Nara menghela nafas panjangnya, ditatapanya lagi ke arah cermin besar yang menampilkan seorang prempuan dengan gaun putih yang indah. Nara tak menyangka sekarang dirinya berada disini. Di dalam kamar suite sebuah hotel tepat acara pernikahannya berlangsung.
"Kenapa, Mbak? Gugup ya?" tanya perias wajah Nara saat melihat dirinya menghela nafas beberapa kali.
Nara tidak menjawab dirinya hanya menangguk sebagai jawaban. Ia takut make up cantik yang telah menempel dimukanya ini menjadi rusak hanya karena dirinya berbicara.
Perias wajah Nara itu tertawa, "Ngomong aja, Mbak. Make up nya gak bakal rusak kok. Kecuali Pak Adrian nya sendiri yang ngerusaknya waktu malam pertama." wajah Nara seketika memerah padam mendengar godaan dari periasnya ini.
"Nah, udah selesai, Mbak." perias itu menyemporkan sesuatu kewajah Nara. "Cantik, Mbak. Aslinya emang cantik jadi gak susah di make up nya," puji perias itu membuat Nara mengulum senyumnya.
Nara bangkit dari duduknya, sebentar lagi resepsi pernikahannya di gelar. Sedangkan Akad pernikahan sudah dilaksanakan di pagi hari. Untung semuanya lancar tanpa kendala.
Pagi tadi adalah hari yang paling bersejarah bagi Nara. Hatinya bergetar hebat saat Adrian mengucapkan ijab qobul dengan lantang dan sekali tarikan nafas membuat Nara menitihkan air mata saat itu juga. Dirinya tak menyangka bahwa kini ia telah menjadi isteri dari seorang Adrian Maynard.
Tiba-tiba seorang prempuan dengan dress hitam tanpa lengan masuk kedalam kamar Nara. Shireen menatap takjub sahabatnya itu.
"Nara!! Ya ampun lo cantik banget! Sumpah jadi pangling gue lihat lo." Nara mengembangkan senyumannya saat Shireen memujinya. "Emang hebat banget, sih periasnya. Gak percuma Adrian nyewanya mahal-mahal," ujar Shireen mengabaikan senyum kecut Nara. Baru saja dibawa terbang tinggi, eh malah kembali dihempaskan ke bumi.
"Ayok, ah! Keburu Adrian nungguin." Shireen mengamit lengan Nara untuk turun ke ballroom tempat acara dilaksanakan.
Seraya menenangkan degub jantungnya yang seperti ingin melompat keluar, Nara kembali melirik Shireen yang tersenyum manis disampingnya. Nara beruntung memiliki Shireen yang selalu ada untuknya. Hingga Nara sudah sampai di tempat acara, hanya tinggal menuruni tangga.
Berpasang-pasang mata menatap takjub saat Nara menuruni tangga dengan gaunnya yang menjuntai ke belakang. Sampai seorang ditugaskan khusus untuk ekor gaunnya.
Nara tak kalah berdecak kagum saat melihat dekorasi ballroom yang disulap menjadi sangat mewah. Hitam dan putih menjadi konsepnya. Dengan Nara yang mengenakan gaun putih mewah dan Adrian yang mengenakan jas mengkilat bewarna hitam.
Nara tak tahu berapa uang yang dikeluarkan Adrian hanya untuk menyiapkan ini semua. Nara yakin dirinya akan masuk kedalam pernikahan paling mewah tahun ini.
Perhatian Nara tertuju pada seorang laki-laki yang tengah berdiri gagah diatas panggung. Red carpet tergelar panjang dibawah kaki Nara untuk dapat bersanding dengan Adrian secepatnya. Shireen melepaskan lengannya lalu menatap Nara dengan senyuman yang memenuhi wajahnya.
Seketika lampu ballroom terpusat pada Nara yang sedang berjalan menuju Adrian. Lagu pengiring dengan tema romantis mengikuti langkah Nara agar dapat segera berdiri disamping Adrian.
Saat ditengah perjalanan Nara melihat Dariel dan Razka berteriak-teriak membuat Nara hampir saja menetaskan air matanya.
Dua bocah itu mengenakan jaz yang sama dengan Adrian hanya saja menyesuaikan dengan tubuh kecil mereka.
Saat telah sampai didepan Adrian, Nara tak bisa menenangkan jantungnya yang tidak bisa diajak kompromi sebentar saja untuk diam. Eh, jangan! Bisa mati Nara kalo jantung berhenti, baru juga nikah.
Adrian menjulurkan tangannya membantu Nara agar dapat berdiri disampingnya. Pria itu juga tidak dapat melepaskan pandangnya pada Nara yang begitu cantik malam ini.
"Kamu cantik." pipi Nara bersemu merah. "Aku tidak sabar untuk nanti," bisik Adrian membuat bulu kuduk Nara merinding.
Nara menelan ludahnya kuat. Jantungnya semakin berdegub kencang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.
***
Adrian baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Ia telah menyuruh Nara untuk mandi lebih dulu tadi dan mempersiapkan untuk malam ini.
Adrian merasakan sesuatu yang berbeda pada dirinya. Jantungnya tidak seperti biasanya, kali ini begitu kencang berdetak.
