13

1393 Kata
Adrian membuka matanya perlahan ketika merasakan silau mentari menembuh cela-cela kamarnya. Lelaki itu meraba bagian samping kasurnya seraya manarik selimut untuk menutupi kepalanya dari cahaya matahari. Adrian mengerutkan keningnya saat tak mendapatkan apa-apa disampingnya. Biasanya, Adrian akan mendapatkan pamandangan indah ketika dirinya membuka mata. Melihat wajah cantik Nara yang masih terlelap. Karena kesadarannya telah kembali dan matanya enggan menutup lagi, Adrian memutuskan untuk bangun dari tidurnya dan mencari keberadaan isterinya yang pagi-pagi telah hilang Setelah selesai membasuh mukanya, lelaki itu melangkahkan kakinya menuju dapur. Disana telah tersaji sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi dan segelas kopi yang masih hangat. Adrian mengedarkan pandangnya, mencari dimana keberadaan anak-anak dan isterinya. Hingga suara gelak-tawa yang Adrian tahu berasal dari kolam berenang berhasil menarik perhatiannya. Langsung saja Adrian melangkahkan kakinya kesana dan mendapati salah satu putranya tengah berenang tanpa pengaman apapun. "Ayah!!" seru Razka saat melihat Adrian melangkah kearahnya. Adrian mendekat ke tepi kolam. "Babang bisa berenang?" tanya Adrian. Razka menganguk semangat. "Bisa, Yah!" serunya sambil memperlihatkan kebolehannya. Adrian mengangguk, lalu tatapan beralih pada kolam renangnya yang luas. Kolam renang itu terbagi menjadi dua bagian, dibagian ujung khusus untuk orang dewasa karena cukup dalam sedangkan bagian sebelahnya diperuntukan untuk anak-anak karena tidak terlalu dalam. "Bang. Disana dalam, Babang main disekitara sini ya," perintah Adrian seraya menunjuk batas yang memisahkan kedalam kolam renang itu. "Iya, Yah!" ucap Razka menuruti perintah Adrian. Lalu Adrian kembali mengedarkan pandangnnya disekitar kolam. "Bunda lagi bantu Iyel pake baju renangnya, Yah," ucap anak itu seolah tahu Ayahnya sedang mencari kebaradaan saudara dan ibunya. Adrian menceburkan tubuhnya kedalam kolam, sebelum itu ia lebih dulu melepaskan bajunya dan hanya mengendakan celana pendek. Adrian mendekat kearah Razka yang tengah memainkan air. "Kenapa Babang sama Iyel gak bangunin Ayah?" tanya Adrian sambil membawa tubuh Razka mendekar kepinggir kolam berenang karena tubuh anak itu sudah kedinginan. "Bunda bilang, Ayah capek kerja. Jadi jangan dulu dibangunin biar istirahat." Adrian mendengus padahal dirinya hanya membantu membereskan barang-barang Nara dan Razka pindah ke rumah ini. Lalu tatapannya beralih pada Razka yang ingin kembali menceburkan diri. "Udahan Bang berenangnya. Badan udah menggigil gitu." bibir Razka mengerucut tapi tetap menuruti perintah Adrian. Tiba-tiba dari arah pintu seorang anak laki-laki dengan pakaian renang bereteriak senang. "Babang!" teriak Dariel seraya mengancakan pelampung berbentu bebek ditangannya. "Babang, kita main yuk! Iyel ada pelampung, nanti kita gantiaan ya," ujar Dariel dengan senyum semangatnya. Senyum itu semakin merekah ketika Adrian ikut bergabung dengan acara berenang mereka. "Gak boleh sama Ayah, Yel." "Kenapa?" "Babang udah terlalu lama main airnya. Badanya udah kedinginan, Yel," ujar Adrian memberi pengertian membuat kedua bocah itu mengangguk. Nara yang baru kaluar dari dari rumah mengerutkan keningnya ketika mendapati kedua putrannya tengah memasang wajah cemberut. "Loh, ini kanapa dua putra Bunda yang tampan mukanya cemberut gitu? Jadi mirip palampungnya Iyel." Nara duduk di pinggir kolam berenang sambil mengelus kedua pipi Dariel dan Razka. "Bundaaa..." rengek Dariel dan Razka memeluk Nara yang baru bergabung dengan mereka. Nara tergelak dengan reaksi kedua putranya membuatnya akhirnya jatuh ke kolam berenang. Adrian yang melihatnya segera membantu Nara dan mengangkat Dariel dan Razka untuk duduk di pinggir kolam. "Bunda, Ayah gak nyuruh Babang berenang," adu Dariel membuat Adrian mendelik karena aduan anaknya. Nara berbalik badan seraya menatap Adrian. Lelaki itu mengumpat pelan melihat saat pakaian renang Nara yang sangan minim. Hanya ada bra dan celana dalam khusus renang yang membaluti tubuh prempuan itu. Adrian berdehem, menghilangkan pikirannya yang telah jauh melayang. "Hmm, Babang sudah kedinginan. Dia sudah terlalu lama bermain air." Nara kembali menatap Razka dan bocah itu menganguk mengiyakan. Nara menghela nafas. "Udahan ya main airnya, Bang," Nara mendekat kearah dua putranya lalu mengelus pelan pipi Razka. "Besok lagi, oke?" tanya Nara yang diangguki Razka. Nara mengecup pipi Razka begitu juga dengan pipi Dariel. "Nah, Babang mau masuk kedalam atau mau duduk disini?" tanya Nara. "Babang mau kedalam aja, Bun. Tapi habis bilas, boleh main games, gak yah?" tanya Razka seraya bangkit dari duduknya, Adrian mengaguk membolehkan hal itu membuat Razka berseru senang sambil berlari memasuki rumah. Ternyata bukan hanya Razka yang masuk kedalam tapi juga Dariel yang membuntutinya. Hal itu membuat kening Adrian dan Nara berkerut. "Iyel, mau kemana?" tanya Nara. Dariel nyengir, "Mau nyusul Iyel. Hehehe." Adrian dan Nara hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah Dariel yang tidak bisa jauh dari Razka. Nara mangatur nafasnya lalu berbalik badan menatap Adrian. Prempuan itu hanya bisa tersenyum kikuk melihat pemandangan yang membuat liurnya menetes. Adrian dengan otot-ototnya membuat Nara ingin bisa mengelus semua itu. Nara hendak keluar dari kolam berenang. Tapi sebuah lengan kekar membuatnya terjatuh kembali kedalam kolam. "Adrian..." ucap Nara gugup ketika lelaki itu mendekat kearahnya membuat tubuhnya terbentur dinding kolam. Adrian hanya menaikan salah satu alisnya. "Kenapa huh?" tanya Adrian membuat nafas Nara behenti keluar masuk dan darahnya berdesir ketika lengan kokok Adrian memeluk pinggang polosnya. Adrian hanya tersenyum melihat Nara yang tampak gugup ketika mereka berada diposisi sedekat ini. Adrian tak bisa menghentikan godaan ini. Sedetik kemudian, bibir Adrian perlahan menyentuh bibir merah delima milik Nara membuat si pemilik melmbulatkan matanya. Pelukan pada pinggang Nara semakin menguat membuat ciuman itu semakin mendalam. Awalnya Nara menolak tapi karena tidak bisa menahan buaian dari seorang Adrian membuat dirinya mengalah dan membuka mulut agar Adrian lebih mudah menelisik mulutnya. Pria itu menekan tenggkuk Nara membuat prempuan itu kehilangan akal sehatnya saat lidah Adrian bermain didalam mulut wanita itu. Adrian memainkan lidahnya dimulut Nara, mengabsen setiap inci giginya membuat Nara mengerang kenikmatan dengan perilaku Adrian. "Aghh..." desahan pelan keluar dari mulut Nara membuat Adrian tersenyum kecil. Saat mereka hampir kehabisan nafas barulah Adrian melepaskan ciumannya. Seketika, Adrian bisa melihat muka Nara yang memerah karena ulahny. Adrian