"Bunda s**u vanillanya, satu!" "Ndaa, s**u coklatnya satu juga!" Nara menghela nafasnya lelah. Perhatiannya yang semula tertuju pada Raziel yang sedang menyusu dengannya, teralihkan karena kedatangan dua anaknya yang sedari tadi bermain di kamar mereka. Mereka bilang apa? s**u vanilla satu dan s**u coklat satu. Apa kedua anaknya itu mengira ia pelayan cafe yang biasa mereka kunjungin di akhir pekan? "Buat sendiri." Perkataan tegas dari Nara membuat Dariel dan Razka yang berada diambang pintu saling pandang. Seperti memiliki kekuatan telepati, kedua anak itu mengangguk seolah paham dengan pikirannya masing-masing dan akhiranya mendekat ke arah Nara. "Bunda kenapa? Capek ya?" tanya Razka manis yang kini sudah duduk dibawah kasur sambil memijit kaki Nara. "Bunda rindu sama Ayah ya? Ka
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