Padahal seharusnya dirinya biasa saja. Lagi pula dia bukan seorang perjaka lagi dan Nara bukan seorang perawan. Ya, walaupun Adrian tidak tahu kebenarannya.
Sambil menenangkan degub jantungnya, Adrian memutar knop pintu dengan perlahan. Dan saat pintu telah terbuka sepenuhnya. Adrian disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa.
Sampai-sampai Adrian membulatkan matanya melihat apa yang ada dikasur.
"Daddy, kenapa mandinya lama?"
Glegarrrr....
Rahang Adrian jatuh seketika mendengar suara kecil itu. Disana, diatasu kasur sudah ada Dariel dan Razka yang lebih dulu memonopoli Nara.
Dariel yang tengah memeluk lengan Nara dan Razka yang menjadikan paha Nara sebagai bantalan. Jika sudah begini Adrian hanya bisa menunggu kedua penggangu itu kembali ke kamar mereka.
"Om Adrian, Babang sama Iyel, bobok sini ya." dan detik itu juga Adrian merasakan tubuhnya disengat jutaan volt membuatnya mati rasa seketika.
Iya, tampaknya tidak ada malam pertama bagian Adrian yang malang.
Sedangkan Nara, prempuan itu tengah menutupi mulutnya menahan tawa melihat ekspresi wajah Adrian yang begitu sedih. Nara bangkit dari kasur dengan perlahan lalu mengambil baju yang telah ia siapkan untuk Adrian tadi.
"Ini bajunya." Nara memberikannya pada Adrian membuat kedua sudut bibir lelaki itu terangkat. Ia mengecup bibir Nara sekilas kemudian mengambil baju itu dan berlari ke kamar mandi.
Nara tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya. Jantungnya juga kembali berdetak kencang padahal tadi hanya kecupan sekilas bagaimana jika mereka...
"Mama ngapain melamun?" Nara tersentak melepas tanganya pada bibirnya. Untung kedua bocah itu tidak tahu apa yang dilakukan Adrian tadi.
Nara kembali duduk dikasur, sedangkan duo krucil itu kembali bermanja-manjaan dengan Nara. Prempuan itu tersenyum bahagia telah mengabul permintaan Razka juga menjadi Ibu untuk Dariel.
Entah sudah berapa lama Adrian di kamar mandi. Ada sesuatu yang harus menjadi pelampiasannya malam ini. Setelah hasrat itu sirna, Adrian berjalan keluar dari kamar mandi dan berharap Dariel dan Razka sudah tertidur.
"Daddy, kenapa lama di kamar mandinya?" Adrian menghela nafas, dia masih mendengar suara Dariel yang nampaknya belum ingin tidur sama seperti Razka yang matanya masih terbuka sempurna.
Adrian menggaruk tengkuk kepalanya, "Daddy, sedang sakit perut." Nara yang mendengarnya langsung bertanya, "Boss udah makan? Kalo belum saya ambilkan dulu." Nara baru saja ingin beranjak tapi Adrian menahan lengannya.
"Sudah tidak lagi," ujar Adrian membuat Nara kembali menyedarkan tubuhnya di kepala kasur.
"Kok Mama masih panggil Boss, sih?" tanya Razka yang mendengar panggilan dari Nara untuk Adrian. Dariel ikut menganguk penasaran.
"Nah, kalo begitu sekarang saja kita pilih nama panggilannya," usul Nara membuat yang disana menganguk kompak.
"Emmm... Gimana kalo Mommy- Daddy aja," ujar Dariel memecahkan keheningan yang terjadi.
Adrian menggeleng. "Daddy bosan dengan panggilan itu, cari yang lain." mereka semua menangguk kemudian kembali berpikir.
"Kalo Mama-Papa aja, gimana?" tanya Razka yang kali ini mendapat gelengan dari kepala Nara.
"Udah biasa, Bang. Cari yang lain." sekali lagi kedua bocah itu kembali berpikir keras membuat Adrian dan Nara tertawa melihatnya.
"Aha!" kompak Razka dan Dariel. "Gimana kalo Ayah-Bunda aja?" tanya Razka yang diangguki Dariel. "Iya, iya! Ayah-Bunda aja." Dariel berujar dengan semangatnya.
"Ayah-Bunda? Tidak buruk juga," ujar Adrian membuat Dariel dan Razka kompak berseru riang. Kemudian mereka mengalihkan pandanganya pada Nara.
"Oke, Ayah-Bunda."
"Yeayyyy!" sorak kedua bocah itu kembali bergembira membuat Adrian maupun Nara tidak mampu menutupi senyum bahagiannya.
"Sayang Bunda," ujar Dariel membuat Nara kegalapan saat Dariel memeluknya. Selanjutnya Nara hanya bisa memeluk Dariel erat dan hampir saja meneteskan air mata.
Sedangkan Razka tanpak tengah menimbang-nimbang sesuatu dihadapan Adrian. "Emm, sayang Ayah boleh?" tanya Razka malu-malu membuat Adrian memeluk Razka langsung.
Tidak apa tidak ada malam pertama. Malam ini adalah malam yang begitu mengesankan bagi Adrian maupun Nara. Oh, jangan lupakan Dariel dan Razka.