kembali mengecup bibir Nara. Hanya kecupan kecil tapi bisa membuat jantung Nara menggelar konser disana. *** Saat ini Nara tengah memasak di dapur karena sebentar lagi tiba jam makan siang. Nara mengerjakan semuanya sendiri karena Elena tidak lagi bekerja disini karena memilih mengahabiskan sisa hidupnya untuk kembali ke kampung halamannya dengan Adrian sendiri yang mengantarnya. Ah, Adrian. Entah mengapa setelah insiden di kolam berenang tadi membuat Nara gugup jika bertemu laki-laki itu. Hati Nara langsung berdebar ketika mengingat. Reflek Nara memegang bibirnya yang kini membengkak akibat ciuman panas lelaki itu, sedetik kemudia Nara melepas tanganya pada bibirnya dan mengeleng-gelengkan kepalanya menjauhkan pikiran kotornya. Fokus Nara, fokus! Jangan sampe suami dan anak-anakmu keracunan akibat khayalanmu. -bantin Nara. Nara mengambil sedikit kuah kaldu yang berada diatas wajan untuk merasakan. Tiba-tiba seorang anak laki datang mengampiri Nara dengan wajah cemberutnya dan sesekali mengusap perutnya. "Bundaa, Lapalr." Nara mengalihkan pandangnya pada Dariel yang kini tengah memeluk kakinya. "Sebentar lagi ya, sayang. Mending Iyel panggil Babang sama Ayah dulu." "Tenaga Iyel sudah habis," ujar Dariel dengan mengerucutkan bibirnya. Hal itu membuat Nara terkekeh gemas. Nara mematikan kompornya lalu berjongkok didepan Dariel. "Emang main apa aja? Kok bisa habis? Apa perlu diisi bahan bakarnya?" tanya Nara. Dariel mengangguk lucu. "Iya, diisi, Bun. Tapi, isinya disini." Dariel menunjuk perutnya membuat Nara mengacak rambutnya. "Panggil Ayah sama Babang, Yel. Anak baik gak boleh ban...?" "...tah. Iya, Bun, Iya." Nara tersenyum senang lalu bangkit dari jongkoknya untuk memindahkan Sop Ayam kedalam mangkok untuk disajikan di meja makan. Baru saja hendak mengambil sendok besar, sebuah suara melengking lebih dulu membuat Nara terkejut. "AYAHHH BABANG DIPANGGIL BUNDAA!" teriak Dariel membuat Nara mengelus dadanya karena suara toa anaknya. Karena suara Dariel yang menggema keseluruh sudut rumah membuat Adrian dan Razka datang dengan buru-buru. "Nara? Ada apa?!" tanya Adrian khawatir seraya mengecek tubuh Nara. Pria itu kemudian bernafas lega ketika tahu bahwa tubuh Nara masih sehat dan lengkap. Sedangkan Razka mengitari dapur sambil berteriak. "Kebakaran! Kebakarann! Airr! Butuh airrr!" seketika semua yang berada disana tergelak melihat tingkah Razka. Dariel menarik lengan Razka. "Gak ada yang bakalr-bakalr, Bang." reflek Razka berhenti dari aksinya dan memandang Dariel dengan pandangan bertanya. "Lah tadi kenapa Iyel teriak?" tanyanya. Dariel tekikik. "Disulruh sama Bunda makan." Adrian yang mendengarnya mengalihkan pandangannya pada Nara dan ketika wanita itu mengangguk sambil menahan tawa barulah Adrian menghela nafas. "Udah. Babang sama Iyel duduk di meja makan ya," perintah Nara pada dua bocah itu membuat mereka menangguk semangat sambil berlari menuju meja makan. Adrian hanya mengelengkan kepalanya heran melihat tingah kedua putranya. Lalu tatapannya beralih pada Nara yang tengah memperhatikan Adrian. "Kenapa, Nara?" prempuan itu terkesiap ketika dirinya ketahuan memperhatikan wajah tampan milik Adrian. "Mau lagi?" tanya Adrian membuat pipi Nara memerah. Dan detik itu juga Nara menyesal karena kedapatan curi-curi pandang melihat wajah tegas Adrian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN