Nara menyesal.
Oh, tidak!
Sangat-sangat menyesal malah.
Perkataan Adrian yang menyatakan mereka akan menikah seminggu lagi, memang benar. Dan itu membuat Nara langsung menjadi bahan gunjingan para pekerja kantor.
Ada yang mengatakan Nara menggoda Adrian, menjual tubuhnya pada Adrian dan yang paling parah adalah Nara menjadi bahan gosip karena hamil diluar nikah.
Nara menghela nafas mengenai beban hidupnya yang kini bertambah. Belum lagi fans-fans Adrian, yang pasti siap memberikan amukannya untuk Nara.
Nara mah apa atuh? Cuman Ibu satu anak. Oh, ralat! Kini manjadi ibu dua anak.
Nara kembali menatap monitor komputernya untuk mengembalikan kosentrasinya untuk mengerjakan tugasnya.
Baru saja hendak mengetikan sesuatu, kepala Adrian memyembul dari balik pintu ruangnya. "Nara, saya tunggu kamu lima menit lagi di ruangan saya." pria itu kembali memasukan kepalanya dan menutup pintu.
"Ahhh, cobaan apa lagi ini tuhan!" Nara merebahkan tubuhnya pada bangkunya. Mengusap-usap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tak mengira akan menjadi seperti ini nasibnya.
Nara heran dengan Adrian, kenapa lelaki itu tidak menggunakan intercom saja untuk menyuruh Nara masuk kedalam ruanganya. Malah lelaki itu menyuruh Nara secara langsung.
Prempuan itu bangkit dari duduknya seraya merenggangkan otot-ototnya yang sudah kaku karena duduk berjam-jam sedari tadi. Nara membuka pintu ruangan Bossnya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Pandangan Nara tertuju pada sesosok lalaki yang kini sedang sibuk dengan lembaran-lembaran kertas. Kaca matanya sedikit turun dari hidung lancipnya membuat Nara ingin menggigitnya. Kerahnya tidak lagi rapi, dasi sedikit longgar membuat Nara ingin mengecup d**a sixpack Adrian.
"Tunggu setelah kita sah. Aku akan menerkammu Nara." Nara terkesiap dari lamunan joroknya, dirinya tak sadar tengah membasih bibir merah wanita itu membuat Adrian ingin menerkamnya.
"Gampang. Tinggal terjang aja anunya."
"Lihat saja nanti. Siapa yang tidak bisa turun dari ranjang lagi?" Adrian menatap Nara remeh membuat Nara tanpa sadar meneguk ludahnya sendiri.
"Ah, iya! Ada apa gerangan Boss memanggil?" tanya Nara mengalihkan pembicaraan. Adrian bangkit dari duduknya seraya melirik jam tangan yang melingkari tanganya.
"Aku ingin mengajakmu untuk mencari cincin pernikahan sekarang."
"Sekarang? Sekalian jemput Babang sama Iyel ya?" tanya Nara memastikan, sebentar lagi jam pulang anak-anak. Ia tidak mau membuat keduanya menunggu sedangkan orang tuanya sedang bersenang-senanh. Lagi pula, perikahan ini hanya untuk mengabulkan permintaan Dariel dan Razka.
"Iya. Sekaligus makan siang."
Nara menganguk setuju. Mereka berdua segera keluar dari ruangan Adrian. Nara segera mengambil tasnya yang berada diatas meja kerjanya. Lalu, mengejar Adrian yang sudah lebih dulu jalan.
Saat sudah berada didepan pintu lift, Nara mengumpat pelan pada kotak besi itu yang tidak berisikan orang. Itu berarti, hanya ada Nara dan Adrian disana. Berdua.
Nara tidak suka dengan suasana canggung. Sebisa mungkin dirinya untuk melebur suasana itu menjadi lebih santiai. Suasan canggung juga membuat Nara menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Ia kebelet.
Setelah pintu lift terbuka, Nara meminta izin pada Adrian untuk ke toilet sebentar. Nara menyuruh Adrian untuk menunggu mobil pria itu saja. Adrian menganguk mengikuti perintah Nara.
Saat berada didepan toilet wanita, Nara buru-buru untuk masuk, tidak ada orang disana. Prempuan itu segera masuk kedalam salah satu bilik untuk segera menuntaskan kebelatan ini.
Nara mendengar banyak langkah kaki mamasuki toilet. Ia mengabaikan dan memilih perbaiki setelan kerjanya. Saat hendak memutar knop bilik itu, Nara mendengar mereka sedang membicarakan sesuatu. Nara mengurungkan niatnya dan memilih menjadi penguping.
"Lo tahu gak, Boss bentar lagi nikah loh?" Nara sedikit mengintip dari cela-cala bilik, hanya ada dua orang yang berada disana dan tampaknya sedang merapikan dandannya didepan wastafel.
"Tahu lah. Sama siapa itu Ki-kiranti?" Nara mendegus namanya disama-samakan dengan produk penghilang rasa nyeri saat datang bulan. "Bukan, namanya ini Kenanga. Kalo gak salah sih!" Nara kembali mendengus, sebegitu tidak terkenlanya dia membuat dua manusia itu salah menyebut namanya.
"Bodolah siapa namanya. Dengar-dengar gosip, dia ngegodaiin Pak Adrian kan? Keblabasan habis itu bunting deh."
"Jalang sih. Dia itu janda anak satu loh? Jelaslah lihai ngegoda Pak Adrian. b***h!"
Tawa mereka mengema diseluruh sisi toilet membuat Nara menahan untuk tidak mengamuk pada dua gadis tersebut.
Walaupun bukan janda asli. Nara tidak pernah suka terhadap orang-orang yang merendahkan status itu. Kadang orang berpikir, janda atau duda adalah barang bekas sehingga dianggap sebelah mata. Tapi mereka tidak pernah berpikir, bahwasannya bukan mereka yang menjalani pernikahan. Lagi pula jika hubungan pernikahan tidak bisa bisa dilanjutkan lagi, kenapa tidak berhenti? Daripada menyikasa batin. Anggap saja itu bukan jodohnya.
Nara menghela nafas panjang, mengumpulkan banyak oksigen agar tidak kelepasan untuk mencakar dua manusia itu. Nara membuka pintu biliknya, seperti tidak mendengar apa-apa Nara menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
Dua wanita itu menatap kaget Nara. Seolah baru saja kedapatan maling dan akan segera dihakimi masa.
Tatapan tajam Nara mengintimidasi kedua wanita itu. Tapi keduanya seolah sudah terbiasa tertangkap menggosip didepan orangnya, malah milirik Nara biasa saja.
"Apa yang kalian bicarakan tadi tidak benar. Saya tidak pernah menggoda Pak Adrian."
Kedua wanita itu berhenti dari aktivitasnya. Mereka baru saja tepat sasaran untuk membunuh mangsa.
"Mana ada maling ngaku? Kalo ada penjara udah penuh."
Mereka tertawa sedangkan Nara menahan dirinya untuk tidak meledak sekarang.
"Gue ingetin sama lo, b***h! Gak usah sok kecantikan, palingan lo bakal jadi isterinya sebulan aja." prempuan berambut ikal itu menunjukan jarinya didepan wajah Nara, menantang sang ratu hutan.
Nara berusaha menjadi orang baik kali ini, ia tidak akan terpancing emosi pada dua mahluk penggosip.
"Gue heran sama lo, apa sih yang disukain sama Pak Adrian dari lo?"
"Karena saya cinta dia."
Tiga wanita itu membeku seketika mendengar suara bariton itu menguar didalam toilet. Mereka menoleh pada pintu toilet dan mendapati Adrian berjalan kearah mereka.
Tatapan dinginnya menusuk mati dua wanita yang tadi menggosipi Nara. Ini bukan lagi tertangkap basah melainkan telah mendekati ajal. Dua wanita itu terdiam sedangkan Nara mengembangkan senyum kemenangannya.
"Nara tidak pernah menggoda saya ataupun menjual tubuhnya. Saya lah yang gencar untuk mendekati Nara bukan dia."
Mereka semua terdiam membisu, dua wanita itu terdiam mengeluarkan keringat dingin menanti ketika Adrian menyuruh mereka angkat kaki. Sedangkan Nara, prempuan itu merasakan hatinya menghangat mendengar ucapan Adrian.
"Karena kalian telah melanggar peraturan kantor karena membicarkaan hal yang tidak benar. Silahkan kemasi barang-barang kalian. Pesangon akan ditransfer ke rekening masing-masing."
Dua wanita itu menanguk lemas lantas berbalik untuk keluar dari toilet.
"Tunggu!" panggil Nara pada mareka membuat secerca harapan timbul kembali pada dua gadis itu.
"Saya cuman mau bilang, nama saya itu Kinara. Kinara."
Mereka pikir Nara akan meminta Adrian untuk tidak memecatkan mereka sepeti di pilem-pilem. Oh tentu tidak. Nara bukan malaikat sebaik yang mereka pikir.
"Kalian boleh pergi! Dahh.." senyum mengejek Nara mengembang bersamaan lambaian tangannya pada dua gadis itu.
"Makasih Adrian."
"Untuk apa?"
"Karena kamu telah membelaku."
"Oh tentunya ini tidak gratis, ada bayarannya."
"Apa?" tanya Nara, Adrian menujuk pipi bagian kanannya.
Adrian tak percaya bahwa wanita itu benar-benar menciumnya. Nara seperti merasa tidak bersalah telah membuat jantung Adrian berdegub kencang.
***
Adrian menghela nafasnya, padahal ia ingin menghabiskan waktu dengan Nara berdua saja. Tidak dengan bocah kecil yang kini tengah bergantian dipeluk Nara. Kan Adrian jadi pengen juga.
"Om Adrian kenapa lihatnya begitu? Mau dipeluk juga sama Mama." Adrian tersenyum senang mendengar perkataan Razka yang peka terhadap keinginan Adrian.
"Jangan, Daddy banyak kelringatnya. Bauuu..." ejek Dariel seraya menutup hidungnya, membuat Razka dan Nara terkekeh.
"Oh, udah berani ya ngejek Daddy. Sini Daddy gelitikin." tawa Dariel menguar ketika Adrian menggelitiki tubuh Dariel.
"Sini, Bang. Bantu Om gelitikin Iyel." Razka menganguk tapi sialnya kini dirinya yang menjadi bahan gelitikan Adrian dan Dariel.
Nara yang menyaksikan itu diam-diam berdoa semoga pilihannya memang benar.
"Aaa... Mama! Bantuain Babang hahahah." Razka masih saja tertawa sedangkan Dariel nampak begitu kegirangan menggelitiki calon saudara tirinya.
"Udah, Boss. Nanti Babang pipis dalam celana nanti."
Mereka berhenti, tapi Adrian membisikan sesuatu pada Dariel dan Razka yang membuat kedua bocah itu menganguk. Nara merasa akan ada susuatu pada dirinya, betul saja terlihat dari Adrian yang kini menatap Nara dengan seringai kecil diwajahnya.
"1...2...3... Serbuuuu!"
"Hahahahhha....." tawa Nara mengegelegar membuat ketiga lelaki itu semakin semangat menggelitik Nara.