "Aku mau kau menjadi ibu untuk Dariel sedangkan aku akan menjadi ayah untuk Razka. Dan tugas seorang kepala keluarga adalah menafkahi isteri dan anak-anaknya. Lalu tugas mu Nara, hanya manjadi ibu yang baik untuk Dariel dan Razka. Ingat, semua ini untuk mereka." Deg. Seperti baru saja dihujani ribuan pisau, hati Nara begitu sakit saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Adrian. Lagi-lagi Nara harus tahu bahwa tujuan mereka menikah hanya untuk membahagiakan Dariel dan Razka. "Aku akan mengantarmu pulang." "Jangan. Biarkan aku ke kantor sebentar untuk mengucapkan perpisahan pada teman-temanku." Adrian menatap Nara yang kini memandang lurus ke depan.  Senyumannya pun tak lagi menghiasi wajahnya. Apa Adrian telah salah bicara? "Baiklah." *** Nara berulang kali mangaduk-ngaduk salad buahnya yang dilumuri mayones tanpa minat. Pikirannya menerawang tentang ucapan Adria sewaktu di mobil. Seharusnya Nara tidak terlalu banyak berharap didalam pernikahan ini. Pernikahan yang dilandasi hanya karena saling membutuhkan. Iya, hanya se-simple itu, tidak lebih dan tidak pula kurang. "Sampe kiamat pun, salad itu gak akan berubah jadi ketoprak kalo lo aduk-adukin terus." Nara mengalihkan pandangnya pada Shireen yang kini tengah menyantap Mie Celornya. "Gue gak lapar." Nara menyenderkan tubuhnya dibangku. "Kenapa? Lo lagi ada masalah?" tanya Shireen yang diangguki Nara. Prempuan itu memejamkan matanya, menikmati lantunan lagu klasik yang mengisi kafe ini. Shireen membulatkan mulutnya. "Ooo, gue tahu. Pasti lo lagi frustasi karena gak bisa puasian Pak Adrian 'kan? Atau jangan-jangan Pak Adrian belum nyentuh lo karena dia gak tergoda dengan tubuh kurus lo ini?" tanya Shireen membuat Nara membuka matanya cepat dan mendengus dengan pemikiran gila sahabatnya ini. Nara memutar bola matanya, jengah. "Gak, gak ada hubungnya sama itu," ujar Nara membuat Shireen mengerutkan keningnya. "Lantas apa gerangan lo bisa berubah jadi pendiam gini?" "Entah, gue aja gak tahu." Nara menghendikan bahunya, membuat Shireen manatap awas Nara. "Lo gila, Ras. Punya masalah tapi gak tau apa masalahnya." "Oh, iya! Soal lo ngudurin diri itu emang benar?" tanya Shireen menyeruput jus mangganya. "Iya, bener. Mulai besok gue gak kerja lagi," jawab Nara. Ia memang sudah memutuskan untuk menuruti perintah Adrian. Lagi pula apa salahnya menjadi ibu rumah tangga. Sekarang yang penting bagi Nara adalah uang dari Adrian tetap mengalir. Nara melupakan sesuatu, prempuan itu melirik jam tangannya. "Astaga! Gue telat jemput anak gue." Nara bangkit dari duduknya dan segera berpamitan pada Shireen. "Gak usah ngebut-ngebut, Ra!" teriak Shireen ketika Nara keluar dari kafe, prempuan itu hanya mengancungkan jempolnya sebagai jawaban. Mata Shireen beralih pada Salad buah dan jus buah naga milik Nara. "Lah ini siapa yang bayar?" tanya Shireen menepuk jidatnya sendiri. "Ampess bener gue," kata Laras. Nara buru-buru keluar dari kafe, matanya mencari angkutan umum yang lewat. Saat hendak mencari angkutan umum yang berada disebrang jalan. Karena Nara tidak memperhatikan jalanan yang sedang ramai. Tinn...... Tiba-tiba saja dari arah kiri sebuah motor melaju kencang hampir membuat Nara tertabrak. Untung saja ada yang manarik lengannya. Sambil menenagkan jantungnya yang berdetak begitu kencang. Nara mengalihkan pandangnya pada sebuah lengan yang baru saja menyelamatkannya. "Adrian," ucap Nara saat melihat lelaki itu menatap Nara dengan tajam. "Lepas, aku mau jemput Babang sama Iyel." Nara berusaha melepaskan cekalan kuat Adrian yang memegang tangannya. Ia takut jika terjadi apa-apa pada Dariel dan Razka. Telunjuk Adrian bergerak ke arah mobilnya, disitu sudah ada Dariel dan Razka yang baru pulang dari sekolah. Seketika Nara bernafas lega, akhirnya anak-anaknya tidak terlalu lama menunggu. "Hampir, Nara. Hampir saja kamu melukai diri kamu sendiri," ujar Adrian dingin. Nara mendongkan wajahnya, berani menatap Adrian yang kini tengah menatap tajam Nara. "Iya, aku salah. Aku salah..." satu bulir air mata jatuh membasahi pipi Nara. Entah mengapa saat Adrian menatapnya tajam membuat Nara merasakan sakit pada hatinya. Dalam sekali tarikan, Nara sudah berada didalam pelukan Adrian. "Maaf, maaf... Aku yang salah." Nara terisak kencang didada Adrian. Sedangkan Adrian mendekap tubuh Nara dengan lengan-lengannya. "Jangan pernah lakukan itu lagi Nara. Aku tak mau kehilangan dirimu." Nara mendongakan wajahnya menatap Adrian. Lelaki itu kini mengulas senyum tipisnya. "Hal itu juga yang membuat aku yakin bahwa kamu akan lebih baik jika berada di rumah. Menjaga anak-anak kita," ujar Adrian menghapus bulir air mata yang berada di pipi mulus Nara. "Maaf, aku mengira kamu malu memliki isteri seperti a---" "Sstt! Mulai sekarang, lupakan perjanjian sialan itu. Aku mau kita memulai semulanya dari awal. Sama-sama untuk mulai jatuh cinta." "Jatuh cinta? Aku dan kamu?" tanya Nara yang diangguki Adrian. Nara tersenyum lebar lalu dengan perasaan menggebu-gebu memeluk Adrian. Pelukan yang membuat Nara merasakan nyaman sekaligus aman. Ingin rasanya Nara untuk tidak melepas pelukan ini, tapi apa daya, sebuah suara membuat aktivitas pulakan Nara terganggu. "AYAH BUNDA! BABANG SAMA IYEL UDAH LAPARRR!" teriak kompak Dariel dan Razka membuat Nara melepaskan pelukannya lalu manatap Adrian dengan senyuman lebarnya. "Ayo, aku rasa mereka sudah kelaparan." Nara menganguk, lalu sebuah lengan Adrian merengkuh tubuh Nara. Prempuan itu membalas menyandrakan kelapanya di d**a Adrian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN